Monday, 21 June 2021

Kembali Pembatasan

Kabar akan mulai dibukanya kembali sekolah di tahun ajaran baru tahun 2021/2022 yang diumumkan dan disosialisasikan oleh menteri Pendidikan membuat angin segar dan harapan untuk PTM (Pembelajaran Tatap Muka).

Setelah hampir 1,5 tahun dari bulan Maret 2020 hingga Juni 2021 berkutat dengan beragam kegiatan pembelajaran daring dengan aneka kendala dan permasalahannya, akhirnya ada angin segar.

Orang tua peserta didik yang sudah lama menantikan pembelajaran tatap muka tentu saja menerima berita ini dengan gembira. Mereka mengeluhkan permasalahan PJJ karena kewalahan dan ketidaktahuan menghadapi anak-anak yang mulai tidak bisa dipisahkan dari gadget/gawai.

Sunday, 20 June 2021

Surat Edaran Upacara dan Doa dan Ketentuan Pakaian Kemenag

 

Ada yang berbeda pada pagi ini. Basanya kami mengenakan baju korpri pada setiap tanggal 17 setiap bulan dan memakai seragam PGRI setiap tanggal 25. Namun tangga 17 Juni ini terasa berbeda. Kami tidak mengenakan seragam Korpri tetapi kami mengenakan batik. Hal ini  terkait dengan aturan baru syang baru saja di bagikan lewat WAG sekolah. 

Saturday, 19 June 2021

Merawat Spirit Literasi Setiap Hari


 Assalamu'ailkum wr wb. Selamat malam sahabat blogger semua. Pada malam hari ini saya merasa beruntung karena dapat mengikuti sebuah zoom meeting yang diselenggarakan oleh PGRI tentang literasi. Saya langsung berminat dan ikut dalam acara yang dilakukan lewat zoom meeting ini. Mengapa saya begitu antusias?

Ada beberap alasan saya begitu antusias dan semangat mengikutinya. Yang pertama adalah melihat judulnya, "Merawat Spirit Lierasi Setiap Hari." Kondisi sibuk kegiatan sekolah dari mulai PAT, PPDB dan penilaian hasil belajar beragam kegiatan lain yang berurutan menuntut keadaan fisik dan pikiran yang banyak. Saya pribadi merasa kegiatan menulis saya saat ini menurun dratis. Mungkin karena tidak ada tantangan menulis setiap hari. Sehingga terasa menulis sekenanya dan semaunya sendiri. Tidak merasa dituntut. Barangkali ini yang ingin mencari jawaban dari mengikuti kegiatan malam ini.

Alasan yang kedua adalah pembicaranya, Prof Muchamad Khoiri. Beliau penulis yang sangat aktif. Sudah banyak buku yang belaiu hasilkan. Tidak terhitung artikelnya. Nah ingin belajar banyak dari beliau bagaimana beliau bisa melakukannya. Bagaimana beliau mampu menjaga semangat literasinya menjadi konsisten sehingga mampu menghasilkan begitu banyak karya tulisan.

Pada awal paparan beliau mengingatkan bagaimana ciri-ciri generasi digital native. Mereka yang termasuk digital native adalah generasi yang sudah tidak bisa dipisahkan dari gadget dan berbagai informasi digital lainnya. Beberapa karakter dari generasi digital native adalah mereka bebas, menolak untuk dikekang; bermain bukan hanya bekerja; ekspresif tidak hanya receptif;  cepat, enggan menunggu; mencari, bukan menunggu instruksi; unggah bukan hanya unduh; interaktif  bukan hanya komunikasi searah; berkolaborasi, bukan hanya berkompetisi.

Apakah itu spirit literasi? Menurut Prof Much. Khoiri spirit berliterasi adalah spirit/semangat menjalani dan menghayati berbagai kegiatan multiliterasi dalam kehidupan sehari-hari baik sebagi makhluk pribadi maupun sebagai makhluk sosial.

Mengapa spirit literasi harus dijaga oleh kita? Ibarat obor atau perapian, spirit berliterasi  harus dijaga baranya. Ibarat cinta ia harus dijaga keromantisannya. Ibarat iman ia dinamis dan fluktuatif, naik dan turun. Sehingga ia harus dijaga agar tidak terjun bebas dan mati. Jika sampai mati akan akan sangat sulit untuk dibangkitkan kembali. Menurut beliau perlu dosis yang lebih tinggi untuk bisa membuatnya bangun. Dengan demikian makan kita harus merawatnya dengan sepenuh hati agar jangan sampai spirit literasi kita terjun bebas dan mati.

Lalau apa yang perlu kita lakukan agar spirit kita tidak sampai terjun bebas apalagi sampai mati? Beliau memberikan beberapa langkah yang dilakukan, yakni:

1. Membaca yang paling disukai setiap hari. Bagaimana munumbuhkan membaca setiap hari? (a) Yang pertama yakinkan diri bahwa membaca itu wajib hukumnya. (b) Istiqomahkan membaca meski hanya membaca ngemil, sedikit demi sedikit; (c) Yakinilah bahwa membaca itu meningkatkan rpior knowledge/ pengetahuan dasar yang dimiliki untuk menulis; (d) Membaca adalah syarat utama untuk menjadi penulis; dan (e) Konsisten membaca setiap hari, membaca apa pun. 

2. Menulis yang paling disukai setiap hari.

(a) Menulis adalah sebuah proses harus diyakini. Tidak ada langkah instan dalam menulis. (b) Menjalani proses menulis dengan ikhlas. Akan ada banyak tantangan dan hambatan saat menulis, namun jangan berhenti apalagi menyerah. (c) Niatkan menulis adalah sebuah ibadah sehingga akan memunculkan rasa keikhlasan saat berporses menulis. (d) Miliki semboyan Menulis setiap hari (Write everyday) atau Write or die. (Menulis atau Mati)

3. Berjejaring dengan komunitas offline maupun online (FB, WAG, IG). Tempat saling asah, asih dan asuh. Lakukan kolaborasi, kerjasama dan dan saling support.

4. Bertemu dengan penulis atau budayawan senior (berpengalaman). Berguru pada mereka dengan sabar, siap menerima kritik dan saran dari mereka.

5. Hadir dalam forum diskusi para penulis maupun budayawan senior, offline maupun online. Simak dengan sebaik-baiknya.

6. Posisikan sebagai manusia pembelajar sepanjang hayat. Nolkan pikiran ketika kita mengikuti suatu pembelajaran. Siap menerima yang diberikan dan disampaikan oleh guru/narasumber.

Demikian beberapa hal yang disampaikan oleh Prof. Much Khoiri pada zoom meeting malam ini. Beliau telah menghasilkan 66 judul buku dan hampir setiap hari menghasilkan artikel sehingga 30 artikel berhasil dituliskan setiap bulan. Luar biasa. Dan beliau berniat untuk mencapai 100 buku segera. Bahkan mungkin lebih karena tekad beliau adalah selama nyawa dikandung badan maka akan terus menulis sesuai semboyannya write or die, menulis atau mati. Luar biasa. Semoga terwujud dan diberikan kesehatan dan kemudahan Prof. Terima kasih atas ilmu dan motivasinya.

Thursday, 17 June 2021

Antusiasme Membaca di Perpustakaan Keliling

Gambar : Dokumen Lagerunal

Halo sahabat Lagerunal. Kita bertemu kembali dengan #Kamis menulis untuk edisi Kamis, 17 Juni 2021. Setelah beberapa waktu vakum alhamdulillah kembali muncul. Saya sangat gembira karena saya termasuk penulis yang mesti dilecut dulu untuk menulis. Kesempatan ini biasanya menjadi terpacu untuk kembali aktif menulis. Meskipun tidak sepenuhnya berhenti tetapi kesempatan #Kamis menulis salah satu tips untuk terus menulis secara konsisten.

Pada kesempatan Kamis ini temanya unik dan seru. Kita mencoba mengangkat tema #Foto Bercerita. Maksudnya adalah kita menuliskan sesuatu berdasarkan foto atau gambar yang diberikan. Ingin tahu gambar apa yang disajikan pada tema yang baru dimulai ini? Ini  dia!

 Gambar :Dokumen Lagerunal


Melihat gambar tersebut mengingatkan beberapa hasil lomba melukis yang sempat muncul dari siswa SD dalam sebuah perlombaan. Luar biasa kemampuan mengungkapkan ide-ide dalam sebuah lukian yang mampu mewakili apa ayang ingin disampaikan. Yang menarik adalah gambar tersebut tentang perpustakaan keliling. Barangkali lomba melukis terkait dengan literasi yang saat ini sedang giat digalakkan. 

Gambar tersebut juga mengingatkan saya tentang perpustakaan keliling yang beberapa tahun ke belakang sempat aktif berkunjung ke madarasah sebagai salah satu kegiatan kerjasama dengan perpustakaan Kabupaten. Betapa antusiasme anak sangat terlihat pada saat jadwal perpustakaan keliling itu hadir. Seperti ditunggu-tunggu. Karena memang waktunya hanya sehari dengan waktu yang terbatas. Namun sayangnya kegiatan tersebut akhirnya harus mengalah dulu karena kondisi dan masa pandemi. 

Kegembiraan siswa dari kelas 7 sampai 9 jelas terlihat. Petugas perpustakaan pun kelihatannya gembira di tengah kerepotannya melayani peminjaman buku anak. Seperti gambar di atas, tergambarkan pada langit biru yang cerah dan senyum dan wajah gembira anak-anak saat menikmati buku-buku bacaan dari perpustakaan keliling tersebut. Imajinasi dari bacaan yang dibaca pun turut menjadi salah satu hal positif dari kegiatan membaca.

Siswa akan meminjam buku, dicatat dan kemudian secara otomatis akan mencari tempat yang nyaman untuk menikmati membaca. Ada yang duduk di bawah pohon, di teras depan kelas, ada juga yang asyik membaca di dalam kelas. Siswa menyebar dengan situasi membaca buku atau mengobrol tentang isi buku yang sedang mereka baca. Mereka memang diberikan kebebasan waktu sekitar 2 jam untuk menikmati layanan perpustakaan keliling tersebut pada hari yang sudah ditentukan. Hingga waktu 2 jam tersebut tidak terasa habis sudah.

Seperti itulah kehadiran perpustakaan keliling ditunggu. Sampai saya tak habis pikir ketika muncul bahwa tingkat literasi membaca dari PISA kita berada di urutan bawah, rasanya tidak percaya. Sangat bertentangan dengan situasi dan kondisi yang saya lihat di lapangan. Siswa-siswa antusias datang ke perpustakaan dan membaca. Termasuk pada saat perpustakaan keliling datang. 

Bahkan tugas memberikan resensi dan resume dari buku bacaan pun dilakukan dengan baik oleh siswa-siswa sebagai tindak lanjut dari kegiatan membaca di perpustakaan keliling tersebut. Ini menjadi kegiatan pendukung dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sehingga tidak hanya membaca tetapi siswa juga secara tidak langsung diajarkan untuk menyampaikan ide dan imajinasinya lewat tulisan berupa resume buku maupun resensinya. 

Sayang semua kegiatan ini harus ditunda keberlangsungannya. Masa pandemi ini memang akhirnya meniadakan kegiatan hadirnya perpustakaan keliling ke sekolah-sekolah. Kegiatan ini mungkin tidak harus berhenti sama sekali. Kondisi pandemi covid 19 barangkali bisa menjadi salah satu ide bagi siswa untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya saat harus belajar pada situasi yang berbeda. Bisa juga dalam bentuk lukisan yang terkait dengan pandemi covid 19. Seperti yang diharapkan dari awal adalah pengkondisian anak untuk memahami situasi dan kondisi belajar masa pandemi. Salah satunya lewat lukisan dan tulisan. 

Semoga pandemi ini cepat berlalu. Jikalau ada varian baru semoga kita diberikan kekuatan dan kesehatan dan juga ketangguhan fisik dan mental dalam menghadapi semua kondisi ini. Tetap semangat. Salam sehat selalu. Salam literasi.





Sunday, 13 June 2021

Memancing di Sungai

Salah satu kegiatan yang tidak disukai ibu-ibu adalah ketika suaminya punya hobi memancing. Mungkin karena kalau sudah memancing seringkali lupa waktu.

Suami sayang termasuk yang suka memancing. Yang sering protes justru datang dari anak-anak. Karena seringkali hari liburan tidak bisa jalan dan bermain bersama ayahnya karena ada kegiatan memancing bersama teman-temannya.

Saya sendiri termasuk yang mempersilahkan untuk men