Showing posts with label Teori Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Teori Bahasa Indonesia. Show all posts

Tuesday, 24 October 2023

Istilah Bahasa Inggris vs Indonesia

Sering menggunakan kata download dalam kehidupan sehari-hari kita? Apakah kalian tahu bahwa ada istilah sendiri dalam bahasa Indonesia lho? Ternyata download dalam bahasa Indonesia adalah unduh.

Masih banyak istilah bahasa Indonesia yang sama dengan dengan bahasa Inggris. Padahal kita memiliki istilah tersendiri namun karena kita jarang menggunakan maka nampak asing bagi kita.

Berikut beberapa istilah bahasa Indonesia yang sering kita lupakan dan lebih sering menggunakan istilah dalam bahasa Inggris.

1. Unggah: upload

2. Link: tautan

3. Offline: luring/luar jaringan

4. Online: daring/ dalam jaringan

5. E-mail: surat elektronik

6. Error: galat

7. Drive thru: layanan tanpa turun/ lantatur

8. Download: unduh

9. Gadget: gawai

10. Scan: pindai

11. Mouse: tetikus

12. Laundry: penatu

13. Barcode: kode batang

14. Blogger: narablog

15. Hacker: peretas

16. Workshop: lokakarya

17. Brand: jenama 

18. Wireless: nirkabel

19. Podcast: siniar

20. 

Friday, 9 September 2022

Menulis Novel Biografi


Pada malam ini terlewatkan acara sharing bersama Grup WA Forsen Books. Alhamdulillah, kegiatan dilaksanakan melalui WA sehingga dapat menyimak dan mengutip ilmunya untuk disimpan di sini.

Kesempatan sharing kali ini mengambil tema Tips dan Trik Menulis Novel Biografi dengan narasumber Indah Sari Abidin. Beliau adalah penulis buku "Usman, Sang Perintis".

Ketika kita berbicara tentang menulis novel biografi sepertinya berat dan perlu kajian yang mendalam ya? Wah, sebuah tantangan. Nah, di kesempatan ini kita coba mendapatkan pandangan yang berbeda langsung dari penulis novel biografi. Yuk kita simak materinya ya?

Dan pada prinsipnya, menulis novel biografi secara penulisan tidak jauh berbeda dengan menulis novel fiksi pada umumnya.

Selain itu, dalam proses penulisan sebuah novel biografi, persentase menulisnya hanya sekitar 30 persen saja. 

70 persen lainnya adalah kerja keras penulis untuk mencari, menelusuri, dan mendapatkan sumber cerita yang orisinil dan valid, sehingga penulis dapat mendalami jiwa dan karakter tokoh yang akan ditulisnya. 

Jadi, pekerjaan 70 persen itulah yang akan kita bahas di sini.

Langkah awal yang harus dilakukan seorang penulis, saat hendak menulis novel biografi adalah, menentukan tokohnya. Siapa tokoh yang tepat untuk dituliskan?

Di Indonesia, istilah biografi itu memang masih terdengar sakral dan menegangkan. Kebanyakan orang menganggap, seseorang yang kisahnya pantas dibukukan dalam sebuah novel biografi adalah tokoh tokoh besar yang memiliki pengaruh dan jasa bagi bangsa dan negara. Atau seorang selebriti yang terkenal dan memiliki jutaan penggemar. Atau tokoh masyarakat yang senantiasa menginspirasi dan menjalani hidup tanpa cela. 

Padahal siapapun dapat menuliskan kisah hidupnya. Meskipun ia bukan tokoh besar, bukan selebriti, dan bukan seseorang yang bebas dosa. Seseorang yang menuliskan kisah hidupnya bukan sebuah perilaku narsis atau kepedean. 

Di luar negeri, Atas nama kebebasan berpendapat, menulis biografi bukan sesuatu yang sakral. Sehingga seorang Madonna bisa menerbitkan 20 buku biografi, ditengah begitu banyak skandal dalam hidupnya.  

Seorang pemadam kebakaran bisa membuat biografi hidupnya, meskipun dia bukan tokoh besar atau public figure yang dikenal banyak orang. 

Sebuah novel biografi, bukan hanya sekadar menangkap dan menuliskan jalan sukses tokohnya. Namun, bagaimana perjalanan hidup seseorang yang berliku dapat menginspirasi dan mencerahkan para pembacanya.

Pandangan "tegang" terhadap biografi ini yang membuat perkembangan novel biografi menjadi sempit dan seolah terbatas. Padahal, jika dikelola dengan baik, market novel biografi ini bisa semeriah market novel fiksi lainnya. Bahkan mungkin lebih.

Tugas penulis untuk mengubah pandangan serta asumsi masyarakat yang keliru terhadap novel biografi. Sehingga novel novel biografi dapat sejajar baik secara kualitas dan kuantitas dengan novel lainnya di pasaran. Sehingga siapapun tidak merasa sungkan untuk menerbitkan kisah hidupnya dalam bentuk novel. 

Apalagi saat ini ada forsenbook, sebuah penerbit yang konsisten menerbitkan naskah naskah baik, dan menyediakan kemudahan bagi siapapun untuk menerbitkan bukunya dengan terjangkau.

Menurut Bu'Nde, demikian panggilan Bu Indah, ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk menulis sebuah novel biografi.

1. Pilih alur waktu yang paling tepat dan bisa dikuasai oleh penulis. Penulis dapat menuliskannya dengan time line linier atau alur maju (diawali sejak tokoh kecil, tumbuh remaja, dewasa , hingga masa tua)

Atau dengan alur flash back. (Biasanya diawali dengan masa kini, dan flashback pada kenangan masa lalu)

2. Berangkat dari sebuah peristiwa yang menjadi 'hilight' dalam kehidupan tokoh. Bisa dari peristiwa yang sangat menyenangkan, atau peristiwa yang sangat melukai. 

3. Memasukan sesuatu yang khusus pada setiap babnya.

Aspek yang perlu diperhatikan dalam mengumpulkan data dan informasi :

1. Aspek psikologis.

Sejak awal seorang penulis harus peka, dan mampu memahami, mengapa tokoh ini ingin membuat buku. Penulis juga harus dapat menguasai medan wawancara. Sehingga klien tau, bahwa dalam pekerjaan ini, penulis adalah leadernya. Hal ini penting agar dalam proses menggali informasi memunculkan kejujuran yang tulus antar kedua belah pihak.

2. Aspek teknis.

Sebaiknya penulis sudah bisa membaca peta kehidupan sang tokoh sejak awal. Sehingga saat wawacara berlangsung, penulis tidak datang dengan kepala kosong.

3. Aspek juridis

Semua data dan informasi yang didapatkan, harus tervalidasi. Jangan sampai data yang didapat bukan hasil dari rekaan dan kurang akurat.

Berikut beberapa pertanyaan yang muncul pada sesi pertanyaan di kegiatan malam ini.

1. Mau nanya waktu proses kreatif nulis novel Usman, siapa saja yg dijadikan narsum? Apakah melibatkan teman2 alm? Atau istilahnya berapa lapis keluarga yg dijadikan narsum? 

2. Gimana cara BuNde membuat highligh cerita, agar tidak ke mana2 mengingat cerita2 yg didapat bisa jadi banyak atau sebaliknya malah minim? (Dari Dian Onasis)

Jawaban:

Terimakasih unii.


Saat menulis novel Usman kemarin, 'jujurly' saya dapat banyak kemudahan. 

Karena sebelum novel ini dibuat, biografi dan perjalanan hidup Usman sudah terlebih dulu terbit. Ditulis oleh Bapak dan Om saya. 

Namun saya tetap melakukan wawancara untuk dapat menangkap 'rasa' yang hanya bisa saya dapatkan saat mendengar langsung tutur dan gestur dari narasumber. Yang saya wawancara kebetulan anak anak dan murid murid Usman. Karena rekan segenerasinya sudah berpulang semua. 

Saya membuat timeline, uni. Jadi saya menulis timeline sepanjang dinding (yang kebetulan ditempelin whiteboard) berisi tahun dan perostiwa peristiwa yang terjadi di tahun tsb.


Many thx to kak @⁨Wini Afiati⁩ yang udah ngusulin cara ini buat menguraikan isi kepala yg kusut dipenuhi banyak peristiwa dari data. 🙏🏻

2. Pertanyaan saya, untuk menuliskan novel biografi itu apakah semua tokoh yang terlibat, tempat dan semuanya harus asli sesuai fakta? (Zoe)

Jawaban:

Semua yang dituliskan harus berdasarkan data. Namun, dalam penulisan novel, kita juga butuh alur cerita yang berliku, sementara dalam jalan hidup, kadang ada part yang memang tidak ada datanya. Di sini penulis bisa melakukan improvisasi, tanpa menghilangkan esensi cerita aslinya.

Dalam novel biografi yg saya tulis. Ada tokoh antagonis yang kerap mengacau di kampung kami. Tokoh ini saya ganti dengan tokoh fiktif, dan jenis kekacauan yang dibuatnya pun berbeda. Hal ini untuk menjaga aib ybs dan menjaga hati keluarganya. Karena hingga kini anak keturunannya masih ada.

3. BuNde, memasukkan sesuatu yang khusus dalam tiap bab itu maksudnya seperti apa? Bagaimana memilih yang khusus itu di antara yang umum-umum dari data yang kita dapatkan?(Silvya)

Jawaban:

Jadi begini, seorang penulis harus bisa memastikan, bahwa naskah yang ia tuliskan bukan sekadar perluasan dari CV si tokoh. 

Namun, tulisan yang ia dapatkan dari pengumpulan informasi dan wawancara, harus ia sajikan dalam bentuk yang khas, sehingga lekat dalam ingatan pembaca.

 Untuk itu penulis harus sangat jeli saat melakukan wawancara. Sehingga yang diceritakan oleh tokoh bukan melulu tentang kebaikan dan kesuksesannya. Penulis juga harus bisa mengulik kelemahan dan kekurangan si tokoh. Bukan untuk mempermalukan. Namun untuk dijadikan pelajaran. Sebuah kesalahan yang diungkapkan dalam penyajian yang bijaksana, dapat menjadi cermin yang jujur buat pembaca.


4. Mbak saya mau tanya, gimana kira2 mencari info ke tokoh yang mau kita buat biografinya tapi dia udah uzur...aku terinpirasi banget dengan nenek suami yang pemurah banget sampe panjang umurnya, sekarang sudah lebih dari 100tahun umur ya.

Jawaban:

Jika tokohnya masih bisa melakukan komunikasi, langsung saja ajak ngobrol. Tapi mungkin mengingat usia yang sudah sepuh, waktunya dibatasi tidak terlalu lama setiap sesinya. 


Dalam kondisi klien sehat. Idealnya wawancara dilakukan tidak lebih dari dua jam. Di samping melelahkan. Jika sudah lebih dari dua jam, biasanya konten pembicaraan juga biasanya sudah keluar konteks, ngelantur, dan si tokoh juga gak ngeh lagi, apa yang layak ia sampaikan pada penulis. 

Hal ini akan menyulitkan penulis dalam meramu cerita. Karena terlalu banyak hal yang off the record. Jika sudah tidak bisa berkomunikasi efektif. Kita bisa lakukan wawancara dengan orang terdekatnya.


5. Malam kak, saya izin bertanya. Setelah baca aspek psikologis yang kakak uraikan. Daftar pertanyaan seperti apa yang kakak susun untuk wawancara, seberapa banyak? (Fitri Rahayu)

Jadi kita musti siapin alat perekam ya kak agar bisa di putar ulang?

Jawaban:

Saya sebetulnya tidak menuliskan daftar pertanyaan khusus dalam wawancara.

Tapi saya menuliskan poin yang harus saya gali saat wawancara. 

Kenapa saya tidak membuat daftar tanya, karena narsum yang saya datangi semuanya sudah sepuh. Masih aktif dan tektok dalam komunikasi, namun, lebih senang melayani obrolan daripada menjawab pertanyaan. 

Tapi saya sering memberi pertanyaan semacam :

"Apa peristiwa yang paling berat dan menyakitkan dalam hidup bapak?"

Aspek psikologis kadang lebih bisa kita gali dengan pengamatan. 

Gestur narsum saat bicara, getar suaranya saat bercerita, tarikan napasnya, sorot mata, itu semua adalah ekspresi jiwa yang bisa kita tangkap. Sehingga kita dapat merasakan apa yang bergolak dalam hatinya saat pwristiwa yang ia crritakan berlangsung. 

Begitu kita putar ulang rekaman. Kita bisa langsung menuliskan segala rasa, emosi, dan, gejolak yang ada dalam dada si tokoh kala itu.

Kita bisa terinspirasi pertanyaan yg akan kita ajukan saat sesi wawancara ya, BuNde

Jadi kayak pertanyaan on the spot.Pertanyaan pertanyaan akan mengalir sendiri saat 'obrolan' berlangsung.

 Itu kalo buat saya sih terpake banget. Karena kan ga semua wawancara kita buat transkripnya yaa. Meski idealnya begitu. 

Pas mendengar ulang pembicaraan. Kebayang lagi emosi dan perasaan yang terlihat dari si tokoh.

6. BuNde, kan tadi disebutkan kalau sebelum BuNde, Bapak dan Om sudah juga menuliskan tentang Engkong Usman, apakah kemudian BuNde 'menyesuaikan' entah apa yaa ... gaya atau isi di buku BuNde dengan gaya penulisan Bapak atau Om? Jadi saat orang membaca ketiga buku tentang Engkong ini, apakah orang akan mengatakan 'Oh iya memang Engkong Usman itu begini ini, bener seperti yang dituliskan di ketiga buku ini'? atau kedua buku itu malah jadi tantangan untuk membuat buku BuNde berbeda dari yang sebelum2nya? (Astrid Ivo)

Jawaban:

Iya, Bapak dan Om sebelumnya sudah menuliskan buku biografi engkong usman. 

Saya tentu saja menyesuaikan konten dari kedua buku tersebut. Terutama untuk kejadian dan peristiwa yang terjadi. 

Kalo untuk gaya penulisan, sepertinya sangat berbeda. Kedua buku sebelumnya juga gaya penulisannya sudah berbeda. Iyah. Saya merujuk pada runutan peristiwa dari dua buku tsb. Agar urutannya sama dan sejalan.


7. Lalu, kisah yg mana yg sangat mengena BuNde, yg dituliskan di buku Usman ini? (Widyana Abdullah)

Jawaban:

Kalo buat aku, kisah yang paling berkesan adalah kisah dipecatnya Usman secara tiba tiba dari madrasah.

Semacam blessing disguise gitu dalam perjalanan hidupnya.

Di satu sisi beliau mendapat perlakuan penghinaan. Namun, di sisi lain, ternyata Alloh memang hendak membuat beliau lebih banyak.belajar.

Tuesday, 9 August 2022

Mari Berpantun Ria

Pantun sudah menjadi bagian dari budaya tutur di Indonesia. Ada berbagai jenis pantun yang dikenal.  Ada pantun nasehat, pantun jenaka dan pantun. 

Berikut ini beberapa pantun yang dapat digunakan untuk menyampaikan suatu pesan tertentu.

Buah mangga buah manggis

Enak dimakan bersama-sama

Bukanlah bangga yang terasa manis

Ego pujian oleh  sesama 


Jalan -jalan menuju ke Yogyakarta

Menikmati pemandangan kota gudeg

Jangan berpegangan pada harta

Merasai kehidupan yang tak ajeg 


Purbalingga, 9 Agustus 2022



Tuesday, 12 October 2021

Belajar Puisi di WIMP

Malam ini hampir terlupakan jadwal kegiatan menulis gratis di WIMP ( Writing is My Passion).  Kali kesempatan ini disampaikan tentang menulis puisi oleh Bunda E. Hasanah dari Sukabumi.

Banyak ilmu yang diperoleh pada malam ini. Secara ringkas mungkin bisa dirangkum sebagai berikut.

A. Pengertian puisi 

Sajak bebas adalah puisi yang tidak terikat oleh rima dan matra, dan tidak terikat oleh jumlah larik dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap larik.

 Sajak dramatik (sastra) adalah puisi yang memiliki persyaratan dramatik yang menekankan tikaian emosional atau situasi yang tegang.

Sajak lama yakni puisi yang belum dipengaruhi oleh puisi barat, seperti pantun, gurindam, syair, mantra, dan bidal.

Sajak mbeling yakni puisi atau sajak ringan yang tujuannya membebaskan rasa tertekan, gelisah, dan tegang; sajak main-main

 Sedangkan menurut HB Jassin pengertian puisi adalah suatu karya sastra yang diucapkan dengan perasaan dan memiliki gagasan atau pikiran serta tanggapan terhadap suatu hal atau kejadian tertentu.

Sedangkan untuk jenisnya puisi itu ada yang puisi lama dan puisi baru. Adapun ciri-ciri puisi lama adalah:

 Tidak diketahui nama pengarangnya.

Penyampaian dari mulut ke mulut yang merupakan sastra lisan.

Sangat terikat akan aturan misalnya jumlah baris di tiap bait.

Yang termasuk puisi lama adalah mantra yakni ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.

Contoh: mantra untuk mengobati orang dari mahluk halus.

 Sihir lontar pinang lontar

 Terletak diujung bumi

 Setan buta jembalang buta

 Aku sapa tidak berbunyi

Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, setiap bait terdiri dari 4 baris, dan di tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, sedangkan 2 baris berikutnya sebagai isi.

 Contoh: pantun nasihat.

 Sungguh elok emas permata

 Lagi elok intan baiduri

 Sungguh elok budi bahasa

 Jika dihias akhlak terpuji

Seloka, adalah pantun yang berkait atau bertautan juga termasuk puisi lama

Contoh:

 Sudah bertemu kasih sayang

 Duduk terkurung malam dan siang

 Hingga setapak tiada renggang

 Tulang sendi habis terguncang

Talibun, yaitu pantun genap yang setiap barisnya terdiri dari 6, 8 atau 10 baris. 

 Contoh:

 Anak orang di padang tarap

 Pergi berjalan ke kebun bunga 

 Hendak ke pekan hari tiap senja

 Di sana sirih kami kerekap

 Meskipun daunnya berupa

 Namun rasanya berlain juga

Sedangkan ciri-ciri puisi baru adalah sebagai berikut

Memiliki bentuk yang rapi dan simetris (sama)

Persajakan akhir yang teratur

Menggunakan pola sajak pantun dan syair walaupun dengan pola yang lain.

Sebagian besar puisi empat seuntai (baris)

 Jenis-jenis puisi baru adalah:

a. Balada, yaitu puisi berisi kisah/cerita.

b. Himne, adalah puisi pujaan untuk menghormati tuhan, seorang pahlawan, atau tanah air.

c. Ode, adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat resmi bersifat menyanjung terhadap pribadi tertentu.

d. Epigram, yaitu puisi yang berisi tuntunan /ajaran hidup.

e. Romansa, adalah puisi yang birisi luapan cinta kasih.

f. Elegi, adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.

g. Satire, yaitu puisi yang berisi sindiran/kritik.



Tuesday, 3 August 2021

Puisi Telelet, Apakah itu?

 Pertama mendengar istilah Telelet di wag kelas menulis. Penasaran dengan jenis puisi ini. Sudah ada beberapa jenis puisi yang saya pelajari selama bergabung di grup menulis. Di antaranya adalah puisi patidusa (empat, tiga, dua, satu) dan puisi akrostik.

Kini muncul satu lagi puisi jenis baru, Telelet. Apakah puisi Telelet itu? Terus terang agak bingung juga dengan aneka ragam puisi yang bermunculan.

Saya memang suka membuat puisi. Sudah ada satu buku solo kumpulan puisi, Pada ada "Pada Wajah Wajah" yang diterbitkan oleh Penerbit Kamila, Lamongan. Tetapi ketika membuat puisi saya cenderung mengutamakan isi dari pada bentuk. Apa yang ingin disampaikan lebih menguras energi untuk tersampaikan.

Sementara pada puisi-puisi jenis baru, saya melihat lebih banyak mengutamakan bentuknya daripada isinya. Meskipun isinya tetap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari puisi itu sendiri. 

Monday, 5 April 2021

Ejaan Bahasa Indonesia (EBI)


Assalamu'alaikum wr wb. Selamat sore sahabat blogger. Di tengah-tengah istirahat sore saya sempatkanuntum kenulis tantangan bulan April #AprilChallenge huruf E# Cukup membuat berfikir juga apa yang akan ditulis. Akhirnya saya memilih tentang ejaan untuk kegiatan menulis di bulan April hari ke-5.

Ketika kita menulis dalam bahasa Indonesia maka kita dituntut untuk menulis dengan baik dan benar. Salah satunya adalah penggunaan ejaan pada pilihan kata yang digunakan. Kadang ini membuat kita harus berhenti sejenak apakah kata yang kita pilih sudah baku atau belum. Terutama jika menulis hal yang bersifat ilmiah/non fiksi bukan fiksi. Tentu pilihan kata ejaan baku menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

Sebelum kita menuju ke ejaan dalam Bahasa Indonesia kita simak dulu ya sejarah terbentuknya pedoman penggunaan ejaan yang berlaku saat ini. 

A. Sejarah Ejaan dalam Bahasa Indonesia

Ternyata ketika mengulik ejaan Bahasa Indonesia, sejarah panjang berada di baliknya. Berikut sejarah singkat proses penggunaan ejaan bahasa Indonesia hingga pada saat sekarang.

Sebelum EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972, Panitia itu bekerja atas dasar surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan no.062/67, pada tanggal 19 September 1967.

Ejaan tersebut dikenal dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ini merupakan penyederhanaan serta penyempurnaan daripada Ejaan Suwandi atau Ejaan Republik yang dipakai sejak dipakai sejak bulan Maret 1947.

Pada tahun 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan". Keputusan menteri ini menyempurnakan EYD edisi 1975.

Pada tahun 2009, Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dengan dikeluarkannya peraturan menteri ini, maka EYD edisi 1987 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi. (Sumber:id.wikipedia.org)

B. Ejaan Bahasa Indonesia (EBI)

Ejaan yang berlaku saat ini adalah Ejaan Bahasa Indonesia atau disingkat EBI. Padahal di otak saya yang terus terngiang adalah EYD, Ejaan yang Disempurnakan. Bagaimana dengan sahabat blogger semua? Ternyata ada perkembangan yang juga baru saja saya ketahui beberapa waktu belakangan ini. Ejaan bahasa Indonesia berlaku sejak tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Ejaan ini menggantikan Ejaan yang Disempurnakan.

Berikut saya selipkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Kita perbarui dulu pengetahuan kita ya?

Sumber: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id

Secara lengkap bagaimana penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) dalam penulisan dapat dipelajari secara lengkap dalam buku berikut. Anda juga bisa mendownloadnya lewat tampilan pdf berikut ini. 

Sumber: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/PUEBI.pdf

Demikian ulasan singkat tentang ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku saat sekarang. Ini menjadi evaluasi diri saya yang mulai belajar menulis. Karena bagaimanapun kita harus banyak menggunakannya dalam tulisan kita. Selamat membaca. Semoga bermanfaat. Salam literasi.

Wednesday, 16 December 2020

Cara Tulis dan TataTertib Penulisan

 




Assalamu'alaikum wr wb

Selamat pagi pembaca. Saya sengaja mempostingkan ulang materi tentang cara tulis dan tata tertib penulisan ini di blog. Selain untuk menyimpan memori akan ilmunya. Biasanya kalau di simpan di HP dalam bentuk pesan WA suatu saat akan dihapus chatnya karena kaitannya dengan berkurangnya memori HP. Pengalaman pribadi he he. Nah sayangkan ilmu yang luar biasa terhapus begitu saja.

Sengaja saya tidak meresumenya karena hampir semua isinya adalah ilmu kepenulisan. Kalau Anda mau membuat kesimpulan silahkan simpulkan sendiri ya setelah membaca ini. Jangan lupa dipraktikkan. Karena sesungguhnya tujuan penyampaian materi ini adalah untuk memperbaiki cara kita menulis. Selamat menulis. Salam literasi.

Materi #5 KMK 10

Cara tulis dan tata tertib penulisan

Oleh : Agung Purnomo


Dalam tulis-menulis, apalagi menulis buku, mungkin penulis sering luput dalam penulisan huruf karena terlalu fokus pada kualitas kontennya, bukan teknik menulisnya.

Pernahkah kita merasa ketika ingin menulis buku, ada sesuatu yang kurang pas? Biasanya hal tersebut dilahirkan dari kecemasan kita terhadap konten yang kita tulis. Ya, kita takut bilamana tulisan kita tidak menarik minat para pembaca. Hal itu dapat disebabkan oleh konten yang kurang menarik ataupun bahasa yang terlalu kaku.

Oleh sebab itu, biasanya penulis melakukan pengecualian terhadap teknik menulis buku sesuai kaidah. Dalam kata lain, penulis melakukan kesengajaan dalam melanggar kaidah menulis buku secara terstruktur. Meskipun tidak sepenuhnya kasusnya semacam itu, karena ada juga penulis yang belum begitu memahami kaidah penulisan yang baik dan benar.

Salah satu kaidah penulisan yang sudah tergantung dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah tata cara penulisan huruf. Tata cara penulisan huruf adalah salah satu kaidah paling dasar dalam EYD, sehingga terkadang para penulis menyepelekannya.

Walaupun tata cara penulisan huruf adalah hal yang bersifat mikro dalam menulis buku, tetap saja tata cara ini dianggap penting. Ibarat kata, tidak akan ada 1 juta rupiah jika tidak ada 1 rupiah didalamnya. Apalagi dalam penulisan yang bertemakan ilmiah, tata cara kecil ini harus dijunjung tinggi demi mendapatkan kualitas yang tinggi.

Dalam tata cara penulisan huruf, ada dua penulisan huruf yang menjadi fokus kita. Yang pertama, adalah penggunaan huruf kapital atau sering kita sebut huruf induk. Yang kedua, adalah penggunaan huruf miring atau secara universal disebut italic. Berikut ini tata cara penulisan huruf yang wajib kita ketahui:

A. Cara Penulisan Huruf Kapital Yang Benar

1. Huruf kapital digunakan sebagai penggunaan huruf pertama dalam ungkapan yang berkaitan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan termasuk kata gantinya.

Contohnya:

– Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.

– Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

2. Huruf kapital digunakan sebagai hurufpertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Contohnya:

– Imam Syafi’I, Haji Agus Salim, Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Adapun beberapa perhatian khusus, seperti dalam kalimat ini :

– Dua tahun berikutnya, dosen kami akan berangkat haji.

– Hassanuddin, sultan Makassar, digelari Ayam Jantan dari Timur.

3. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang pemangku jabatan.

Contohnya:

– Walikota Tri Rismaharini, Gubernur Ahok

– Menteri Pendidikan Anis Baswedan, Menteri Bambang Sudibyo

– Profesor Soepomo, Letnan Jenderal Djoko Santoso, Letjen Suprapto

Adapun beberapa perhatian khusus, seperti dalam kalimat ini :

– Siapakah walikota yang baru dilantik itu?

– Dua hari yang lalu, Mayor Jenderal Djoko Santoso baru diangkat menjadi letnan jenderal.

4. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama orang.

Contohnya:

– Muchamad Resya Firmansyah, Arum Sulistyowati, Sri Handayani, Patrick Simamora, Alan            Budi Kusuma, Giovanni Putri Astuti, Bambang Sutrisno, Rhendy Sapta Wardhana

Adapun beberapa pengecualian dalam nama orang, karena latar belakang keluarga                 ataupun budaya pemilik nama seperti :

– LeBron James, Leonardo DiCaprio

5. Huruf Kapital digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.

Contohnya :

– bangsa Indonesia, suku Dayak, bahasa Jepang

Adapun perhatian khusus dalam penyusunan kalimat, seperti :

– . . . mengindonesiakan kata-kata asing.

– Jangan keinggris-inggrisan!

6. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Contohnya :

– tahun Hijrah, bulan Oktober, hari Galungan, Jum’at Kliwon, hari Natal, Perang Tabuk, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Adapun perhatian khusus dalam penyusunan kalimat, seperti :

– Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada . . .

– Perkembangan teknologi nuklir memicu resiko pecahnya perang . . .

7. Huruf kapital digunakan sebagai nama khas geografi.

Contohnya :

– Asia Tenggara, Sungai Nil, Kali Opak, Lembah Baliem, DKI Jakarta, Jabotabek, Kota Pelajar, Daerah Istimewa Yogyakarta

Adapun perhatian khusus seperti :

– . . . mereka pun akhirnya pergi ke selatan.

– Mandi di kali adalah kebiasaan masyarakat . . .

8. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan, organisasi, ketatanegaraan, dan nama dokumen resmi, serta sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna.

Contohnya :

– Undang Undang Dasar 1945 (UUD 45)

– Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

– Kementrian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi

– Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

– Palang Merah Indonesia (PMI)

– Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

– Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 2004

Adapun beberapa perhatian khusus, antara lain :

– Pemerinttah republik kita telah menyepakati . . .

– . . . menurut undang-undang yang berlaku, guru . . .

– . . . kasus suap dalam beberapa lembaga badan hukum.

9. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel seperti di, ke, dari, untuk, dan yang, yang tidak pada posisi awal.Contohnya :

– Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

– Bacalah majalah Bahasa dan Sastra

– Yadi adalah wartawan koran Jawa Pos

10. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan khusus.Contoh :

– S.S. sarjana sastra

– Prof. professor

– S.pd.                   sarjana pendidikan

– M.A.                   master of arts

  – Tn.                       tuan

– Bpk.                    bapak

– Ny.                      nyonya

– Sdr.                     Saudara

Adapun perhatian khusus dalam pemberian huruf kapital dalam gelar adalah dokter dan doktor:

– Dr. digunakan kepada seseorang yang telah menempuh pendidikan hingga lulus strata tiga (S3). Misalnya : Dr. Eko Setyo Humanika, M.Hum.

– Sedangkan penggunaan dr. digunakan kepada seorang ahli penyakit yang telah menempuh pendidikan profesi dokter. Misalnya : dr. Erwin Santosa

– Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penulisan dalam awal kalimat, disarankan untuk tidak menggunakan singkatan. Misalnya : “. . . penyakit tersebut. Dokter Muchlis akhirnya memutuskan untuk . . .”, bukan “. . . penyakit tersebut. Dr. Muchlis akhirnya memutuskan untuk . . .” ataupun “. . . kasus tersebut. dr. Muchlis akhirnya memutuskan untuk . . .”

11. Huruf kapital digunakan khusus sebagai huruf pertama kata ganti Anda.

Contohnya :

– Sudahkah Anda tahu?

– . . . gagal. Maka dari itu, Anda tidak wajib . . .

– Jamu ini sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh Anda.

12. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama pada awal kalimat.

Contohnya :

– Mereka pergi ke seminar tersebut menggunakan angkutan umum.

– Akan tetapi, para pemimpin dunia saat itu tidak menyepakati . . .

13. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung.

Contohnya :

– Akupun bertanya pada diri sendiri, “Apakah setelah lulus nanti dia akan pergi?”

– “Kemana saja kau dari kemarin??”, katanya.

14. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Contohnya :

– “Kapan Bapak berangkat?” tanya Siti.

– Karin bertanya,”itu apa, Pak?”

Adapun perhatian khusus seperti :

– Sebagai anak yang berbakti, wajib hukumnya untuk menghormati bapak dan ibu kita.


B. Teknik menulis huruf miring



Demikian materi sedikit tentang ejaan yang kadang dipandang sepele namun cukup mengganggu  pandangan pembaca yang pada akhirnya pembaca tak tertarik dengan tulisan kita.

Kita harus menyajikan tulisan yang tepat dan disukai pembaca. Tulisan kita harus memikat. Apa yang mesti kita lakukan? Berikutbeberapa hal yang harus diperhatikan untuk memikat pembaca:

  • Tulisan harus rapi memahami fungsi tanda baca dan kaidah penulisan yang benar. 
  • Menggunakan bahasa yang sesuai dengan target pembaca. Pilihlah kalimat-kalimat yang memancing daya imajinasi dan emosional pembaca.
  • Tidak mengulangi kata-kata yang sama dalam satu kalimat serta gunakan padanan kata yang  lain
  • Kuatkan data (sumber) artinya pilih data-data yang kuat untuk menjelaskan satu pembahasan.
  • Posisikan diri sebagai pembaca. Bagaimana seandainya kamu membaca tulisan sendiri.

Terus, kenapa ide suka loncat-loncat, kesana kemari, alias tidak  konsisten dan gak karuan. Pernah ngalamin kek gini? saya pernah...

Saya katakan pasti diawal Anda akan mengalami kondisi ini, sadar atau tidak. Biasanya muncul saat proses penulisan sebuah buku, "Satu ide belum selesai muncul ide berikutnya dan begitu seterusnya."

Dalam menulis saya percaya dengan prinsip ini, "makin banyak memberi makin banyak menerima." atau pernyataan, "kerja keras enggak akan pernah mengkhianati hasil."

Memberi nilai lebih, kerja lebih keras dan sabar yang kuat dalam belajar dan komitmen itulah nasihat yang diajarkan oleh Jack Ma, untuk mencapai kesuksesan di era ini. Lemahnya kesabaran. Ingin cepat sukses. Tidak fokus, loncat kesana-kemari. Lemahnya daya juang alias gampang nyerah, membuat banyak para pemula gagal di pertengahan jalan, termasuk saat mengawali diri berproses untuk menulis.

Lagi banyak ide tapi  kebingungan gimana nulisnya. Udah nulis tapi di tengah  jalan bingung dan mentok, mandeg...

Malah, tulisan belum juga tuntas, tiba-tiba muncul ide baru. Efeknya merasa bahwa  ide baru lebih bagus dari ide lama yang udah ditulis setengah jalan. Celakanya kondisi justru membuat kita  gampang move on alias gampang loncat pindah menulis ke ide baru, meninggalkan tulisan lama yang dianggap udah gak bagus. Gak menarik lagi untuk dilanjutkan.

Alhasil tulisan lama mangkrak gak tuntas. Jika ini yang sedang dialami oleh teman-teman, saya akan sampaikan bahwa Anda sedang diserang penyakit berbahaya. Penyakit yang biasa menyerang penulis pemula. Penyakit yang bisa menghambat para pemula untuk fokus dan  lebih produktif dalam berkarya... Ini penyakit laten.

Pertama: Tidak selektif dalam memilih ide. 

Tidak semua ide itu bagus, bisa jadi itu adalah ujian. Mengapa saya bilang begitu? Sederhananya begini. Jika setiap ide yang mucul Anda turuti tanpa berpikir matang maka yang ada Anda akan diombang-ambingkan oleh ide baru yang selalu muncul setiap saat. Ingat, pikiran kita tidak pernah berhenti menghasilkan ide.

Kabar buruknya, jika kita selalu menuruti ide baru yang tiba-tiba mucul, tulisan yang sudah digarap bisa dengan mudah ditinggalkan begitu saja. Dengan alasan sudah tidak relevan, tidak menarik, gak ada feel lagi buat lanjut nulis.

Solusinya, Anda harus pilih ide dan tetap fokus sampai ide tersebut mewujud menjadi karya. Sampai tulisan tuntas.

"Menuntaskan tulisan jauh lebih baik dari pada tulisan yang dianggap sempurna, namun tidak pernah selesai."

Kedua: Muncul Ide yang Tidak Nyambung  dengan Tulisan Sebelumnya. 

Untuk mengatasinya, selalu awali dengan pertanyaan apa hubungannya ide baru ini dengan ide sudah ditulis?

Jika diawali dengan "pertanyaan" tersebut maka ide yang tiba-tiba muncul justru akan menjadi penambah sudut pandangan baru pada tulisan yang sedang ditulis. Cakupan menjadi lebih luas. Bukan malah ditinggalkan.

Ketiga: Tidak Membuat Titik Fokus. 

Jika yang disampaikan tidak punya fokus, tulisan jadi kabur. Tidak tepat sasaran. Bahasan jadi kesana-kemari. Menulis itu harus fokus pada satu titik sasaran. Fokusnya pada tujuan atau nilai yang ingin disampaikan.

Misalnya, saat Anda ingin menulis yang tujuannya untuk memberikan orang motivasi dalam berbisnis, maka fokus pada menyampaikan masalah itu saja.

Catatan penting, pisahkan antara menulis dan mengoreksi (membaca ulang tulisan), jangan sampai bersamaan. Tuntaskan tulisan lebih dulu baru koreksi. 

Sebab, membaca, menulis, dan mengoreksi hasil tulisan adalah bagian berbeda. Pikiran kita tidak bisa melakukan itu secara bersamaan.

Monday, 14 December 2020

MEMILIH DIKSI YANG TEPAT

MEMILIH DIKSI YANG TEPAT

disampaikan oleh Kak Peny dalam Materi ke-3 KMK 10

Ahad, 13 Desember 2020



Hal yang penting untuk diperhatikan dalam menulis adalah diksi. Jika diksi yang dipilih terlihat kurang tepat atau terkesan aneh saat dibaca, maka otomatis pembaca akan langsung meninggalkan tulisan tersebut.  Seorang penulis, baik pemula maupun sudah lama, pasti selalu memikirkan masalah diksi. Tulisan yang dibiarkan dengan diksi aneh sejak awal menulis akan menjadi sulit untuk di-edit nantinya.

Diksi adalah pemilihan kata. Ungkapan kata yang ditulis haruslah dipahami oleh pembaca dengan tepat. Untuk itulah, seorang penulis harus bisa memilih diksi yang tepat untuk tulisannya. Pemilihan kata di sini harus memperhatikan kaidah makna, kaidah kalimat, kaidah sosial dan kaidah karang-mengarang.

Setiap kata terdiri atas dua aspek, yaitu bentuk dan makna. Bentuk merupakan sesuatu yang dapat diinderai, dilihat, atau didengar. Makna merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan reaksi dalam pikiran kita karena rangsangan bentuk.

Penggunaan Diksi Yang Tepat

Ketika ingin menulis sebuah tulisan menarik, pastinya perlu untuk menggunakan diksi yang terbaik sehingga mampu untuk memberikan banyak sekali tulisan terbaik. Diksi yang digunakan dalam sebuah tulisan memang banyak sekali sehingga perlu sekali untuk memperhatikan penggunaan diksi yang tepat. Oleh karenanya dapat menjadikan sebuah tulisan lebih enak dibaca dan mudah dipahami oleh pembaca. Penggunaan diksi yang digunakan dalam tulisan perlu untuk memperhatikan struktur kalimat serta memperhatikan keselarasan dengan inti tulisan. Sebab banyak sekali diksi yang berbeda dengan hal yang baru sehingga memang perlu untuk selalu menggunakan diksi yang terbaik agar pembaca dapat memahami isi dalam tulisan yang digunakan.

Kalau selama ini kita sering bertanya-tanya, merasa aneh sendirl saat membaca kata-kata ajaib seorang penulis, hingga muncul pertanyaan, "kok bisa yah," bikin kalimat dalem gitu !!!

Gimana sih caranya? 

Caranya paling umum adalah banyak baca, belajar mengolah kata, mengganti kosa kata, dll. Tapi, belakangan ini, saya berpikir lagi, malah sata sering sekali menemukan suatu kalimat, paragraf, yang rasanya, tersusun kata-kata yang biasa saja. Tapi, begitu menjadi kesatuan yang utuh, kok nusuk rasanya. #jleb

"Ingin rasanya aku ikut berlari, berteriak agar kau kembali, mencengkeram bahumu agar kau tahu aku ada di sini. Namun, bahasaku tinggal rasa. Dan entah bagaimana caranya agar rasa bisa bersuara jika raga tak lagi ada. Aku hanya ingin merengkuhmu. Adakah e…

5 Langkah Cepat Menulis Puisi Untuk Pemula :

1. Memanfaatkan Suasana Hati

Dalam menulis, kita harus fokus dengan apa yang ingin kita tulis, seperti menulis artikel, buku, cerpen, atau novel. Begitu juga dengan menulis puisi yang justru menurut saya lebih rumit karena harus menghasilkan kata-kata yang imajinatif dan bermakna mendalam. Untuk itu, memanfaatkan suasana hati menjadi lebih penting agar kata demi kata yang kita hasilkan lebih bermakna dan mendalam.

Sebagai contoh, jika kita memiliki suasana hati yang sedih, menyayat, dan galau berat, maka cobalah menulis puisi. Di saat seperti ini biasanya banyak terlintas kata-kata bermakna yang terlintas dalam pikiran kita. Namun, ketika bahagia pun juga seperti itu terkadang terdapat ide brilian yang terlintas dalam pikiran kita. Nah, manfaatkanlah momen-momen ini agar kita lebih mudah untuk merangkai kata demi kata dalam menulis puisi karena hakikatnya menulis puisi adalah membawa perasaan dalam menulisnya.

2 Menentukan Tema

Tema merupakan sebuah gagasan yang kita tuangkan dalam bentuk puisi dan alangkah lebih baiknya menulis puisi sesuai dengan tema yang paling kita sukai. Banyak orang yang ahli dalam menulis puisi, namun belum tentu menguasai semua tema yang ada. Misalkan, kita ahli dalam menulis puisi tentang cinta, tapi belum tentu kita ahli juga dalam membuat puisi cinta, begitupun sebaliknya.

Jadi, dalam menulis puisi sebaiknya sesuaikan dengan karakter kita masing-masing. .

3 Memilih Diksi

Diksi merupakan pilihan kata yang digunakan dalam penulisan puisi. Pemilihan kata-kata ini harus dilakukan secara cermat, sehingga nantinya puisi yang dibuat dapat menyampaikan makna dan tujuan kita secara tepat. Diksi ini juga meliputi pemakaian gaya bahasa, sehingga karya yang dibuat akan memiliki nilai estetik yang tinggi. 

Dalam membuat diksi, sebaiknya berhubungan dengan tema puisi yang dibuat, diksi yang dibuat juga harus unik, menarik, serta memiliki makna yang kuat dan mendalam.

4 Menggunakan Citraan/ Imaji

Untuk memberikan gambaran yang jelas dan menimbulkan suasana yang hidup serta menarik, kita harus sering menggunakan gambaran angan. Nah, gambaran angan ini disebut dengan citraan (imagery). Citraan atau pengimajian adalah gambar-gambar dalam pikiran atau gambaran angan si penyair. Setiap gambar pikiran ini disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran ini sebuah efek dalam pikiran yang menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah obyek yang dapat dilihat oleh mata (indera penglihatan). Citraan ini tidak membuat kesan baru dalam pikiran.

5. Menulis Puisi

Setelah keempat langkah di atas dilakukan, maka kita sudah bisa membuat sebuah puisi yang dimulai dari inspirasi yang telah kita dapatkan. 

SELAMAT MENCOBA

Sekarang mari kita latihan, membuat diksi sesuai konsep di atas.

Contoh 1: ANAK.

1. deskripsi: Anak bagiku seperti jiwa yang kuletakkan pada tubuh asing.

2. kata terkait: Aku melihat kehidupanku pada cara anakku belajar berjalan.

Nggak usah dipuitis-puitiskan, kan yang penting mewakili konsep kita. Bukan konsep umum.

Contoh 2: Hidup: menyuap udara; saat satu tarikan udara terasa melelahkan, kematian menjadi yang didamba.

Contoh 3: Rindu: rindu bukan tentang jarak, tapi hati yg teresonansi.

Tentang MAKAN, bisa bermakna cara mendapatkannya atau malah DAMPAK pada sistem tubuh kita. Nah, penulis yang perenung, dia bukan hanya membahas kerumitan KULIT tapi juga.

Contoh 4: Takut

Takut itu bukan saat kau melihat setan. takut itu saat kau menatap wajah pulas anak-anakmu, dan kau tak bisa memastikan kau akan selalu ada menjaga mereka.

Contoh 5: UANG. Apa susahnya membuat konsep UANG. Anak SD bilang: Uang adalah recehan seplastik yang diberikan ibuk untuk kuhabiskan sehari ini. Anak SMP: Uang adalah jumlah rupiah tak adil dari ibu yang mesti pintar kubagi antara pulsa, makan dikantin, dan malam mingguan. SEORANG BAPAK: Uang adalah setiap sen yang bisa kukumpulkan dengan susah payah dan kubagi dengan hati-hati. 

Nah kaaaaaaaan….nggak rumit…butuh jujur aja.

Contoh 6:

Bawang: sesuatu yang kemarin kautemui di dapur mungilmu dan hari ini menggelisahkan presidenmu lebih dari persiapan Pemilu.

Nah, begitu. Silakan membuat kesimpulan dan penutup sendiri. Intinya semua teknik seperti yang digunakan penulis-penulis hebat itu bisa dipelajari. 

Meski nggak mudah. Tapi saya yakin, semakin kita belajar dan berlatih, semakin lancar kita menggunakan diksi yang keren dalam tulisan kita.

Diksi itu sangat penting dalam hal dunia kepenulisan. 

Penulisan naskah fiksi dan nonfiksi memiliki perbedaan yang mencolok dari segi diksi. Tentu kita tidak mungkin menempatkan diksi super-ilmiah di tulisan novel teenlit, atau meletakkan diksi santai atau nyastra di sebuah karya tulis ilmiah. Maka, inilah pentingnya memahami di kursi mana kita duduk, menulis apakah kita, lantas menentukan diksi yang harus digunakan.

Ada sebuah slogan yang bagus dalam memilih diksi; jelas, sesuai, dan menarik.

Jelas: berarti diksi yang digunakan dapat dipahami pembaca. Misal, kalian menggunakan kata ‘puppy’ daripada ‘anjing’ atau ‘binatang’. Ya, memang itu spesifik dan jelas, tapi tidak semua orang mengetahuinya. Maka, jangan lupakan segmen pembaca dan mempertimbangkan apakah semua orang dapat memahami maknanya. Jika dirasa tidak bisa dipahami semua lapisan, ada baiknya membuat catatan kaki atau memakai diksi lain yang lebih mudah dimengerti.

Sesuai: Ini sama dengan yang saya jelaskan sebelumnya. Diksi harus sesuai dengan jenis tulisan. Tidak mungkin membuat diksi yang puitis untuk makalah atau skripsi, dan tidak mungkin menggunakan diksi yang formal untuk menulis puisi.

Menarik: ada beberapa diksi yang maksudnya sama, namun jika diterapkan mengakibatkan ‘rasa’ yang berbeda. Contoh: dia menangis akan kalah menarik dengan air matanya bergulir menuruni pipi.

Ya benar kamu itu harus tau arti dan makna dari setiap kata yg kamu tuliskan, bnyak yg bisa kamu pelajari bisa dari mengolah kata, merangkai kata dan cari seputar info lebih lengkap mengenai diksi. 

Tidak, pemilihan diksi itu tergantung dari penulisnya itu sendiri. Karena masing-masing penulis memiliki arti makna yang berbeda.

Teknis Mengemas Paragraf Menarik

 MATERI #4 KMK 10

Teknik Mengemas Paragraf Menarik

oleh Agung Purnomo


Selain membuat diksi-diksi yang apik dan mengemas judul yang diminati pembaca bahkan memicu penjualan, yang mesti kita pelajari dalam mengembangkan skill nulis adalah membuat paragraf. Mau tidak mau, paragraf yang menarik akan membuat pembaca betah berlama-lama membaca tulisan Anda. 

Lalu, gimana caranya membuat paragraf yang menarik? Teknik menulis ini membutuhkan ketelatenan, ketekunan, dan ketelitian.

Paragraf menarik adalah yang enak untuk dibaca, mudah dipahami, dan tidak membosankan.

Sayangnya tidak banyak orang mudah melakukannya. Terutama penulis pemula. Jangankan menulis satu karya, menulis satu paragraf pun kesulitan. Iya kan?

Kita bisa melakukan dengan mengutip salah satu sumber referensi yang kita baca. Bisa juga kita menuliskan kalimat yang menarik menurut kita.

Dalam ilmu jurnalistik sih, ada istilah teras berita atau yang biasa disebut dengan LEAD. Pertanyaannya, "Gimana seandainya kita merasa kesulitan bikin paragraf pembuka?"

Ini rumusnya:

A. Teknik Menulis Paragraf Pembuka

Sesuai dengan namanya, paragraf pembuka ditulis sebagai kalimat pembuka. Sebagai paragraf pembuka, seorang penulis diuji kemampuannya dengan menyampaikan kalimat yang tidak berbelit-belit. Paragraf pertama harus memiliki kekuatan.

Tujuannya agar pembaca tertarik, penasaran, dan melanjutkan membaca ke paragraf kedua.

Paragraf pertama sengaja dikemas agar menarik pembaca. Poin ini tidak hanya diterapkan dalam teknik menulis buku, juga bisa diterapkan ke tulisan lain, seperti artikel dan copywriting .

Pembuka yang menarik akan mempengaruhi banyak sedikitnya pembaca. Berikut beberapa paragaraf yang menarik:

 1.Memulai dengan pertanyaan

Pertanyaan selalu menimbulkan rasa ingin tahu dalam diri pembaca serta mengajak kita semua untuk berpikir lebih dalam tentang suatu hal. Pertanyaan juga bisa bersifat retoris maupun mengangkat tema yang umum dalam masyarakat, seperti politik, agama, sosial, ekonomi, dan banyak lagi.

Contoh:

Berapa banyak balita yang menderita kurang gizi? Berapa banyak rakyat dari kalangan atas yang menderita obesitas dan sindrom metabolik? Kita hidup di sebuah negara yang ironis di mana dua masalah gizi sama-sama menjadi permasalahan besar yang harus dipecahkan oleh seluruh tenaga kesehatan.

2. Memulai dengan konflik atau permasalahan

Pembaca cenderung tertarik setelah mereka mengetahui gambaran permasalahan secara keseluruhan. Pembaca akan merasa tidak perlu banyak waktu untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka baca. Konflik bisa juga dinyatakan dengan fakta umum, misalnya hasil sebuah riset atau survei.

Contoh:

Indonesia masih berkutat dengan tingginya angka kematian akibat penyakit infeksi tahun ini. Tuberkulosis masih menempati urutan pertama penyumbang penyakit infeksi terbesar, diikuti dengan kolera, malaria, dan demam berdarah. Berada di wilayah tropis tak bisa lagi dijadikan satu-satunya alasan kejadian penyakit infeksi, melainkan juga sanitasi yang sepertinya memang kurang diperhatikan di Indonesia.

3.Mengulangi judul dalam paragraf pertama

Bagi penulis yang telah menentukan judul tulisannya terlebih dahulu, bisa memasukkannya pada awal kalimat suatu paragraf. Unsur dalam judul tidak harus ditulis lengkap, melainkan bisa ditulis sebagian saja. Hal ini dapat memberi kesan adanya hubungan antara judul dengan keseluruhan tulisan.

Contoh:

Adakah yang salah dengan senja? Dengan semburat warna jingga keemasannya yang indah? Ataukah aku yang selama ini salah menilai senja?

(Paragraf pertama dalam cerpen berjudul Muslihat Senja)

4. Memulai dengan tindakan

Melalui sebuah tindakan yang nyata, pembaca digiring untuk turut merasakan suasana yang ingin diciptakan oleh penulis. Tindakan memberikan kesan tidak bertele-tele dan membosankan sehingga menjadikan paragraf menarik untuk dibaca.

Contoh:

Seorang pencuri berlari dari kejaran dua orang berseragam polisi. Pencuri itu menerobos kerumunan orang yang tengah menyaksikan sebuah pertunjukan sulap. Lalu ia menikung ke kiri menuruni tangga menuju pasar tradisional dan bersembunyi di bawah meja sebuah kios yang gelap dan sesak tak. Ia mengintip melalui celah kayu yang sudah lapuk, tampak dua polisi tadi berlari melewatinya. Pencuri itu kini bisa bernapas lega.

 5. Menggambarkan karakter

Karakter adalah unsur intrinsik terpenting dari sebuah cerita. Melebihi tema, alur, dan latar, sebuah karakter membangun cerita menjadi lebih kokoh. Tak jarang pembaca terlebih dahulu jatuh hati pada karakter daripada isi dari cerita itu sendiri.

Contoh:

Anak lelaki kecil itu muncul setiap pagi di perempatan Pucang, siang di perempatan Dharmawangsa dan sore di perempatan Kertajaya. Kerjanya bergelut dengan jalanan dan asam pahit kehidupan. Meski demikian, dengan koran dan kaleng di tangannya yang kusam, sorot matanya tetap memancarkan semangat kehidupan. Kudengar anak-anak yang lain menjulukinya ‘Si Mata Sipit’.

 6. Menghindari latar belakang dalam kalimat awal

Latar belakang tempat dan waktu sering digunakan penulis amatir untuk memulai paragraf. Padahal salah satu cara membuat paragraf yang menarik adalah dengan menghindari hal tersebut. Di bawah ini adalah contoh paragraf yang harus dihindari penulisannya.

Contoh:

Pada suatu pagi yang cerah, angin berembus sepoi-sepoi. Ombak bergulung menuju tepi. Aku sangat menikmati pagi yang segar di pinggir pantai.

 7. Menggunakan sebuah kutipan

Sebuah kutipan yang arif dapat membangkitkan perasaan pembaca. Kalian bisa mengutip dari novel, puisi, atau kata-kata orang yang terkenal. Kutipan tersebut bisa menggunakan bahasa Indonesia maupun asing disertai dengan sumbernya.

Contoh:

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan Bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

(Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono)

8. Memulai dengan dialog

Dialog antarkarakter membuat paragraf menjadi lebih hidup. Dibandingkan dengan narasi, dialog lebih tidak membosankan. Akan tetapi, hendaknya kalian hanya menggunakan dialog yang benar-benar penting dalam membentuk jalan cerita. Jangan gunakan dialog yang tak berarti.

Contoh:

“Aku mau pergi. Aku mau merantau saja di negeri orang. Mungkin di Cina, Jepang, atau Amerika sekalian. Pokoknya aku mau pergi jauh dari sini,” ujar Budiman sambil meneguk secangkir kopinya yang mengepul.

“Memangnya gampang merantau di negeri orang? Siapa tahu kamu malah jadi gelandangan di sana,” Andi menanggapi pernyataan temannya dengan sinis.

“Tidak. Aku sudah bertekad. Paling tidak di sana tidak ada yang mengenalku, tidak ada yang akan menghakimiku. Di sana peluang masih terbuka lebar untukku. Pokonya aku akan berangkat bulan ini juga setelah pasporku selesai.”

9. Buka pikiran atau ingatan pembaca

Membuka pikiran (ingatan) pembaca adalah teknik pembukaan yang ampuh. Cara ini bisa dilakukan dengan menggunakan kata-kata seperti Bayangkan…, Apa jadinya…, Apakah anda ingat ketika…, dan sebagainya.

Kedua Paragraf Pengembang

Dilihat dari fungsinya sih sebagai kalimat penjelas. Kalimat yang menerangkan lebih detail dan menjelaskan dari topik yang ingin disampaikan. Sebagai paragraf pengembang, maka tulisan yang ditulispun harus runtut . Setidaknya paragraf satu dengan paragraf lain harus saling berkaitan satu sama lain.

Fungsi paragraf pengembang saat menulis buku tidak hanya nyambung, tetapi juga logis. 

Wajar jika selama proses penulisan, seorang penulis mampu mengemukakan inti dari persoalan yang akan dikupas. 

Tanpa tahu inti permasalahan, tulisan kita akan terasa hambar dan kering. Pembahasan dan pengembangan tulisan pun benar-benar tuntas, agar pembaca puas saat membaca.

 Ketiga, Teknik Menulis Paragraf Penutup

Setiap kali menulis buku selalu ditutup dengan kesimpulan. Lalu, apakah setiap buku selalu ditutup dengan kesimpulan? Kenyataannya, tidak semua buku ditulis dengan kesimpulan yang jelas. Salah satu contohnya buku fiksi, yang ditutup dengan ending cerita mengantung. 

Ending mengantung, dan diserahkan kepada pembaca, sengaja membuat pembaca bertanya-tanya dengan ending cerita.

Lalu, bagaimana katagori paragraf penutup yang baik?

Adapun ciri kesimpulan yang baik, kesimpulan yang mampu mengarahkan agar pembaca berfikir. 

Berfikir dalam hal ini lebih pada membangun ide, kreatifitas dan mendorong pembaca untuk melakukan action nyata.

Hampir sebagian besar, memilih membaca kesimpulan akhir daripada membaca keseluruhan isi.

Begitupun ketika kita terlibat dalam teknik menulis. Buku yang menyertakan kesimpulan setiap bab, atau akhir bab lebih mudah dipahami oleh pembaca, dibandingkan dengan tulisan yang tidak diberi kesimpulan sama sekali.

Paragraf penutup yang baik seharusnya memaparkan jawaban atas ulasan yang diangkat. 

Tidak hanya itu, penutup yang bagus adalah penutup yang menawarkan kesimpulan hasil dari pembahasan yang dipaparkan. 

Tidak dapat dipungkiri, pembaca lebih nyaman dan terbantu dengan kesimpulan yang singkat, padat, jelas dan mudah dimengerti.

Sebagai analogi sederhana, tentu Anda mengingat pentingnya kesimpulan pada jurnal penelitian. 

Kira-kira, kita lebih nyaman membaca keseluruhan isi? Atau lebih pada kesimpulan akhir yang ditawarkan oleh si penulis. 

Dari tiga bentuk paragraf tersebut, semoga memberikan manfaat. Semoga dengan ulasan ini membantu memahami dan memudahkan kita lebih mahir menulis.

Jika menulis buku masih dirasa berat, kita bisa memulai dengan menulis barang tiga paragraf, atau satu judul tulisan.


Tuesday, 1 December 2020

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Ketika Menulis

 

pinterest.com

Sebuah materi di kegiatan ngeblog yang luar biasa. Disampaikan oleh Ibu Rita. Beliau menyampaikan tentang Hal-hal yang Harus Diperhatikan Ketika Menulis. 

Ketika menulis yang pertama kita pikirkan adalah apa motivasi kita menulis. Masing-masing penulis memiliki motivasi yang berbeda. Secara umum motivasi menulis dibedakan menjadi 4 besar sebagai berikut:

1. Motivasi pertama adalah orientasi pada Profit yaitu mencari keuntungan sebesar-besarnya. 

Yaitu penulis dari awal memang memiliki niat menulis untuk mencari keuntungan, menambah income atau bisa jadi sebagai sumber mata pencaharian. Hal ini boleh-boleh saja yang terpenting penulis harus mengikuti trend pasar dan keinginan penerbit. Jika penulis hanya mengikuti seleranya sendiri dalam menulis maka tujuan untuk mendapatkan profit akan sulit untuk dicapai.

 2. Motivasi kedua Nirlaba alias tidak mencari keuntungan, di sini penulis hanya sekedar mengapresiasikan hobinya saja. Penulis hanya sekedar menulis peristiwa yang kejadianya hanya singkat seperti peristiwa alam, gempa bumi, tsunami atau  biographi sendiri. Jika tulisannya seperti ini maka tulisanya akan sulit di terima di penerbit mayor sehingga bentuk tulisan seperti ini bisa di cetak sendiri, bayar sendiri, baca sendiri dan syukur-syukur ada teman yang tertarik untuk membacanya.

3. Motivasi ke-3 branding/Promosi yaitu menulis  sebagai branding untuk menaikan pamor seseorang jika sudah memiliki karya tulisan. Sehingga terkesan lebih professional

4. Motivasi ke-4 memenuhi regulasi/akreditasi menulis karena kepentingan untuk kenaikan pangkat, yang mewajibkan seseorang untuk menulis.

Semua  alasan tersebut sah-sah saja karena setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda. Ketika Bpk/ibu sudah termotivasi untuk menulis agar tulisan Bpk/ibu enak dibaca dan dilihat ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh Bpk/ibu.

Berdasarkan pengalaman Ibu Rita sebagai kurator, banyak dan sering ditemukan kesalahan-kesalahan dasar ketika menulis, terutama penulis pemula.  Berikut data kesalahan yang sering dilakukan:

1. Penggunaan huruf besar dan kecil yang tidak tepat.

2. Paragraf panjang-panjang. 

3. Penggunaan tanda baca seperti (titik, koma, titik dua, setrip-tanda petik dsb).

4. Kata baku.

5. Penggunaan kata yang tidak efektif.

6. Penggunaan istilah asing.

7. Penggunaan kata depan di.

A. Yang pertama penggunaan huruf kapital/ besar :

 1. Huruf kapital itu biasa dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.

 Contoh : Dia sedang menulis.

                Hari ini pelaksanaan simulasi UBKD.

 2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan.

Contoh :    Sukarno

     Dayang Sumbi

     Raden Ajeng Kartini

             Pangeran Diponegoro

3. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.

Contoh : “Ayo kita pulang Bu!” Rengek Joni pada ibunya.

               "Mereka berhasil meraih medali emas," katanya.

 4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.

Contoh: Islam, Alquran, Kristen, Alkitab, Hindu, Weda

 - Allah selalu bersama hamba-Nya.

- Bimbinglah hamba- Mu ya Tuhan.

5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.

Contoh : Saya telah membaca buku Merajut Asa Sejak Belia.

                Tulisan itu di muat dalam koran Radar Bali.

6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.

Contoh : S.H. = Sarjana Hukum

  S.Kom. = Sarjana Komputer

                 Dt. = Datuk

                 Tb.       = Tubagus

B. Kesalahan ke-2 yang sering di lakukan oleh penulis pemula adalah paragraf yang panjang-panjang. Sedikit titik dan terlalu banyak koma.

Ketika kita menulis, paragraf ini sangat penting menjadi perhatian utama. Kita harus bisa membedakan penulisan di media sosial, blog dengan penulisan di buku.

 Jika penulisan di blog atau media sosial seperti WA, setiap menulis 2 kalimat atau 3 kalimat sudah bisa membuat paragrap baru. Hal ini dikarenakan di media sosial orang hanya memiliki waktu 3 menit untuk memutuskan apakah mereka akan melanjutkan bacaannya atau tidak.

Jika kita sudah salah di awal dengan membuat paragraf yang panjang-panjang,  pasti orang lain yang berminat membaca tulisan kita hanya sedikit.

 Coba kita perhatikan kisah inspirasi atau nasehat yang sering kita terima di group WA pasti paragrafnya tidak panjang-panjang dan biasanya kita juga selesai membacanya, karena selain isi, cara penulisan juga sangat mempengaruhi kita sebagai pembaca tertarik untuk membacanya.

- Untuk penulisan di buku harus menyesuaikan, tidak mesti 2 kalimat sudah paragraf baru. Jika mengikuti aturan isi kalimat dalam paragraf itu mulai dari 1 hingga 10 kalimat. Usahakan tidak melebihi 7 baris.

C. Ke-3 yang sering ditemukan adalah penggunaan Tanda Baca. 

Beberapa kesalahan penulisan tandabaca yang sering dilakukan adalah:

1. Contoh : sama sama (seharusnya sama-sama) dan itu hampir semua kata pengulangan tidak diberi tanda (-).

2. Penggunaan titik, koma harus diperhatikan, karena akan mempengaruhi penulisan kalimat selanjutnya. Jika kalimat baru maka awalnya harus huruf besar, jika tidak masih huruf kecil. Di sini penulis yang tidak memperhatikan ini maka penggunaan huruf kapitalnya jadi tidak tepat.

3. Untuk kalimat langsung menggunakan tanda “ “ dan harus paragraf baru.

Jadi setiap kalimat langsung terutama percakapan itu haru paragraf baru,

Contoh :

“Dis kalau aku bagaimana?” Celetuk Jeni murid kelas 11 yang tidak begitu akrab dengannya. 

“Aku, juga gimana Gadis?” Sahut Dinda dengan pertanyaan sama. Gadis kebingungan ada dua orang yang berbeda jurusan tiba-tiba bertanya kepadanya. 

“Ayo dong Gadis! Kalau aku orangnya gimana? Katanya kamu bisa membaca sifat orang” Jeni memaksa.

Jadi setiap kalimat langsung itu harus dibuat paragraf baru jangan digabung dengan paragraf lainya.

D.  ke-4 penggunaan Kata Baku

Penggunaan kata baku di dalam tulisan itu penting. Sering ditemukan kesalahan penggunaan kata baku seperti (fikir, sholat, paragrap) yang seharusnya (pikir, salat, paragraf). Untuk mengecek kata baku bisa menginstal aplikasi (KBBI V) di hp masing-masing.

Cara penggunaanya pun cukup mudah setelah terinstall Bpk/Ibu tinggal mengetikan kata misal fikir jika tidak ditemukan maka kata yang kita tulis itu bukan kata baku. Jika ditemukan kata yang kita tulis adalah kata baku.

E. Ke-5 Banyak ditemukan kata yang tidak efektif.

Jika ini sering sekali terjadi, maka akan mempengaruhi tulisan kita. Menjadi kurang enak di baca.

 Contoh : Dia mau akan datang pada sore ini. 

Seharusnya cukup pilih salah satu saja mau atau akan.

Selain itu penggunaan kata yang, dan  terlalu banyak. 

Yang, dan di awal kalimat (jangan digunakan lagi ya!)

F. Ke-6 Penggunaan Istilah Asing

Jika menggunakan istilah asing di dalam tulisan baik itu bhs Inggris, bahasa daerah dll, tulisan asing tersebut harus dicetak miring

G. Yang ke-7 Penggunaan kata depan Di

Orang sering melakukan kesalahan dalam penulisan kata depan di. Cara membedakan adalah seperti di bawah ini.

PENULISAN DI DIGABUNG/DIRANGKAI KALAU:

1. Kata di- menunjukkan fungsi sebagai imbuhan.

2. Kata di- diikuti dengan pembentuk kata kerja pasif. Artinya, penulisan di jenis ini dinilai tepat jika kata kerja pasif bisa diubah menjadi kata kerja aktif (dengan imbuhan me-).

Contoh : ditinggalkan (bisa diubah jadi meninggalkan), ditulis (bisa diubah jadi menulis), diingat (bisa diubah jadi mengingat).

PENULISAN DI DIPISAH KALAU:

1. Kata di menunjukkan fungsi sebagai kata depan. Namanya juga kata depan, berarti ia harus dipisah dari kata belakang.

2. Kata di diikuti dengan kata lain selain kata-kata pembentuk kata kerja pasif. Kata di jenis ini bisa diikuti dengan nama tempat, waktu, nama orang, penunjuk lokasi, dan lain sebagainya, serta tidak bisa diubah menjadi kata kerja aktif.

Contoh: di sini (tidak bisa diubah jadi menyini), di siang hari (tidak bisa diubah jadi menyiang hari), di dirimu (tidak bisa diubah jadi mendirimu

Kesimpulannya di sebagai imbuhan + kata kerja (maka penulisannya serangkai) selain itu terpisah.

Sunday, 22 November 2020

Menjelajahi Dunia Puisi dan Cerpen

 A.  MENULIS SEBUAH CERITA.

Dalam proses menulis sebuah cerita tidak bisa dipungkiri, kita memerlukan sebuah alur cerita yang jelas dan kuat. Proses menulis sebuah alur cerita yang kuat dan jelas itu dilakukan setalah Anda memiliki sebuah ide cerita yang akan ditulis. Sebab itu penting sekali memiliki ide. Nah proses memiliki ide atau mendapatkan ide banyak caranya.

Ada beberapa cara untuk mendapatkan ide.



Setelah ide didapatkan barulah kita menyusun sebuah alur cerita. Untuk yang belum paham apa itu alur cerita. Terlebih dahulu apa itu alur cerita. Nah di dalam alur cerita ada yang disebut dengan plot cerita.

Alur cerita adalah urutan jalan cerita yang disusun berdasrkan waktu kejadian. Alur berisi kronologis cerita,walau bisa maju,kilas balik ataugabungan. Alur hanya rangkaian cerita dari awal sampai akhir.

Sedangkan plot adalah urutan sebab akibat suatu cerita sehingga masuk akal dan dipahami oleh pembaca. Plot berfungsi untuk memberikan pemahaman kepada pembaca baaimana suatuperistiwa dapat berkaitan dengan peristiwa yang alin.

Selain itu plot cerita juga dapat mengungkapkan mengapa dan bagaimana suatu peristiwa atau konflik dapat terjadi, kemudian mengungkapkan akibat dari peristiwa yang terjadi. Plot menjelaskan detail alur dalam sebuah cerita sehingga lebih mudah dimengerti dan masuk akal.

Nah dari contoh alur dan plot tersebut tinggal disusun menjadi outline/keranka cerita menjadi beberapa bab atau keseluruhan bab. Setelah alur dan plot diotulis detail,lalu disusun jadi kerangka barulah Anda mulai menulis cerita.

Dengan persiapan matang dalam menulis maka proses menulis akan berjalan lebih efektif. Anda tidak perlu khawatir blank di tengah cerita. Tingal fokus menulis hingga selesai.

 a) tahapan demi tahapan dalam Alur Cerita

Secara sederhana, alur cerita atau plot merupakan rangkaian peristiwa yang ada di dalam suatu cerita.

Alur sendiri mempunyai sejumlah tahapan, dimana tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tahap Pengenalan (Eksposition atau Orientasi)

Adalah tahapan pertama dalam alur cerita. Dalam tahap ini, unsur-unsur dasar cerita seperti tokoh, latar tempat, waktu, dan suasana dihadirkan di tahap ini. Dengan begitu, pembaca atau penonton dapat mengetahui siapa saja yang menjadi tokoh sebuah cerita, di mana dan kapan cerita itu berlangsung, serta suasana apa yang hendak dibangun oleh pengarang di dalam cerita itu.

2. Tahap Kemunculan Konflik (Rising Action)

Merupakan tahap munculnya konflik dalam cerita. Konflik biasanya muncul dari pertentangan antar tokoh, atau si tokoh utama mengalami masalah yang tidak diduga. Dengan adanya tahap ini, pembaca atau penonton akan mengetahui konflik apa yang akan dialami tokoh selama cerita berlangsung. Tahap ini kemudian akan mengantarkan pembaca atau penonton menuju tahap selanjutnya yang lebih rumit dan menegangkan.

3. Tahap Konflik Memuncak (Turning Point atau Klimaks)

Permasalahan yang sudah diperkenalkan di tahap sebelumnya kemudian memuncak di tahap ini. Hal itu membuat sang tokoh mengalami ketegangan dan kesulitan dalam menghadapi konflik yang dia hadapi. Akibatnya, pembaca atau penonton pun menjadi ikut tegang menyimak cerita yang disajikan kepada mereka. Untuk membangun situasi konflik memuncak atau klimaks di tahap ini, bisa menggunakan contoh majas klimaks di dalam penulisan ceritanya.

4. Tahap Konflik Menurun (Antiklimaks)

Permasalahan yang memuncak di dalam suatu cerita mulai menurun di tahap ini. Dalam tahap ini, sang tokoh mulai mengetahui cara mengatasi konflik yang tengah dia hadapi. Ketegangan yang dialami oleh pembaca atau penonton pun menurun di tahap ini. Ketegangan tersebut pelahan berubah menjadi kekaguman. Hal itu terjadi karena para pembaca atau penonton terkesima karena sang tokoh berhasil menyelesaikan masalah yang tengah dia hadapi dengan cara yang tak terduga. Dalam penulisan tahap ini, pengarang bisa menggunakan data dari riset untuk memperkuat suasana konflik yang kian menurun atau antiklimaks.

5. Tahap Penyelesaian (Resolution)

Di tahap ini, semua masalah yang tersaji di dalam cerita sudah terselesaikan. Tidak ada konflik lanjutan karena semua konflik sudah diselesaikan oleh sang tokoh di dalam cerita yang disajikan. Di tahap ini, pembaca atau penonton bisa menyimpulkan kesan yang mereka dapat dari cerita tersebut, sekaligus pesan atau amanat di balik cerita tersebut.

Bila dibentuk suatu pola, maka tahapan alur cerita akan berbentuk seperti berikut:

Tahap Pengenalan→Tahap Kemunculan Konflik→Tahap Konflik Memuncak→Tahap Konflik Menurun→Tahap Penyelesaian

Dalam perkembangannya, pola tahapan alur tersebut bisa berubah atau berkembang tergantung dari jenis-jenis alur yang hendak disajikan oleh seorang pengarang cerita.

Nah, bisa disimpulkan bahwa alur cerita adalah rangkaian peristiwa di dalam suatu peristiwa yang terdiri atas lima tahapan, yakni tahap pengenalan, kemunculan konflik, konflik memuncak, konflik menurun, dan tahap penyelesaian.

Jenis-Jenis Alur Cerita

Sebelumnya, kita telah mengetahui beberapa tahapan dalam alur cerita, dimana tahapan-tahapan tersebut terdiri atas tahapan pengenalan, kemunculan konflik, tahapan konflik memuncak atau klimaks , konflik menurun atau antiklimaks, dan tahapan penyelesaian. 

Adapun jenis-jenis alur cerita dalam kesusasteraan Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Alur Maju atau Progresif

Jenis alur ini adalah jenis alur yang lazim ditemui dalam sebuah cerita. Dalam alur ini, cerita diawali dengan pengenalan awal yang terdiri dari pengenalan toko beserta wataknya, pengenalan latar tempat, waktu, dan peristiwa, serta latar suasana yang hendak di bangun dalam suatu cerita.

Setelah semua itu diperkenalkan, permasalahan pun tiba-tiba muncul dalam sebuah cerita. Masalah atau konflik tersebut ditandai dengan pertikaian dua tokoh di dalam cerita atau munculnya ketegangan di dalam suatu cerita. Masalah yang muncul itu pun berkembang dan semakin rumit. Tahap merumitnya suatu permasalahan disebut dengan tahap konflik meningkat atau klimaks.

Setelah konflik kian merumit atau klimaks, si tokoh pun pelahan-lahan bangkit dan menemukan solusi atas konflik yang dia hadapi. Ditemukannya solusi atas konflik yang dialami sang tokoh biasa disebut sebagai antiklimaks. Setelah solusi ditemukan, masalah atau konflik pun akhirnya terselesaikan, dan cerita pun telah sampai di tahapan penyelesaian. Jika dibentuk ke dalam sebuah pola, maka pola tahapan alur pada alur maju atau progersif akan berbentuk seperti di bawah ini:

Tahapan Pengenalan→Tahapan Kemunculan Konflik→Tahapan Konflik Memuncak→Tahapan Konflik Menurun→Tahapan Penyelesaian

2. Alur Mundur atau Regresi

Alur ini adalah kebalikan dari alur maju. Di dalam alur ini, cerita justru diawali oleh tahapan penyelesaian yang kemudian terus mundur ke tahapan antiklimaks, klimaks, kemunculan konflik, dan berakhir ke tahap pengenalan. Cerita yang menggunakan alur ini biasanya berisi cerita kilas balik seorang tokoh dalam menjalani kehidupannya.

Jika dibentuk ke dalam pola, maka pola tahapan alur pada jenis alur ini adalah sebagai berikut:

Penyelesaian→Konflik Menurun atau Antiklimaks→Konflik Memuncak atau klimaks→Kemunculan Konflik→Pengenalan

3. Alur Campuran atau Maju-Mundur

Adalah suatu jenis alur yang ceritanya dimulai dari tahap klimaks. Pada alur ini, tahap klimaks yang telah dipaparkan di awal cerita kemudian dimundurkan ke tahap pengenalan masalah. Hal itu bertujuan agar pembaca atau penonton bisa tahu asal mula dari adanya konflik di cerita tersebut. Agar lebih memahami lagi permasalahan atau klimaks tersebut, alur cerita pada jenis alur ini dimundurkan kembali ke tahap pengenalan. Setelah itu, baru dinaikkan ke tahap antiklimaks dan berakhir di tahap penyelesaian.

Bila dibentuk pola, tahapan alur pada alur campuran adalah sebagai berikut:

Klimaks atau Puncak Konflik→Kemunculan Konflik→Pengenalan→Antiklimaks atau Konflik Menurun→Penyelesaian

Barulah setalah Anda memilih alur mana yang ingin dibuat dalam cerita Anda maka susun dalam bentuk outline / kerangka cerita.

Pentingnya sebuah outline pada tulisan menurut Tubagus Salim dalam instagramnya, dijelaskan bahwa:

  • Sebuah outline sangat penting dibuat sebelum menulis dan sesudah menemukan ide.
  • Outline berisi susunan dan poin-poin penting tentang sebuah tulisan yang akan ditulis. Susunan secara berurutan dari bab 1 sampai akhir.
  • Kerangka tulisan berguna untuk memandu kita dalam menulis. Sama fungsinya dengan peta ketika sedang mengadakan perjalanan. Jika di tengah menulis kita lupa maka kita bisa melihat kembali pada kerangka kita.

Contoh membaut outline tulisan:

1. Tentukan dan tulis ide kamu caranya dengan menulis,susun dan deskripsikan.

Ide tulisan : deskripsikan singkat ide kita

Genre tulisan : Fiksi/non fiksi

Buat judul : sementara dan bisa diubah

2. Susunlah ide dalam bab perbab dan uraikan ide tulisan ke dalam poin kecil dalam bab perbab tersebut.

Bab 1 -----          Bab 2 ----      Bab 3          Bab seterusnya          Bab akhir

         ------                     ----

         ------                   -----


Sumber : Perkuliahan Grup Antologi Puisi dan Salimtubagus88

ECA (Extra Curricula Activities)

  Sumber gambar: Labbaikudidadu Wisdom Matric School Sumber gambar: The Catalyst Ekstrakurikuler (atau sering disebut ECA — Extra-Curricula...