Yang paling membuat anak merasa kecil…
seringkali bukan bentakan.
Bukan suara keras.
Bukan hukuman.
Tapi ketika dia datang membawa cerita dengan mata berbinar…
lalu orang tuanya memotong di tengah kalimat:
“Makanya jangan begitu.”
“Kan sudah mama bilang…”
“Itu sih salah kamu sendiri.”
“Harusnya kamu tuh…”
Padahal…
belum selesai cerita.
Belum selesai sedihnya.
Belum selesai isi hatinya. ๐ฅบ
Kadang orang tua terlalu sibuk menjadi “pemberi solusi”,
sampai lupa cara menjadi “pendengar”.
Kita ingin anak terbuka.
Tapi setiap anak mulai bicara, kita buru-buru menghakimi.
Kita ingin anak nyaman cerita.
Tapi respon pertama yang mereka dapat justru ceramah panjang tanpa empati.
Lalu perlahan anak belajar satu hal:
“Percuma cerita… aku tidak benar-benar didengar.”
Dan sejak saat itu, anak mulai menyimpan semuanya sendiri.
Masalahnya sendiri.
Tangisnya sendiri.
Lukanya sendiri.
Ingat ya…
anak tidak selalu membutuhkan nasehat.
Kadang mereka cuma butuh satu orang yang mau mendengarkan sampai selesai tanpa menyela. ๐งก
Karena didengar itu membuat anak merasa berarti.
Didengar itu membuat anak merasa aman.
Didengar itu membuat anak merasa dirinya penting.
Mungkin yang paling menyembuhkan bagi seorang anak bukan kalimat:
“Kamu harus begini…”
Tapi:
“Ceritain lagi yuk… Ayah/Bunda dengerin.” ๐ฑ
Semoga kita tidak hanya menjadi orang tua yang pandai berbicara…
tetapi juga orang tua yang mampu menghadirkan telinga, hati, dan pelukan saat anak sedang rapuh.
Sumber:
๐ https://clicky.id/kangfebri