Showing posts with label Muhasabah. Show all posts
Showing posts with label Muhasabah. Show all posts

Friday, 1 May 2026

Allah Memberi Keberkahan pada yang Sedikit

 ONE DAY ONE HADITS

Jum'at, 1 Mei 2026 / 13 Dzulkaidah 1447



عن أَبي هريرة رضي الله عنه أَوْ أَبي سعيد الخدري رضي الله عنهما- شك الراوي- ولا يَضُرُّ الشَّكُّ في عَين الصَّحَابيّ؛ لأنَّهُمْ كُلُّهُمْ عُدُولٌ- قَالَ: لَمَّا كَانَ غَزوَةُ تَبُوكَ، أصَابَ النَّاسَ مَجَاعَةٌ، فقالوا: يَا رَسُول الله، لَوْ أَذِنْتَ لَنَا فَنَحرْنَا نَواضِحَنَا فَأكَلْنَا وَادَّهَنَّا؟ فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((افْعَلُوا)). 

فَجاء عُمَرُ رضي الله عنه فَقَالَ: يَا رَسُول الله، إنْ فَعَلْتَ قَلَّ الظَّهْرُ، وَلَكِن ادعُهُمْ بفَضلِ أزْوَادِهِمْ، ثُمَّ ادعُ الله لَهُمْ عَلَيْهَا بِالبَرَكَةِ، لَعَلَّ الله أنْ يَجْعَلَ لهم في ذلِكَ البَرَكَةَ. فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((نَعَمْ)) فَدَعَا بِنَطْع فَبَسَطَهُ، ثُمَّ دَعَا بِفضلِ أزْوَادِهِمْ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَجيءُ بكَفّ ذُرَة، وَيَجيءُ الآخر بِكَفّ تمر، وَيجيءُ الآخرُ بِكِسرَة، حَتَّى اجْتَمَعَ عَلَى النّطعِ مِنْ ذلِكَ شَيء يَسيرٌ، فَدَعَا رَسُول الله صلى الله عليه وسلم عليه بِالبَرَكَةِ، ثُمَّ قَالَ: ((خُذُوا في أوعِيَتِكُمْ)) فَأَخَذُوا في أوْعِيَتهم حَتَّى مَا تَرَكُوا في العَسْكَرِ وِعَاء إلا مَلأوهُ وَأَكَلُوا حَتَّى شَبعُوا وَفَضَلَ فَضْلَةٌ، فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ، وَأَنّي رَسُولُ الله، لا يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الجَنَّةِ)). رواه مسلم. 


Dari Abu Hurairah atau Abu Sa'id Al-Khudri (perawi ragu), dan tidak masalah keraguan dalam penentuan sahabat karena semua sahabat itu adil.

Ia berkata:

Ketika terjadi perang Tabuk, orang-orang mengalami kelaparan. Mereka berkata:

“Wahai Rasulullah, apakah engkau mengizinkan kami menyembelih unta-unta kami lalu kami makan dan memakai lemaknya?”

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

“Lakukanlah.”

Kemudian Umar bin Khattab datang dan berkata:

“Wahai Rasulullah, jika itu dilakukan, maka kendaraan akan berkurang. Akan tetapi, ajaklah mereka membawa sisa bekal mereka, lalu doakan keberkahan untuk mereka. Semoga Allah menjadikan di dalamnya keberkahan.”

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

“Ya.”

Maka beliau meminta alas (hamparan), lalu dibentangkan. Kemudian beliau meminta sisa-sisa bekal makanan mereka.

Lalu orang-orang datang membawa segenggam gandum, segenggam kurma, atau sepotong roti, hingga terkumpul sedikit di atas alas tersebut.

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam kemudian mendoakan keberkahan atasnya.

Lalu beliau bersabda:

“Ambillah ke dalam wadah kalian masing-masing.”

Maka mereka mengisi wadah mereka hingga tidak ada satu wadah pun di pasukan kecuali terisi penuh. Mereka makan sampai kenyang, bahkan masih tersisa makanan.

Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menemui Allah dengan dua kalimat ini dalam keadaan tidak ragu, kecuali ia tidak akan terhalang dari surga.”

(HR. Sahih Muslim)


Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1. Mukjizat Nabi shalallahu alaihi wa salam. Allah memberikan keberkahan pada makanan yang sangat sedikit hingga cukup untuk seluruh pasukan.

2- Pentingnya keberkahan dari Allah Bukan banyaknya jumlah yang membuat cukup, tetapi barakah dari Allah.

3- Musyawarah dalam mengambil keputusan Umar bin Khattab memberikan pendapat yang lebih bijak, menunjukkan pentingnya pertimbangan dan hikmah dalam keputusan.

4- Kaidah fiqih penting:

Mendahulukan maslahat yang lebih besar.

Menghindari kerusakan yang lebih besar.

Memilih mudarat yang lebih ringan jika terpaksa.

5- Adab dalam berbicara kepada pemimpin. Para sahabat berbicara dengan sopan kepada Nabi shalallahu alaihi wa salam meskipun dalam keadaan sulit.

6- Keutamaan tauhid Kalimat syahadat adalah sebab keselamatan di akhirat, selama diucapkan dengan yakin dan tanpa keraguan.

7- Kepastian masuk surga bagi ahli tauhid Orang yang meninggal dalam keadaan bertauhid dan yakin, pada akhirnya akan masuk surga, meskipun bisa melalui proses (termasuk jika punya dosa).

8- Allah mampu memberi keberkahan dari sesuatu yang sedikit

Islam mengajarkan hikmah, musyawarah, dan prioritas maslahat

Tauhid yang benar tanpa keraguan adalah kunci keselamatan akhirat.


Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an :


1- Allah memberi keberkahan dari yang sedikit. Allah memberi keberkahan pada yang sedikit

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”(QS. Al-A’raf: 96)


2- Allah mencukupkan rezeki dengan kehendak-Nya. Rezeki pasukan dalam hadits menjadi cukup karena Allah.

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada satu makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.”(QS. Hud: 6)


3- Perintah musyawarah. Ini sesuai dengan sikap Umar bin Khattab yang memberi saran bijak kepada Nabi shalallahu alaihi wa salam.

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”

(QS. Ali Imran: 159)


4- Mendahulukan maslahat dan mencegah kerusakan. Nabi shalallahu alaihi wa salam memilih cara yang lebih maslahat (mengumpulkan makanan dan doa keberkahan).

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.”

(QS. At-Taghabun: 16)


5- Keutamaan tauhid sebagai

keselamatan. Tauhid yang benar tanpa keraguan adalah jalan keselamatan.

فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ

“Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.”

(QS. Al-Baqarah: 256)

Thursday, 16 April 2026

Sunnah Nabi Itu Memang Super!

 *MERINDING!!! SUNNAH NABI ITU EMANG SUPER*


1. B.A.B duduk, beresiko tinggi terkena wasir/ambeien. BAB jongkok lebih bersih dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

 

2. Kencing berdiri beresiko prostat dan batu ginjal. Kencing jongkok lebih bersih dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

 

3. Enzim di tangan membantu makanan lebih mudah dicerna. Dibanding dengan besi, kayu, atau plastik, makan dengan tangan lebih bersih, fitrah dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

 

4. Makan dan minum berdiri dpt mengganggu perncernaan. Dengan duduk lebih santun dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

 

5. Makan di kursi, masih kurang menyehatkan. Dengan duduk di lantai, tubuh akan membagi perut menjadi 3 ruang: udara, makanan dan air, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

 

6. Makan buah setelah makan (cuci mulut) kurang bagus bagi lambung, karena ada reaksi asam. Yang sehat adalah makan buah sebelum makan, membantu melicinkan saluran pencernaan dan membuatnya lebih siap, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

 

7. Tidur tengkurep tidak bagus untuk kesehatan, bahkan itu tidurnya syetan. Tidur menghadap kanan lebih menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

 

8. Banyak Rahasia Sunnah yg telah diteliti para pakar, dari segi hikmah, manfaat, dan kesehatan. Benarlah yg dikatakan: di balik sunnah ada kejayaan. Bagi kita, jika misalnya belum tahu manfaatnya, terus saja semangat mengikuti adab dan tuntunan Rasul. Manfaat itu efek samping, motivasi utamanya adalah mengikuti adab dan tuntunan Rasul.

 

9. Seorang dokter Eropa berkata: jika semua manusia mengamalkan 3 sunnah saja (Sunnah Makan, Sunnah di Kamar Mandi, dan Sunnah Tidur), maka harusnya saya berhenti jadi dokter karena tidak ada pasien...

Subhanallah.

 

Cintailah Sunnah Nabi, tidak hanya adab2 sehari tapi seluruh apa yang telah Rasullah tetapkan dalam Dien Islam ... "Mau yg disukai atau tidak".


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 


Thursday, 2 April 2026

Masa Lansia : Antara Masjid dan Rumah Sakit



*Langkah di masa tua tak lagi panjang, tapi justru di situlah arah menjadi terang.

*Bukan lagi soal ke mana kaki melangkah —melainkan ke mana jiwa akan pulang.

*Di antara dua tempat yang kian akrab : masjid… dan rumah sakit.


*Masjid adalah panggilan yang lembut.

*Rumah sakit adalah panggilan yang tak bisa ditunda.

*Di masjid, manusia masih punya pilihan untuk datang.

*Di rumah sakit, sering kali manusia datang karena dipaksa keadaan.

*Sajadah mengajarkan tunduk sebelum tubuh benar-benar tak mampu berdiri.


*Ranjang perawatan mengajarkan pasrah ketika semua daya telah ditarik pergi.


*Di masa lansia, hidup seperti dipersempit pada dua ruang:

*ruang ibadah… dan ruang perawatan.


*Namun sesungguhnya, yang diuji bukan tubuh

melainkan kesadaran.


*Kesadaran untuk memahami:

bahwa waktu yang dulu terasa panjang, kini terasa singkat

*bahwa kesempatan yang dulu diabaikan, kini terasa mahal.


*Masa tua bukan sekadar fase menua,

tetapi fase pembuktian

*apa yang dulu ditanam,* kini *dituai tanpa bisa ditawar.*


*Jika masa muda* dipenuhi *ambisi dunia,*

maka *masa tua* sering *dihantui kegelisahan*.


*Namun* jika *masa muda* disirami *iman,*

maka *masa lansia* menjelma menjadi *taman*— *meski* tubuh *mulai rapuh.*


*Ada* yang *tetap melangkah ke masjid* dengan *kaki gemetar*—

karena *hatinya sudah terbiasa* pulang *ke sana.*


*Ada yang terbaring* di *rumah sakit* —

namun *lisannya tetap basah* oleh *dzikir*, karena *hatinya tak pernah jauh dari Tuhan.*


*Di titik ini*, perbedaan fisik *menjadi tidak lagi penting.*

Yang menentukan *hanyalah kebiasaan jiwa*.


*Sebab* pada akhirnya,

*masjid* dan *rumah sakit* bukanlah *dua dunia* yang *bertolak belakang* —

melainkan *dua pintu* menuju *satu tujuan* yang sama : *pulang*.


*Hanya saja…*

yang satu *dipanggil dengan kesadaran*,

yang satu lagi *sering didatangkan dengan peringatan*.


Maka *pesan yang tersisa sederhana,* tapi sering *diabaikan* :


*jangan tunggu sakit untuk mengingat.*


*jangan tunggu lemah untuk bersujud.*


*Karena ketika tubuh masih kuat,*

itu bukan *sekadar kesehatan* —

itu adalah *undangan.*


*Dan ketika tubuh mulai terbaring,*

itu *bukan sekadar ujian* —

 *itu adalah teguran.*


*Resonansi yang tak bisa dielakkan* :


*Masjid memanggil* sebelum kita benar-benar dipanggil.


*Rumah sakit menahan sebelum kita benar-benar dipulangkan.


*Di antara keduanya, hanya ada satu pembatas yang tak kasat mata—

namun menentukan segalanya :


kesadaran.


*Dan waktu…

tidak pernah menunggu kesadaran itu tumbuh.


*semoga dapat meng ispirasi kita semua* 

Aamiin

Saturday, 28 March 2026

Mengapa Hati Mudah Lelah Padahal Ilmu Bertambah?

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*Pejuang Subuh


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"


Bismillah,

Ada satu fase yang—entah disadari atau tidak—sering dialami oleh penuntut ilmu. Ilmu bertambah, kajian rutin, catatan makin rapi, kitab mulai berganti dari yang tipis ke yang tebal dan audio kajian tak pernah sepi di perjalanan. Namun anehnya, di saat yang sama, hati justru mudah lelah, ibadah terasa berat. 

Semangat yang dulu menyala, kini sering redup tanpa sebab yang jelas. Kesalahan kecil orang lain terasa mengganggu. Nasihat yang dulu menenangkan, kini malah membuat dada sesak. Padahal secara lahir, kita “maju”. Secara data, kita “naik level”. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?


Allah ﷻ berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” 

(QS. Fāṭir: 28)


Ayat ini sederhana, tapi dalam maknanya. Ilmu yang benar seharusnya melahirkan khashyah (rasa takut). Jika ilmu bertambah, namun rasa takut kepada Allah justru menipis, berarti ada yang perlu dikoreksi.

Bisa jadi, ilmunya memang bertambah, tapi keikhlasan tidak ikut dirawat. Pemahaman meningkat, tapi adab tertinggal di belakang. Dan amal masih ada, namun penyakit hati dibiarkan tumbuh.


Allah ﷻ  mengingatkan,

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu.” 

(QS. Al-Baqarah: 10)


Bertambah sesuatu—termasuk ilmu—tidak selalu menyehatkan, jika penyakit hati tidak diobati. 

Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan doa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” 

(HR. Muslim no. 2722)


Ilmu yang tidak menenangkan hati, tidak melunakkan akhlak, dan tidak mendekatkan diri kepada Allah—itulah ilmu yang melelahkan. Imam Ahmad رحمه الله juga menegaskan,

“Ilmu tidak ada bandingannya bagi orang yang niatnya benar.” 

(Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih, 1: 27; oleh Ibnu ‘Abdil Barr)


Dan Sufyan ats-Tsauri رحمه الله mengakui dengan jujur,

“Tidak ada yang lebih berat aku perbaiki selain niatku.” 

(Ḥilyatul Auliyā’, 7: 5; oleh al-Aṣbahānī)


Maka wajar jika hati menjadi penat, ketika ilmu tidak lagi dibarengi muhasabah dan pembenahan niat. Ilmu yang tidak dibarengi dengan muhasabah, perlahan berubah menjadi beban. Bukan lagi sarana mendekat kepada Allah, tapi alat untuk merasa lebih paham dari orang lain. Sesekali, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan:


“Kenapa orang-orang kok begini?”


Tapi:

“Apakah ilmu yang aku pelajari masih membuatku takut kepada Allah… atau justru sibuk mengoreksi manusia?”

Karena ilmu yang berkah itu menenangkan, bukan melelahkan. Dan jika hari ini hati terasa berat, bisa jadi bukan ilmunya yang bermasalah, melainkan cara kita membawa ilmu itu di dalam dada. Semoga Allah memperbaiki niat kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat—bukan menjauh.


Semoga bermanfaat



Friday, 27 March 2026

Penyakit Hati

 

         BISMILLAH


🖤 *Penyakit Hati Lebih Berat Dari Penyakit Badan...* 🖤


🍃 *Penyakit badan dapat menggugurkan dosa bila ia bersabar...*

Bila meninggal, Allah akan masukkan ia ke syurga-Nya...


❤‍🩹 *Sedangkan penyakit hati.. Menambah dosa dan menjauhkan ia dari Allah Azza wajalla.


Bila ia meninggal dengan membawa penyakit hati...

Ia mendapat kemurkaan Allah dan adzab-Nya...


✍️Ustadz Badru Salam Lc hafidzahullah.

✰•*¨*•.¸¸★*・゚🌙゚・*☆¸¸.•*✬¨*•


🤲 Doa Memohon Ampun Untuk Diri Sendiri Dan Kaum Mukminin, Dan Agar Tidak Dengki Kepada Orang Beriman


رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ


*Robbanagh-fir lanaa wa li-ikhwaaninal-ladziina sabaquunaa bil-iimaan, wa laa taj'al fii quluubinaa ghillan lilladziina aamanuu, robbanaa innaka ro-uufun rohiim.*


Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. 

📖(Al Hasyr (59) : 10)

Thursday, 26 March 2026

NIKMAT SUJUD DAN TILAWAH AL QUR'AN

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*Pejuang Subuh


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"

_________________________

Sumber gambar: Muslimah.or.id


Bismillah,

Ada orang yang hartanya melimpah, tapi hatinya terasa berat untuk sujud.

Ada yang waktunya longgar, tapi lisannya jarang menyentuh ayat-ayat Al-Qur’an.

Sering kali kita mengira rezeki itu hanya tentang uang, jabatan, atau kemudahan hidup di dunia.

Padahal… bisa jadi rezeki paling mahal justru bukan itu semua.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mengukur keberuntungan dari apa yang terlihat: rumah besar, kendaraan mewah, pekerjaan bergengsi, atau penghasilan yang tinggi.


Namun ada satu hal yang nilainya jauh lebih besar, tetapi sering tidak disadari.

Kemampuan untuk bersujud kepada Allah.

Kesempatan untuk membuka Al-Qur’an dan membaca firman-Nya.


Tidak semua orang diberi nikmat itu.

Ada yang sehat, tapi tak pernah sujud.

Ada yang kaya, tapi tak pernah mengaji.

Ada yang punya banyak waktu, tapi hatinya tidak pernah terpanggil untuk mendekat kepada Allah.

Padahal bagi sebagian orang, sekadar mampu menundukkan kepala dalam sholat adalah nikmat yang sangat mahal.

Karena sejatinya, orang yang masih ingin beribadah bukan hanya karena punya waktu, tetapi karena Allah masih memanggil hatinya untuk kembali kepada-Nya.


Jika hari ini kita masih bisa sholat,

masih bisa membaca Al-Qur’an walau terbata-bata,

masih ada rasa ingin mendekat kepada Allah…

Itu bukan kebetulan.

Itu adalah tanda bahwa pintu rahmat Allah masih terbuka untuk kita.

Dan mungkin, itulah rezeki terbesar yang sering tidak kita sadari.


Sebab, diantara anugrah Allah kepada hambaNya adalah kelezatan dalam beribadah adalah apa yang dirasakan oleh seorang muslim dari ketenangan jiwa dan kebahagian kalbu, lapang dada dalam menjalankan beribadah, dan kelezatan yang dirasakan oleh seorang hamba akan berbeda-beda tergantung pada kekuatan dan kelemahan iman seseorang. 


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. 

(QS. Al-Nahl: 97)


Oleh karena itu mintalah pertolongan kepada Allah subhanahu wata'ala.

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. 

[Al-Baqarah/2: 45]



Thursday, 5 March 2026

Mengapa Ramadan Terasa Berat?

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*Pejuang Subuh


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"

_________________________

Bismillah,

Yang dimaksud di sini bukan berat karena pekerjaan fisik.

Bukan berat karena lelah bekerja di bawah terik matahari.

Bukan berat karena kurang tidur.

Karena itu wajar.

Itu ujian badan dan jasad.


Yang kita bicarakan di sini adalah berat di hati.

Berat untuk melaksanakan puasa dan mengeluhkannya.

Berat untuk shalat tarawih.

Berat membuka mushaf.

Berat menjaga lisan.

Berat meninggalkan kebiasaan buruk.


Padahal Allah ﷻ telah berfirman dalam Al-Qur’an:


*“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan.”*

 (QS. Al-Baqarah: 185)


*Lalu kenapa yang terasa justru berat?


Tentu bukan Ramadhannya yang berat.

Tapi mungkin ada sesuatu di dalam hati yang sedang diluruskan.


1️⃣ KARENA JIWA BELUM TERLATIH TUNDUK


Allah ﷻ berfirman:


*"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu AGAR KAMU BERTAKWA."*

(QS. Al-Baqarah: 183)


Dalam ayat ini di antara hikmah puasa adalah untuk meningkatkan ketakwaan.

Apabila jiwa belum terbiasa taat, maka akan merasa berat saat *“dipaksa”* untuk disiplin.


2️⃣ KARENA HATI MASIH TERIKAT DUNIA


Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

*"Sejauh mana besarnya ambisi dan rasa cinta seorang hamba terhadap dunia, sejauh itu pula rasa beratnya dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan mencari akhirat."*

(Kitab Al-Fawaid, hlm. 139)


3️⃣ KARENA DOSA BELUM DITINGGALKAN


Berkata sebagian salaf:

*"Aku melakukan dosa di siang hari, maka aku pun terhalangi dari shalat malam."*


*...Seperti itulah orang yang melakukan perbuatan maksiat; ia akan tercegah dari melakukan ketaatan kepada Allah.Di saat seseorang tenggelam dalam kelalaian, kemaksiatan, dan terus menuruti hawa nafsunya, ia akan mendapati dirinya sulit untuk membangun ketaatan kepada Allah.*

(Kitab Al-Jawabul Kafi Li Man Sa`ala ‘An Dawais Syafi karya Imam Ibnul Qayyim rahimahullah)


4️⃣ KARENA KURANGNYA PERSIAPAN SEBELUM RAMADHAN


Disebutkan dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam karya Ibnu Rajab bahwa para salaf mempersiapkan diri mereka menghadapi Ramadhan sejak empat bulan sebelum datangnya bulan tersebut.


Para salaf telah membiasakan diri dengan puasa, tilawah, shalat malam, dan amalan saleh lainnya. Sehingga ketika tiba bulan Ramadhan, amal-amal tersebut menjadi ringan untuk dilakukan.


5️⃣ KARENA ALLAH SEDANG MEMBERSIHKAN KITA


Rasulullah ﷺ bersabda:


*“Shalat lima waktu, dari Jum'at ke Jum'at, dan dari Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa di antara keduanya, selama menjauhi dosa besar.”*

 (HR. Muslim no. 233)


Dzun Nun al-Mishri rahimahullah berkata:

*“Sebagaimana jasad tidak akan merasakan lezatnya makanan ketika sakit, demikian juga hati tidak akan merasakan manisnya ibadah ketika dosa-dosa MASIH ADA padanya.”*

 (Fathul Bari Ibnu Rajab, jilid 1, hlm. 51)


Abdullah bin Mas‘ud radiyallahu ‘anhu berkata:

*"Biasakanlah diri kalian dengan kebaikan, karena kebaikan itu perlu pembiasaan."*

(Az-Zuhd karya Waki‘, hlm. 265)


Maka teruslah melakukan ibadah dan amalan saleh sampai engkau merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah.


Amalkan juga doa yang Rasulullah ﷺ ajarkan,


اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ


*“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”* 

(HR. Abu Dawud no. 1522; Sunan an-Nasa'i no. 1303; dinyatakan shahih oleh Al-Albani).


Wallahu a'lam.



Monday, 2 March 2026

ALLAH, JANGAN ENGKAU CABUT HIDAYAHMU DI PENGHUJUNG USIAKU

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*Pejuang Subuh*


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"

________________________


Tahukah kamu, azab paling berat di dunia bukanlah disiksa, bukan dihukum, dan bukan pula penderitaan. 


Azab paling berat di dunia adalah ketika Allah mencabut hidayah dari seorang hamba.


Saat ia tidak lagi merasa berdosa, ketika bermaksiat, tidak gelisah saat melanggar perintah Allah, dan tidak rindu untuk kembali taat.


Ya Allah, jadikanlah ibuku salah satu penghulu wanita ahli Surga.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قِيلَ : وَمَا اسْتَعْمَلَهُ ؟ قَالَ : ” يُفْتَحُ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ بَيْنَ يَدَيْ مَوْتِهِ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ مَنْ حَوْلَه


Jika Allǻh menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allǻh akan jadikan dia beramal, lalu para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dijadikan dia beramal, wahai Rasulullah?” 


Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Dijadikan dia beramal shǻliḥ di akhir hayatnya sehingga menjadi ridhǻ kepadanya orang-orang yang ada di sekitarnya.” 

(Imam Ahmad, Dishahihkan oleh Syaikh Al-AlBani dalam shahih Jami’ no 304.)


Janganlah ujub karena sekarang kita masih diberi nikmat hidayah, karena kita tidak pernah tau akhir dari perjalanan hidup.


Maka jangan sampai lalai menguasai diri kita, perbanyak dzikir kepada Allah, berkumpul dengan orang orang yang shaleh, gemar menghadiri majelis ilmu agama, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Semua amal yang baik adalah ikhtiar dalam menjaga nikmat yang berupa hidayah beragama islam.


Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita orang2 yang diberi hidayah dan bisa menjaganya hingga ajal menjemput kita


Semoga Bermanfaat 🤲⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣


Saturday, 28 February 2026

Renungan untuk Jiwa yang Mulai Lelah

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*Pejuang Subuh


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"

Bismillah,

Engkau kuat berjalan jauh demi dunia yang akan kau tinggalkan. Engkau sanggup begadang demi urusan yang nilainya sementara.


Namun ketika dipanggil menuju akhirat yang kekal, langkahmu terasa berat.

Waktumu terus berkurang.

Setiap hari yang pergi membawa sebagian dari umurmu. Tidak ada hari yang kembali, tidak ada kesempatan yang diulang.


Jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan ketaatan, maka kelalaian akan menyibukkanmu.


Wahai jiwa, dunia membuatmu berlari, maka biarlah akhirat membuatmu lebih berlari lagi.

Karena sungguh,sia-sia yang kau cari di dunia akan habis, dan yang kau kejar untuk Allah tidak akan pernah sia-sia.


Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:


‏أنت في طلب الدنيا صحيح الجسم ، ‏وفي طلب الآخرة بك أوجاع ! ‏كم تعرج عن سُبل التقوى يا أعرج الهمة، ‏يا من يبقى في القاع!


“Engkau dalam mencari dunia tubuhmu sehat dan kuat,

tetapi dalam mencari akhirat engkau merasa penuh keluhan dan sakit!

Betapa sering engkau menyimpang dari jalan-jalan takwa, wahai orang yang pincang semangatnya,

wahai orang yang tetap tinggal di dasar (tidak mau naik derajat)!”

(Bahrud Dumu‘, hal. 53)


Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah,

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ


“Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?”


Ummu Salamah menjawab,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ».

“Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.”


Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,


يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ


“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”


Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat,


رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا


“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) 

(HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)



Friday, 27 February 2026

Tidak Mudah Upload Makanan yang Kita Nikmati ke Sosial Media

 Bismillah 

Tidak semua makanan dan kebahagiaan yang kita nikmati harus kita upload dan pamerkan di sosial media, sebab ada banyak hati dan hal yang harus di jaga.


Dahulu, ulama salaf juga sangat menjaga perasaan tetangganya.

Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله berkata,

 إذا اشتريت شيئا لا تريد أن تنيل جارك منه فواره .


"Bila kamu membeli sesuatu dan tidak berniat untuk membaginya pada tetanggamu, maka sembunyikanlah ketika membawanya." [Tahdziib Al Hilyah, II/405 melalui Hayaatus Salaf hlm. 559


Sebuah nasehat yg serat dengan hikmah, mengapa kita di anjurkan agar menyembunyikan dari tetangga jika tidak niat membaginya, sebab dengan demikian kita dapat menjaga perasaanya, agar tetangga tidak tergoda, timbul sifat iri, prasangka, gunjingan dan terhindar sifat pamer,


Oleh karena itu mari belajar menahan tidak bermudah-mudahanan upload menu makanan yang akan kita nikmati di sosial media, ingatlah bahwa ada saudara² kita yang saat ini sedang berjuang menahan beratnya ujian.


Barakallahu fiikum


✍ Habibie Quotes, 

Saturday, 21 February 2026

Tingkatan Orang Yang Berpuasa

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*Pejuang Subuh*


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"


Bismillah,

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” 

[Al-Baqarah:183]


Amalan puasa adalah amalan yang luar biasa dan memiliki pahala yang Allah membalasnya secara langsung. 


Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ


“Semua amal Bani Adam akan dilipatgandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” 

[HR. Muslim]


Dalam riwayat yang lain, Allah sendiri yang akan membalasnya karena seorang hamba meninggalkan semuanya itu karena Allah.

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : الصَّوْمُ لِي ، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ، يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya, sebab ia telah meninggalkan makannya, minumnya dan syahwatnya karena Aku.” 

[HR. Ahmad]


Bahkan pahala yang hamba dapatkan karena berpuasa karena Allah bisa jadi berupa pahala yang tidak terhingga di mana hanya Allah saja yang tahu kadarnya. Ibadah puasa sangat identik dengan kesabaran yaitu menahan diri dari berbagai pembatal dan yang bisa mengurangi pahala puasa. Hal ini termasuk dalam firman Allah,


إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” 

[QS. Az Zumar: 10]


Mengingat besarnya pahala puasa, hendaknya kita bersungguh-sungguh menjalani puasa sampai tingkatan yang paling baik. 

Ibnu Qudamah menjelaskan tingkatan orang yang berpuasa:

1) Tingkatan orang awam yang hanya sebatas menahan perut dan kemaluan saja.

2) Tingkatan puasa khusus yaitu juga menahan pandangan lisan, penglihatan dan semua anggota badan dari perbuatan dosa

3) Tingkatan puasa yang lebih khusus menahan diri dari keinginan-keinginan yang jelek yang dapat menjauhkan dari Allah,


Beliau berkata,

“Puasa orang awam yaitu sebatas menahan perut dan kemaluan dari keinginan syahwatnya. Sedangkan puasa orang khusus menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan dari segala perbuatan dosa. Sedangkan puasa orang yang lebih khusus yaitu puasanya hati dari keinginan-keinginan yang hina, serta pikiran-pikiran yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah serta menahannya secara total dari segala sesuatu selain Allah Ta’ala.” 

[Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 45]


Semoga kita bisa mewujudkan tujuan dari puasa dan bulan Ramadhan yaitu bertakwa kepada Allah.


Wednesday, 18 February 2026

SEBAB-SEBAB DAN PENGHALANG TERKABULNYA DOA

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*Pejuang Subuh*


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"

_________________________

   

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.


Doa termasuk ibadah yang paling agung. Doa bukan sekedar hanya kalimat-kalimat yang diucapkan secara lisan. Akan tetapi, terdapat beberapa syarat dan kondisi sehingga doa kita dikabulkan.


_Sebab-Sebab Terkabulnya Doa


*Pertama,* mengikhlaskan doa tersebut untuk Allah Ta’ala, konsisten (istiqamah) dan menjauhi kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman,


فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ


“Maka berdoalah (sembahlah) Allah Ta’ala dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” 

[QS. Ghaafir: 14]


Oleh karena itu, tauhid (ikhlas) merupakan syarat terkabulnya doa tersebut. Karena tauhid akan mendekatkan seseorang kepada Allah Ta’ala dan sebagai sarana (wasilah) dikabulkannya doa seorang hamba.


*Kedua,* berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, menghadirkan hatinya untuk benar-benar dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Tidak berdoa dengan hati yang lalai dan berpaling, sehingga hanya menggerakkan lisannya saja, sedangkan hatinya berpaling memikirkan yang lainnya.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ


“Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah mengabulkan doa dari hati yang lalai dan berpaling.” [HR. Tirmidzi no. 3488 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/493]


Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini gharib dan tidak diketahui kecuali melalui jalur ini. Akan tetapi, hadits ini memiliki penguat yang diriwayatkan oleh Ahmad (2/177) dan dihasankan sanadnya oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid 10/118. Demikian pula, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 245.


*Ketiga,* berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan nama dan sifat Allah Ta’ala, misalnya yaa Rahmaan, yaa Rahiim, yaa Allah, dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,


وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ


“Hanya milik Allah asmaa-ul husna. Maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.” [QS. Al-A’raf (7): 180]


*Keempat,* mencari waktu-waktu yang merupakan waktu istimewa terkabulnya doa. Yang dituntut dari seorang Muslim adalah berdoa secara terus-menerus di waktu kapan pun. Akan tetapi, seorang Muslim juga hendaknya memperhatikan waktu-waktu khusus yang lebih besar kemungkinan untuk dikabulkan. Misalnya, ketika bersujud, atau di akhir malam, atau di bulan Ramadhan, lebih khusus lagi di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Ini adalah waktu-waktu istimewa, sehingga hendaknya kita lebih banyak berdoa di waktu-waktu tersebut dibandingkan di waktu lainnya.


Penghalang Terkabulnya Doa

Kita juga harus menghindari penghalang-penghalang doa kita sehingga tidak dikabulkan. Beberapa penghalang terkabulnya doa antara lain:

*Pertama, hati yang lalai dan berpaling ketika berdoa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana telah dijelaskan pada poin sebelumnya.

*Kedua, dan merupakan penghalang terbesar terkabulnya doa adalah memakan harta atau barang haram. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,


ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya menjadi kusut dan berdebu. Orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.’ Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan doanya.” [HR. Muslim no. 1015]


Seorang Muslim harus menjauhi makanan haram karena merupakan salah satu penghalang terkabulnya doa dan menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah Ta’ala. Terkadang, kecintaan seseorang terhadap harta mendorongnya untuk memperoleh harta tersebut dari cara yang haram, seperti melakukan penipuan, memakan harta riba, atau harta suap, dan cara-cara lainnya yang diharamkan oleh syariat. Demikian pula harus menjauhi memakan yang diharamkan, seperti babi atau khamr.


[Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 99-101 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422)]


والله أعلم، 


Ustadz Muhammad Saifudin Hakim hafidzahullah

Tuesday, 17 February 2026

BALASAN BAGI MEREKA YANG RUTIN MEMBACA ALQUR'AN

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*Pejuang Subuh*


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"

_________________________

Bismillah, 

Rosulullah shollallahu 'alayhi wa sallam bersabda, 


_"Akan datang orang yang suka membaca Alqur'an di Hari Kiamat kelak, lalu Alqur'an berkata, 'Yaa Robbii, hiasilah dia..' kemudian orang itu dihiasi dengan mahkota karomah (kemuliaan)._


_Lalu Alqur'an berkata, 'Yaa Robbii, tambahkan lagi untuknya..' maka ia dihiasi dengan pakaian (perhiasan) karomah._


_Kemudian ia berkata lagi, 'Yaa Robbii, ridhoilah ia..' maka Allah pun meridhoinya. Lalu dikatakan kepadanya, 'Bacalah dan naiklah..' untuk setiap ayat, ia ditambahkan (balasan) satu kebaikan.."_

*( HR. at-Tirmidzi )*


*Rosulullah shollallahu 'alayhi wa sallam* bersabda,


_"Bacalah Alqur’an karena pada hari kiamat ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya..”_

*( HR. Muslim no. 804 )


_Yang dimaksud dengan shohiibul qur'an adalah, :_


*المُلاَزِمِيْنَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِيْنَ بِهِ


_“Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya..”_ *(Al-Bahr Al-Muhith, 16:353)*


Mari kita baca Alqur'an setiap hari



Wednesday, 11 February 2026

Perlombaan Mengejar Dunia

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pejuang Subuh


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"


Bismillah,

Ketika anda berlomba mengejar dunia

Anda berada di garis start

Kemudian belari dan pasti ada lelah dan keringat

Terkadang tersandung, terjatuh kemudian tersungkur


Sayangnya perlombaan mengejar dunia

Tidak ada garis finish-nya

Perlombaan mengejar dunia tidak ada ujungnya

Karena sifat manusia tidak akan puas dengan dunia

Barulah penuh setelah mulut terisi tanah (mati)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” 

( Muttafaqun ‘alaih)


Semakin ujung jalannya semakin menyempit tak berujung

Apa yang terjadi jika beberapa orang

Berlomba memasuki jalan yang sempit

Mau tidak mau

Pasti saling sikut dan saling menjatuhkan

Agar berada di garis terdepan

Tetapi ia tidak akan pernah juara


Terkadang manusia sudah sampai titik nyaman kehidupan

Gaji sudah cukup besar

Anak-anak sudah sukses

Rumah dan kendaraan sudah ada

Hidup sudah tenang dan nyaman

Tapi karena terus berlomba

Ujung jalan semakin sempit

Hidup terasa susah


Ada saatnya kita berjalan santai saja

Menikmati setelah lelah berlari


Ketauhilah anda bisa juara

Dari perlombaan dunia

Meskipun anda tidak pernah menyalip siapapun

Juara itu dengan qana'ah

Merasa puasa dan ridha dengan karunia Allah


Orang yang diberi qana'ah itulah yang beruntung

Rezeki yang sesungguhnya


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan diberikan oleh Allah sikap QANA'AH (rasa cukup) terhadap pemberian-Nya ” 

(HR. Tirmidzi, Hasan)


Semoga kita semua selalu diberikan rezeki berupa qana'ah


Monday, 9 February 2026

*Bekal Menyambut Ramadhan

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pejuang Subuh


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"

Ada beberapa hal yang harus kita persiapkan dalam menyambut bulan Ramadhan, yaitu:

Pertama: Persiapan Fisik

1. Menjaga Kesehatan

Badan yang sehat adalah modal utama untuk beribadah. Karenanya nabi bersabda:


اغتنمْ خمسًا قبل خمسٍ شبابَك قبل هرمكَ وصحتَك قبل سَقمِكَ وغناكَ قبل فقرِك وفراغَك قبل شغلِك وحياتَكَ قبل موتِكَ


‘Ambillah 5 kesempatan sebelum datang 5 : 

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Shahih at-Targhib wat Tarhib 3/168)


2. Melatih Fisik

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syaban.” 

(HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)


Salah satu hikmah bahwa puasa di bulan Syaban adalah sebagai latihan atau pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan. 

(Lihat Lathoif Al Ma’arif, oleh Imam Ibnu Qudamah)


Kedua: Persiapan Ruhani

1. Bertaubat

Nabi bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ مِنْهَا، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى يُغَلَّفَ بِهَا قَلْبُهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ﴾.

Sesungguhnya seorang mukmin apabila melakukan suatu dosa, maka akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti dari dosa tersebut, dan memohon ampun, maka hati itu akan dibersihkan darinya. Namun jika ia menambah dosa, maka titik hitam itu akan bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah “ran” (karat penutup hati) yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya: “Sekali-kali tidak! Bahkan telah tertutup (berkarat) hati mereka.” (HR. Tirmidzi: 3334)


2. Membersihkan Hati

Allah berfirman:

لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ


Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS. Al-Waqi’ah: 79)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan sebuah faidah yang menawan berkaitan dengan hal ini. Setelah beliau menyebutkan ayat tadi, beliau berkata:

‏فَإِذَا كَانَ وَرَقُهُ لَا يَمَسُّهُ إِلَّا المُطَهَّرُوْنَ فَمَعَانِيْهِ لَا يَهْتَدِي بِهَا إِلَّا القُلُوْبُ الطَاهِرَةُ، وَإِذَا كَانَ المَلَكُ لَا يَدْخُلُ بيتًا فِيْهِ كَلْبٌ، فَالمَعَانِي الَّتِي تُحِبُّهَا المَلاَئِكَةُ لَا تَدْخُلُ قَلْبًا فِيْهِ أَخْلَاقُ الكِلَابِ المَذْمُومَةُ

Apabila lembarannya tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci, maka maknanya pun tidak akan bisa dijadikan petunjuk kecuali oleh hati-hati yang suci. Dan apabila malaikat tidak masuk ke rumah yang ada anjingnya, maka makna-makna al-Qur’an yang dicintai oleh para malaikat tidak akan masuk pula pada hati yang di dalamnya terdapat akhlak anjing yang tercela. (Majmu’ah Fatawa li Syaikhul Islam: 5/328)


3. Memastikan Kehalalan makanan, minuman, penghasilan dll

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».


“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.'” (Al-Baqarah : 172, Al-Ma’idah :88). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)


Para ulama mengatakan, di dalam ayat ini, Allah memerintahkan para rasul-Nya agar hanya memakan makanan yang baik kemudian memerintahkan untuk beramal shalih. Hal itu mengisyaratkan bahwa ada hubungan erat antara mengkonsumsi makanan yang baik, dengan amal shalih. Maka jangan diharap jasad kita akan bergairah untuk melakukan amal-amal shalih bila ternyata jasad tersebut tumbuh dari makanan yang haram.


اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

[Allahummak-finaa bi halaalika ‘an haroomika, wa agh-ninaa bi fadh-lika ‘amman siwaak]

“Ya Allah, limpahkanlah kecukupan kepada kami dengan rizqi-Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan pemberian selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563 dan Ahmad 1: 153)


Wednesday, 4 February 2026

Bekal Menyambut Ramadhan

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*Pejuang Subuh*


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"


Bismillah,

Tinggal menunggu hitungan hari kita akan memasuki bulan penuh barokah.


Kita akan melihat tiga bekal yang semestinya disiapkan sebelum memasuki bulan Ramadhan yang kami simpulkan dari wejangan para ulama. 


Tiga bekal tersebut adalah:

*Pertama: Bekal ilmu.

Bekal ini amat utama sekali agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,


مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ


“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”  (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15). Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, kita bisa jadi hanya dapat lapar dan dahaga saja saat puasa. Tidak tahu jika dzikir bareng-bareng entah sehabis shalat lima waktu atau di antara tarawih atau sehabis witir, itu tidak ada dalilnya, akhirnya yang didapat hanya rasa capek karena tidak menuai pahala. Ingatlah syarat diterimanya ibadah bukan hanya ikhlas. Ibadah bisa diterima jika mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias ada dalilnya. Namun demikianlah masyarakat kita kadang beribadah asal-asalan, asal ‘ngikut’, yang penting ikhlas katanya, padahal ibadah yang dilakukan tidak ada dalil dan tuntunannya. Apa saja kata pak Kyai, pokoknya ‘manut’? Wallahul musta’an.

Semoga dengan ilmu tersebut, ibadah kita menjadi lebih baik dan diterima oleh Allah.


*Kedua: Perbanyak taubat.

Inilah yang dianjurkan oleh para ulama kita. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, perbanyaklah taubat dan istighfar. Semoga di bulan Ramadhan kita bisa menjadi lebih baik. Kejelekan dahulu hendaklah kita tinggalkan dan ganti dengan kebaikan di bulan Ramadhan. Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” 

(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14:61). 


Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus dan murni. Moga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu barokah di bulan Ramadhan sehingga kita pun akan mudah melaksanakan kebaikan.

Di antara do’a untuk meminta segala ampunan dari Allah adalah do’a berikut ini:


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

“Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii” 


(Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan) 

(HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719).


Mungkin selama ini tersebar disosial media maaf-maafkan di tengah-tengah kaum muslimin menjelang Ramadhan. Ingat bahwa meminta maaf itu memang disyariatkan  terhadap sesama apalagi ketika berbuat salah, betul memang bentuk taubatnya adalah minta dimaafkan. Namun bukan jadi kelaziman setiap orang harus minta maaf, padahal tidak ada salah apa-apa. Apalagi kelirunya lagi jika hal ini dianggap kurang afdhol jika tidak dijalani menjelang Ramadhan. Hanya Allah yang beri taufik.


*Ketiga: Banyak memohon kemudahan dari Allah

Selain dua hal di atas, kita juga harus pahami bahwa untuk mudah melakukan kebaikan di bulan Ramadhan, itu semua atas kemudahan dari Allah. Jika kita terus pasrahkan pada diri sendiri, maka ibadah akan menjadi sulit untuk dijalani. Karena diri ini sebenarnya begitu lemah. Oleh karena itu, hendaklah kita banyak bergantung dan tawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Terus memohon do’a pada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah baik shalat malam, ibadah puasa itu sendiri, banyak berderma, mengkhatamkan atau mengulang hafalan Qur’an dan kebaikan lainnya.


Do’a yang bisa kita panjatkan untuk memohon kemudahan dari Allah adalah sebagai berikut.


اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

“Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” 

[Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah]. 

(Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3:255. Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah).


اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ

“Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” 

(Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). 

(HR. Tirmidzi no. 3233, shahih menurut Syaikh Al Albani).


Semoga Allah menjadikan Ramadhan kita lebih baik dari sebelumnya. Marilah kita menyambut Ramadhan mubarok dengan suka cita, diiringi ilmu, taubat dan perbanyak do’a kemudahan.



Tuesday, 3 February 2026

Kondisi Saat Menyeberang Shirothal Mustakim

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pejuang Subuh


Bismillah,

Tak mudah kelak untuk menyeberangi shirath (jembatan) yang terbentang di atas jahanam. Sebab yang dipergunakan seorang hamba untuk menyeberanginya bukanlah melalui fisiknya yang kuat melainkan dari bagaimana iman dan amalannya.


Maka itu jika kita ingin melihat kondisi kita kelak bagaimana saat menyeberangi shirat, Maka lihatlah bagaimana keadaan iman dan amalan kita saat ini ketika di dunia dalam meniti jalan Allah ??


Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

_"Sesuai kadar kekokohan seorang hamba berjalan di atas jalan (syariat) yang Allah tetapkan di dunia ini, seukuran itu pula kekokohannya dalam menyeberangi shirath (jembatan) yang terbentang di atas jahanam.

_Ada seorang yang melintasinya bagaikan kilat,

_Ada seorang yang melintasi secepat kedipan mata,

_Ada seorang yang melintasi seperti tiupan angin,

_Ada seorang yang melintasi seperti orang yang memacu kuda,

_Ada seorang yang melintasi seperti berlari,

_Ada seorang yang melintasi seperti berjalan,

_Ada seorang yang melintasi sambil merangkak,

_Ada seorang yang melintasi tergelincir hampir jatuh namun selamat,

_Dan ada pula seorang yang melintasi kemudian jatuh ke dalam neraka.


Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba melihat bagaimana dia menapaki jalan ini di dunia dan bagaimana kelak di akhirat. Balasan itu sesuai dengan amalan.

هَلۡ تُجۡزَوۡنَ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ


_"Tidaklah kalian dibalasi, kecuali atas apa yang kalian amalkan."_ (Qs. An-Naml 90)

Lihat pula godaan syahwat dan syubhat yang merintanginya di jalan shirathal mustaqim di dunia. Itulah permisalan kait-kait yang berada di sisi-sisi jembatan di atas neraka tersebut, menjuntai dan merintanginya untuk lewat di atasnya. Kalau di dunia ini banyak dia dapati, akan banyak pula dia dapati di sana." 

(Madarij as-Salikin, hlm. 16)


Wallahu a'lam

Semoga hal ini menjadi renungan bagi kita semua serta menjadikan sebagai penyemangat beramal shalih dan tetap istiqomah di atas ke taqwaan.



Perbanyak Ingat Mati Bukan Ingat Hari Lahir

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*Pejuang Subuh*


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"


Semoga kita yang masih hidup selalu mengingat akan kematian. 

Bukan mengkenang-kenang hari lahir. Kenapa?


● Pertama :

Mengingat mati adalah ibadah yang sangat dianjurkan.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : 

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. 

(HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).


● Kedua :

Maut kapan saja bisa menghampiri dan tidak akan pernah keliru dalam hitungannya, maka jauhilah perbuatan dosa dari kesyirikan, bid’ah dan maksiat lainnya.


{وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ}

“Tiap-tiap ummat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” 

(QS. Al A’raf : 34).


{وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا} [المنافقون : 11]

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” 

(QS. Al Munafiqun : 11).


》Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : 

“Renungkanlah wahai manusia, (sebenarnya) kamu akan dapati dirimu dalam bahaya, karena kematian tidak ada batas waktu yang kita ketahui, terkadang seorang manusia keluar dari rumahnya dan tidak kembali kepadanya (karena mati), terkadang manusia duduk di atas kursi kantornya dan tidak bisa bangun lagi (karena mati), terkadang seorang manusia tidur di atas kasurnya, akan tetapi dia malah dibawa dari kasurnya ke tempat pemandian mayatnya (karena mati). 

Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan sebaiknya kesempatan umur, dengan taubat kepada Allah Azza wa Jalla. 


Dan sudah sepantasnya manusia selalu merasa dirinya bertaubat, kembali, menghadap kepada Allah, sehingga datang ajalnya dan dia dalam sebaik-baiknya keadaan yang diinginkan.”

(Lihat Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474).


● Ketiga :

Maut tidak ada yang mengetahui kapan datangnya melainkan Allah Ta’ala semata, tetapi dia pasti mendatangi setiap yang bernyawa, maka jauhilah hal-hal yang tidak bermanfaat selama hidup.

( كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ) [آل عمران : 185]

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” 

(QS. Ali Imran : 185).


● Keempat :

Siapa yang mati, mulai saat itulah kiamatnya, tidak ada lagi waktu untuk beramal.

Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : 

“Orang-orang kampung Arab jika datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bertanya tentang hari kiamat, kapan datangnya, lalu Nabi Muhammad  ﷺ melihat kepada seorang yang paling muda dari mereka, kemudian beliau bersabda : “Jika hidup pemuda ini dan tidak mendapati kematian, maka mulai saat itulah kiamat kalian datang.” 

(HR. Muslim).


● Kelima :

Dengan mengingat mati melapangkan dada, menambah ketinggian frekuensi ibadah

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : 

“Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” 

(HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’).


● Keenam :

Dengan mengingat mati seseorang akan menjadi mukmin yang cerdas berakal.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita : 

“Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ , lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar m

engucapkan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ lalu bertanya : “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab : “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi : “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab : “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”. 

(HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah).


● Ketujuh :

Hari ini yang ada hanya beramal tidak hitungan, besok sebaliknya.

Ali bin Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

"Dunia sudah pergi meninggalkan, dan akhirat datang menghampiri, dan setiap dari keduanya ada pengekornya, maka jadilah kalian dari orang-orang yang mendambakan kehidupan akhirat dan jangan kalian menjadi orang-orang yang mendambakan dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan tidak ada amal.” 

(Lihat kitab Shahih Bukhari).

____________________

Oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc



Sunday, 1 February 2026

Mencari Jalan Pulang

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pejuang Subuh


Bismillah,

Kita bukan penduduk bumi...

Kita adalah penduduk syurga...

Kita tidak berasal dari bumi...

Tapi kita berasal dari syurga...


Maka carilah bekal untuk kembali ke rumah...

Kembali ke kampung halaman...


Dunia bukan rumah kita...

Maka jangan cari kesenangan dunia...


Kita hanya pejalan kaki dalam perjalanan kembali ke rumah-NYA.


Bukankah mereka yang sedang dalam perjalanan pulang, 

selalu mengingat rumahnya dan mereka mencari buah tangan

untuk kekasih hatinya yang menunggu di rumah.... ?


Lantas.... ???,

Apa yang kita bawa untuk penghuni rumah kita, Rabb yang mulia... ?.


DIA hanya meminta amal sholeh dan keimanan, 

serta rasa rindu padaNYA,  yang menanti di rumah.


Begitu beratkah memenuhi harapan-NYA.... ?.


Kita tidak berasal dari bumi...

Kita adalah penduduk syurga...


Rumah kita jauh lebih Indah di sana.

Kenikmatannya tiada terlukiskan...

Dihuni oleh orang-orang yang mencintai kita...

Serta tetangga dan kerabat yang menyejukkan hati.


Mereka rindu kehadiran kita...

Setiap saat menatap menanti kedatangan kita...

Mereka menanti kabar baik dari Malaikat Izrail...

Kapan keluarga mereka akan pulang ... ?


Ikutilah peta (Al-Qur'an) yang Allah titipkan sebagai pedoman perjalanan...

Jangan sampai salah arah dan berbelok ke rumahnya Iblis Laknatullah 

yaitu jalan ke Neraka Jahannam.


Kita bukan penduduk bumi...

Kita penduduk syurga..

Bumi hanyalah dalam perjalanan...


Kembalilah kerumah.

Selamat berikhtiar saudaraku semua...untuk kembali kerumah kita di Syurga.


Firman Allah Ta'ala :


وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى


Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. 

(QS. Al-Baqarah: 197)


وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ


Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. 

Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. 

Maka tidakkah kamu memahaminya?

(QS. Al-An'am  32)


Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا 

وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ 

وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ


“Barangsiapa yang niatnya untuk menggapai akhirat, 

maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, 

Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, 

dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. 


Barangsiapa yang niatnya hanya untuk menggapai dunia, 

maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, 

akan mencerai beraikan keinginannya,

dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” 

(HR. Tirmidzi no. 2465)


Wallahu a'lam



Thursday, 29 January 2026

Ketika Tangismu Berubah Menjadi Alhamdulillah

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pejuang Subuh


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"


Bismillah,

Akan datang satu waktu dalam hidupmu, ketika semua tangis yang dulu kamu sembunyikan, semua lelah yang kamu telan sendirian, berubah menjadi satu kalimat penuh takzim: “Alhamdulillah, ternyata seindah itu rencana-Mu, ya Allah.”

Hari ini mungkin dadamu masih sesak. Doamu terasa berat naik ke langit. Usahamu seperti tidak dihargai. Kebaikanmu seolah tak berbalas. Tapi ketahuilah, Allah tidak pernah lalai. Dia hanya menunda, bukan menelantarkan.


Kita sering ingin hidup yang mudah, padahal surga tidak dibangun dengan keluhan. Kita ingin doa cepat terkabul, tapi lupa bahwa Allah sedang membersihkan hati kita lewat sabar. Allah berfirman:


وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”

(QS. Al-Baqarah: 216)


Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya adalah kebaikan.”

(HR. Muslim)


Jika diberi nikmat, ia bersyukur. Jika diuji, ia bersabar. Dua-duanya mengangkat derajat.

Maka jangan su’uzhan kepada Allah hanya karena hidup sedang berat. Bisa jadi air mata yang jatuh hari ini adalah harga dari keselamatanmu di akhirat. Bersabarlah. Terus taat. Terus jujur pada Allah.

Kelak, saat hikmah itu tersingkap, kamu akan malu pada dirimu sendiri dan bersujud sambil berkata: 

“Alhamdulillah ya Allah… ternyata rencana-Mu tidak pernah salah.”

Semoga bermanfaat.


ECA (Extra Curricula Activities)

  Sumber gambar: Labbaikudidadu Wisdom Matric School Sumber gambar: The Catalyst Ekstrakurikuler (atau sering disebut ECA — Extra-Curricula...