Tuesday, 14 June 2011

Pernikahan William-Kate, Perwujudan Imajinasi Dunia Dongeng

  
Pernikahan Pangeran William Arthur Philip Louis dan Catherine Elizabeth Middleton dilakukan pada tanggal 29 April 2011 telah menyedot perhatian seluruh dunia. Tidak hanya pihak kerajaan atau orang Inggris pada umumnya yang merasa terlibat pada perhelatan besar ini, tetapi hampir seluruh negera di pelosok dunia ini merasa ikut merasakan kebahagiaan pristiwa langka ini.

Ada hal yang menyebabkan peristiwa pernikahan ini terasa "mendunia". Yang pertama, adalah faktor perkembangan teknologi yang luar biasa. Adanya jaringan internet yang merambah seluruh pelosok negara, televisi dan media eletronik lain yang berperan besar terhadap penyebaran berita membahagiakan ini. Terlebih lagi, pasangan tersebut dan pihak kerajaan berkenan untuk menyebarkan secara langsung proses pernikahan tersebut lewat you tube. Semakin merambahlah berita ini ke seluruh dunia.


Faktor yang kedua adalah besarnya keingintahuan masyarakat dunia terhadap berbagai acara ritual di keluarga kerajaan. Orang kebanyakan hanya bisa membayangkan dan memperoleh pengetahuan tentang berbagai kegiatan dalam kerajaan terbatas hanya dari berbagi sumber buku, esnsiklopedia dan sumber lain yang memungkinkan. Terlebih orang sering melihat dan merasakan suasana kerajaan dari dongeng-dongeng dan cerita pengantar tidur, tanpa pernah merasakan dan menyaksikan secara langsung pada zaman modern seperti ini. Orang kemudian secara serentak terpana bahagia ketika untuk acara pernikahan Pangeran William dan Kate, pihak kerajaan membuka diri untuk mengabarkan secara luas lewat fasilitas internet.



Dengan fasilitas yang terbuka ini masyarakat seperti dibawa ke dunia dongeng di zaman modern. Mereka dapat menyaksikan kereta kuda yang mengiringi pengantin. merka dapat menyaksikan ritual dalam kerajaan termasuk seluk beluk kerajaan. Ini tidak terjadi pada saat pernikahan Pangeran Charles dan Lady Diana, orang tua Pangeran William. Masyarakat dunia pun akhirnya merasa terlibat pada peristiwa besar ini.


Peristiwa membukanya keluarga kerajaan Inggris terhadap perkembangan teknologi dapat ditiru oleh kerajaan-kerajaan di negara lain, termasuk di Indonesia. Pihak keraton perlu lebih membuka diri terhadap masyarakat sehingga masyarakat luas dapat merasa terlibat dan memiliki. Dengan perasaan memiliki ini, maka kita tak perlu khawatir bahwa segala ritual dan kegiatan dalam kerajaan akan punah. Justru masyarakat akan senantiasa menanti-nantikan acara yang terjadi di kerajaan. Selamat membuka diri terhadap dunia luar tanpa kehilangan jati diri kebudayaan sendiri.