Tuesday, 20 October 2026

Cooking Utensils/Tools (Alat-alat Masak)

1. Frying pan / Skillet = Wajan datar / penggorengan

2. Wok = Wajan cembung (wajan penggorengan besar)

​3. Saucepan = Panci bertangkai (untuk merebus saus/mie)

4. ​Stockpot = Panci kaldu besar

​5. Spatula = Spatula / sodet

6. ​Tongs = Capitan makanan

​7. Ladle = Sendok sayur / irus

​8. Whisk = Pengocok telur / adonan

9. Knife = Pisau

​10. Cutting board / Chopping board = Talenan

​11. Peeler = Alat pengupas kulit buah/sayur

​12. Grater = Parutan

13. ​Can opener = Pembuka kaleng

14. ​Kitchen shears / Kitchen scissors = Gunting dapur

​15. Measuring cup = Gelas ukur

​16. Measuring spoon = Sendok ukur

​17. Mixing bowl = Mangkuk adonan

​18. Colander = Mangkuk peniris / saringan berlubang besar

19. ​Strainer / Sieve = Saringan halus

20. Stove / Cooktop = Kompor

21. ​Oven = Oven / pemanggang

​22. Blender = Blender

23. ​Food processor = Alat penggiling/pengolah makanan

24. ​Toaster = Pemanggang roti

​25. Rice cooker = Penanak nasi

26. Baking sheet / Baking tray = Loyang pemanggang datar

​27. Rolling pin = Kayu penggilas adonan

​28.Oven mitts = Sarung tangan oven / pelindung panas

29. Spoon = Sendok

30. Fork =garpu 

31. Table spoon: sendok makan

32. Teaspoon: Sendok teh

33. Cup : cangkir 

35. Gelas: gelas

36. 

Sunday, 18 October 2026

Dua Syarat Menuntut Ilmu

 *PENGAJIAN RUTIN MALAM  AHAD di Baitul Mukminin Bobotsari 

USTADZ MINTARAGA EMAN SURYA 


*Bobotsari, Sabtu, 17 Oktober 2026* — Pengajian rutin malam Ahad ketiga yang diselenggarakan di Masjid Baitul Mukminin Bobotsari berlangsung ba’da Maghrib dengan menghadirkan *Ustadz Mintaraga Eman Surya* sebagai pemateri.


Dalam kajian tersebut, Ustadz Mintaraga Eman Surya menyampaikan materi tentang dua syarat utama dalam menuntut ilmu, yaitu bersih hati dan berakal atau waras.


Beliau menjelaskan bahwa menuntut ilmu bukan sekadar aktivitas membaca, mendengarkan, dan menghafal materi, tetapi juga membutuhkan kesiapan hati serta akal yang sehat agar ilmu dapat dipahami, diamalkan, dan membawa manfaat dalam kehidupan.


Pertama, bersih hati. Hati yang bersih menjadi modal penting bagi seseorang dalam menerima ilmu. Seorang pencari ilmu hendaknya menjauhkan diri dari sifat sombong, iri hati, merasa paling benar, serta niat buruk lainnya. Dengan hati yang bersih, seseorang akan lebih mudah menerima nasihat, menghormati guru, menghargai pendapat orang lain, dan menjadikan ilmu sebagai jalan untuk memperbaiki diri.


*Kedua, berakal atau waras.* Menuntut ilmu membutuhkan akal yang sehat agar seseorang mampu berpikir, memahami penjelasan, membedakan yang benar dan salah, serta mengambil pelajaran dari setiap ilmu yang dipelajari. Ilmu hendaknya tidak hanya diterima begitu saja, tetapi juga dipahami dan diamalkan dengan penuh tanggung jawab.


Pesan penting dari kajian ini adalah bahwa *ilmu akan lebih mudah memberikan manfaat apabila dipelajari dengan hati yang bersih dan akal yang sehat.* Sebanyak apa pun ilmu yang dimiliki, jika tidak disertai kerendahan hati dan kemauan untuk mengamalkannya, maka ilmu tersebut belum tentu membawa perubahan yang baik bagi diri sendiri maupun orang lain.


Melalui pengajian rutin ini, jamaah diharapkan semakin bersemangat dalam menuntut ilmu agama, memperbaiki akhlak, memperkuat keimanan, serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.


Semoga kegiatan pengajian rutin di Masjid Baitul Mukminin Bobotsari senantiasa istiqamah, membawa keberkahan, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas iman serta amal saleh masyarakat.


*Bersihkan hati, sehatkan akal, luruskan niat, dan amalkan ilmu.* Sebab, tujuan menuntut ilmu bukan sekadar menjadi orang yang tahu, tetapi menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin dekat kepada Allah SWT.


*Wallahu a’lam bish-shawab.*


Sumber tulisan: 

KangObet

MudabanggaNews

Tuesday, 13 October 2026

Falsafah Angka dalam Budaya Jawa: Makna Usia dan Laku Hidup

Dalam budaya Jawa, angka tidak hanya berfungsi untuk menghitung jumlah atau usia, tetapi juga sering digunakan sebagai sarana pitutur (nasihat), wewarah (ajaran), dan refleksi perjalanan hidup manusia. Beberapa nama bilangan Jawa memiliki makna filosofis yang dikenal luas dalam masyarakat, sementara sebagian lainnya merupakan penafsiran simbolis yang berkembang dalam tradisi tutur.

Contoh yang menarik adalah welas, selikur, selawe, seket, sewidak, dan beberapa bilangan lainnya. Ada baiknya kita membedakan antara arti bahasa Jawa secara harfiah dan makna filosofis yang dilekatkan masyarakat.

1. Nama bilangan Jawa dan makna filosofisnya

Angka

Sebutan Jawa

Tafsir filosofis yang dikenal di masyarakat

11

Sewelas

Duwe rasa welas — mulai tumbuh rasa kasih sayang, kepedulian, dan kepekaan terhadap orang lain.

21

Selikur

Seneng lingguh kursi — mulai memasuki masa dewasa, bekerja, berkarya, dan memikul tanggung jawab.

22

Rolikur

Bagian dari rentang usia dewasa muda; dapat dimaknai sebagai masa memantapkan diri dan tanggung jawab.

23

Telulikur

Masa mengembangkan kemampuan dan kemandirian.

24

Patlikur

Masa mematangkan pilihan hidup dan membangun masa depan.

25

Selawe

Senenge lanang lan wedok — ditafsirkan sebagai masa tumbuhnya keseriusan dalam hubungan dan membangun keluarga.

26–29

Nemlikur, pitulikur, wolulikur, sangalikur

Bagian dari usia dewasa muda; dapat dijadikan pengingat untuk semakin matang dan mandiri.

50

Seket

Seneng kethunan — dalam salah satu tafsir tutur, dikaitkan dengan memakai penutup kepala dan memperkuat kesadaran beribadah.

60

Sewidak

Sejatine wis wayahe tindak — ditafsirkan sebagai pengingat bahwa hidup terbatas dan manusia perlu mempersiapkan bekal spiritual.

Tafsiran tersebut dikenal dalam sejumlah tulisan tentang filosofi bilangan Jawa. Namun, makna seperti seneng lingguh kursi dan seneng kethunan merupakan penafsiran atau akronim tradisional, bukan arti harfiah yang pasti dari setiap kata.

BBPMP Jawa Tengah

2. Mengapa angka-angka tersebut dianggap istimewa?

Cublak Cublak Suweng - Permainan Tradisional Indonesia

Sewelas — belajar memiliki rasa welas

Welas asih merupakan salah satu nilai luhur yang penting dalam kehidupan Jawa. Seseorang diharapkan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga mampu memahami perasaan orang lain, menghormati orang tua, dan menyayangi sesama.

Working from backyard

Selikur — belajar bertanggung jawab

Tafsir seneng lingguh kursi mengingatkan bahwa kedewasaan bukan sekadar bertambahnya usia atau memperoleh jabatan. Kedewasaan terlihat dari kemampuan mengambil keputusan, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri.

55 Ucapan Idul Adha Bahasa Jawa dari Ngoko hingga Krama Inggil 2026 - KapanLagi.com

Selawe — membangun kasih dan keluarga

Tafsir senenge lanang lan wedok mengarah pada hubungan kasih antara laki-laki dan perempuan. Makna yang lebih luas dapat direnungkan sebagai pentingnya kedewasaan emosional, kesetiaan, dan tanggung jawab dalam membangun hubungan.

Ketika AKU Menjadi Hijab

Seket — memperkuat ibadah dan introspeksi

Usia 50 dapat dijadikan momentum untuk mengevaluasi perjalanan hidup, memperbaiki hubungan dengan keluarga, memperbanyak amal, dan memperdalam hubungan dengan Tuhan. Makna ini merupakan refleksi nilai, bukan kewajiban yang baru berlaku ketika seseorang berusia 50 tahun.

Nyesel Baru Tahu Sekarang? Simak 8 Cara Menabung Dana Pensiun dan Strategi Investasi Masa Depan - Media Purwodadi

Sewidak — menyadari keterbatasan hidup

Tafsir sejatine wis wayahe tindak mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak berlangsung selamanya. Pesannya bukan bahwa usia 60 merupakan batas hidup, melainkan agar manusia selalu berbuat baik, menjaga hubungan dengan sesama, dan menyiapkan bekal akhirat tanpa menunda-nunda.

3. Inti falsafahnya: perjalanan hidup manusia

Jika dirangkai sebagai nasihat kehidupan, bilangan-bilangan tersebut dapat dibaca sebagai perjalanan batin:

  • Sewelas: tumbuhkan welas asih.

  • Selikur: belajarlah bertanggung jawab.

  • Selawe: bangunlah hubungan yang dewasa dan penuh kasih.

  • Seket: perkuat ibadah dan lakukan introspeksi.

  • Sewidak: sadari keterbatasan hidup dan persiapkan bekal kebaikan.

Ada satu hal yang indah dari cara masyarakat Jawa memberi makna pada angka: bilangan yang semula hanya menunjukkan usia dapat dijadikan pengingat tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupannya.

Meski demikian, tidak semua angka Jawa mempunyai falsafah yang baku. Makna-makna tersebut merupakan warisan tafsir budaya yang dapat berbeda menurut daerah, keluarga, dan tradisi tutur.

Pitutur yang dapat kita petik:

Urip iku ora mung ngetung umur, nanging uga ngetung kabecikan.

Artinya: hidup bukan sekadar menghitung usia, melainkan juga menghitung kebaikan yang telah kita lakukan.

Bertambahnya usia semestinya tidak hanya membuat kita semakin tua, tetapi juga semakin welas asih, bijaksana, bertanggung jawab, dan dekat kepada Gusti Allah.

Cooking Utensils/Tools (Alat-alat Masak)

1. Frying pan / Skillet = Wajan datar / penggorengan 2. Wok = Wajan cembung (wajan penggorengan besar) ​3. Saucepan = Panci bertangkai (untu...