Hari Kamis kemarin kami Keluarga besar MTs Negeri 1 Purbalingga memenuhi undangan hajatan pernikahan salah satu rekan guru, Pak Kapti Amin Muhammad Yusuf, S.Pd. Beliau akan menikah dengan Mba Rossy Anggi.
Kami menuju ke sana secara berombongan dengan armada mobil 5 buah. Beliau berdomisili di Banyumas tepatnya Desa Kejawar kabupaten Banyumas.
Alhamdulillah sempat salat dhuhur berjamaah dulu di masjid legendaris kota Banyumas. Masjid Nur Soleman. Masjid ini termasuk masjid yang menjadi cagar budaya kota Banyumas. Arsitektur masjid ini masih menggunakan arsitektur Jawa murni sehingga bentuk masjid masih berbentuk joglo. Jika tidak teliti barangkali beberapa orang yang melihatku tidak mengira bahwa ia no ini adalah sebuah bangunan masjid tapi lebih terkesan sebagai rumah.
Sebagai masjid yang bernilai sejarah maka masjid ini sering digunakan sebagai kegiatan pendidikan. Seperti pas ketika kami salat dhuhur di sana, ada siswa yang memang sedang mengadakan kegiatan P5. Mereka berasal dari SMA Kesatrian Purwokerto.
Belum selesai kekaguman kami terhadap Masjid Nur Soleman dan terinspirasi untuk dapat pula menggunakan tempat semacam ini untuk kegiatan P5R di madrasah kami. Ketika kami sampai di tempat hajatan ada lagi kejutan yang berbeda. Apakah itu?Ada yang unik dalam hajatan pernikahan ini. Ada beberapa tandan pisang dengan batangnya yang diletakkan di beberapa sudut ruang hajatan. Di bagian depan ada dua tandan, terkesan seperti menjadi penyambutan tamu yang datang.
Di daerah Purbalingga hal itu tidak terjadi. Pisang biasanya disediakan pada saat pembangunan rumah dan diletakkan di atap rumah yang dibangun. Salah satu tujuannya adalah untuk mempermudah para pekerja makan jika lapar atau membutuhkan asupan tenaga saat berada di atas sehingga tidak perlu naik turun ketika membutuhkan makanan.Ketika hal tersebut ditanyakan kepada calon pengantin, jawaban kurang lebih sama. Mempermudah tamu undangan untuk dapat menikmati pisang yang ada. Selain itu kondisi pisang juga menjadi tetap segar. Namun, jawaban tersebut masih kurang memuaskan kami. Kami masih penasaran dengan adat yang ada. Barangkali ada tujuan lain dengan pisang yang diletakkan pada beberapa tempat hajatan tersebut.
Penasaran dengan makna pisang yang dipasang di beberapa tempat saya mencoba browsing di berbagai sumber tentang adat Jawa dengan pemasangan beberapa tandan pisang.
Sesuai dengan informasi yang didapat, tandan pisang yang disajikan dengan batang dan pohonnya mengandung arti bahwa pernikahan yang dilangsungkan sekali seumur hidup sesuai sifat pohon pisang, yang berbuah hanya sekali selama hidupnya.
Selain itu pohon pisang, biasanya adalah jenis pisang raja, diartikan bahwa pengantin berdua akan seperti raja dan ratu, yang akan mampu memimpin sekaligus menjadi contoh dan teladan bagi generasi penerusnya.
Sementara buah pisang yang disajikan dalam kondisi sudah tua dan akan matang bersama proses berlangsung hajatan pernikahan, menyimbolkan bahwa kedua mempelai adalah pribadi yang benar-benar sudah dewasa, bukan pernikahan hasil karbitan. Dengan kondisi ini diharapkan mereka akan menjadi orang tua yang mampu melahirkan benih-benih yang utama, berkualitas, terpilih dan terpuji.
Sebuah makna yang luar biasa dari simbol yang kadang kita anggap biasa saja. Begitulah nenek moyang kita banyak menyiratkan pesan-pesan penting lewat simbol-simbol. Salah satunya tandan pisang yang ada pada hajatan. Kita harus bangga dan melestarikan budaya yang agung penuh pelajaran hidup. Meskipun diakui hal tersebut semakin menipis. Harus ada regenerasi budaya agar generasi muda mampu dan mau melestarikan pada waktu-waktu selanjutnya.
Selamat kepada Pak Kapti dan Mba Rossy, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warahmah dan apa yang menjadi pesan dari orang tua lewat pesan-pesan tidak secara langsung, dapat terwujud pula. Terima kasih sudah memberi pelajaran luar biasa pada prosesi hajatan pernikahannya.
Referensi: Dari berbagai sumber