Sunday, 28 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 16



 #Menulis di Blog Jadi Buku

#28 Februari 2021


Memori Gawai Mulai Tak Berdamai

Oleh: Suyati

Kegiatan pembelajaran yang berlangsung setahun lebih ini memang menguras memori gawai yang kita miliki. Pembelajaran yang dilakukan secara online memang banyak menggunakan fasilitas WA(whatapps). Hal ini dikarenakan kemampuan peserta didik, guru dan sekolah yang menyepakati pelaksanaan KBM daring dengan menggunakan aplikasi WA.

Sebenarnya sudah beberapa kali mencoba menggunakan platform lain seperti google classroom, quizziz, dan telegram. Tetapi kelihatannya lebih nyaman dan mudah terjangkau dengan menggunakan aplikasi WA yang utama. Mungkin karena akrab dengan kita selama ini. Sedangkan platform-platform pembelajaran yang lain hanya sebagai pendukung. Hampir semua materi pembelajaran dilakukan lewat WA. Ada bentuk word, gambar, PDF, PPT dan Video disampaikan lewat WA.

Demikian pula dengan pengumpulan tugas peserta didik. Mereka lebih suka menggunakan gambar sebagai bentuk pengumpulan tugas. Bisa dibayangkan berapa memori yang dibutuhkan untuk menyimpan file-file tersebut jika mengajar sampai 6 kelas sekaligus.

Ini barangkali yang sedang terjadi dengan gawai saya. Baterai yang mulai protes terlalu panas karena seringkali dipakai dalam kondisi sedang di-charge. Belum lagi memori yang habis karena digunakan untuk menyimpan berbagai file pembelajaran selama masa pandemi. Hal ini tentu saja membuat saya sebagai guru mulai kelimpungan. Gawai sudah menjadi benda penting dalam kegiatan pembelajaran saat ini. Rusaknya gawai akan sangat membuat bingung sekarang.

Akibat memori yang penuh ini, gawai menjadi lamban kerjanya alias lemot. Kadang tidak bisa menerima dan mengirim file baik itu berupa gambar/foto, video atau file-file yang lain. Tidak bisa membuka story WA, tidak bisa membuka aplikasi yang diperlukan. Kalau sudah seperti ini maka akan sangat menganggu. Selain karena tidak dapat melakukan pembelajaran secara maksimal, respon kita terhadap peserta didik pun akan terkendala.

Hal ini sebenarnya sudah diantisipasi dengan menghapus file-file yang masuk dan sudah mendapat penilaian. Tetapi belum teratasi secara maksimal. Penasaran dengan situasi ini saya mencoba berselancar bagaimana mengatasi masalah ini. Ternyata tidak sekedar karena file saja tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.

Berdasarkan beberapa pembahasan tentang memori gawai dan antisipasinya. Berikut beberapa yang dapat saya lakukan untuk mangatasinya:

1. Menghapus file cache dan file kamera yang banyak menyita memori tetapi tidak tampak di bagian folder.

2. Hapus aplikasi yang jarang dipakai. Nah ini saya biasanya tidak peduli terhadap aplikasi yang sudah terunduh di HP saya. Ternyata sangat mempengaruhi performa gawai kita.

3. Menggunakan aplikasi ‘Cleaner’ untuk membersihkan secara cepat.

4. Cek data Whatapps. Ini biasanya saya fokus pada gambar dan video yang masuk. Video-video yang bertebaran di whatapp terunduh karena saya tidak mengeset dalam pengaturan media. Hapus data-data yang tidak penting baik berupa gambar, dokumen maupun video.

5. Hapus pesan SMS. Karena kita lebih sering menggunakan aplikasi whatapps, pesan-pesan yang masuk kadang kita abaikan. Akhirnya menumpuk dan menyita banyak memori gawai kita. Terlebih pesan-pesan yang muncul dari provider. Jika tidak mulai dihapus maka akan menumpuk.

6. Mereset gawai kita. Tetapi selalu cadangkan atau back up agar data-data lama yang penting masih dapat kita gunakan dan simpan.

Semoga ada solusi lain yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran berikutnya. Sehingga tidak harus melalu aplikasi whatapps. Salah satunya dengan mengaktifkan dan mengefektifkan e-learning 3.0.0 yang sudah dicanangkan dan diterapkan. Sayangnya masih kurang efektif pada pelaksanaanya. Padahal mungkin ini bisa menjadi solusi masalah-masalah gawai yang semakin bermasalah dengan memori. Tetap semangat. Salam sehat selalu. Salam literasi.




Saturday, 27 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 15

 



#Menulis di Blog Jadi Buku

#27 Februari 2021

Melewati Masa Pandemi, Menikmati Perjalanan Hari

Oleh: Suyati


Masa pandemi yang berlangsung lama membuat banyak kegiatan dilakukan hanya di rumah. Pemberlakuan PSBB, PKKM membuat ruang batas bergerak semakin sempit. Kegiatan pembelajaran juga berlangsung dari rumah. Kita kenal dengan istilah Belajar dari rumah (BDR) atau pembelajaran daring. Sementara guru dan pegawai berlaku WFO (Work from Home) dan WFH (Work from Home).

Ada yang berbeda saat sekarang yang saya rasakan. Yakni suasana perjalanan berangkat dan pulang jika mendapat giliran WFO. Perjalanan menuju ke tempat tugas menjadi semakin nyaman. Jika di masa-masa sebelum pandemi harus berangkat pagi dan terburu-buru karena pasti akan bertemu dengan beberapa kemacetan yang biasa terjadi di beberapa titik. Belum lagi banyaknya sepeda motor yang sebagian besar pengendaranya adalah siswa menengah atas. Kita seperti berpacu dengan waktu. Lama perjalanan pun berubah. Jika biasanya perjalanan ditempuh selama 30 menit menuju ke sekolah. Kini hanya dibutuhkan waktu 15 sampai 20 menit saja untuk saya dapat tiba di sekolah.

Pada jam-jam sekolah jalan-jalan sekarang lebih sepi. Deretan-deretan motor siswa yang biasanya berjejer dan berlawanan arus dengan kecepatan yang tinggi, kini seperti hilang. Suasana perjalanan ke sekolah menjadi lengang. Jam 06.00 sampai jam 07.00 adalah waktu terpadat pada hari-hari sebelum pandemi. Sekarang tidak lagi terjadi. Beberapa daerah pabrik yang biasanya menimbulkan kemacetan saat kehadiran dan pulang kerja. Kini pun nampakanya terurai dengan sendirinya.

Ada baiknya memang. Hari-hari yang biasanya terpacu untuk segera sampai ke sekolah. Sekarang relatif tenang. Hal tersebut menjadikan saya dapat menikmati perjalanan. Jika biasanya tidak tengok kanan kiri selama perjalanan, kini karena lengang saya dapat melihat pemandangan selama perjalanan. Kecepatan sepeda motor terpacu antara 40-45 km per jam. Dapat menikmati sepoi angin pagi yang menyegarkan sekaligus melihat pemandangan alam yang memukau. Kenapa selama ini tidak terlihat indahnya?

Sawah-sawah yang membentang hijau bak permadani terhampar. Ada gubuk –gubuk kecil di tengah persawahan, burung-burung bangau putih yang beterbangan dari pematang, petani yang bekerja dengan tekun di tengah lumpur dan tanaman. Bukit-bukit hijau yang mengelilingi. Indah melindungi. Semuanya seperti lukisan yang ditayangkan selama perjalanan pagi dan sore pulang dari sekolah. Ke mana lukisan itu selama ini?

Apakah keindahan itu baru saja tercipta setelah pandemi ini berlangsung? Atau baru sekarang saya menikmatinya? Perjalanan yang tenang dan tidak terburu-buru karena jalan raya lengang dan lancar. Barangkali ini efek positif pandemi covid 19 secara spesifik bagi saya. Selalu ada hal baik yang dapat kita ambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga kenyamanan perjalanan ini menjadi penambah imunitas diri di saat masih menghadapi berlangsungnya perkembangan penyebaran virus korona di Indonesia. Semoga. Salam sehat selalu. Salam literasi.

Friday, 26 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 14



 #Menulis di Blog Jadi Buku

#26 Februari 2021


Kita Tidak Sendiri, Kita Pasti Bisa Melewatinya

Oleh: Suyati



Tak ada manusia

Yang terlahir sempurna

Jangan kau sesali

Segala yang telah terjadi



Kita pasti pernah

Dapatkan cobaan yang berat

Seakan hidup ini

Tak ada artinya lagi



Syukuri apa yang ada

Hidup adalah anugerah

Tetap jalani hidup ini

Melakukan yang terbaik



Tak ada manusia

Yang terlahir sempurna

Jangan kau sesali

Segala yang telah terjadi



Syukuri apa yang ada

Hidup adalah anugerah

Tetap jalani hidup ini

Melakukan yang terbaik



Tuhan pasti kan menunjukkan

Kebesaran dan kuasanya

Bagi hambanya yang sabar

Dan tak kenal putus asa



Jangan menyerah

Jangan menyerah

Jangan menyerah

Jangan menyerah

Jangan menyerah

Jangan menyerah



Syukuri apa yang ada

Hidup adalah anugerah

Tetap jalani hidup ini

Melakukan yang terbaik



Tuhan pasti kan menunjukkan

Kebesaran dan kuasanya

Bagi hambanya yang sabar

Dan tak kenal putus asa



Dan tak kenal putus asa

Dan tak kenal putus asa



Sumber: KapanLagi



Mendengarkan lagu “Jangan Menyerah” yang dinyanyikan oleh D’Masiv tersebut menjadi semakin pas terasa dengan keadaan dan kondisi saat ini. Tidak hanya kita yang merasakan pandemi ini. Masa-masa ini dimulai dari tahun 2020 menjadi masa yang sulit untuk dilewati. Tetapi tidak berarti hal ini tidak mungkin dilalui.

Perkembangan covid 19 hingga setelah satu tahun menyerang dunia belum mulai menunjukkan hilangnya. Banyak sector yang sudah terpuruk akibat covid 19. Banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat dirumahkan. Pembelajaran pun harus dilaksanakan lewat daring atau online. Entah sampai kapan semuanya akan berlangsung. Pertanyaan tersebut terus muncul di antara usaha-usaha yang mencoba dilakukan untuk mengurangi penyebaran covid 19. Dari penerapan 3M, 5M, PSBB, PKKM dan sekarang adalah penggunaan vaksinasi. Semuanya dilakukan untuk tujuan melewati masa pandemi ini pada akhirnya.

Siang itu, beberapa pedagang datang ke sekolah. Mereka adalah seorang pedagang kaos kaki, pedagang makanan dan pedagang sepatu. Sebenarnya sudah diterapkan protokol kesehatan. Beberapa waktu lalu pedagang dilarang masuk ke area sekolah tetapi sekarang lebih dipermudah. Bukan karena apa-apa. Kebutuhan akan makan bagi mreka tidak mungkin dihindari. Akhirnya sekarang pedagang diizinkan masuk dengan aturan protokol yang ketat. Terutama untuk pedagang kebutuhan makanan dan kebutuhan esensial.

Pedagang-pedagang tersebut bercerita betapa susahnya sekarang mendapatkan keuntungan dari barang-barang yang dijualnya. Dengan dihentikannya pembelajaran tatap muka berarti sekolah pun berhenti. Kebutuhan akan kaos kaki dan sepatu menjadi hal yang tidak penting lagi. Anak-anak sekolah tidak lagi menggunakan kaos kaki dan sepatu dalam pembelajaran yang dilakukan di rumah (BDR). Ke sekolah-sekolah pun menjadi sepi. Guru-guru hanya separo yang datang ke sekolah karena diberlakukannya system WFO (Work from Office) dan WFH (Work form Home). Sama halnya dengan para pesera didi, guru pun akhirnya tidak banyak yang membuat anggaran untuk kebutuhan sepatu. Kalau pun ada yang membeli, sekarang tidak menjadi prioritas. Sehingga pendapatan para pedagang sangat menurun sekarang.

Masih menurut pedagang-pedagang tersebut, banyak teman-temannya yang seprofesi sudah pindah haluan ke bidang yang lain. Karena tidak dapat bertahan dalam menghadapi sepinya pembeli di masa sekarang ini. Anaknya yang bekerja di bidang pariwisata pun tidak jauh beda dengan dirinya. Sepinya pengunjung ke tempat-tempat wisata membuat banyak perubahan. Memang tidak sampai mengalami di PHK tetapi berkurangnya pengunjung juga menjadikan gaji dan pendapatan mereka berkurang.

Cerita tersebut tidak hanya disampaikan oleh pedagang kaos kaki, sepatu dan makanan. Beberapa pedagang-pedagang lain yang pernah datang ke sekolah pun menyatakan hal yang senada. Tidak dapat dipungkiri ada hal yang tidak mengenakan terjadi. Semuanya harus terus berjuang di masa-masa sulit ini. Kalau tidak memikirkan kebutuhan makan keluarga, mungkin tidak akan kuat menghadapi hal seperti ini. Keluarga menjadi sebuah menyemangat. Demikian tekad mereka.

Demikanlah sekelumit keluh kesah yang terjadi di sekolah oleh para pedagang saat saya WFO. Mungkin kita tidak bisa memberikan jalan keluar secara ekonomi. Mendengarkan cerita dan keluh kesah mereka mungkin tidak banyak membantu. Tetapi bisa jadi hal tersebut bisa saling menguatkan satu sama lain. Membeli barang-barang mereka tanpa menawar mungkin bisa menjadi salah satu solusi. Berhenti menawar dan bernego dengan harga. Kita semua mengalami hal-hal yang sulit. Tetapi dalam kesulitan kita tidak harus berhenti berbuat kebaikan. Salam sehat selalu. Jangan menyerah. Terus semangat. Salam literasi.



Thursday, 25 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 13

 


#Menulis di Blog Jadi Buku

#25 Februari 2021

Tetap  Menulis dalam Beragam Kegiatan

Oleh: Suyati

"Menulis di waktu senggang itu biasa. Menulis di antara kesibukan itu baru luar biasa"

Kalimat tersebut memotivasi kembali untuk menyempatkan diri tetap menulis. Di antara berbagai agenda sekolah berkaitan tentang proses penilaian semester ini mulai meminta perhatian waktu. Harus berbagi waktu agar semua agenda bisa berjalan.

Bagi yang sudah terbiasa menulis barangkali tidak sulit untuk mendapatkan ide dan menuangkan dalam tulisan. Tetapi bagi penulis pemula seperti saya harus sering-sering mencari motivasi agar semangat menulis terus menyala di antara berbagai agenda kegiatan sekolah. Mencari ide-ide yang bisa menjadi tulisan yang enak dibaca dan berharap semoga bermanfaat bagi pembacanya.

Karena berada di lingkungan pendidikan maka ide yang bermunculan memang lebih banyak dari sekolah, kegiatan pembelajaran dan pernak-perniknya. Kegiatan pembelajaran daring atau online ini contohnya. Banyak cerita yang bisa diungkapkan menjadi sebuah tulisan. Saat ini waktu tersita untuk membuat soal-soal untuk penilaian semester. Penilaian dengan menggunakan format google form dan CBT e-learning madrasah cukup menyita waktu. Belajar untuk menggunakan keduanya sebagai antisipasi berbagai kendala yang muncul pada sat pelaksanaan penilaian.

Beberapa postingan yang dikirimkan memang banyak bercerita tentang proses kegiatan belajar mengajar pada saat pandemi ini. Situasi dan kondisi yang berbeda dari pembelajaran tatap muka menjadi ide tersendiri untuk bahan tulisan.

Pada kesempatan ini adalah menulis di antara berbagai macam kegiatan pembelajaran daring. Kegiatan pembelajaran online cukup menyita waktu karena keterlibatan peserta didik dalam proses kegiatan belajar berbeda-beda. Jika peserta didik aktif maka tidak banyak menyita tenaga dan waktu. Bagikan yang tidak aktif inilah perhatian khusus harus diberikan.

Sebagian besar peserta didik yang tidak aktif harus sering diingatkan dan diajak bicara lewat telepon. Pengecekan setiap hari mutlak diperlukan untuk mereka. Wali kelas memang menjadi super sibuk. Terlebih di masa penilaian seperti sekarang. Ketidakaktifan mereka akan menghambat proses penilaian yang dilakukan.

Pada setiap malam wali kelas mengingatkan jadwal penilaian untuk besok pagi. Tujuannya tidak lain adalah agar peserta didik mempersiapkan diri untuk penilaian mapel. Sebagian besar mereka yang tidak aktif, cenderung aktif HP dan telepon seluler pada malam hari. Mungkin mereka sedang menggunakan ini untuk bermain game.

Kegiatan tersebut tentu saja menyita banyak waktu. Karena sampai malam kita masih mengecek beberapa peserta didik yang belum juga mengikuti penilaian harian. Kita ingin tahu sebab dan alasannya segera. Agar terselesaikan dan teratasi segera kendala yang dihadapinya. Termasuk menghubungi orang tuanya jika mereka berada jauh dari anak. Peserta didik biasanya akan aktif pada malam hari. Maka sebagai wali kelas, saya menyempatkan waktu malam untuk menyapa dan mengingatkan peserta didik untuk persiapan penilaian pada mata pelajaran berikutnya.

Dari berbagai kegiatan tersebut, mencoba menyisihkan waktu untuk tetap menulis. Mencoba membuat skala prioritas dari berbagai kegiatan yang ada. Sehingga kegiatan sebagai ibu rumah tangga, mengajar, menulis,dan bergabung dalam komunitas dapat dilaksanakan secara bersama dan selaras. Tanpa ada yang ditinggalkan atau diabaikan.

Berada di dalam komunitas, alhamdulllah juga menjadi motivasi tersendiri untuk tetap menulis. Kita harus tetap menulis setiap hari. Di blog salah satunya. Tidak mudah bagi saya untuk membagi waktu untuk kegiatan sekolah, rumah dan menulis. Tetapi niat dan semangat untuk meningkatkan dan menebarkan semangat literasi menyebabkan tetap berusaha menggerakan jari-jari di atas keyboard laptop. Ide-ide juga kadang menjadi kering dan menipis. Tetapi kalimat tulislah apa saja yang kamu kuasai dan sukai. Menjadi pemicu semangat lagi. Jangan jadi editor untuk tulisan sendiri. Yang menentukan suka atau tidak suka pada tulisan kita adalah orang lain. Pembaca tulisan. Bukan kita. Maka teruslah menulis.

Demikianlah sampai pada waktu sekarang saya mencoba tetap menulis. Terima kasih kepada teman-teman komunitas menulis di grup menulis dan di grup blogger. Motivasi dan dukungan lewat dunia maya ini menguatkan saya untuk terus berkarya. Salam sehat selalu. Salam literasi.





KAMIS MENULIS: bERmain Kata Lewat Foto




Kamis menulis pada hari ini bertema #Bermain Kata Lewat Foto. Wah menarik sekali. Kata orang one picture is worth a thousand words Satu gambar bermakna ribuan kata. Gambar menyampaikan makna atau esensi lebih efektif daripada deskripsi. Gambar lebih efisien dan efektif menyampaikan informasi dibandingkan kata-kata.

Kita akan mencoba dengan gambar pertama yang dimunculkan pada Kamis Menulis #Bermain Kata Lewat Foto



Apa yang Anda pikirkan tentang gambar tersebut? Melihat gambar ini saya tersenyum sendiri. Benarkah sayur asam yang akan kita buat? Berkaca dari diri sendiri ketika akan memasak. Kok tidak serapi itu ya? Saya kira itu adalah tampilan untuk sebuah fotografi. Bukan ingin memasak secara langsung. Pembelaan terhadap diri sendiri (he he)

Teringat pada tayangan Master Chef Indonesia. Seringkali dinyatakan oleh chef-chef yang menjadi juri dalam kompetisi tersebut. Penampilan suatu masakan akan sangat mempengaruhi makanan yang disajikan. Betapa penampilan seringkali menjadi bahan kritikan yang tidak pernah habis. Karena begitu pentingnya penampilan pada sebuah sajian. Ia bisa mewakili rasa dari penampilan.

Selain itu gambar tersebut menguatkan salah satu penilaian kerja dari seorang chef. Bekerja dengan bersih. Bahwa ketika berada di dapur harus menunjukkan kebersihan. Bersih bahan/materi masakan, bersih cara pengolahan dan bersih tempat memasak sampai pada bersih pada penyajian. Inilah yang saya salut dari acara tersebut. Kalau makanan mungkin tidak bisa meniru membuatnya tetapi pelajaran bahwa dapur adalah tempat yang asyik untuk bekerja dan berkreasi jika kondisinya bersih.

Melihat gambar tersebut teringat diri sendiri. Bahan-bahan biasanya tersedia di rumah. Tetapi bingung mau masak apa? Ada jagung, ada terong dan kacang panjang dan telur. Dibuat apa ya? Yang terpikir adalah sayur lodeh dengan lauk telor goreng. Bukan apa-apa karena waktu yang terbatas di pagi hari. Memilih menu yang sederhana sehingga bisa menyediakan makanan yang bergizi tetapi waktu yang dibutuhkan relatif singkat untuk mengolahnya.

Maka jadilah sarapan pagi dengan sayur lodeh dan telor goreng. Singkat, sederhana dan terjangkau dari segi bahan dan waktu. Meski bingung membuat makanan apa, tetap harus menyediakan sarapan pagi untuk bekal sehari. Semoga berkenan dengan masakannya. Selamat menikmati sayur lodeh dan telor goreng rasa virtual. Salam sehat selalu. 

Wednesday, 24 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 12

 



Pengalaman Penilaian dengan CBT

Oleh: Suyati




#Menulis di Blog Jadi Buku

#24 Februari 2021

“Alah bisa karena biasa” barangkali bisa menggambarkan apa yang saya sampaikan dalam tulisan catatan guru bersama korona ini. Segala kesukaran tidak akan terasa lagi apabila sudah biasa.

Hari ini adalah jadwal pelaksanaan kegiatan penilaian untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Mapel yang saya ampu. Persiapan sudah dilakukan untuk proses penilaian ini. Ada 2 cara penilaian yang digunakan. Yaitu google form dan CBT (Computer Based Test). Yang wajib digunakan adalah google form. Hal ini dikarenakan google form sudah disepakati sebagai cara penilaian sebelumnya. Tetapi karena kita juga diharapkan dapat memanfaatkan e-learning yang sudah diupdate maka yang memiliki kemampuan membuat soal penilaian di CBT, menggunakan e-learning. Persiapan untuk penilaian dengan CBT ini tentu terlalu mepet sementara pengetahuan kita terhadap fitur-fitur di e-learning msih sangat minim. Temasuk penggunaan penilaian CBT. Maka hanya beberapa guru yang bersedia menggunakannya. Beberapa hari yang lalu hanya satu kelas yang baru menggunakan CBT. Kendala yang terlihat belum banyak terungkap.

Cara pertama adalah dengan menggunakan google formulir. Peserta didik nampaknya sudah mulai terbiasa dengan aplikasi google formulir. Hal itu sudah dilaksanakan mulai dari presensi kehadiran setiap hari di dalam pembelajaran daring. Sebagian besar sudah tidak mengalami kendala. Masalah yang muncul biasanya terkait dengan gambar yang tidak muncul di dalam soal karena terbatasnya sinyal di tempat peserta didik tinggal. Tetapi nampaknya pertanyaan tentang proses mengerjakan dengan google form tidak banyak masalah.

Cara kedua adalah dengan menggunakan sistem CBT (Computer Based Test) e-learning. Ini termasuk cara baru. Sebagian besar guru masih menggunakan google formulir untuk penilaian sekarang. Menggunakan cara kedua ini masih membuat gamang para guru karena pengalaman agak sedikit ribet pada penilaian sebelumnya. Kegagalan login, beberapa data yang harus dimasukkan untuk login, seringnya proses masuk yang gagal oleh peserta didik, dan banyaknya pertanyaan peserta didik dalam prosesnya yang tidak dapat dijawab oleh wali kelas. Penguasaan dan pengetahuan tentang berbagai kendala sistem e-learning ini yang mencoba dihindari. Karena system baru memang diperlukan penyesuaian sekaligus pelatihan untuk menggunakannya secara maksimal untuk proses pembelajaran.

Saya sendiri mencoba keduanya. Cara pertama bukan tanpa masalah tetapi boleh dikatakan bisa diminimalkan. Pertanyaan yang muncul sebagian besar tentang masuk yang sedikit terlambat dari setingan waktu yang dipakai. Dan bisa diatasi dengan merefresh link yang dibagikan. Pertanyaan yang lain yang muncul dari google form adalah gambar soal yang tidak muncul di dalam soal. Ini jelas karena kondisi sinyal yang kurang bagus. Saya memintanya menunggu dan mengulang proses dengan merefreshnya terlebih dahulu. Memang sebagian besar cuaca hari ini hujan dan mendung. Barangkali itu menjadi salah satu sebab sinyal kurang bagus.

Sedangkan cara kedua, yaitu cara e-learning. Luar biasa respon peserta didik. Meskipun sudah diberi cara dan proses pengerjaan dari mulai login sampai selesai dengan langkah-langkah detail, diperkuat dengan gambar dan video, ternyata belum cukup membuat paham. Begitu no token diberikan, pertanyaan mulai bermunculan. Apa itu username, password dan token. Padahal sebelumnya sudah diberikan file nisn, password masing-masing peserta didik perkelas oleh wali kelas masing-masing. Apakah mereka tidak membacanya sama sekali?

Hampir seharian ini HP full berbunyi dan memberikan notifikasi pesan tanpa henti. Meski WFH saya nyaris tidak bisa melepaskan HP karena pertanyaan terus muncul dari kelas-kelas yang menggunakan CBT. Benar-benar harus diberikan perhatian satu-persatu berbagai kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik. Hal yang baru memang memerlukan waktu penyesuaian dan latihan. Satu yang menyebabkan hal ini terjadi adalah karena kurangnya simulasi yang saya laksanakan sebelum menggunakan CBT ini. Sebabnya tidak lain adalah sempitnya waktu persiapan pembuatan soal hingga pelaksanaan penilaian CBT. Memang agak sedikit nekad saya menggunakan ini. Tujuannya adalah membiasakan hal-hal yang baru untuk diri saya sendiri dan sekaligus untuk peserta didik. Perubahan teknologi begitu cepat. Jika kita tidak mau belajar dengan cepat maka kita akan tertinggal.

Satu hal yang saya pelajari dari proses penilaian CBT adalah kesiapan dan penguasaan kita terhadap proses CBT sehingga apabila ada kendala kita bisa memberi solusi dan penyelesaian kepada peserta didik. Mereka membutuhkan jawaban yang cepat karena brkaitna dengan penilaian. Jika ada kendala mereka akan cemas dalam proses penilaian. Tentu hal ini bisa mempengaruhi hasil penilaian. Pelajaran kedua adalah berani mencoba. Mungkin kita akan menghadapi banyak masalah tetapi dari masalah-masalah yang dihadapi kita menjadi tahu bagaimana solusi dan penyelesaiannya. Kita menjadi tahu persisi apa saja masalah yang mungkin muncul dalam penggunaan suatu sistem.

Dari berbagai kendala juga diharapkan peserta didik pun belajar proses yang baru dengan semangat. Tidak takut dalam mencoba sesuatu. Mereka akan terbiasa menggunakannya jika kita sebagai guru pun mengaplikasikannya dalam pembelajaran. Selamat terus belajar dan berproses. Tantangan ini bukan untuk dihindari tetapi untuk ditaklukkan. Percayalah, kita pasti bisa.



Tuesday, 23 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 11



#Menulis di Blog Jadi Buku

#23 Februari 2021

Pembelajaran dengan e-learning
Oleh: Suyati

Pengetahuan tentang berbagai platform aplikasi memang mutlak diperlukan untuk kegiatan pembelajaran daring saat ini. Setelah berkutat dengan pelatihan pemanfaatan google form, kini kita harus beralih ke penggunaan e-learning. Sementara sebelumnya sudah mulai merasakan nyaman menggunakan google form.

Waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan penilaian dengan e-learning sebenarnya sudah lama disosialisasikan. Tetapi memang masih banyak yang belum aktif di dalamnya.

Sebenarnya platform e-learning ini lebih mudah dan lengkap. Terutama setelah di-update ke dalam sistem 3.0.0. Ada fasilitas semacam zoom meeting. Di e-learning kami menyebutnya learning conference.

Diharapkan semua kelas dan guru sudah menggunakan teknologi ini. Ada beberapa tutorial yang harus diperhatikan dan dipelajari sebelumnya. Hal tersebut sangat membantu para guru untuk dapat mengaplikasikan e-learning dalam pembelajaran online.

Tutorial tersebut meliputi beberapa langkah yang harus dilakukan untuk dapat memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan di dalam sistem e-learning. Berikut beberapa link tutorial yang dapat dipelajari sehingga dapat memaksimalkan penggunaan fasilitas yang ada di e-learning.

Video ini adalah jawaban dari beberapa madrasah yang mungkin belum familiar dengan penggunaan elearning madrasah. Video meliputi

1. Fitur Operator

2. Fitur Eksekutif

3. Fitur Guru

4. Fitur Siswa


Tutorial Elearning Madrasah | #1 Pengenalan Fitur Login

Tutorial Elearning Madrasah | #2 Fitur Login Operator

Tutorial Elearning Madrasah | #3 Setting Kalender Akademik

Tutorial Elearning Madrasah | #4 Setting Ruang Kelas & Mapel

Tutorial Elearning Madrasah | #5 Setting Management User
Tutorial Elearning Madrasah | #6 Setting Wali Kelas dan BK

Tutorial Elearning Madrasah | #7 Setting Kenaikan Kelas
Tutorial Elearning Madrasah | #8 Fitur Login Eksekutif/Kepala & Waka
Tutorial Elearning Madrasah | #9 Fitur Login Guru
Tutorial Elearning Madrasah | #10 Membuat Kelas Online

Tutorial Elearning Madrasah | #11 Copy Kelas Online

Tutorial Elearning Madrasah | #12 Video Conference

Tutorial Elearning Madrasah | #13 Absen dan Jurnal Kelas

Tutorial Elearning Madrasah | #14 CBT Online

Tutorial Elearning Madrasah | #15 Penilaian Pengetahuan dan Keterampilan

Tutorial Elearning Madrasah | #16 Penilaian Sikap
Tutorial Elearning Madrasah | #17 Fitur Login Siswa

Tutorial Elearning Madrasah | #18 Kelas Online

Tutorial Elearning Madrasah | #19 Video Conference Siswa

Tutorial Elearning Madrasah | #20 Cara Mengerjakan CBT
https://youtu.be/r-3ZHHid3Rc

Tutorial Elearning Madrasah | #21 Cara Mengerjakan Tugas Pengetahuan dan Keterampilan

Pemanfaatan e-learning ini akan membantu guru dan peserta didik untuk dapat belajar di satu link sekolah. E-learning diharapkan dapat dimanfaatkan tidak hanya pada saat pembelajaran online dan jarak jauh seperti sekarang. Ini juga dapat dimanfaatkan pada situasi pembelajaran tatap muka.



Monday, 22 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 10




#Menulis di Blog Jadi Buku

# 22 Februari 2021

Belajar Link, Belajar Kedisiplinan dan Ketelitian
Oleh: Suyati


Perubahan-perubahan yang terjadi akibat pandemic mulai terbiasa kita rasakan. Kita memang harus berdampingan dengan virus ini. Tidak mengabaikan tetapi tidak pula kita bisa menghindarinya. Berbagai sektor sudah tepengaruh dengan keadaan ini. Kebiasaan-kebiasaan baru dituntut untuk dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan keadaaan.

Salah satu yang terjadi pada guru adalah tentang presensi/kehadiran dalam bekerja. Setelah dberlakukan finger print untuk presensi selama beberapa tahun ke belakang. Awalnya presensi ddengan menggunakan finger print mendapat banyak kritikan. Tetapi seiring berjalannya waktu, akhirnya pun kita bisa menyesuaikan dan akhirnya terbiasa. Kini karena merebaknya virus ini system presensi diubah dengan sistem online. Sekarang harus berganti pola kembali.

Yang ingin saya sampaikan di sini bukanlah tentang presensinya. Tetapi pola yang digunakan. Karena kita menggunakan link kadang-kadang ketika kita meyimpannya maka akan muncul kerepotan luar biasa. Bagi yang menyimpannya kita tinggal klik saja. Internet jalan dan kuota tersedia maka lancarlah. Tetapi bagi yang tidak ini akan menimbulkan kebingungan. Ketika kita harus mengetik alamat yang diberikan maka tidak satu pun kesalahan yang diperbolehkan masuk ke dalamnya. Jika kita salah mengetik satu karakter slah maka proses akan tertolak.

Yang kedua adalah penyampaian materi pelajaran. Kita bisa menggunakan blog, google, classroom, youtube dan berbagai fasilitas online lainnya. Sama halnya dengan link presensi, jika kita salah memasukkan link kita pada fasilitas pembelajaran tersebut maka kita tidak akan mendapatkan materi tersebut. Materi tersebut tidak dapat dibuka.

Berikutnya adalah link-link tentang sertifikat atau pengumpulan suatu dokumen. Pada saat sekarang banyak pengarsipan dokumen-dokumen yang dilakukan lewat online. Kita diminta untuk mengumpulkan dokumen-dokumen tentang kepegawaian, tentang kenaikan pangkat, tentang sertifikat, dan alin sebagainya melalui link. Tentu ini akan berbahaya dan sekaligus merugikan jika kita sampai salah link. Apa yang seharusnya dikirim akhirnya tertunda bahkan gagal terupload karena salah penulisan karakter pada link.

Bahasa pemrogramanan mungkin di kalangan penikmat teknologi tidak asing lagi. Tetapi bagi yang jarang berkutat dengan hal tersebut adalah hal yang membingungkan. Memang link tersebut tidak harus diingat. Kita hanya perlu menyimpannya dean kemudian kita bisa mengkopi paste di lain kesempatan. Kalau tidak demikian maka akan bolak-balik akses kita ditolak oleh komputer atau jaringan kita. Ini yang kadang akhirnya memakan waktu proses dari kegitan presensi dan penyampaian materi. Keluhan link tidak bisa dibuka sering mewarnai. Dan kadang-kadang hal tersebut terjadi karena hal-hal yang sepele saat kita memasukkan link yang diberikan. Ketelitian dan perhatian mutlak diperlukan untuk bisa menggunakan Bahasa pemrograman ini dengan baik. Hanya karena kurang tanda titik (.), salah membedakan strip (-) dengan slash (_), menggunakan koma dan sampai menulis karakter huruf dan angka salah menjadi masalah yang tidak bisa dianggap kecil dalam pembuatan link dalam penyampaian materi.

Berkaca dari kebingungan dan kegagalan masuk karena memasukkan karakter salah dalam link. Saya lebih berhati-hati. Tidak menganggap sepele apa yang kita anggap tidak penting. Juga meningkatkan kedisplinan dalam segi yang lain. Tidak asal dan sembarangan. Karena akibatnya tidak main-main. Kegagalan kita masuk pada sebuah link tentu akan merugikan diri kita sendiri. Selain kita tidak mendapatkan apa yang kita tuju. Lebih dari itu kita sama sekali tidak bisa masuk ke dalamnya. Nah solusinya latih ketelitian dan kedisplinan diri mulai dari menuliskan atau mengetik link secara tepat dan benar sesuai yang diberikan. Salam literasi.


Pentigraf: Film Upin dan Ipin di Mata Anakku

 


Siapa yang tidak kenal film Upin dan Ipin? Saya kira tidak ada ya? Semua mengenal filmnya maupun versi di layar televisi. Upin dan Ipin sudah menjadi tontonan wajib bagi anak-anak termasuk anakku. Ia sudah hafal betul jam berapa saja film ini ditayangkan di layar kaca. Meski sekarang lebih jarang menonton televisi tapi jadwal menonton Upin dan Ipin tidak boleh terlewatkan. Biasanya ia akan menonton bersama-sama teman-temannya di rumah.

Perkembangan pengenalannya terhadap tokoh-tokoh Upin dan Ipin ternyata luar biasa. Sekarang ia sudah mampu menganalisis karakter dari masing-masing tokoh pemain di sana. Seperti sore ini ia bercerita dengan teman-temannya siapa saja pemain di Upin dan Ipin. Mereka saling menyebutkan tokoh-tokoh. Ia mulai menganalisis karakter mereka. Misalnya, Upin dan Ipin, suka membantu Atuk dan pengen menjadi detektif. Upin dan Ipin suka makan ayam goreng. Ijat yang penakut dan suka pingsan. Ikhsan menurutnya orang kaya yang suka makan dan manja. Mey-Mey yang suka bermain masak-masakan, pakai kacamata dan suka membaca. Susanti orang Indonesia yang suka memotret. Mail yang suka berjualan. Apa-apa harus dibayar. Tidak boleh ada yang gratis. Jarjit yang suka berpantun dan pakai topeng. Opah, nenek yang sayang sama Upin dan Ipin. Atuk giginya ompong dan suka berkebun. Satu demi satu mereka saling melengkapi analisis mereka.

Mendengar analisis mereka saya berdecak kagum. Ternyata anak-anak tidak hanya sekedar menonton seperti yang saya kira. Mereka mencermati apa yang mereka tonton. Mungkin inilah yang menjadi alasan, anak-anak harus didampingi saat mereka menonton televisi. Ada satu tokoh yang belum mereka sebutkan dalam cerita mereka, yaitu Kak Ros. Aku akhirnya ikut bergabung penasaran. Saya tanya tentang Kak Ros. “Kalau Kak Ros bagaimana?” Sejenak anakku diam. Teman-temannya juga diam, berpikir untuk mencoba menjawab. Tiba-tiba anakku menjawab, “Kak Ros itu kayak Mama. Suka marah-marah. Apa-apa nggak boleh dilakukan Upin Ipin.” Mendengar jawaban anakku, aku tercengang. Duh jawabannya mak jleb banget. Teman-temannya tertawa, mungkin membenarkan. Begitukah aku selama ini? Pemarah kayak Kak Ros? “Tapi aku sayang Mama. Kayak Upin Ipin sayang Kak Ros,” ucapnya sambil memelukku di depan teman-temannya. So sweet, my little angel! Love you, too.

Sunday, 21 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 9

 


# Menulis di Blog Jadi Buku

#21 Februari 2021

PJJ, Saatnya Keluar dari Zona Nyaman

Oleh: Suyati


Zona nyaman adalah wilayah di mana kita sudah merasa enjoy dengan keadaan kita dan sekitarnya. Sebagian besar orang mendambakan zona nyaman ini segera dapat diraih. Tetapi benarkah hidup berhenti di zona nyaman?

Perubahan sistem pembelajaran dari tatap muka menjadi pembelajaran daring atau online adalah salah satu bentuk ketidaknyamanan zona bagi diri kita. Mau tidak mau kita harus berubah. Kita memang sudah nyaman dengan bertemu langsung dengan peserta didik. Lima S tentu sudah menjadi bagian dari pembelajaran tatap muka. Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajran tatap muka. Guru dengan peserta didik saling dekat. Orang tua dengan sekolah pun bekerja sama dengan baik.

Tetapi tiba-tiba karena pandemi covid 19 kenyamanan itu pergi. Sebenarnya ia tidak hilang. Hanya bergeser. Tetapi proses yang cepat dan mendadak bagi sebagian orang tidak mudah untuk dilakukan. Peserta didik harus berada di rumah dan belajar dari rumah. Interaksi satu dengan yang lain dibatasi. Tentu hal ini sangat tidak mudah bagi mereka. Mereka harus membatasi diri dengan protocol yang ketat. Tentu berbeda rasa bertemu langsung dengan saling menyapa lewat telepon/HP.

Demikian pula bagi guru. Biasanya guru menyapa langsung dengan senyum dan jabat tangan. Kini semunya tidak bisa dilakukan. Guru biasanya menyelesaikan proses pembelajaran dalam sehari hingga jam 14.00 kini bisa menjadi bekerja 24 jam untuk menerima setoran pekerjaan peserta didik. Materi yang biasanya disampaikan langsung kini harus dilakukan dengan aplikasi WA, video, rekaman suara dan berbagai jenis media online lainnya. Perubahan ini tentu tidak mudah. Terlebih bagi guru-guru yang, maaf, sudah menjelang usia senja. Perubahan ini terlalu cepat untuk dilakukan. Tetapi juga tidak mungkin untuk dihindari.

Tidak kalah dengan peran orang tua. Orang tua yang biasanya menyerahkan berbagai kegiatan putra-putri mereka ke sekolah dari pagi hingga siang. Kini justru mereka menjadi pendamping sekaligus guru mereka. Meskipun bukan guru sebagaimana guru-guru di sekolah. Tetapi menjelaskan materi agar anak paham menjadi pekerjaan besar untuk mereka. Belum lagi untuk memotivasi mereka tetap aktif dalam pembelajaran daring. Itu menjadi hal yang menguras tenaga pula. Sehingga tidak bisa dipungkiri, PJJ menjadi masalah tersendiri bagi orang tua terutama yang memiliki pendidikan yang tidak memadai. Alih-alih membuat anak-anak mereka belajar dan faham terhadap materi yang disampaikan, malah yang muncul adalah emosi kemarahan.

Tentu saja keluar dari zona nyaman bukanlah suatu yang mudah. Ini membutuhkan keberanian sendiri untuk menaklukannya. Menurut sehatq.com, ada beberapa alasan yang menjadi dasar mengapa kita harus keluar dari zona nyaman.
  • Bisa membuat Anda lebih menggali potensi diri dan berkembang
  • Membuat hidup menjadi lebih menarik karena Anda dapat mengeksplorasi diri
  • Menjadi cara yang tepat untuk mengenal diri sendiri
  • Meningkatkan kebahagiaan karena Anda menemukan dan mengalami hal-hal baru yang dapat memicu lepasnya dopamin
  • Memperluas hubungan sosial yang Anda miliki, baik teman maupun kolega baru
  • Dapat memberi kepuasan tersendiri jika Anda bisa melewatinya dengan baik
  • Bisa membuat Anda menjadi orang yang lebih percaya diri.

Masa pandemi covid 19 mungkin memang berlangsung lama. Tetapi ada pelajaran yang dapat diperoleh darinya. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Baik untuk guru, orang tua, peserta didik, bahkan sekolah. Mungkin awalnya akrena alasan keadaan teapi lambat laun keterpaksaaan ini akan menjadi jalan untuk menjadi manusia-manusia yang selalu berkembang. Tidak statis dan berhenti. Selamat berjuang keluar dari zona nyaman. Jika kita telah melewatinya, seperti pernyataan di atas kita akan mendapatkan kepuasan. Salam literasi. Salam perjuangan.



Saturday, 20 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 8

 

#Menulis di Blog Menjadi Buku

#20 Februari 2021


Pendampingan yang Tidak Maksimal

Oleh: Suyati



Sebut saja namanya Lani. Ia baru masuk pada tahun ini sebagai peserta didik baru. Sehingga memang tidak banyak yang kami ketahui sebagai guru mata pelajaran. Selama masa pembelajaran pandemi ini dia salah satu peserta didik yang tidak aktif di kelas mata pelajaran. Sebagian besar sebenarnya yang tidak aktif dalam pembelajaran sebagian peserta didik laki-laki. Maka ini menjadi kasus yang menarik buat saya. Saya sampaikan kepada wali kelasnya tentang ketidakaktifan Lani dalam pembelajaran daring.

Beberapa kali saya mencoba menghubunginya. Dan ia merespon balik dengan kesediaanya aktif pada waktu berikutnya. Tetapi pada pertemuan selanjutnya masih belum aktif juga. Ketidakaktifannya menyebabakan ia juga ketinggalan jauh dalam mengumpulkan tugas-tugas yang diberikan. Sebagian besar mata pelajaran yang lain juga mengalami hal yang sama. Tidak ada penyetoran tugas-tugas yang diberikan. Hal inilah yang menjadi permasalahannya.

Wali kelas sudah mencoba menghubungi juga Lani. Tetapi juga mendapatkan respon yang sama. Mengiyakan untuk aktif tetapi ternyata tidak mengalami perubahan. Akhirnya wali kelas mencoba mendatangi rumah Lani untuk mendapatkan informasi mengapa Lani tidak aktif dalam pembelajaran sekaligus membawakan beberapa materi cetak untuk bisa diselesaikan oleh Lani.

Ketika wali kelas dan guru BK melakukan home visit ke rumahnya, Lani ternyata sedang tidak di rumah. Yang ditemui adalah neneknya. Orang tuanya bekerja di Jakarta. Ketika ditanya mengapa Lani tidak mengikuti proses belajar. Beliau hanya bilang tidak tahu. Beliau mengakui tidak banyak tahu tentang HP. HP yang ada dipegang oleh Lani sebagai alat komunikasi Lani dengan kedua orang tuanya. Neneknya hanya menggunakannya ketika mendapatkan telepon dari Jakarta. Nyaris tidak tahu bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan lewat daring/online.

Memang bisa dipahami perbedaaan generasi menjadi pemisah tersendiri. Terlebih jika ia tidak didampingi dan diawasi dalam penggunaanya. Selebihnya sang nenek bercerita bahwa Lani adalah anak premature ketika lahir. Protektif terhadap dirinya diaplikasikan dengan memanjakannya dengan berbagai fasilitas. Sayangnya tidak diimbangi dengan pengawasan dan pendampingan yang cukup dari orang tuanya. Hal tersebut Nampak sekali ketika Lani pulang dari bermain. Ia menemui wali kelas dan guru BK tanpa ada beban bersalah. Ia menyatakan kadang kesulitan mengikuti pelajaran yang dilakukan lewat HP.

Tampak sekali dia tidak mau berusaha mencari penyelesaian masalah yang dihadapinya. Ketika ditanya mengapa tidak bertanya kepada guru atau teman yang dekat? Katanya malu. Ia cenderung menarik diri ketika terjadi masalah. Ada beberapa teman yang berdekatan dengannya tetapi kata neneknya mereka tidak akrab. Jika ada kesulitan dalam menerima tugas dari sekolah harus ditanyakan. Bahkan wali kelas meminta Lani untuk datang ke sekolah untuk mengambil bahan materi dan tugas dengan protokol kesehatan jika menerima materi lewat daring tidak memungkinkan. Yang penting lagi bisa kembali aktif dalam pembelajaran.

Tetapi sampai pada beberapa minggu selanjutnya si Lani belum juga datang ke sekolah untuk mengumpulkan materi-materi yang diberikan saat home visit. Motivasi yang diberikan wali kelas dan guru BK sepertinya tidak banyak memberikan pengaruh terhadap keaktifannya belajar. Kalau sudah demikian apa yang harus dilakukan oleh wali kelas, guru dan sekolah terhadapnya? Pekerjaan rumah ini mungkin bukan hanya pada Lani. Masih banyak Lani-lani yang lain yang harus dicari tahu penyebabnya. Seringkali bukan hanya karena faktor susahnya hubungan internet, sinyal yang lemah, atau kuota yang habis, tidak adanya fasilitas gawai tetapi bisa lebih kompleks dan rumit dari itu.

Banyaknya peserta didik yang tinggal bersama kakek dan neneknya karena ditinggal bekerja di luar kota menjadi masalah yang kerap mewarnai ketidakaktifan peserta didik. Komunikasi dan pengawasan jarak jauh memang menjadi semakin tidak efektif, terlebih di masa seperti ini. Salut buat wali kelas yang terus berjuang menelusuri satu-persatu permasalahan pembelajaran daring ini demi mendapatkan peserta didik yang aktif di masa-masa pandemi ini. Salah satunya adalah masalah kurangnya pendampingan dan pengawasan pada kasus-kasus seperti ini. Tetap semangat. Salam sehat. Salam literasi.

Friday, 19 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 7




#Menulis di Blog Menjadi Buku
#19 Februari 2021

Sakit Tak Menyurutkan Semangat Belajar
Oleh: Suyati

Ia mendaftarkan diri sebagai peserta didik di madrasahku dengan mantap. Sejak masih di MI ia sudah berencana melanjutkan ke madrasah tempatku bekerja. Saudaranya memang ada yang berkeerja di sini tetapi bukan karena itu ia diterima sebagai peserta didik baru. Namanya Ahnaf, sebut saja demikian namanya.

Ia menjadi salah satu yang masuk di dalam kelas bimbinganku. Sejak awal masuk, orang tuanya sudah langsung mengkomunikasi keadaan Ahnaf yang sesungguhnya. Ahnaf menderita sakit thalasemia. Ia juga harus rutin mendapatkan tranfusi darah. Kekurangan sel darah merah. Orang tuanya menelpon dan memberitahukan sekaligus izin tidak dapat aktif dalam kegiatan matasama di madrasah. Tentu saja karena keadaannya saat itu tidak memungkinkan. Ahnaf sedang dalam keadaan sakit. Selain menderita thalasemia, Ahnaf kerap merasakan sakit di bagian perutnya. Inilah yang menyebabkan dirinya belum bisa aktif dalam pembelajaran daring. Termasuk kegiatan matsama.

Tentu saja sebagai wali kelasnya saya mengizinkan. Apalagi saya sudah mendapat cerita sakitnya dia sebelum ia masuk aktif dalam pembelajaran daring. Kondisi tersebut tentu saja memperihatinkan tetapi alhamdulillah kedua orang tuanya cukup kuat untuk berjuang bersama. Saya pun ikut termotivasi dan tertular untuk memberinya semangat meski yang terbayang adalah bagaimana jika itu menimpa orang di sekitar keluarga saya. Betapa sedihnya.

Pada minggu kedua pelaksanaan pembelajaran daring, saaya kembali dihubungi orang tuanya. Kali ini Ahnaf harus di bawa ker rumah sakit di Yogya untuk perawatan lebih lanjut. Orang tuanya meminta doa dari saya sebagai wali kelasnya sekaligus kepada madrasah, untuk kelancaran operasi yang akan dilalui oleh Ahnaf. Kami segenap guru dan pegawai pun melaksanakan doa bersama untuk proses yang akan dilaluinya. Teman-temannya di dalam grup WAG kelas pun satu-persatu memberikan doa dan semangat kepada Ahnaf meskipun lewat tulisan pesan. Semoga berlangsung lancar dan membawa kesembuhan nantinya. Semuanya merasakan empati dan saling memiliki meskipun satu sama lain belum pernah bertemu. Inilah yang membuat saya semakin terharu sebagai wali kelas. Ternyata jarak tidak menjadikan mereka merasa terpisah.

Alhamdulillah meskipun belum bisa aktif dalam mata pelajaran Penjasorkes kini Ahnaf sudah bisa bergabung dalam kegiatan belajar daring mata pelajaran lainnya. Pembelajaran daring ini membuatnya lebih bisa banyak beristirahat dan memulihkan kondisinya. Orang tuanya bersyukur dengan pembelajaran online ini. Tidak bisa membayangkan jika saat ini pembelajaran tatap muka, mungkin Ahnaf akan lebih kesulitan menjaga ritme belajarnya. Inilah hikmah pandemi covid 19 bagi mereka.

Kondisi Ahnaf sekarang sudah semakin membaik. Keluhan sakit di perutnya berlahan-lahan hilang. Nafsu makannya bertambah. Demikian kabar terakhir yang saya terima dari orang tuanya. Saya sangat bersyukur mendengarnya. Kini Ahnaf sangat rajin dan aktif dalam pembelajaran daring ini. Ia meminta materi yang tertinggal dan tidak diikutinya. Sehingga dengan cepat ia bisa mengejar materi-materi yang tertinggal tersebut. Kini di tengah sakitnya ia tetap bersemangat memenuhi tugas belajarnya. Izin tidak ikut pelajaran sudah jauh berkurang karena mungkin tinggal sebulan sekali dilakukan tranfusi darah. Sampai di penerimaan rapor Ahnaf pun termasuk yang mendapat nilai terbaik di kelas. Tidak ada tagihan tugas yang tertinggal. Luar biasa semangatnya. Melebihi semangat yang sehat dan kondisi normal. Saya pun banyak belajar kesabaran dan semangat kepadanya. Demikian juga untuk teman-temannya. Semoga sehat selalu dan terus semangat belajar untuk peserta didik semua. Salam literasi.

Thursday, 18 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 6



 #Menulis di Blog Menjadi Buku

#18 Februari 2021

Ke mana Mereka Pergi?

Oleh: Suyati



Merasa kehilangan itu yang pertama saya rasakan ketika setelah satu bulan pembelajaran online dilakukan. Ada beberapa peserta didik seperti menghilang dari kegiatan belajar daring ini. Mengajar kelas 9 berarti sudah banyak mengenal peserta didik. Karena sudah berkomunikasi dan bertatap muka selama dua tahun di kelas 7 dan 8. Perasaan itu semakin kuat ketika pembelajaran. Di antara meraka ada yang mengikuti ekstra kurikuler yang diampu oleh saya dan guru Bahasa Inggris yang lain.

Kelas ini termasuk yang paling banyak pesertanya mengikuti ekstra kurikuler Matsabangga English Speaking Club (Klub Berbicara Bahasa Inggris MTs Negeri 1 Purbalingga). Mereka sangat aktif hadir dan mengikuti kegiatan pada saat sebelum pandemi. Bahkan mereka sudah tampil pada beberapa event yang diselenggarakan madrasah. Mereka ikut menyemarakkan dengan berbagai kegiatan seperti play (drama), singing contest (kontes menyanyi), games dan lain sebagainya yang digunakan untuk menarik dan menyemarakkan kegiatan. Dan dilihat darai respon penonton, mereka berhasil mewujudkan tujuan yang diembankan kepada mereka.

Adalah Arfan dan Nanda, sebut saja begitu nama mereka. Dua anak yang sangat aktif dalam kegiatan ekstrakulier Berbicara Bahasa Inggris. Ketika pandemi datang mereka seperti menghilang entah ke mana? Mengapa demikian? Dari beberapa kali pertemuan yang diadakan dalam satu bulan. Mereka tidak pernah mengisi presensi kehadiran di kelas Bahasa Inggris. Demikian pula dengan tugas-tugas yang diberikan. Di mata pelajaran yang lain puntidak jauh berbeda keadaanya. Mereka tidak pernah muncul. Nomor HP yang menjadi penghubung seperti tidak pernah aktif dan tersambung untuk sekedar bertanya bagaimana kabarnya.

Setelah satu bulan berlangsung pembelajaran online, Kepala madrasah dan para guru memang saling memberikan evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran tersebut. Masing-masing guru memberikan laporan apa yang terjadi di kelasnya masing-masing. Demikian pula wali kelas. Merangkum dari sekian mata pelajaran apa yang menjadi keluhan peserta didik di bawah asuhan mereka.

Saya sebagai guru mapel menyatakan bahwa banyak siswa yang tidak merespon kegiatan pembelajaran online. Tetapi saya merasa kehilangan 2 orang yang termasuk actor hebat dalam ekstara Bahasa Inggris termasuk dalam pembelajaran Bahasa Inggris tatap muka. Mereka anak yang rajin dan aktif pula dalam pembelajaran sebelum pandemi datang. Tetapi begitu dilaksanakan pembelajaran online mereka seperti pergi meninggalkan kelas begitu saja. Mengapa dan ke mana?

Bagi mereka yang biasa dalam pembelajaran tatap muka tidak aktif mungkin tidak menjadi tanda tanya besar. Dalam kegiatan tatap muka saja tidak aktif apalagi dalam pembelajaran online. Begitu barangkali pikiran kita. Mungkin hal yang biasa meskipun tetap harus dicarikan solusinya. Mengapa hal tersebut terjadi.

Sementara Arfan dan Nanda berbeda. Ketika meminta informasi dari wali kelas setelah ditindak lanjuti. Wali kelas geleng-geleng kepala sedih. Beliau menceritakan tentang bagaimana keadaaan keluarga kedua peserta didik itu. Mereka adalah peserta didik yang rajin dan aktif tetapi tidak terdukung fasilitas untuk pembelajaran online.

Arfan anak terakhir di keluarganya. Ayah dan ibunya sudah masuk usia senja. Mereka adalah keluarga petani. Membeli HP untuk kegiatan pembelajaran adalah hal yang sulit. Memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan makan lebih utama menjadi priortias ia dan keluarganya. Wali kelasnya memberikan solusi untuk menulis materi dan mengerjakan tugas bersama dengan teman sekelasnya yang satu kampung. Barangkali bukan solusi terbaik tetapi itu yang bisa ditawarkan sekolah untuk menghindari kebutuhan yang lebih tinggi.

Sementara Nanda berbeda kondisinya. Orang tuanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan ia, dua adiknya dan tentu saja keluarganya. Ia memiliki dua orang adik yang masih kecil. Pada masa BDR (Belajar dari Rumah) orang tuanya menyerahkan sebagian tugas menemani adiknya ke tangannya. Sepanjang hari, sebelum ibunya pulang bekerja, ia menjadi pengasuh dan pendamping adiknya. Sementara pembelajaran dilakukan pada saat jam tersebut. Ia tidak mempunyai pilihan selain itu. Dengan menemani dan mendampingi dua orang adiknya, ia berharap ia bisa membantu orang tuanya. Adiknya sudah bisa bermain sendiri meskipun tidak mungkin ia melepas pengawasannya begitu saja. Inilah yang akhirnya menjadi masalah baginya. Ia lebih memilih mengorbankan jam pelajarannya untuk mengasuh kedua adiknya. Sebuah pilihan yang sulit untuk anak seusia remaja seperti dia.

Mendengar cerita tersebut dari wali kelasnya, saya tertegun. Barangkali tidak hanya mereka berdua yang memilki masalah yang sama. Peserta didik yang lain pun mungkin menghadapi masalah yang beragam. Satu bulan setelah pembelajaran online ini berlangsung menjadi gambaran besar bagaimana proses pembelajaran online di daerah pedesaan semacam kami. Banyak menggali informasi dari berbagai masalah yang dihadapi peserta didik sehingga tidak menjudge mereka sebagai peserta didik yang malas dan tidak aktif. Harus segera dicarikan solusi dan penyelesaian masalah-masalah yang muncul satu persatu sehingga tidak berlarut-larut.

Demikian salah satu peristiwa yang terekam dari pembelajaran online di daerah kami. Semoga segera bertemu solusi yang memudahkan peserta didik untuk belajar dengan mudah di masa-masa sulit ini. Terima kasih. Salam literasi.



#Kamis Menulis: Margakata - Bahadur



 #Kamis Menulis

Kamis menulis periode 18 Februari 2021 ini adalah margakata dengan kata bahadur. Mendengar kata bahadur mengingatkan saya film-film lama yang beraroma Arab. Waktu itu film komedi yang menampilkan berbagai ciri khas kedaerahan misalnya dari Betawi, dari Madura  dan Arab.

Dalam KBBI kata bahadur memiliki dua makna /ba·ha·dur/ kl n 1 pahlawan; satria; 2 a gagah berani. Ternyata berbeda sekali dengan pikiran saya selama ini ketika mendengar kata bahadur dari film-film komedi tersebut. Kesan yang sampai kok lebih ke negatif dari pada arti sebenarnya. Apakah ini berarti saya masih termasuk negatif thinkers ya? 

Meski masih terbayang-bayang dengan makna negatif yang msuk ke otak saya mencoba mengalihkannya ke makna yang baru saya ketahui hari ini. Berikut saya mencoba membuat kalimat berikut untuk dapat menggunakannya dengan tepat:
1. Dia adalah bahadurku. Perjuangan ini tidak akan sampai tanpa dukungan dan kerja kerasnya.
2. Dia seorang petualang bahadur. Seluruh wilayah darat dan laut negeri ini akan terus dijelajahinya.
3. Kebahadurannya melawan kompeni di zaman itu terkenal sampai ke negeri seberang. 
4. Siapa yang tak mengenal bahadur seperti dia? Dia muncul di berbagai arena laga peperangan.
5. Kepiawaiannya dalam teknologi pesawat membuatnya diangkat sebagai bahadur teknologi penerbangan.

Demikian beberapa kalimat yang menggunakan kata bahadur. Makna yang indah ternyata terpendam dan jarang diketahui oleh orang karena kita tidak atau jarang menggunakannya. Mulai dari Margakata kita populerkan kosakata Indonesia. Terima kasih untuk inspirasinya. Salam literasi.

Wednesday, 17 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 5

 


#Menulis di Blog Menjadi Buku
#17 Februari 2021

Kekuatan Tim Kelas yang Solid

Oleh: Suyati

Tidak semua peserta didik memiliki kemampuan yang sama. Ada yang cepat menerima materi. Ada yang sedang saja. Tetapi ada juga yang lamban. Itu memang sudah menjadi karakteristik peserta didik yang harus diketahui oleh guru. Pada masa pembelajaran jarak jauh ini agak sulit membedakan mana yang berkemampuan tinggi, sedang maupun lamban. Tetapi hal itu bukan berarti tidak mungkin untuk diketahui. Justru dengan pembelajaran jarak jauh kita bisa melihat karakter yang lain dari peserta didik. Ada kejujuran, tanggungjawab, kerjasama, disiplin, gemar membaca dan lain sebagainya.

Adalah Rina, sebut saja begitu namanya. Ia masuk di kelasku. Di bawah bimbingan aku sebagai wali kelas. Di awal pertemuan tidak ada masalah terlebih saat Matsama(Masa Taaruf Siswa Madrasah). Ia sangat aktif mengumpulkan tugas-tugas yang diberikan. Saya kira tidak ada masalah dengannya. Permasalahan baru muncul setelah KBM berlangsung.

Rina sering merespon lamban materi yang diberikan lewat grup WAG kelas. Ia sering kebingungan dengan materi yang dibagikan kepadanya. Atau pada saat teman-temannya yang lain sudah mengerjakan, tiba-tiba ia bertanya materi yang sudah terlewat. Alhamdulillahnya teman-teman sekelasnya mau saling membantu. Biasanya akan dijelaskan atau dibantu dengan screenshot untuk mempermudah ia memahami materi yang dituju.

Meskipun mereka tidak saling bertemu, saya merasakan sendiri peserta didik saling berempati satu sama lain. Jika ada kesalahan yang dibuat di dalam grup, mereka bertanya dulu untuk konfirmasi. Tidak ada sorak mengejek atau mencela teman yang kebingungan. Demikian pula yang berbuat kesalahan di dalam grup. Ia akan segera meminta maaf dan mengucapkan terima kasih karena sudah diingatkan. Ini sangat penting bagi peserta didik dengan kemampuan yang lamban. Ia tidak merasa dikucilkan di dalam kelasnya. Dan saya amati Rina tetap bersemangat dengan pertanyaan-pertanyaanya tentang pembelajaran yang tidak dipahaminya di WAG kelas. Alhamdulillah.

Pada awal pembelajaran daring lewat aplikasi WA ini memang sudah diberikan aturan yang berlaku di grup tersebut. Di antara aturan yang berlaku saat menggunakan WAG kelas sebagai sarana pembelajaran adalah sebagai berikut:

1. Anggota grup adalah wali kelas dan wali murid dan peserta didik.

2. Tidak diperkenankan memposting hal-hal yang berbau politik atau hal yang menimbulkan perdebatan.

3. Dimohon tidak melakukan transaksi jual beli di grup.

4. Tidak berkomentar atau mengirim emoji/ikon yang tidak sopan.

5. Diharapkan setiap anggota bisa memberi dan berbagi manfaat di grup ini.

Saya bersyukur anggota WAG kelas yang menjadi tanggung jawab saya memenuhi aturan tersebut. Sampai saat ini WAG kelas kondusif untuk pembelajaran jarak jauh. Baik peserta didik maupun orang tua merespon cepat apa yang disampaikan tetapi masih pada koridor aturan. Terima kasih wali murid and peserta didik atas kerjasamanya yang solid ini. Semoga kita bisa melewati pembelajaran di masa-masa pandemi ini dengan baik dan lancar.


Tuesday, 16 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 4

 Refleksi Permasalahan Belajar Daring

Oleh: Suyati

 

#Menulis di Blog Menjadi Buku

#16 Februari 2021

Kegiatan pembelajaran online yang sudah dilaksanakan hampir 11 bulan ini memang masih menyisakan PR besar bagi kami, para guru. Semakin menurunnya keterlibatan peserta didik dalam  pembelajaran daring membuat para guru prihatin. Lewat fasilitas WA guru sering berkomunikasi dengan wali murid tetapi sebagian merasa pasrah terhadap putra –putri mereka yang mulai menurun motivasinya dalam belajar. Mengingatkan, mendampingi sudah tentu sering dilakukan oleh wali murid.

Di rumah mereka terlihat memegang HP dan mengutak-atiknya sehingga nampak sibuk. Sebagian besar orang tua menganggap mereka sedang aktif dalam pembelajaran. Merasa tenang ketika jam-jam pembelajaran anak-anak berada di rumah. Mereka akan lebih mudah mengawasi putra-putri mereka di jam-jam tersebut. Tetapi ternyata mereka salah. Peserta didik memanfaatkan penggunaan gawai untuk bermain game di sela-sela belajar daringnya.. Tugas-tugas yang dikerjakan tidak langsung dikirimkan tetapi menunggu pada waktu yang lain. Sehingga banyak tugas yang menumpuk sehingga akhirnya terlupakan untuk disetorkan. Ternyata ketika pengumpulan tugas sebagaian besar tidak mengumpulkannya. Beberapa wali murid terkejut ketika mendapati laporan ketidakaktifan putra-putri merekan dalam PJJ.

Hal inilah yang menjadi permasalahan besar selain masalah kuota internet. Ketidakhadiran orang tua biasanya menjadi masalah tersendiri. Beberapa peserta didik adalah anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja. Orang tua tidak bisa mendampingi putra-putri mereka belajr online. HP mereka fasilitasi tetapi pengawasannya menjadi berkurang. Banyak tugas yang tidak dikerjakan. Kemampuan orang tua terhadap teknologi gawai pun biasa kalah jauh dengan putra-putri mereka sehingga orang tua lebih memasrahkan penggunaan HP pada meraka. Yang dilakukan barangkali hanya mengingatkan tetapi itu tidak cukup untuk menjadi pengawasan anak dalam pembelajaran.

Sebab kedua anak-anak yang tidak aktif dalam pembelajaran  adalah anak-anak yang hidup sendiri. Mereka ditinggal orang tuanya atau salah satu dari orang tuanya bekerja di luar kota. Mereka ditinggal bersama nenek, kakek atau saudaranya yang lain. Dari segi fasilitas HP, mereka tidak bermasalah. Kuota selalu disediakan oleh orang tua dengan kiriman pulsa untuk mereka. Tetapi pengawasan terhadap keterlibatan pembelajran sangat kurang. Nenek atau kakek mereka tidak bisa berbuat banyak terkait dengan teknologi gawai. Mereka cenderung melakukan pembiaran terhadap penggunaan gawai yang berlebihan. Nasehat mungkin diberikan lewat hubungan telepon atau WA dari orang tua tetapi tentu tidak maksimal karena jarak yang jauh.  

Permasalahan berikutnya adalah HP yang digunakan secara bersama-sama baik dengan orang tua maupun dengan saudaranya yang juga melaksanakan kegiatan pembelajaran daring. Sehingga HP yang digunakan harus bergantian. Orang tua biasanya membawa HP mereka karena digunakan selama mereka bekerja. HP tidak bisa ditinggal karena pekrjaan mereka pun tidak dapat lepas dari penggunaan HP. Sehingga penyetoran yang terlambat seringkali terjadi karena peserta didik biasanya harus menunggu orang tua pulang dari bekerja atau setelah saudaranya selesai kegiatan pembelajran daring.

Itulah beberapa refleksi permasalahan belajar daring sampai saat ini. Saya yakin wali murid sudah berusaha mendampingi dan menfasilitasi putra-putri mereka dengan maksimal. Demikian pula guru. Mencoba berbagai bahan materi pelajaran dengan berbagi media untuk membuat peserta didik tetap semangat belajar daring. Semoga pandemi ini segera berlalu. Pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan segera dengan protokol kesehatan. Aamiin. Itulah kerinduan yang selalu ada dalam diri guru, peserta didik dan wali murid. . Ingat pesan ibu memakai masker, jaga jarak dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Salam sehat selalu.