ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
*Pejuang Subuh
بسم الله الرحمن الرحيم
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"
_________________________
Bismillah,
Yang dimaksud di sini bukan berat karena pekerjaan fisik.
Bukan berat karena lelah bekerja di bawah terik matahari.
Bukan berat karena kurang tidur.
Karena itu wajar.
Itu ujian badan dan jasad.
Yang kita bicarakan di sini adalah berat di hati.
Berat untuk melaksanakan puasa dan mengeluhkannya.
Berat untuk shalat tarawih.
Berat membuka mushaf.
Berat menjaga lisan.
Berat meninggalkan kebiasaan buruk.
Padahal Allah ﷻ telah berfirman dalam Al-Qur’an:
*“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan.”*
(QS. Al-Baqarah: 185)
*Lalu kenapa yang terasa justru berat?
Tentu bukan Ramadhannya yang berat.
Tapi mungkin ada sesuatu di dalam hati yang sedang diluruskan.
1️⃣ KARENA JIWA BELUM TERLATIH TUNDUK
Allah ﷻ berfirman:
*"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu AGAR KAMU BERTAKWA."*
(QS. Al-Baqarah: 183)
Dalam ayat ini di antara hikmah puasa adalah untuk meningkatkan ketakwaan.
Apabila jiwa belum terbiasa taat, maka akan merasa berat saat *“dipaksa”* untuk disiplin.
2️⃣ KARENA HATI MASIH TERIKAT DUNIA
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
*"Sejauh mana besarnya ambisi dan rasa cinta seorang hamba terhadap dunia, sejauh itu pula rasa beratnya dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan mencari akhirat."*
(Kitab Al-Fawaid, hlm. 139)
3️⃣ KARENA DOSA BELUM DITINGGALKAN
Berkata sebagian salaf:
*"Aku melakukan dosa di siang hari, maka aku pun terhalangi dari shalat malam."*
*...Seperti itulah orang yang melakukan perbuatan maksiat; ia akan tercegah dari melakukan ketaatan kepada Allah.Di saat seseorang tenggelam dalam kelalaian, kemaksiatan, dan terus menuruti hawa nafsunya, ia akan mendapati dirinya sulit untuk membangun ketaatan kepada Allah.*
(Kitab Al-Jawabul Kafi Li Man Sa`ala ‘An Dawais Syafi karya Imam Ibnul Qayyim rahimahullah)
4️⃣ KARENA KURANGNYA PERSIAPAN SEBELUM RAMADHAN
Disebutkan dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam karya Ibnu Rajab bahwa para salaf mempersiapkan diri mereka menghadapi Ramadhan sejak empat bulan sebelum datangnya bulan tersebut.
Para salaf telah membiasakan diri dengan puasa, tilawah, shalat malam, dan amalan saleh lainnya. Sehingga ketika tiba bulan Ramadhan, amal-amal tersebut menjadi ringan untuk dilakukan.
5️⃣ KARENA ALLAH SEDANG MEMBERSIHKAN KITA
Rasulullah ﷺ bersabda:
*“Shalat lima waktu, dari Jum'at ke Jum'at, dan dari Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa di antara keduanya, selama menjauhi dosa besar.”*
(HR. Muslim no. 233)
Dzun Nun al-Mishri rahimahullah berkata:
*“Sebagaimana jasad tidak akan merasakan lezatnya makanan ketika sakit, demikian juga hati tidak akan merasakan manisnya ibadah ketika dosa-dosa MASIH ADA padanya.”*
(Fathul Bari Ibnu Rajab, jilid 1, hlm. 51)
Abdullah bin Mas‘ud radiyallahu ‘anhu berkata:
*"Biasakanlah diri kalian dengan kebaikan, karena kebaikan itu perlu pembiasaan."*
(Az-Zuhd karya Waki‘, hlm. 265)
Maka teruslah melakukan ibadah dan amalan saleh sampai engkau merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah.
Amalkan juga doa yang Rasulullah ﷺ ajarkan,
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
*“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”*
(HR. Abu Dawud no. 1522; Sunan an-Nasa'i no. 1303; dinyatakan shahih oleh Al-Albani).
Wallahu a'lam.