Hadiah Kecil untuk Ibu di Hari Kemerdekaan
Pagi itu, suasana kampung terasa berbeda. Bendera Merah Putih berkibar di hampir setiap rumah. Umbul-umbul berwarna merah dan putih menghiasi jalan, sementara suara musik perjuangan terdengar dari pengeras suara di balai desa. Hari itu, seluruh warga sedang merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Di antara anak-anak yang sudah berkumpul sejak pagi, ada seorang anak bernama Raka. Ia mengenakan kaus merah dan celana pendek putih. Wajahnya tampak bersemangat. Bukan hanya karena ia ingin mengikuti berbagai perlombaan, tetapi karena ia memiliki sebuah rencana kecil yang sudah dipikirkannya sejak beberapa hari sebelumnya.
Raka ingin memenangkan hadiah sebanyak mungkin.
Bukan untuk dirinya sendiri.
Ia ingin memberikan hadiah-hadiah itu kepada ibunya.
Ibunya, Bu Sari, adalah seorang perempuan sederhana yang setiap hari bekerja keras mengurus rumah. Sejak pagi, ibunya sudah menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan membantu ayahnya berjualan makanan kecil. Raka sering melihat ibunya kelelahan, tetapi hampir tidak pernah mendengar ibunya mengeluh.
Beberapa hari sebelumnya, Raka pernah mendengar ibunya berkata kepada ayahnya bahwa ia ingin membeli sebuah selendang baru. Selendang lama milik ibunya sudah mulai kusam dan beberapa bagian kainnya sudah menipis. Namun, keinginan itu akhirnya hanya menjadi cerita karena uang yang ada harus digunakan untuk kebutuhan sekolah Raka dan adiknya.
Sejak saat itu, Raka diam-diam memiliki sebuah keinginan.
Kalau ia mendapatkan hadiah dari lomba, hadiah itu akan diberikan kepada Ibu.
Perlombaan pertama yang diikutinya adalah lomba memasukkan pensil ke dalam botol. Tangannya sempat gemetar karena gugup. Beberapa kali pensilnya hampir masuk, tetapi jatuh lagi. Anak-anak lain tertawa dan bersorak. Raka tidak menyerah.
Akhirnya, pada percobaan terakhir, pensil itu berhasil masuk tepat ke dalam botol.
"Raka menang!" teriak panitia.
Raka mendapatkan sebuah bingkisan kecil berisi alat tulis dan makanan ringan.
Ia tersenyum lebar. Bingkisan itu segera disimpan dengan hati-hati ke dalam tasnya.
"Ini untuk Ibu," gumamnya dalam hati.
Lomba berikutnya adalah makan kerupuk. Raka berdiri di antara peserta lain. Kerupuk yang tergantung di depannya bergoyang-goyang tertiup angin. Ia berusaha menggigitnya tanpa menggunakan tangan.
Teman-temannya tertawa melihat wajah Raka yang belepotan remah kerupuk. Namun Raka terus berusaha. Sedikit demi sedikit kerupuk itu habis.
Sekali lagi, Raka menjadi pemenang.
Hadiah berupa sebuah kotak makanan diberikan kepadanya.
Raka memandangi hadiah itu sebentar. Ia teringat ibunya yang setiap hari menyiapkan bekal dan makanan untuknya.
"Semoga Ibu suka," pikirnya.
Hari semakin siang. Perlombaan demi perlombaan terus berlangsung. Raka mengikuti lomba balap kelereng, estafet karet, dan memindahkan bola dengan sendok. Tidak semuanya berhasil ia menangkan. Beberapa kali ia kalah dan harus melihat teman-temannya menerima hadiah.
Namun, Raka tidak kecewa terlalu lama.
Ia tetap tersenyum dan kembali mencoba pada perlombaan berikutnya.
Dalam lomba balap kelereng, ia berhasil menjadi juara kedua. Hadiahnya berupa sebuah tanaman kecil dalam pot.
Raka memandang tanaman itu dengan mata berbinar.
Ia langsung membayangkan ibunya menaruh tanaman tersebut di depan rumah.
"Ibu pasti senang melihat bunga ini setiap pagi," pikirnya.
Menjelang sore, tibalah perlombaan terakhir, yaitu memasukkan bola ke dalam keranjang. Raka sudah lelah. Bajunya basah oleh keringat dan rambutnya berantakan. Tetapi ketika melihat hadiah utama berupa sebuah selendang cantik yang menjadi hadiah untuk pemenang, semangatnya kembali muncul.
Ia teringat pada ibunya.
Selendang lama.
Keinginan membeli selendang baru.
Dan wajah ibunya ketika harus mengurungkan keinginannya.
Raka menarik napas dalam-dalam.
Ia melempar bola.
Sekali.
Tidak masuk.
Ia mencoba lagi.
Masih meleset.
Pada lemparan terakhir, Raka memejamkan mata sejenak, kemudian melempar bola dengan seluruh tenaga yang tersisa.
Pluk!
Bola masuk tepat ke dalam keranjang.
"Raka menang!"
Suara tepuk tangan langsung memenuhi halaman.
Raka mendapatkan selendang tersebut. Ia memegangnya erat-erat. Untuk pertama kalinya hari itu, matanya terlihat berkaca-kaca.
Bukan karena lelah.
Ia membayangkan wajah ibunya ketika menerima hadiah itu.
Sore hari, setelah seluruh perlombaan selesai, Raka berjalan pulang dengan tas yang terasa lebih berat daripada biasanya. Di dalamnya ada berbagai hadiah yang diperolehnya sepanjang hari.
Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya sedang duduk di teras sambil melipat pakaian.
"Ibu..." panggil Raka.
Bu Sari menoleh.
"Kenapa, Nak? Kok kelihatannya capek sekali?"
Raka tidak menjawab. Ia justru membuka tasnya dan mengeluarkan satu per satu hadiah yang diperolehnya.
"Ini buat Ibu."
Bu Sari terdiam.
Raka mengeluarkan alat tulis, makanan ringan, kotak makanan, tanaman kecil, dan akhirnya sebuah selendang.
"Yang ini juga buat Ibu."
Bu Sari memandangi selendang itu. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Raka menang semua ini?"
Raka menggeleng.
"Enggak semuanya, Bu. Ada yang Raka menang, ada yang tidak."
"Lalu kenapa semua diberikan kepada Ibu?"
Raka tersenyum kecil.
"Karena Raka ingin Ibu punya hadiah."
Bu Sari memeluk anaknya.
Pelukan itu terasa hangat dan panjang. Tidak ada kata-kata yang mampu menjelaskan perasaan seorang ibu ketika mengetahui bahwa anaknya mengingat dirinya di tengah kegembiraan dan permainan.
Raka mungkin masih kecil. Ia belum mampu membeli sesuatu dengan uang hasil kerjanya sendiri. Ia juga belum mampu membalas semua pengorbanan ibunya.
Tetapi hari itu, ia telah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada hadiah-hadiah perlombaan.
Ia memberikan perhatian.
Ia memberikan kasih sayang.
Dan ia menunjukkan bahwa di balik keceriaan perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, ada sebuah kemerdekaan kecil yang sedang tumbuh di dalam hatinya: kemerdekaan untuk mencintai dan membahagiakan orang yang paling ia sayangi.
Di teras rumah, selendang baru itu kemudian dikenakan Bu Sari.
Raka tersenyum melihat ibunya.
"Bagus, Bu."
Bu Sari mengusap kepala anaknya.
"Terima kasih, Nak. Hadiah ini akan Ibu simpan baik-baik."
Raka menggeleng.
"Jangan disimpan, Bu. Dipakai saja."
Keduanya tertawa.
Di kejauhan, bendera Merah Putih masih berkibar diterpa angin sore. Hari kemerdekaan hampir berakhir, tetapi bagi Raka, hari itu meninggalkan sebuah kenangan yang akan selalu ia ingat.
Ia belajar bahwa menjadi pemenang bukan hanya tentang mendapatkan hadiah.
Menjadi pemenang adalah ketika kebahagiaan yang diperoleh dapat dibagikan kepada orang yang dicintai.



