Wednesday, 6 May 2026

Tidak Mudah Menuduh Orang Munafik dari Prasangka

 ONE DAY ONE HADITS

Senin, 4 Mei 2026 / 16 Dzulkaidah 1447


عن عِتْبَانَ بن مالك رضي الله عنه وَهُوَ مِمَّن شَهِدَ بَدرًا، قَالَ: كنتُ أُصَلِّي لِقَوْمِي بَني سَالِم، وَكَانَ يَحُولُ بَيْنِي وبَيْنَهُمْ وَادٍ إِذَا جَاءتِ الأَمْطَار، فَيَشُقُّ عَلَيَّ اجْتِيَازُهُ قِبَلَ مَسْجِدِهم، فَجِئتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم فقلت لَهُ: إنّي أنْكَرْتُ بَصَرِي، وَإنَّ الوَادِي الَّذِي بَيْنِي وبَيْنَ قَومِي يَسيلُ إِذَا جَاءتِ الأمْطَارُ، فَيَشُقُّ عَلَيَّ اجْتِيَازُهُ فَوَدِدْتُ أنَّكَ تَأتِي فَتُصَلِّي في بَيْتِي مَكَانًا أتَّخِذُهُ مُصَلّى، فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((سَأَفْعَلُ)).

فَغَدَا عليَّ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم وَأَبُو بكر رضي الله عنه بَعْدَ مَا اشْتَدَّ النَّهَارُ، وَاسْتَأذَنَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم، فَأذِنْتُ لَهُ، فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى قَالَ: ((أيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ؟)) فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى المَكَانِ الَّذِي أُحبُّ أَنْ يُصَلِّيَ فِيهِ، فَقَامَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم فَكَبَّرَ، وَصَفَفْنَا وَرَاءَهُ فَصَلَّى رَكعَتَينِ، ثُمَّ سَلَّمَ وَسَلَّمْنَا حِينَ سَلَّمَ فَحَبَسْتُهُ عَلَى خَزيرَةٍ تُصْنَعُ لَهُ، فَسَمِعَ أهلُ الدَّارِ أنَّ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم في بَيْتِي فَثَابَ رِجالٌ مِنْهُمْ حَتَّى كَثُرَ الرِّجَالُ فِي البَيْتِ.

فَقَالَ رَجُلٌ: مَا فَعَلَ مَالِكٌ لاَ أرَاهُ! فَقَالَ رَجُلٌ: ذلِكَ مُنَافِقٌ لا يُحِبُّ اللهَ ورسولَهُ، فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((لاَ تَقُلْ ذلِكَ، ألا تَرَاهُ، قَالَ: لاَ إلهَ إلا الله يَبْتَغي بذَلِكَ وَجهَ الله تَعَالَى)) فَقَالَ: اللهُ ورسُولُهُ أعْلَمُ، أمَّا نَحْنُ فَوَاللهِ مَا نَرَى وُدَّهُ وَلا حَدِيثَهُ إلا إِلَى المُنَافِقينَ! فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((فإنَّ الله قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إلهَ إِلاَّ الله يَبْتَغِي بذَلِكَ وَجْهَ الله)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.


Dari Itban bin Malik radhiyallahu anhu salah seorang sahabat yang ikut perang Badar ia berkata:

“Aku biasa mengimami kaumku dari Bani Salim. Namun di antara aku dan mereka ada sebuah lembah. Jika hujan turun, lembah itu tergenang sehingga sulit bagiku untuk menyeberang ke masjid mereka.

Maka aku datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan berkata: ‘Sesungguhnya penglihatanku telah berkurang, dan lembah yang ada antara aku dan kaumku mengalir saat hujan, sehingga sulit bagiku menyeberang. Aku berharap engkau datang dan shalat di rumahku pada suatu tempat yang nanti akan aku jadikan tempat shalat.’

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda: ‘Aku akan melakukannya.’

Keesokan harinya Rasulullah shalallahu alaihi wa salam datang kepadaku bersama Abu Bakar

radhiyallahu anhu setelah matahari agak tinggi. Beliau meminta izin masuk, lalu aku izinkan. Beliau tidak duduk sampai berkata: ‘Di mana engkau ingin aku shalat di rumahmu?’

Aku tunjukkan tempat yang aku inginkan. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berdiri, bertakbir, dan kami berbaris di belakang beliau. Beliau shalat dua rakaat, lalu salam, dan kami pun ikut salam.

Kemudian aku menahan beliau untuk menikmati hidangan khazirah (makanan dari tepung dan lemak) yang aku siapkan. Lalu penduduk sekitar mendengar bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berada di rumahku, maka banyak orang berdatangan hingga rumah penuh.

Seseorang berkata: ‘Mana Malik? Aku tidak melihatnya.’ Orang lain berkata: ‘Dia itu munafik, tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya.’

Maka Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda: ‘Jangan berkata begitu. Tidakkah kamu melihat bahwa ia mengucapkan: La ilaha illallah dengan mengharap wajah Allah?’

Orang itu berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Adapun kami, demi Allah, kami tidak melihat kecintaan dan pembicaraannya kecuali kepada orang-orang munafik.’ Maka Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan mengharap wajah Allah.’”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1- Keringanan dalam ibadah karena uzur. Orang yang memiliki kesulitan (seperti sakit, buta, atau kondisi alam) mendapat keringanan untuk tidak ke masjid.

2- Bolehnya membuat tempat khusus shalat di rumah.

Disunnahkan memiliki tempat tertentu di rumah untuk ibadah agar lebih khusyuk.

3- Tawadhu dan perhatian Nabi shalallahu alaihi wa salam.

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam mau memenuhi permintaan sahabat, meskipun secara kedudukan beliau lebih tinggi.

4- Tidak mudah menuduh orang munafik. Nabi shalallahu alaihi wa salam melarang menuduh seseorang sebagai munafik hanya dari prasangka.

5- Keutamaan kalimat tauhid

Ucapan “La ilaha illallah” dengan ikhlas menjadi sebab keselamatan dari neraka.

6- Pentingnya niat (ikhlas).

Tidak cukup hanya mengucapkan, tetapi harus disertai keikhlasan karena Allah.

7- Bolehnya menjamu tamu

Menjamu tamu termasuk akhlak mulia yang dicontohkan para sahabat.

8- Boleh menjelaskan kondisi diri (uzur). Mengabarkan kekurangan (seperti rabun) bukan termasuk keluhan tercela jika ada kebutuhan.

9- Boleh mengajak orang lain saat bertamu. Selama tuan rumah tidak keberatan, membawa teman saat berkunjung diperbolehkan.


Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an:


1- Ikhlas dalam Tauhid.

Hadits menegaskan bahwa orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas akan diselamatkan.

Tidak cukup hanya ucapan, harus disertai keikhlasan


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya...”

(QS. Al-Bayyinah: 5)


2- Allah Mengetahui Isi Hati

Dalam hadits, Nabi shalallahu alaihi wa salam melarang menuduh seseorang munafik karena hanya Allah yang tahu isi hati. Kita tidak boleh menghakimi iman seseorang


إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati.”

(QS. Ali ‘Imran: 154)


3- Larangan Su’uzan (Buruk Sangka). Tidak boleh mudah menilai buruk orang lain.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.”

(QS. Al-Hujurat: 12)


4- Keutamaan Tauhid

Hadits: Allah mengharamkan neraka bagi orang yang ikhlas bertauhid. Tauhid adalah kunci keselamatan.


إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”

(QS. An-Nisa: 48)


5- Kemudahan dalam Agama

Hadits menunjukkan adanya keringanan karena uzur (hujan, lemah penglihatan). Islam memberi kemudahan, bukan kesulitan.


لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.”

(QS. Al-Baqarah: 286).

Friday, 1 May 2026

Allah Memberi Keberkahan pada yang Sedikit

 ONE DAY ONE HADITS

Jum'at, 1 Mei 2026 / 13 Dzulkaidah 1447



عن أَبي هريرة رضي الله عنه أَوْ أَبي سعيد الخدري رضي الله عنهما- شك الراوي- ولا يَضُرُّ الشَّكُّ في عَين الصَّحَابيّ؛ لأنَّهُمْ كُلُّهُمْ عُدُولٌ- قَالَ: لَمَّا كَانَ غَزوَةُ تَبُوكَ، أصَابَ النَّاسَ مَجَاعَةٌ، فقالوا: يَا رَسُول الله، لَوْ أَذِنْتَ لَنَا فَنَحرْنَا نَواضِحَنَا فَأكَلْنَا وَادَّهَنَّا؟ فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((افْعَلُوا)). 

فَجاء عُمَرُ رضي الله عنه فَقَالَ: يَا رَسُول الله، إنْ فَعَلْتَ قَلَّ الظَّهْرُ، وَلَكِن ادعُهُمْ بفَضلِ أزْوَادِهِمْ، ثُمَّ ادعُ الله لَهُمْ عَلَيْهَا بِالبَرَكَةِ، لَعَلَّ الله أنْ يَجْعَلَ لهم في ذلِكَ البَرَكَةَ. فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((نَعَمْ)) فَدَعَا بِنَطْع فَبَسَطَهُ، ثُمَّ دَعَا بِفضلِ أزْوَادِهِمْ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَجيءُ بكَفّ ذُرَة، وَيَجيءُ الآخر بِكَفّ تمر، وَيجيءُ الآخرُ بِكِسرَة، حَتَّى اجْتَمَعَ عَلَى النّطعِ مِنْ ذلِكَ شَيء يَسيرٌ، فَدَعَا رَسُول الله صلى الله عليه وسلم عليه بِالبَرَكَةِ، ثُمَّ قَالَ: ((خُذُوا في أوعِيَتِكُمْ)) فَأَخَذُوا في أوْعِيَتهم حَتَّى مَا تَرَكُوا في العَسْكَرِ وِعَاء إلا مَلأوهُ وَأَكَلُوا حَتَّى شَبعُوا وَفَضَلَ فَضْلَةٌ، فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ، وَأَنّي رَسُولُ الله، لا يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الجَنَّةِ)). رواه مسلم. 


Dari Abu Hurairah atau Abu Sa'id Al-Khudri (perawi ragu), dan tidak masalah keraguan dalam penentuan sahabat karena semua sahabat itu adil.

Ia berkata:

Ketika terjadi perang Tabuk, orang-orang mengalami kelaparan. Mereka berkata:

“Wahai Rasulullah, apakah engkau mengizinkan kami menyembelih unta-unta kami lalu kami makan dan memakai lemaknya?”

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

“Lakukanlah.”

Kemudian Umar bin Khattab datang dan berkata:

“Wahai Rasulullah, jika itu dilakukan, maka kendaraan akan berkurang. Akan tetapi, ajaklah mereka membawa sisa bekal mereka, lalu doakan keberkahan untuk mereka. Semoga Allah menjadikan di dalamnya keberkahan.”

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

“Ya.”

Maka beliau meminta alas (hamparan), lalu dibentangkan. Kemudian beliau meminta sisa-sisa bekal makanan mereka.

Lalu orang-orang datang membawa segenggam gandum, segenggam kurma, atau sepotong roti, hingga terkumpul sedikit di atas alas tersebut.

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam kemudian mendoakan keberkahan atasnya.

Lalu beliau bersabda:

“Ambillah ke dalam wadah kalian masing-masing.”

Maka mereka mengisi wadah mereka hingga tidak ada satu wadah pun di pasukan kecuali terisi penuh. Mereka makan sampai kenyang, bahkan masih tersisa makanan.

Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menemui Allah dengan dua kalimat ini dalam keadaan tidak ragu, kecuali ia tidak akan terhalang dari surga.”

(HR. Sahih Muslim)


Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1. Mukjizat Nabi shalallahu alaihi wa salam. Allah memberikan keberkahan pada makanan yang sangat sedikit hingga cukup untuk seluruh pasukan.

2- Pentingnya keberkahan dari Allah Bukan banyaknya jumlah yang membuat cukup, tetapi barakah dari Allah.

3- Musyawarah dalam mengambil keputusan Umar bin Khattab memberikan pendapat yang lebih bijak, menunjukkan pentingnya pertimbangan dan hikmah dalam keputusan.

4- Kaidah fiqih penting:

Mendahulukan maslahat yang lebih besar.

Menghindari kerusakan yang lebih besar.

Memilih mudarat yang lebih ringan jika terpaksa.

5- Adab dalam berbicara kepada pemimpin. Para sahabat berbicara dengan sopan kepada Nabi shalallahu alaihi wa salam meskipun dalam keadaan sulit.

6- Keutamaan tauhid Kalimat syahadat adalah sebab keselamatan di akhirat, selama diucapkan dengan yakin dan tanpa keraguan.

7- Kepastian masuk surga bagi ahli tauhid Orang yang meninggal dalam keadaan bertauhid dan yakin, pada akhirnya akan masuk surga, meskipun bisa melalui proses (termasuk jika punya dosa).

8- Allah mampu memberi keberkahan dari sesuatu yang sedikit

Islam mengajarkan hikmah, musyawarah, dan prioritas maslahat

Tauhid yang benar tanpa keraguan adalah kunci keselamatan akhirat.


Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an :


1- Allah memberi keberkahan dari yang sedikit. Allah memberi keberkahan pada yang sedikit

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”(QS. Al-A’raf: 96)


2- Allah mencukupkan rezeki dengan kehendak-Nya. Rezeki pasukan dalam hadits menjadi cukup karena Allah.

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada satu makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.”(QS. Hud: 6)


3- Perintah musyawarah. Ini sesuai dengan sikap Umar bin Khattab yang memberi saran bijak kepada Nabi shalallahu alaihi wa salam.

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”

(QS. Ali Imran: 159)


4- Mendahulukan maslahat dan mencegah kerusakan. Nabi shalallahu alaihi wa salam memilih cara yang lebih maslahat (mengumpulkan makanan dan doa keberkahan).

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.”

(QS. At-Taghabun: 16)


5- Keutamaan tauhid sebagai

keselamatan. Tauhid yang benar tanpa keraguan adalah jalan keselamatan.

فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ

“Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.”

(QS. Al-Baqarah: 256)

Iman Tidak Cukup di Lisan, Harus Dibuktikan dengan Amal

 ONE DAY ONE HADITS

Kamis, 30 April 2026 / 12 Dzulkaidah 1447




عن أنس رضي الله عنه أن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم ومعاذ رديفه عَلَى الرَّحْل، قَالَ: ((يَا مُعَاذُ)) قَالَ: لَبِّيْكَ يَا رَسُول الله وَسَعْدَيْكَ، قَالَ: ((يَا مُعَاذُ)) قَالَ: لَبَّيْكَ يَا رَسُول الله وَسَعْدَيْكَ، قَالَ: ((يَا مُعَاذُ)) قَالَ: لَبِّيْكَ يَا رَسُول الله وسَعْدَيْكَ، ثَلاثًا، قَالَ: ((مَا مِنْ عَبْدٍ يَشْهَدُ أن لا إلهَ إلا الله، وَأنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إلا حَرَّمَهُ الله عَلَى النَّار)) قَالَ: يَا رَسُول الله، أفَلا أخْبِرُ بِهَا النَّاس فَيَسْتَبْشِروا؟ قَالَ: ((إِذًا يَتَّكِلُوا)) فأخبر بِهَا مُعاذٌ عِنْدَ موتِه تَأثُّمًا. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. 


Dari Anas radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shalallahu alaihi wa salam dan Mu'adz bin Jabal sedang berboncengan di atas kendaraan.

Beliau bersabda:

“Wahai Mu’adz!”

Mu’adz menjawab: “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah dan aku siap membantumu.”

Beliau memanggil lagi:

“Wahai Mu’adz!”

Mu’adz menjawab: “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah dan aku siap membantumu.”

Sampai tiga kali.

Kemudian beliau bersabda:

“Tidaklah seorang hamba bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dengan benar dari hatinya, kecuali Allah mengharamkannya dari neraka.”

Mu’adz berkata:

“Wahai Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan ini kepada manusia agar mereka bergembira?”

Beliau menjawab:

“Kalau begitu, mereka akan bersandar (tidak beramal).”

Lalu Mu’adz menyampaikan hadits ini menjelang wafatnya karena takut berdosa jika menyembunyikan ilmu.

(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)


Pelajaran yang terdapat di dalam hadits :

1- Keutamaan tauhid dan syahadat

Siapa yang mengucapkan syahadat dengan iman yang benar dari hati, maka itu sebab keselamatan dari neraka.

2- Syarat penting: kejujuran hati

Tidak cukup hanya ucapan. Harus ada keyakinan dan keikhlasan dalam hati.

3- Bahaya hanya mengandalkan harapan tanpa amal.

Nabi shalallahu alaihi wa salam khawatir manusia menjadi malas beramal jika hanya mendengar kabar gembira ini.

4- Pentingnya keseimbangan antara harapan dan amal.

Islam mengajarkan harapan (raja’) tetapi tetap harus disertai usaha (amal).

5- Hikmah dalam menyampaikan ilmu

Seorang alim perlu mempertimbangkan kondisi dan maslahat:

Kadang ilmu disampaikan

Kadang ditunda demi kebaikan yang lebih besar

6- Amanah dalam menyampaikan ilmu. Mu'adz bin Jabal akhirnya menyampaikan hadits ini menjelang wafat karena takut berdosa jika menyembunyikan ilmu.

7- Hadits ini menegaskan:  Tauhid yang benar dari hati adalah sebab keselamatan.

Tapi tetap harus disertai amal, tidak boleh hanya bersandar pada harapan.


Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an :

1- Keikhlasan dalam tauhid. syahadat harus murni dari hati, bukan sekadar ucapan.

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni (ikhlas).”

(QS. Az-Zumar: 3)


2- Iman harus dari hati, bukan hanya lisan. Ini menggambarkan orang munafik, yang berbeda dengan syarat hadits: jujur dari hati.

يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِم مَّا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ

“Mereka mengatakan dengan lisannya apa yang tidak ada dalam hatinya.”(QS. Al-Fath: 11)


3- Larangan bersandar tanpa amal. 

Menjelaskan kenapa Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda: “nanti mereka akan bersandar (tidak beramal.

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”(QS. An-Najm: 39)


4- Kaitan iman dan amal. Dalam Al-Qur’an, iman selalu disertai amal, tidak dipisahkan.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh…”

(QS. Al-Baqarah: 25)


5- Jaminan keselamatan bagi orang bertauhid. Amal tetap diperhitungkan, walaupun tauhid adalah dasar keselamatan.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”

(QS. Az-Zalzalah: 7)

Tidak Mudah Menuduh Orang Munafik dari Prasangka

 ONE DAY ONE HADITS Senin, 4 Mei 2026 / 16 Dzulkaidah 1447 عن عِتْبَانَ بن مالك رضي الله عنه وَهُوَ مِمَّن شَهِدَ بَدرًا، قَالَ: كنتُ أُصَلّ...