*Langkah di masa tua tak lagi panjang, tapi justru di situlah arah menjadi terang.
*Bukan lagi soal ke mana kaki melangkah —melainkan ke mana jiwa akan pulang.
*Di antara dua tempat yang kian akrab : masjid… dan rumah sakit.
*Masjid adalah panggilan yang lembut.
*Rumah sakit adalah panggilan yang tak bisa ditunda.
*Di masjid, manusia masih punya pilihan untuk datang.
*Di rumah sakit, sering kali manusia datang karena dipaksa keadaan.
*Sajadah mengajarkan tunduk sebelum tubuh benar-benar tak mampu berdiri.
*Ranjang perawatan mengajarkan pasrah ketika semua daya telah ditarik pergi.
*Di masa lansia, hidup seperti dipersempit pada dua ruang:
*ruang ibadah… dan ruang perawatan.
*Namun sesungguhnya, yang diuji bukan tubuh
melainkan kesadaran.
*Kesadaran untuk memahami:
bahwa waktu yang dulu terasa panjang, kini terasa singkat
*bahwa kesempatan yang dulu diabaikan, kini terasa mahal.
*Masa tua bukan sekadar fase menua,
tetapi fase pembuktian
*apa yang dulu ditanam,* kini *dituai tanpa bisa ditawar.*
*Jika masa muda* dipenuhi *ambisi dunia,*
maka *masa tua* sering *dihantui kegelisahan*.
*Namun* jika *masa muda* disirami *iman,*
maka *masa lansia* menjelma menjadi *taman*— *meski* tubuh *mulai rapuh.*
*Ada* yang *tetap melangkah ke masjid* dengan *kaki gemetar*—
karena *hatinya sudah terbiasa* pulang *ke sana.*
*Ada yang terbaring* di *rumah sakit* —
namun *lisannya tetap basah* oleh *dzikir*, karena *hatinya tak pernah jauh dari Tuhan.*
*Di titik ini*, perbedaan fisik *menjadi tidak lagi penting.*
Yang menentukan *hanyalah kebiasaan jiwa*.
*Sebab* pada akhirnya,
*masjid* dan *rumah sakit* bukanlah *dua dunia* yang *bertolak belakang* —
melainkan *dua pintu* menuju *satu tujuan* yang sama : *pulang*.
*Hanya saja…*
yang satu *dipanggil dengan kesadaran*,
yang satu lagi *sering didatangkan dengan peringatan*.
Maka *pesan yang tersisa sederhana,* tapi sering *diabaikan* :
*jangan tunggu sakit untuk mengingat.*
*jangan tunggu lemah untuk bersujud.*
*Karena ketika tubuh masih kuat,*
itu bukan *sekadar kesehatan* —
itu adalah *undangan.*
*Dan ketika tubuh mulai terbaring,*
itu *bukan sekadar ujian* —
*itu adalah teguran.*
*Resonansi yang tak bisa dielakkan* :
*Masjid memanggil* sebelum kita benar-benar dipanggil.
*Rumah sakit menahan sebelum kita benar-benar dipulangkan.
*Di antara keduanya, hanya ada satu pembatas yang tak kasat mata—
namun menentukan segalanya :
kesadaran.
*Dan waktu…
tidak pernah menunggu kesadaran itu tumbuh.
*semoga dapat meng ispirasi kita semua*
Aamiin
No comments:
Post a Comment