Monday, 30 November 2020

Greget, Semangat dan Konsisten Untuk Berkarya



 # Resume kuliah ke -20 Belajar Menulis

Perkulaihan pada malam hari ini diisi oleh narasaumber Ibu Salamah dari SD Negeri 2 Wonosobo.

Pemaparan materi disampaikan secara audio dan diharapkan lebih antusias di dalam kelas. Ibu Salamah seorang guru SD di SD Negeri 2 Wonosobo. Seain itu pula beliau adalah seorang penulis buku, mentor CPNS, dan psikotes, juga menjabat sebaai ketua bidang perancang kurikulum danauditor sebuah platform. Beliau sudah menghasilkan 34 buku.

Berkaitan dengan ketrampilan menulis. Beliau menyampaikan tips bagaimana menulis dengan cepat. Menulis adalah hal yang menyenangkan apalagi menulis cerita atau novel. Namun terkadang kita menganggap menulis itu sebagai suatu hal yang berat padahal setiap hari menulis sudah menajdi bagian kehidupan kita. Paling tidak menulis pesan di dalam ponsel atau android kita.

Beliau merupakan penulis mayor dimana money oreinted, buku  yang menghasilkan sesuatu. Dibutuhkan tema dan ide yang out of the box. Ide yang luar biasa yang laku di pasaran. Karena berorientasi pada profit, Penerbit mayor tidak akan menerbitkan buku yang tidak memiliki money oriented kuat . Untuk  penulis pemula kita bisa memulai dari penerbit indie. Penulis indie adalah penulis yang menulis, mengedit dan menerbitkan buku dengan biaya sendiri. Sementara penulis mayor hanya menyetorkan naskah kepada penerbit sedangkan pengeditan dan penerbitan buku dilakukan oleh penerbit. Dan dengan perjanjian atau MoU penulis akan mendapatkan royalti dari penerbit.

Buku-buku yang menarik dan money oriented adalah buku-buku yang paling dibutuhkan oleh masyarakat banyak, misalnya sekarang adalah tentang AKG, AKK dan AKP di Kemenag. Kita bisa menulis buku tentang hal tersebut dengan mencari referensi tentang AKG, AKK, dan AKP. Misalnya apa itu AKG, fungsinya apa, tujuannya apa, manfaatnya apa, apa detail konten AKG dan sebagainya. Ketika kita menulis buku yang bagus dan sesuai dengan segmen pasar, maka kita akan mendapatkan buku itu sendiri, hasilnya dan juga income.

Ada beberapa langkah/proses  menulis buku adalah

1.      menentuka gender buku (fiksi atau nonfiksi)

2.      Menentukan tema

3.      Membuat judul

4.      Membuat layout

5.      Membuat referensi

6.      Mengembangkan layout berdasarkan referensinya

Menumbuhkan kebiasaan menulis adalah mulailah dengan segera mengerjakan, mulai menulis. Menulis apa saja yang bisa kita tulis. Kalau hanya sekedar niat tanpa pergerakan maka kebiasaan menulis tidak akan terjadi. Tapi juga dibutuhkan greget. Jadi mulailah menulis. Sampai tulisan itu menjadi sebuah karya yang membanggakan kita.

Menulislah dari berbagai sudut pandang. Mengetahui dasar-dasar menulis akan mempermudah menulis. Mengetahui jenis-jenis paragraf misalnya paragraf narasi, argumentasi, eksposisi, deskripsi dan digunakan untuk apa jenis-jenis paragraf masing-masing tulisan sehingga tulisan sesuai dengan tujuannya. Kita juaharus bisa menggunakan alur dalam tulisan kita. Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan karyanya. Berkaryalah untuk diri sendiri dan anak cucu kita dan untuk anak negeri ini.

Ibu Salamah bertarget dapat menulis 1 buah buku setiap tahunnya meskipun keadaan beliau sakit cukup lama tetapi beliau tetap menulis dan mengabdikan kemampuannya untuk kepentingan orang lain.

Bagi penulis pemula  disarankan untuk menulis faksi. Tulisan fakta tetapi dengan uraian fiksi. Tulislah kasus-kasus dari peristiwa di sekitar kita. Tulislah dari hal yang ringan-ringan saja dulu. Misalnya tentang pembelajaran di kelas kita, tentang murid kita yang menarik untuk diangkat menjadi cerita.

Cobalah untuk berani menulis. Jangan takut gagal. Jangan takut tulisannya jelek. Jangan takut tulisannya tidak dibaca orang lain. Lebih baik gagal karena telah mencoba berkali-kali daripada gagal tanpa pernah mencoba apapun. Karena kegagalan dan keberhasilan adalah dua sisi mata uang yang saling berkaitan. Ketika kita gagal teruslah berusaha dan ketika kita berhasil teruslah menunduk ke bawah. Jangan pernah berhenti untuk berkarya. Teruslah berkarya sampai akhirnya karyalah yang mengejar kita. Sehingga kita dapat menunjukkan eksitensi kita. Tidak pernah berhenti melangkah sampai tujuan kita tercapai. Jangan berhenti di tengah jalan.

Yang membedakan satu orang dengan yang lain adalah konsistensi dan semangat tinggi. Strength of power, kekuatan hati dan pikiran dibutuhkan agar bisa memunculkan ide untuk menulis. Diperlukan pembiasaan yang kontinu. Menulislah dari berbagai sudut pandang. Berkumpulah dengan orang-orang yang memiliki energi positif yang saling menyemangati. Jangan berkumpul dengan orang-orang yang menurunkan semangat kita.

Masalah yang muncul bagi beliau adalah itu bukan masalah. Kecintaan kepada Tuhan menjadi kekuatan beliau. Karena ketika berpegang kepada Allah SWT kita punya tumpuan dan bisa berdiri di atas kaki. Itu menjadi kekuatan yang luar biasa yang selalu mendukung dan menguatkan beliau. Termasuk ketika beliau menghadapi masa-masa sakitnya.


Pemaparan ditutup dengan motivasi yang luar biasa dari Ibu Salamah tentang ujian. Sebanyak  apapun ujian mendempamu. Jika kau terima danlalui dengan tenang,maka ujian itu akan berlalu begitu saja. Akhirnya rasa syukurlah yang ada. Betapa tiap ujian adalah pembelajaran kehidupan.



Parenting Bulan November 2020 SD Muhammadiyah Purbalingga

 



Resume Kegiatan Parenting SD Muhammadiyah 1 Purbalingga

Edisi 28 November 2020

Via aplikasi zoom 

Kegiatan parenting di SD Muhammadiyah 1 Purbalingga kembali dilaksanakan melalui aplikasi zoom meeting. Setelah beberapa bulan dilaksanakan secara tatap muka dengan melaksanakan protokol kesehatan, bulan November ini dilaksanakan secara online kembali. Hal ini mengingat dan mempertimbangkan kondisi semakin merebaknya dan bertambahnya jumlah positif covid 19 di wilayah Kabupaten Purbalingga.

Pada parenting kali ini mengambil topik “Menjaga Semangat Juang Musabanese” dengan menampilkan 3 narasumber yaitu Ibu Jiah Palupi Twihartarti (Perpusda Kabupaten Purbalingga), Aris Pujianto, S.Pd (MBS Slinga,Purbalingga) dan Ibu Asih Hidayatun, S.Ag (SD Muhammadiyah Budi Mulia, Adiwerna, Tegal).

Pada kesempatan tersebut disampaikan yang pertamaoleh Ibu JiahPalupi. Beliau menekankan tentang pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi ini dan antisipasi menurunnya motivasi anak karena mengalami kejenuhan. Pak Aris Pujianto menekankan pengaruh ucapan,perilaku dan bahasa tubuh orang tua dalam pengasuhan anak. sedangkan Ibu Asih menjelaskan tentang karakter anak generasi alpha.

A.      Ibu Jiah Palupi T

Di masa pandemi covid 19 yang belum juga mereda di Indonesia, berpengaruh banyak terhadap kegiatan berbagai sektor. Salah satunya adalah bidang pendidikan.  Ada perubahan pelaksanaan pembelajaran yang biasanya dilakukan dengan tatap muka.  Pembelajaran sekarang dilaksanakan dengan sistem online dengan memanfaatkan teknologi khususnya internet. Kita kenal dengan istilah PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh atau BDR (Belajar Dari Rumah).

Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media baik cetak maupun non cetak (audio maupun video), komputer/internet, siaran radio dan televisi. Pada pembelajaran online siswa kurang berperan aktif sehingga dapat menyebabkan kejenuhan. Pada kondisi ini dapat memicu turunnya prestasi belajar siswa.

Menurut Ibu Jiah ada beberapa faktor pemicu kejenuhan belajar daring/online yaitu:

1.       Aktivitas yang monoton

Belajar dari rumah memang terasa memboasankan karena aktivitas yang monoton tanpa pendampingan ahlinya. Sementara ketika belajar tatap muka siswa memiliki beragam kegiatan yang variatif dan menyenangkan dengan bimbingan dari guru.

2.       Tidak bisa berkumpul dan bertemu dengan teman yang biasanya saling memotivasi.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan motivasi siswa agar tetap semangat belajar yang prima di masa pandemi covid 19:

a.       Tanamkan motivasi yang kuat pada anak.

Perlu ditanamkan motivasi yang kuat pada anak,tidak menjadikan belajar daring sebagai beban. Tetapi yakinkan anak bahwa belajar adaring adalah suatu kebutuhan untuk masa depannya.

b.       Jangan malu bertanya

Kondisikan anak untukberani bertanya kepada siapsaja yang dianggap mampu mankala ia mengalami kesulitan. Bantu anak dengan mencari berbagai media dan sumber belajar yang dapat digunakan untuk belajar di rumah.

c.       Tetap patuhi protokol kesehatan dan pola hidup sehat selama daring.

·         Tetap tanamkan budaya hidup bersih dan sehat.

·         Atur pola duduk yang benar saat menyimak, menulis ataupun membaca.

·         Sering melakukan senam peregangan sederhana di sela-sela belajar.

Sesuai dengan kesepakatan keputusan 4 menteri bahwa anak sudah bisa dapat kembali tatap muka di tahun ajaran baru 2021/2022 dengan memenuhi persayaratan. Jika hal tersebut dapat dilaksanakan maka perlu diperhatikan beberapa hal. Ada beberapa tips untuk mempersiapkan anak kembali ke sekolah setelah pandemi:

1.       Pastikan anak memahami situasi pandemi covid-19.

2.       Anak wajib terlatih mengikuti protokol kesehatan.

3.       Orang tua harus memastikan bahwa sekolah menerapkan protokol kesehatan.

4.       Ajak anak untuk mengamati dan memahami proses belajar mengajar, terutama untuk anak kelas1 SD.

5.       Usahakan anak sudah terlatih memiliki sikap belajar yang memadai.

6.       Kenalkan jadwal pelajaran yang baru ketika akan masuk sekolah.

7.       Persiapkan anak untuk beradaptasi pada kebiasaan belajar yang baru.

8.       Ajak anak mengenali sisi menyenangkan dari sekolah.

Dalam penutup penyampaian materi Ibu Jian menyampaikan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Pandemi covid 19 telah ‘memaksa’ kita untuk berubah:

ü  Merubah pola pikir

ü  Merubah pola tindak

ü  Merubah perilaku menuju orang tua yang semakin sadar betapa bernilainya anak sebagai titipan Allah SWT yang wajib kita didik dengan baik dan benar dalam kondisi apapun.

 

B.      Aris Pujianto, S.Pd

Pemaparan kedua dalam kegiatan parenting adalah oleh Bapak Aris Pujianto,S.Pd. beliau adalah Kepala MBS (Muhammadiyah Boarding School) Slinga Kab Purbalingga.

Beliau menjadikan topik tentang Peran Orang tua dalam Pengasuhan Anak. Hal tersebut didasari atas pemikiran :

·         Jadi anak yang baik itu banyak sekolahnya, tetapi jadi orang tua yang baik ternyata tidak ada sekolahnya.

·         Didiklah anakmu karena dia akan hidup dijaman yang berbeda dengan jamanmu (Ali bin Abi Tholib).

·         Hai orang-orang yang beriman, peliharakah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang terbuat dari batu. (QS At Tahrim:6)

 

Berdasarkan teori, perlu diketahui orang tua, kata/kalimat yang diucapkan hanya berpengaruh 7% terhadap proses komunikasi sedangkan 38% dipengaruhi oleh intonasi dan pengaruh terbesar 55% justru ditentukan oleh bahasa tubuh.

Meskipun demikian yang perlu dicatat adalah ketika seorang ayah atau ibu mengatakan,”Kamu bodoh!” atau “Kamu  nakal!”, hampir dipastikan menggunakan intonasi tinggi dan bahasa tubuh yang ‘mengancam’yang membuat anak tidak nyaman. Kondisi mental atau ‘state’ tidak nyaman ini tertanam dalam pikiran bawah sadar anak sehingga anak bersikap atau bertindak semakin tidak konsisten.

Efeknya ternyata luar biasa. Dalam keadaan seperti itu orang tua memaknai sikap atau tindakan anak tersebut sebagai ‘semakin menjadi-jadi’

Evaluasi Parenting

a.       Ambil sebuah catatan kecil untuk jurnal Anda. Jurnal ini dilakukan selama 1 minggu.

b.       Tuliskan setiap kata positif, sayang atau memotivasi yang setiap hari Anda ucapkan pada anak Anda selama  satu minggu tersebut.

Contoh : Bapak/Ibu menyayangimu.

               : Kamu melakukan sesuatu yang dahsyat.

               : Kamu cerdas.

               : Kamu sanat special untuk Mama dan Ayah.

               : Kamu hebat. Dls.

c.       Kemudian, tuliskan setiap kata negatif atau kritikan yang setiap hari Anda ucapkan pada anak dalam satu minggu.

Contoh : Ada apa denganmu?

                : Mengapa kamu melakukannya?

                :  Tidak pernah menurut kata Ayah dan Ibu.

                : Kamu membuat Ayah dan Ibu jadi stress dls

Setiap orang tua adalah seorang petani. Apayang Andatanam itu yang Anda petik. Apayang ingin Anda panen dari anak Anda? Karakter yang kuat? Pribadi yang penuh percaya diri dan berkembang? Jujur dan bertanggung jawab? Berani dan pantang menyerah? Inatlah anak adalah berlian. Anak adalah amanah. Apa yang perlu dilakukan orang tua?

·         Cobalah untuk menggunakan istilah baru untuk nama hari dalam seminggu seperti Senin Dahsyat, Selasa Hebat, Rabu Luar Biasa, Kamis Cinta, Jumat Berjihad, Sabtu Ceria dan Ahad Semangat.

·         Kenalkan istilah ini setiap malam sebelum tidur dengan membelai bagian tubuh yang sensitif pada anak Anda :

Contoh :”Hai...(sebut nama anak), Ayah/Ibu menyayangimu. Hari ini adalah hari Senin Dahsyat. Seperti itukah kamu hari ini, dahsyat. Ingat besok adalah Selasahebat.ayah/Ibu sayang kamu, Tuan/Nona Hebat.”

·         Pada pagi harinya ucapkan: Semangat pagi! Apa kabar Tuan/Nona yang Hebat. Ayah/Ibu sayang kamu.

Kata/kalimat yang mengandung makna positif dan membangun akan tertanam dengan baik di pikiran bawah sadar anak Anda. Bila itu terjadi maka kondisi mental atau’state’ anak Anda menjadi nyaman sehingga anakAnda dapat selalu prima dan mudah untuk meraih prestasi puncak. Mereka akan hebat sekalipun dengan segala kekurangan mereka.

Fenomena lain yang berkaitan dengan positive parenting adalah dari komposisi manuisa itu sendiri. Tubuh manusia 75% terdiri dari air. Otak 74,5% adalah air. Darah 82%air.tulang yang keras pun mengandung 22% air.  Ternyata air bisa “mendengar”, bisa “membaca” tulisan dan bisa “mengerti” pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk.

Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain. Misalnya :

·         Ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan.

·         Ketika diputarkan musik symponi Mozart,kristal muncul berbentuk bunga.

·         Ketika diperdengarkan musik heavy metal, kristal akan hancur.

Penelitian yang lain yang dilakukan di Universitas Malaya. Percobaan dilakukan terhadap air zam-zam. Ketika dibacakan kalimat tasbih dan tahlil, bentuk molekul air zam-zam berubah menjadi laksana intan dan berlian, berkelap-kelip indah sekali. Namun begitu diucapkanpadanya kata-kata yang buruk, seketika molekul air berubah bagaikan sel darah merah. Sangat buruk.


Sumber gambar: Pinterest

Hikmahnya adalah penelitian tersebut sungguh menyadarkan kita bahwa ucapan, pikiran dan perbuatan yang tidak baik ternyata mampu mengalirkan energi negatif yang merubah segala sesuatunya menjadi tidak baik.  Kita perlu berhati-hati.ingat70% tubuh kita terdiri dari air. Jika kita memiliki pikiran negatif, maka air dalam tubuh kita juga akan membentuk pola yang negatif. Dengan penemuan-penemuan tersebut, kini saatnya kita merubah diri kita. Kita harus memiliki pikiran, ucapan, dan perilaku yang positif. Itulah sebabnya Rosulullah SAW pernah bersabda,”Jika engkau beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkata-katalah yang baik saja, (kalau tidak) lebih baik diam.”

 

C.       Ibu Asih Hidayatun, S.Ag

Pada pemaparan yang ketiga oleh Ibu Asih Hidayatun, S.Ag. Beliau   banyak mengupas tentang generasi alpha(α). Kita harus memahami karakter dan perilaku generasi alpha untuk bisa mengoptimalkan kemampuan mereka dan memberikan respon yang tepat sebagai orang tua yang berbeda generasi dengan mereka. Anak-anak yang lahir daritahun 2010-sekarang masuk katagori enerasi alpha. Bagaimana dan seperti apa mereka?

Ciri-ciri dan karakter anak-anak generasi alpha dapat dilihat dari beberapa aspek berikut ini:

1)     Keluarga

·         Semakin banyak perempuan dan ibu bekerja.

·         Semakin banyak anak yang dipercayakan pada pengasuhan berbayar.

·         Banyak orang memulai berkeluarga pada usia yanglebih tua.

·         Keluarga semakin kecil.

·         Jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah tanga semakin sedikit.

2)     Rekreasi

·     Tidak ada permainan outdoor-fisik-komunal ( misal gobak sodor,benteng, kasti, lompat tali dll).

·     Tidak banyak permainan indoor yang dimainkan bersama seperti halma, ular tangga, dll.

·       Semakin banyak game-game elektronik (play station).

·       Semakin banyak game online.

·    Semakin banyak kesempatan dan sarana untuk menikmati lagu dan menonton film online.

3)     Masa Kecil

·         Tidak banyak aktivitas outdoor.

·         Tidak banyak kesempatan bersosialisasi.

·         Stimulasi kognitif yang terus-menerus dari gadget/smartphone.

·         Tekanan persaingan sebaya untukprestasi di sekolah.

·         Semakin sedikit kesempatan free time.

4)     Akrab Teknologi

·      Teknologi menyentuh setiap aspek kehidupan generasi alpha.

· Dikenalkan oleh game online, diakrabkan oleh belanja onlinedan dituntut oleh pembelajaran online.

·    Pada usia 8 tahun ketrampilan di bidang teknologi sudah melampaui ketrampilan orang tua mereka.

5)     Mengenal AI (Artificial Intelligence/Kecerdasan Buatan)

· Generasi alpha banyak mengunakan aplikasi-aplikasi untuk mempermudah hidup mereka.

·      Khayalan generasi masa lalu menjadi kenyataan sehari-hari generasi alpha.

6)     Media Sosial

·         Terkoneksi dengan teman sekolah dan sebaya melalui media sosial.

·         Terhubung 24/7

·         Eksistensi diri menjadi lebih penting.

·         Positif : dapat menciptakan branding diri.

·         Negatifnya : Seringterjadi pembohongan.

7)     Berbagi /Sharing

·         Generasi alpha tidak suka berbagi.

·         Terbiasa dengan mainan yang hanyabisa dimainkan sendirian.

·         Terpapar iklan karena kehadiran di dunia maya.

·         Bagi industri less sharing berarti more buying.

8)     Peraturan

·         Generasi alpha tidakmenyukaiperaturan.

·         Di masa kecil jarang bermain dalam permainan yang ada aturan mainnya.

·     Banyak game elektronik dan online yang menyediakan alternatif curang (cheating) untuk memenangkan permainan.

·     Kekurangan bersosialisasi membuat enerasi alpha tidak melihat manfaat  peraturan untuk melindungi orang lain.

·         Generasi alpha melihat peraturan sebagai penghambat.

9)     Pembelajaran

·         Pembelajaran generasi alpha bersifat sangat personal.

·         Mudah mendapat akses langsung terhadap informasi.

·         Belajar sesuai dengan irama mereka sendiri.

·         Difasilitasi oleh teknologi untuk mendapatkan tutorial dan modul pembelajaran.

10) Kepemimpinan

·  Nyaman dengan gaya kepemimpinan yang inspirasional (menginspirasi pemimpin baru).

·   Generasi sebelumnya menyukai pemimpin yang berpengalaman (generasi x), yang memberi petunjuk (generasi Y), yang mau bekerja bersama/kolaborator (generasi Z). Generasi alpha menyukai pemimpin yang ‘menciptakan bersama’ (co-creator)

Dari berbagai kondisi genearasi alpha tersebut,generasi alpha sangat rentan terhadap   efek teknologi digital,baik secara fisiologis maupin psikologis, termasuk gangguan kognitif (Wilmer et al, 2017), masalah tidur (Jha et al, 2019) impaired social and emotional well-being (Auner & Hacher, 2012) serta ancaman cyber dan adiksi/kecanduan.

Kecenderunan berlebihan memilih play station dan game-game online dibanding aktivitas kehidupan nyata (termasuk bersosialisasi dengan bermain bersama) yang meluas, oleh American Psychiatric Association and World Health Organization (WHO) dikatagorikan sebagai kelainan yan disebut Internet Disorder and Gaming Disorder.

Waktu tidur digunakan untuk menggunakan teknologi pada malam hari seperti SMS, chatting, bermain games, dan melihat film, mengakibatkan penurunan produksi hormon melatonin dan gangguan siklus tidur.

Apa yang harus dilakukan orang tua menghadapi efek negatif tersebut? Ada beberapa tindakan yang perlu dilakukan menurut Ibu Asih, yakni:

a.    Beritahukan kepada anak efek negatif teknologi. Siapkan ananda untuk untuk berinternet secara sehat dan bertanggungjawab sebelum memberi mereka gagdet pertama.

b. Sepakati batasan waktu bersmart-phone (screen time) sebelum ananda diizinkan menggunakannya.

c.  Perhatikan pendidikan karakter dan living value, karena teknologi sudah membanjiri mereka dengan informasi dan stimulus kognisi.

d.  Jadilah teladan yang memberi banyak alternatif contoh kegiatan positif untuk diikuti oleh ananda.

e.  Seimbangkan screen time dengan family time. tegaskan aturan yang sudah disepakati. Jangan terlalu mengandalkan pendekatan ‘penegakan hukuman’ tapi gunakan pendekatan kesadaran.

f.        Anda harus selalu waspada terhadap konten-konten yang mereka akses. Lihatlah secara konsisten, tapi hindari terlalu mengawasi.

g.       Jadikan diri Anda orang yang paling bisa mereka andalkan lebih dari siapa pun dan lebih dari teknologi apapun.

 

Pemberdayaan (empowerment) Anak

Memberdayakan  disini berarti memberi kesempatan anak baik sebaai siswa maupun sebagai anggota keluara untuk :

1.       Berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah dan keluarga.

2.  Berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Persepsi yang harus ditumbuhkan oleh orang tua dan guru untuk memberdayakan anak adalah:

a.   Melihat anak/siswa sebagai aset, menghargai kemampuan mereka, danmelihat secara positif potensi yang mereka miliki daripada fokus padamasalah.

b.       Fokus pada daya tahan dan kekuatan anak daripada risiko dan kekurangan.

c.  Memberi kesempatan berkontribusi dan berpartisipasi kepada semua anak tanpa memandang kemampuan (dan bagi siswa: lokasi, gender, status, latar belakang, serta budaya)

d.       Memotivasi dan mendukung partisipasi anak.


Manfaat pemberdayaan anak bagi anak sendiri antara lain:

a.       Bertambahnya kesadaran dan pengetahuan tentang berbagai hal.

Dengan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dirumah maupun di sekolah, pengetahuan dan kesadaran anak terhadap isu yang relevan dengan kegiatan yang diikuti menjadi lebih baik.

b.       Meningkatkan kemampuan mengambil keputusan.

Kemampuan membuat keputusan akan terasah dengan seringnya anak/siswa dilibatkan dalam pengambilan keputusan untuk hal-hal yang menyangkut kehidupan/pendidikan mereka.

c.       Meningkatkan daya tahan/ketangguhan.

Partisipasi dalam pengambilan keputusan memperkuat faktor-faktor yang mempengaruhi ketangguhan anak seperti hubungan yang mendukung, keahlian problem solving, rasa memiliki pilihan pribadi, kesempatan sukses, dan dukungan sebaya.

d.       Rasa dihargai.

Ketika anak berpartisipasi dalam konteks yangbermartabat dan bermakna, mereka akan merasa bahwa pandangan, pengetahuan, dan keterlibatan mereka dihargai.

e.       Meningkatkan kemampuan membantu.

Melibatkan anak dalam kegiatan menambah motivasi mereka untuk membantu/menolong sebaya mereka.


Ukuran Pemberdayaan

Pemberdayaan anak dapat diukur dengan Learner Empowerment Scale (LES)- Skala Pemberdayaan Pembelajar (Frymier,Shulman & Houser 1996). Yan meliputi 3 hal yakni:

1)     Meaningfulness – kebermaknaan

Ketika anak memandang sebuah tugas atau kegiatan memiliki nilai atau makna menurut standar pribadi dan kepercayaannya (agama).

2)     Competence – kemampuan

Ketika anak merasa memnuhi syarat dan mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan mereka. (Frymier,Shulman & Houser 1996)

3)     Impact –pengaruh

Persepsi anak terhadap peran mereka di kelas maupun di rumah. Apakah kehadiran mereka membuat perbedaan. Apakah mereka bisa memberi saran kepada guru atau membantu siswa lain mendapatkan informasi.


Beberapa hal yang harus dilakukan orang tua/guru untuk memberdayakan anak adalah:
1. Beri anak/siswa Anda suara : Generasi alpha akan menggunakn media sosial untuk menyalurkan uneg-uneg mereka,dengan risiko cyberbullying. Kesempatan menyampaikan tanggapan yang kemudian dihargai dan ditindaklanjuti membuat anak merasa bisa membuat perubahan, yang artinya mempunyai pengaruh di lingkungan tempatnya berada.
2. Berimereka kewenangan mengambil  keputusan: Sesuaikan kewenangan yang diberikan dengan perkembangan anak. Membuat keputusan meningkatkan rasa kompeten.
3. Beraktivitas/bekerjalahbersama mereka. Bekerja bersamauru/orang tua  membuat proyek atau kegiatan yang dilaksanakan menjadi bermakna. Generasi alpha menyukai kepemimpinan yang menginspirasi. Bekerja bersama adalah salah satu cara mengispirasi. Menyelesaikan pekerjaan bersama guru/orang tuia meningkatkan rasa kompeten anak. Berpartisipasi aktif dalam pekerjaan yang melibatkan guru/ortu membuat anak merasa kehadirannya di sekolah/di rumah ada pengaruhnya (impact).
4. Doronglah annnak menggunakan sarana atau teknologi yang mereka sukai/yang 'mendefinisikan' diri mereka. Hindari menolak/merendahkan hal-hal yang mereka hargai/ mereka anggap penting (musik, olahraga, film, aktivitas keagamaan, smartphone, internet dll). Bagi generasi alpha gadget dan teknologi digital merupakan keniscayaan.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.