Oleh Ustadz Drs. Jubaedi Syarbini
Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua) adalah salah satu amalan paling utama dalam Islam. Kedudukannya sangat tinggi, bahkan dalam Al-Qur'an, perintah untuk berbakti kepada orang tua sering kali diletakkan langsung setelah perintah untuk mentauhidkan Allah. Ini menunjukkan bahwa menghormati dan merawat orang tua bukanlah sekadar norma sosial, melainkan ibadah yang sangat mendasar.
Berikut adalah panduan mengenai apa yang harus dan tidak boleh dilakukan seorang anak, disertai dengan dalil-dalil dari Al-Qur'an.
## Yang Harus Dilakukan (Bentuk Bakti)
* Menaati Mereka dalam Kebaikan: Mematuhi segala perintah dan nasihat orang tua, selama tidak bertentangan dengan syariat agama (bukan maksiat atau syirik).
* Berbicara dengan Lembut dan Sopan: Menggunakan nada suara yang rendah, kata-kata yang santun, dan penuh rasa hormat saat berkomunikasi dengan mereka.
* Merawat dan Menanggung Kebutuhan Mereka: Terutama saat mereka sudah berusia lanjut, anak berkewajiban menjaga, merawat fisik, serta memenuhi kebutuhan finansial atau tempat tinggal mereka jika mampu.
* Mendoakan Kebaikan untuk Mereka: Selalu menyelipkan doa ampunan dan kasih sayang untuk orang tua, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah tiada.
* Menjaga Silaturahmi Teman-Teman Orang Tua: Termasuk menyambung hubungan baik dengan kerabat dekat mereka sebagai bentuk penghormatan.
## Yang Tidak Boleh Dilakukan (Bentuk Durhaka)
* Mengatakan "Ah" atau Membentak: Mengeluarkan keluhan, bersungut-sungut, atau meninggikan suara di hadapan mereka, sekecil apa pun bentuk kekesalan tersebut.
* Menolak Perintah Mereka Tanpa Alasan Syar'i: Mengabaikan atau menolak permintaan mereka hanya karena malas atau lebih mementingkan urusan pribadi yang tidak mendesak.
* Menelantarkan Mereka di Hari Tua: Membiarkan mereka hidup kesusahan, kesepian, atau tidak terawat ketika mereka sudah tidak berdaya.
* Memandang Mereka dengan Tatapan Tajam/Marah: Menunjukkan ekspresi wajah yang tidak menyenangkan, cemberut, atau menatap dengan rasa benci/marah.
*Menaati Mereka dalam Maksiat: Satu-satunya pengecualian untuk tidak patuh adalah jika orang tua mengajak kepada kemusyrikan atau pelanggaran agama. Namun, penolakan ini pun harus disampaikan dengan cara yang sangat santun.
#Ayat-Ayat Al-Qur'an Terkait Birrul Walidain
Berikut adalah beberapa ayat utama yang menjadi dasar perintah berbakti kepada orang tua:
1. Surah Al-Isra' Ayat 23–24
Ayat ini merupakan panduan paling detail mengenai etika berbicara dan bersikap kepada orang tua, terutama saat mereka lansia.
Artinya:"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."
Artinya:"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil'."
2. Surah Luqman Ayat 14
Ayat ini menekankan pengorbanan seorang ibu dan perintah untuk bersyukur kepada Allah sekaligus kepada orang tua.
Artinya:"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku tempat kembalimu."
3. Surah An-Nisa' Ayat 36
Dalam ayat ini, perintah berbuat baik kepada orang tua ditempatkan langsung setelah perintah menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya.
Artinya:"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua..."
Ketika orang tua telah wafat, pintu untuk berbakti (birrul walidain) tidak serta-merta tertutup. Islam memberikan tuntunan yang sangat indah bahwa seorang anak tetap bisa mengirimkan kebaikan dan pahala kepada orang tua mereka yang sudah berada di alam barzakh.
Berikut adalah hal-hal utama yang perlu dan dapat dilakukan oleh anak ketika orang tua sudah wafat, lengkap dengan dasar hadisnya:
## 1. Mendoakan dan Memohonkan Ampunan
Ini adalah tugas paling utama dan berkelanjutan bagi seorang anak. Doa anak yang saleh adalah aset paling berharga bagi orang tua di alam kubur karena pahalanya tidak akan terputus.
* Dasar Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim no. 1631)
* Dampak di Alam Kubur:
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa derajat seorang orang tua bisa diangkat di surga karena istigfar anaknya:
> "Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jalla akan mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di surga. Hamba itu berkata, 'Wahai Rabb, dari mana saya bisa mendapatkan ini?' Allah berfirman, '**Karena permohonan ampunan anakmu untukmu**'." (HR. Ahmad, disahihkan oleh Al-Albani)
2. Melunasi Utang-Utang Orang Tua (Utang kepada Manusia maupun Allah)
Anak hendaknya segera memeriksa dan menyelesaikan tanggung jawab finansial atau kewajiban ibadah orang tua yang belum terpenuhi semasa hidup, seperti utang piutang, wasiat, atau utang puasa/haji (jika mampu).
* Dasar Hadis (Utang Puasa):
> "Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan memiliki utang puasa, maka walinya (anak/kerabatnya) yang berpuasa untuknya." (HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147)
* Dasar Hadis (Utang Haji/Nazar):
Seorang wanita bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ibunya yang bernazar ingin haji tapi wafat sebelum menunaikannya. Nabi ﷺ menjawab:
"Hajikanlah untuknya. Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki utang, bukankah kamu yang melunasinya? **Bayarlah utang kepada Allah, karena utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi." (HR. Bukhari no. 1852)
3. Bersedekah Atas Nama Orang Tua
Anak bisa menginfakkan sebagian hartanya (seperti membangun sumur, mewakafkan Al-Qur'an, atau memberi makan fakir miskin) dengan meniatkan pahalanya untuk orang tua.
* Dasar Hadis:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa ibu dari Sa'ad bin Ubadah meninggal dunia ketika Sa'ad tidak ada di tempat. Lalu Sa'ad bertanya kepada Rasulullah:
> "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia sedangkan aku sedang tidak bersamanya, apakah bermanfaat jika aku bersedekah atas namanya?" Beliau bersabda, **"Ya, bermanfaat."** (HR. Bukhari no. 2756)
4. Menyambung Silaturahmi dengan Kerabat dan Sahabat Orang Tua
Bentuk bakti yang sering terlupakan adalah menjaga hubungan baik dengan paman, bibi, serta teman-teman dekat almarhum/almarhumah orang tua.
* Dasar Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Sesungguhnya bakti yang paling utama adalah seorang anak menyambung tali silaturahmi dengan keluarga teman baik ayahnya setelah ayahnya meninggal dunia." (HR. Muslim no. 2552)
## Ringkasan dalam Satu Hadis Penuh
Seluruh poin di atas sebenarnya terangkum indah dalam sebuah dialog antara seorang sahabat dari Bani Salimah dengan Rasulullah ﷺ:
"Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya wafat?"
>Beliau ﷺ menjawab, "Ya, ada. Yaitu (1) mendoakan keduanya, (2) memohonkan ampunan untuk keduanya, (3) menunaikan janji/wasiat mereka setelah wafatnya, (4) menyambung silaturahmi yang tidak tercipta kecuali lewat perantara mereka, dan (5) memuliakan teman dekat keduanya." (HR. Abu Dawud no. 5142, dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dhoif oleh yang lain, namun maknanya didukung hadis-hadis sahih sebelumnya).
Al Isra: 23
Menyenangkan orang tua:
Berakhlak baik
Berprestasi
Mengunjungi orang tua
Membawakan oleh-oleh/buah tangan
Meluangkan waktu untuk menemui orang tua
