Saturday, 31 October 2020

Maju Seiring Sejalan Dalam Pendidikan Dan Bisnis

 # REsume kuliah ke-6 Belajar Menulis Gel.8

Menekuni dua hal yang berbeda bukanlah sesuatu yang mudah. Hal tersebut telah dilakukan dan dialami sendiri oleh pengisi materi pada kuliah ke 5 Belajar Menulis Gelombang 8 pada hari Rabu, 28 Oktober 2020 pukul 19.00 WIB. Beliau adalah Ibu Betti Risnalenni. Beliau dikenal sebagai pengajar dan pendiri sekolah Insan Kamil Bekasi, juga sekaligus sebagai pelaku UMKM yang sukses.

Sebelum kita belajar lebih jauh kepada beliau, kita saksikan terlebih dahulu video yang berkaitan dengan usaha beliau.


Ok kita sudah mempunyai gambaran ya apa saja kegiatan beliau di bidang pendidikan dan enterpreneurship.

Menurut Ibu Betti sebagai seorang guru kita mempunyai peluang besar untuk menjadi pengusaha karena kita mempunyai bangsa pasar yang banyak. Mulai dari murid, orang tua murid, teman seprofesi dan lainnya. Kita banyak memiliki banyak kenalan melalui dunia pendidikan. Nah itu adalah peluang guru untuk bisa memulai usaha. Nah peluang inilah yang beliau manfaatkan untuk mulai “berjualan".

Ibu Betti memulai jualan itu sejak beliau membuat kursus. Itu jualan juga kan? Jualan materi.  Awalnya beliau membuat kursus Aritmatika tahun 1996. Kemudian diteruskan menulis buku aritmatika dan menjualnya sendiri dengan mengadakan pelatihan-pelatihan aritmatika. Kegiatan itu beliau mulai pada tahun 1998. Dan kini sudah memiliki 24 cabang untuk daerah Bekasi saja, belum termasuk yang luar daerah.

Dan pada tahun 2003 Ibu Betti mulai mendirikan sekolah TK dan TPQ Insan Kamil Bekasi karena diajak kerjasama oleh salah satu cabang aritmatika yang dipimpinnya. Sayangnya kerjasamanya hanya berjalan 3 bulan karena menurut teman malah bikin rugi, tidak ada untungnya. Namun demikian beliau tetap melanjutkan perjalanan mendirikan sekolah tersebut. Sampai akhirnya setahun berikutnya, di tahun 2004 beliau bisa mulai dengan SD Insan Kamil. Itu juga menjadi salah satu usaha non profit yang kita tujukan. Profit dengan serta merta ikut serta. Tetapi menurut beliau meski nonprofit beliau mendapatkan keuntungan dari sisi yang lain. Dengan mendirikan sekolah tersebut beliau bisa lebih banyak berkenalan dengan orang dan banyak kegiatan sehingga bisa berprestasi dan menambah wawasan beliau semakin luas. Sampai sekarang sekolah tersebut masih tetap eksis dan berjalan dengan lancar.


Kegiatan Ibu Betti sebagai pengajar dan pendiri SD Insan Kamil Bekasi

 

Foto bersama Menteri Pendidikan RI, Nadiem Makarim, yang pernah diajarnya di kelas IV di SD Al Izhar Pondok Labu



Menurut Ibu Betti menjadi guru harus profesional. Tapi jadi guru juga harus kaya. Kalau guru kaya, maka mengajarnya lebih totalitas. Beliau bukan guru PNS, jadi gajinya juga alhamdulillah tapi saya juga pengen lebih dari itu. Ibu Betti berpikir bahwa dengan menulis bisa menjadi pengusaha dan dirasa menulis itu bisa menghasilkan uang. Beliau memilih dua-duanya Jadi guru dan pengusaha. Tetapi arahnya sama yaitu di bidang pendidikan. Jadi berawal dari menjadi guru yang berkeliling-keliling memberikan pelatihan buku hingga menjadi pengusaha yang mampu memiliki cabang lebih dari 46 lokasi pelatihan aritmatika dan pengusaha kafe.

Sebenarnya kalau mengajar dan menjadi pengusaha itu kalau usahanya sudah jalan maka akan mudah mengaturnya. Kesulitannya kalau salah satunya masih baru, maka akan lumayan sibuk dan menyita banyak perhatian. Apalagi  kalau di situ banyak kegiatannya. Kuncinya adalah bisa membagi waktu. Kalau sudah mengalokasikan untuk jam mengajar, kegiatan yang lain ditunda dulu. Kita sendirilah yang tahu cara membaginya. Buatlah skala prioritas. Prioritaskan yang utama baru yang lainnya. Contohnya kalau ibu ibu, ya paling dulu diberesin itu urusan dalam negeri (rumah), baru mengajar dan setelah itu usaha. Demikian tips beliau dalam membagi waktu dari beragam kegiatannya.

Berkaitan dengan membuka usaha kafe, Bu Betti menceritakan bahwa ide buka usaha itu karena beliau mau pensiun dari kegiatan keliling menjadi kegiatan di rumah. Awalnya hanya mau bantu merintis usaha dan bisa diwariskan ke anak. Beliau  juga mau lebih banyak berkegiatan di rumah. Cafenya kebetulan samping rumah.  Jadi beliau bisa bertemu dengan teman dan banyak orang tanpa harus pergi pergi. Kalau cafenya beliau lakukan berkolaborasi dengan anak. Dan kalau ada kegiatan yang harus melibatkannya, maka dilakukan biasanya pada hari Sabtu dan Minggu. Kalau untuk sekolah Ibu Betti sudah punya team work yang baik. Sampai sekarang beliau masih tetap mengajar walau hanya sedikit jam. Itu juga sudah cukup menguras pikiran juga karena jaman pandemi begini guru harus lebih kreatif dalam mengajar. Kalau untuk kegiatan preunership masih dalam tahap memulai kerja bareng. belum solid karena masih baru dan sekarang juga usaha sedang harus kerja keras dan lebih giat mencari cara terbaik.

 

Dalam kesempatan kuliah tersebut Ibu Betti juga memberikan tips dan motivasi tentang hal-hal yang harus dilakukan pada saat mengawali terjun ke dunia usaha.

1.      Harus ada usaha dengan sungguh sungguh dan selalu mohon ridhonya Allah. Kerja keras itu intinya.

2.      Mulai saja dengan  berjualan di sekitar kita, di kantin sekolah dan kalau ada kegiatan bawa produknya untuk dipasarkan sebagai tahap promosi.

3.      Harus pede (percaya diri). Saat kita menawarkan produk, kita harus siap. Karena yang beli juga banyak yg ngetes, merendahkan dan lain sebagainya. Yakinlah akan produk kita.

4.      Setiap usaha baru pasti banyak cobaannya. Jangan mudah menyerah.

5.      Yang perlu disiapkan mental dulu. Kalau nunggu modal, nanti tidak jadi jadi. Dan berdasarkan yang beliau rasa dan alami, enaknya dari modal kecil, seadanya dulu. Nanti akan membuat pondasi yang kuat.


Satu impian beliau yang belum tercapai adalah menuliskan apa yang dilakukannya menjadi sebuah buku. Karena kesibukan beliau di banyak kegiatan. Selain mengurus cabang aritmatikanya, sekolah TK, TPQ dan SD Insan Kamil, beliau juga mempunyai 2 TBM (Taman Bacaan Masyarakat). TBM Insan Kamil dan TBM Kartini Kreatif. Dan beliau juga aktif mengikuti kegiatan di Gareulis, sekaligus sebagai pengurus juga. Menurut beliau antara menulis buku boga dengan usaha boga sebenarnya dua-duanya bisa dianggap sulit dan juga bisa gampang, tergantung kesungguhannya. Dulu ketika beliau sungguh-sungguh menulis, gampang saja jadi buku. Sekarang kayaknya karena kurang sungguh sungguh karena banyak cabang yang dipikirkan jadi sulit buat saya untuk menulis. Dulu saya tidak bisa bikin kue, sekarang pengennya nyoba resep terus. Jadi banyak bikin ini dan itu. Tergantung kesungguhan kita.” Tapi sebenarnya sudah saya mulai tapi belum serius nulisnya jadi ga selesai selesai. Insyaa Allah saya tetap jadikan buku buat kenang-kenangan dan bisa menginspirasi. Saya melihat teman teman bisa produktif menulis, saya masih akan akan saja. Tapi saya sangat antusias dalam kegiatan literasi. Suatu saat saya pasti bisa santai dan konsen untuk menulis.” Demikian tekad Ibu Betti untuk mewujudkan impiannya menulis buku kembali.


Kegiatan Ibu Betti di TBM (Taman Bacaan Masyarakat)

Pada akhir pemaparan beliau menyimpulkan bahwa kita boleh dan bisa saja mengerjakan pekerjaan beberapa sekaligus asal kita bisa mengaturnya dan enjoy melaksanakannya. Selagi kita bisa membagi waktu antara mengajar dan berwirausaha, kenapa tidak? Mengajar dapat pahala. Wirausaha dapat tambahan buat beli susu anak. Begitu tambah bu Aam sebagai moderator. Semangat teman-teman untuk mencari peluang di sekitar kita. 









Wednesday, 28 October 2020

PENGGUNAAN EMOJI UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN PESERTA DIDIK DALAM BELAJAR PJJ DARING DAN LURING

 

Perubahan sistem pembelajaran dari sistem tatap muka (TTM) menjadi sistem online memang mengubah banyak hal. Salah satunya adalah teknik dan metode guru dalam menyampaikan materi yang harus dikuasai dan dipahami oleh peserta didik. Teknik dan metode ini tentu saja menuntut guru untuk belajar lebih banyak tentang hal-hal baru yan terkait dengan teknologi. Kegagapan dan keterkejutan yang mendadak ini memang betul-betul menuntut guru harus berubah. Alih-alih mengeluhkan keadaan pandemi covid 19 lebih baik digunakan untuk mencari sumber-sumber ilmu yang terkait pembelajaran online/daring.

Ada banyak hal baru yang kemudian segera dipelajari guru di antaranya adalah penggunaan google classroom, google drive, google meet, google form dan google site secara cepat diajarkan kepada guru-guru untuk mengantisipasi perubahan pola pembelajaran tersebut. Sebagian guru-guru juga mengikuti webinar dan diklat jarak jauh untuk mendapatkan pengetahuan dan praktek aplikasi tersebut pada  pembelajaran daring.Namun demikian ketika memutuskan metode atau media apa yang akan digunakan, kondisi peserta didiklah yang menjadi pertimbangan utama. Karena apapun media yang akan digunakan untuk penyampaian materi jika peserta didik tidak dapat.mengikutinya,maka akan menjadi percuma dan sia-sia. Alasan utamayang sering dikeluhkan adalah keterbatasan akses internet, terutama keterbatasan sinyal dan terbatasnya penghasilan untuk membeli HP dan kuota. Mengingat dan menimbang hal tersebut maka guru dan sekolah harus menentukan media apa yang paling bisa digunakan dan terjangkau untuk proses belajar peserta didik mereka.



Idealisme penggunaan berbagai aplikasi kadang di lapangan tidak bisa dilaksanakan. Misalnya penggunaan google classroom. Banyak siswa mengeluhkan tidak dapat masuk ke dalam kelas karena keterbatasan pengetahuan dan sosialisasi cara penggunaanya. Sehingga waktu pembelajaran daring yang memang sudah dikurangi menjadi hilang untuk proses menjelaskan cara dan detail masuknya. Mengingat berbagai keluhan dari wali peserta didik dan peserta didik sendiri maka hal yang paling sederhana digunakan adalah penggunaan WA sebagai media pembelajaran yang digunakan untuk kegiatan PJJ/daring. Hal tersebutlah yang sekarang dilaksanakan di madrasah di mana saya mengajar sekarang. Karena menurut kami itu media yang paling efektif dan sesuai di lingkungan peserta didik kami.

Penggunaan media WA sebagai media pembelajaran bukannya tanpa kendala. Tetapi ini bisa meminimalisir dari keluhan peserta didik terhadap proses pembelajaran. Hanya keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran memang menjadi sulit untuk dikontrol dan dipantau. Sebagian peserta didik aktif di awal pembelajaran tetapi di tengah pembelajaran sampai akhir mereka tidak mengikuti meskipun HP mereka dalam kondisi on. Inilah yang dikeluhkan guru yang mengajar terutama ketika peserta didik diminta untuk mengumpulkan tugas. Hanya beberapa yang menyetorkan tugas. Faktor kejenuhan tentu saja mempengaruhi karena sudah hampir 8 bulan kegiatan PJJ berlangsung. Itu bukanlah hal yang mudah baik bagi guru maupun peserta didik. Sehingga tingkat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran juga menurun.

Tetapi di tengah kejenuhan dan kerinduan untuk segera menikmati bangku sekolah membuat motivasi anak-anakpun menurun. Satu hal yang harus disentuh adalah perasaan mereka. Kegiatan daring jika tidak disikapi dengan benar bisa menyebabkan peserta didik merasa sendirian. Hal ini terlihat sepele dan kecil. Hal inilah yang perlu diluruskan. Kita sebagai guru meyakinkan mereka bahwa meskipun tidak tatap muka secara langsung dengan guru, mereka dapat berkomunikasi secara bebas dan terbuka kepada guru mereka. Hal yang dilakukan untuk memotivasi peserta didik agar tetap terlibat dan semangat terus dalam kegiatan pembelajaran daring yang dilakukan antara lain adalah memberikan respon dan masukan terhadap pekerjaan dan hasil tugas mereka yang mereka kirim lewat WA.

Adanya emoji dalam aplikasi WA dapat dimanfaatkan guru untuk mengungkapkan apresiasinya terhadap apa yang sudah dilakukan oleh peserta didik. Peserta didik juga dapat memberikan emoji untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang berlangsung misalnya ketika pembelajaran usai, guru dapat menanyakan respon peserta didik terhadap materi yang baru saja disampaikan. Peserta didik dapat menjawab dengan senyum (😊), sedih (😟) dan bingung(😕. Guru dapat menentukan dulu emoji apa saja yang digunakan beserta makna emoji tersebut. Masing-masing peserta didik bebas memilih emoji yang sudah ditentukan untuk merespon materi tersebut. Ini juga bisa menjadi masukan untuk guru  jika ternyata banyak siswa yang bosan atau sedih dan seterusnya. Bisa ditanyakan lebih lanjut secara japri.

Berdasarkan pengalaman saya menggunakan fasilitas emoji ini untuk merespon tugas yang disetorkan berdampak positif. Beberapa siswa yang mendapatkan respon ucapan “Thank you, Excellent/Good job/ Welldone /Great dengan disertai emoji senyum, terima kasih atau acungan jempol, mereka akan merespon balik dengan senyum pula. Kadang dengan malu-malu juga mereka merespon dalam bahasa Inggris. Tentu saja akan semakin kuat responnya ketika kita selalu menyebut nama mereka ketika kita mengapresiasi apa yang mereka setorkan/lakukan. Meski respon yang kita berikan sangat sederhana ternyata berefek sangat positif. Pada pertemuan berikutnya mereka akan lebih cepat mengirimkan tugas yang diberikan dibandingkan dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Selain itu juga mereka akan lebih terbuka untuk curhat dan welcome ketika ada masalah yang mereka temui pada saat pembelajaran. Peserta didik biasanya akan lebih senang japri jika menemukan masalah dalam pengerjaan tugas atau pemahaman dari materi yang disampaikan. Ini mengeratkan hubungan antara guru mata pelajaran dengan peserta didik. Sehingga peserta didik tidak merasa sendirian dan guru juga dapat mencapai tujuan dan mendapatkan respon yang cepat dari mereka dalam proses pembelajaran daring.

Kesimpulannya jangan terlalu fokus dengan teknologi dalam proses pembelajaran tetapi lupa menyentuh hati peserta didik. Tapi manfaatkan teknologi sesederhana apa pun untuk kepentingan peserta didik. Ketika peserta didik sudah merasa diperhatikan dan dicintai maka mereka akan merespon balik dengan positif. Sesederhana apa pun media yang digunakan jika peserta didik direspon dengan hati mereka akan bereaksi positif. Penggunaan emoji menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran daring. Selain karena itu ada di semua HP peserta didik, mereka sering menggunakannya dalam keseharian mereka. Murah, dekat, akrab dan efektif untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik. Demikian semoga bermanfaat. Salam literasi.

 

Profil Penulis



Nama saya Suyati. Singkat dan khas Jawa. Saya lahir di Purbalingga, 22 September 1979. Saya lahir dari keluarga Bapak Rumiarto dan Ibu Reab. Terlahir sebagai anak pertama di keluarga, memiliki satu adik laki-laki. Pernah mengenyam pendidikan di SD N 1 Selaganggeng, SMP N 1 Mrebet, SMU N Bobotsari, semua di kabupaten Purbalingga dan kuliah di UNY mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Saya mengajar Bahasa Inggris di MTs Negeri 1 Purbalingga dari tahun 2016 sampai sekarang. Sebelumnya mengajar di MTs Negeri 2 Purbalingga dari semenjak diangkat PNS di tahun 2005 hingga tahun 2015.

 Menulis dan membaca menjadi hobi saya. Yang saya tulis biasanya adalah puisi. Sedangkan bacaan, hampir seluruh jenis bacaan saya membacanya dari buku, koran, majalah, novel termasuk komik. Menulis di blog semenjak tahun 2010 tetapi tidak terlalu aktif menulis di sana. Hanya mencoba-coba menulis dan tidak menekuninya secara maksimal. Pada  tahun 2016  mencoba melirik kembali blog  sebagai tempat menulis dan sekaligus sebagai penyimpanan materi-materi pembelajaran yang sudah tersampaikan. Kini di tahun 2020 mencoba belajar menulis kembali dengan berbagai jenis tulisan. Menulis apa saja, untuk memaksa diri terus menulis. Semoga dengan tergabung dalam grup menulis ini hobi saya tersalurkan dan bisa memanfaatkan blog yang saya miliki secara maksimal sehingga dapat memberikan manfaat kepada orang banyak.

http://gurupenggerakindonesia.com.

#PGRI

#KOGTIK

#EPSON

#KSGN

Tuesday, 27 October 2020

“Menumbuhkan Tanggungjawab Anak di Masa Pandemi”



Sebuah resume untuk kegiatan
 Parenting SD Muhammadiyah 1 Purbalingga (Musabangga)

Jumat, 23 Oktober 2020

Kegiatan pembelajaran di SD Muhammadiyah 1 Purbalingga (Musabangga) seperti sekolah-sekolah dasar yang lain, dilaksanakan dengan sistem daring atau luring. Kegiatan BDR sudah dilaksanakan sampai 7 bulan. Meskipun sempat dilaksanakan kegiatan Homeschooling, namun kemudian dihentikan karena ada kenaikan jumlah pasien di wilayah kabupaten Purbalingga. Namun demikian untuk kegiatan parenting sudah dilaksanakan dengan sistem tatap muka dengan melaksanakan protokol kesehatan secara ketat. Beberapa bulan awal penyebaran covid 19 dilaksanakan parenting dengansistemonline/daring denanmemanfaatkan aplikasi zoom. Pada kesempatan parenting bulan Oktober 2020, yang dilaksanakan tepatnya pada hari Jumat, 23 Oktober 2020 disampaikan tema “Menumbuhkan Tanggungjawab Anak di Masa Pandemi” oleh BNN.

Sempat muncul pertanyaan kok yang mengisi dari BNN? Apa anak-anak sudah mengenal narkoba? Apa yang nanti disampaikan akan sesuai dengan tema yang diberikan. Ternyata memang isi materi sudah disiapkan oleh oleh psikolog sebelumnya Ibu Asni Setyaningsih,S.Sos. sedangkan dalam pemaparannya disampaikan oelh Ibu Asni Kusumaningrum. Beberapa yang disampaikan dalam kegiatan parenting antara lain:

1.      Perubahan tatanan kehidupan akibat Covid-19

Covid-19 sudah mengubah banyak tatanan di seluruh unsur kehidupan di berbagai negara di seluruh dunia. Perubahan tatanan itu di antaranya adalah:

a.       Kebiasaan 3M

Mulai merebaknya covid-19 tidak hanya di  Indonesia juga didunia memnuculkan istilah baru. 3M (Memakai masker, Menjaga jarak dan Mencuci tangan dengan sabun)  menjadi istilah yang sangat dikenal bukan hanya orang tua dan tenaga kesehatan tetapi juga sudah dikenal oleh anak-anak. Bahkan sekarang sudah dikenal dengan slogan #Ingat Pesan Ibu#

b.      Lebih peduli pada kesehatan dan kebersihan

Semenjak terjadi peningkatan pasien covid-19 di Indonesia seakan-akan menyadarkan kita semua untuk berbenah terhadap kebiasaan hidup sehat dan bersih. Kesadaran akan kesehatan dan kebersihan semakin meningkat. Kemana-mana membawa hand sanitizer, cuci tangan setelah melakukan berbagai kegiatan. Tidak sembarangan membeli makanan di luar.

 c.       Kerjasama, gotong royong dan saling bantu.

Kondisi yang serba tidak pasti akibat covid-19 membawa banyak perubahan. Bekerja harus dengan protokol kesehatan ketat. Banyak terjadi penurunan pendapatan untuk pekerja-pekerja di bidang kuliner. Pemutusan hubungan kerja (PHK) pun terpaksa diambil oleh perusahaan-perusahaan yang mulai merasakan penurunan pendapatan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk menggaji pegawai. Tenaga kesehatan semakin lama semakin kewalahan menghadapi banyaknya pasien covid-19. Semua keadaan tersebut membangkitkan kesadaran untuk bekerjasama, gotong royong dan saling membantu dengan cara masing-masing. Tidak ada tujuan lain kecuali untuk saling memberi semangat dan menguatkan satu sama lain menghadapi covid-19.

d.      Ide bisnis baru bermunculan/kreativitas meningkat

Dengan menurunnya pendapatan karena terbatasnya akses keluar rumah dan meningkatnya PHK membuat orang berpikir keras bagaimana mengatasi keadaan tersebut. Berdagang secara online menjadi salahsatu alternatif yang menjamur. Di grup-grup WA berseliweran dagangan sebagai usaha bukalapak.

e.       WFH/SFH

Peningkatan jumlah pasien covid -19 mau tidak mau harus segera disikapi pemerintah. Salah satunya adalah memberlakukan WFH (work from home) dan SFH (study from home) untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Pro kontra terhadap kebijakan ini pun bermunculan. Keefeektifan solusi ini dianggap tidak signifikan terhadap penyebaran virus covid 19. Tetapi bersamaan dengan berjalannya waktu akhirnya keputusan ini pun berjalan bahkan sampai bulan ke 8 sejak diberlakukan mulai bulan Maret 2020.

f.       Orang tua stress karena harus sekolah lagi.

Dengan diberlakukannya SFH (School From Home) atau kita sebut BDR (Belajar Dari Rumah) maka mau tidak mau peran orang tua di rumah menjadi bertambah, yaitu menjadi guru untuk anak-anak mereka. Yang biasanya setelah mempersiapkan sarapan  membereskan rumah selesai, kini ada satu PR lagi menemani anak menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Bagi orangtua yang bekerja di luar pun tidak kalah menjadi masalah. Membiarkan  anak mengerjakan tugas-tugas sendiri sepertinya tidak mungkin. Sementara pulang dari tempat kerja sudah capai dan anak barangkali sudah tidak mood lagi untuk mengerjakan tugas-tugasnya karena sudah lelah bermain di siang harinya. Inilah barangkali yang seringkali memunculkan joke-joke di medsos tentang betapa stressnya orang tua di masa pandemiini. Tidak kalah stressnya sama anak-anak mereka yang mendapat bejibun tugas setiap harinya.

2.      Perubahan pola pendidikan anak selama pandemi

a.     Model pembelajaran TTM (tatap muka) berubah menjadi sistem online. Anak-anak yang yang semulasanat dijaga dari terpaparnya penggunaan hp/gadget, justru sekarang menjadi terbalik. Mereka harus memiliki dan mampu menggunakannya untuk kepentingan mengerjakan tugas-tugas dan mendapatkan informasi yang cepat dari sekolah.

b.      Kontrol terhadap proses pembelajaran berkurang

Dengan tidak bertemunya guru dan murid dalam kegiatan pembelajaran maka kontrol terhadap proses pembelajaran menjadi berkurang. Anak menganggap belajar di rumah sebagai kegiatan liburan sehingga tugas yang diberikan tidak dikerjakan. Intensitas pengecekan keterlibatan siswa dalam pembelajaran juga sulit dilakukan karena tidak tahu apakah siswa yang benar-benarmengerjakan atau orang tua mereka.

c.  Tantangan kemandirian belajar bagi anak. Dengan belajar di rumah anak harus bisa mengatur proses belajarnya didampingi oleh oirang tua.

3.      Distorsi proses pendidikan pada anak di masa pandemi

a.       Terpaan medsos semakin meningkat. Anak lebih banyak mengenal aplikasi-aplikasi yang ada di sekitar mereka.

b.  Godaan game online semakin kuat. Waktu yang panjang untuk tetap berada dirumah tentu menjenuhkan. Anak-anak cenderung memanfaatkan kejenuhan ini untuk bermain game online. Pulsa yang seharusnya digunakan untuk pembelajaran pun akhirnya tersedot untuk permainan game online.

c.       Keterbatasan akses internet. Meski ini tidak banyak terjadi di daerah perkotaan. Beberapa daerah pingiran mengalaminya. Mereka harus mencari tempat yang lebih tinggi untuk dapat memperoleh sinyal. Ada yang naik pohon, ada yang naik ke bukit dan sebagainya demi tercapainya sinyal ke hp mereka.

4.      BDR tanggung jawab siapa?

a.   Guru : menyampaikan materi-materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh anak baik lewat video, youtube maupun lewat grup WA.

b.  Orang tua: menyampaikan tugas-tugas yang diberikan dari sekolah kepada anak-anak dan mendampingi anak mengerjakan tugas-tugas tersebut.

c.    Siswa : Mengerjakan dan menyelesaikan materi sebagai tanda bahwa mereka sudah memahami materi apa yang disampaikan dan mengumpulkan materi tersebut.

 5.      Cara menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak

Menumbuhkan tanggung jawab pada anak bukanlah proses yang instan. Tetapi membutuhkan proses yang panjang dan tidak dapat terlihat secara langsung pada waktuyang singkat. Rasa tanggung jawab mutlak dimiliki setiap individu untuk kepentingan mereka sendiri. Dengan tumbuhnya perasaan ini mereka akan mampu menentukan tindakan yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam kehidupan mereka.

6.      Proses menumbuhkan tanggungjawab siswa

a.       Beri pemahaman arti tanggung jawab.

b.      Berikanlah tugas.

c.       Biarkan anak melakukan kesalahan.

d.      Latihlah anak untuk mengambil keputusan.

e.       Memberikan kepercayaan pada anak.

f.       Orang tua menjadi contoh dan teladan yang baik.

7.      Tips menumbuhkan minat belajar siswa

a.       Menyiapkan ruang khusus yang nyaman bagi anak. Kalau bisa di ruang tertentu yang memang khusus digunakan untuk belajar.jadi anak tahu ketika akan mengerjakan tugasnya dia berada di ruang tersebut.

b.      Kenali gaya belajar anak. Ada gaya belajar audio,visul dan kinestatik. Termasukyang manakah anak kita? Karena perlakukan terhadap anak dengan gaya belajar tertentu juga berbeda-beda.

c.       Singkirkan barang-barang yang dapat mengganggu konsentrasi anak terutama televisi dan hp. Mainan anak-anak juga bisa menganggu konsentrasinya. Simpan dulu dan jangn diletakkan dekat mereka.

d.      Sediakan segala kebutuhan belajar anak dari alat tulis hingga jaringan internet. Karena sudah berada di ruang khusus  ini menjadi lebih mudah. Semua perlengkapan belajar bisa disimpan di ruang tersebut untuk diunakan pada kesempatan yang lain.

e.   Atur jadwal belajar anak. Kapan anak bermain, belajar, main hp,mengaji dan sebagainya sebaiknya diatur sehingga terbentuk pola belajar yang nyaman dan menyenangkan.

f.       Sediakan camilan sehat. Belajar biasanya akan menguras tenaga karena harus berpikir. Akibatnya anak akan mudah lapar. Maka orang tua hendaknya menyediakan makan-makanan sehat yang tentu saja seimbang jenis kandungannya. Alih-alih anak suka makan malah timbul sisi lain  obesitas karena ketidakseimbangan kandungan makanan yang diberikan.

g.      Dampingi anak selama proses belajar dan diskusi kesulitan dan konsultasi dengan guru. Berikan laporan dan perkembangan belajar anak kepada guru atau wali kelasnya termasuk kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

8.      Hikmah belajar di Rumah

a.       Melatih daya juang anak.

b.      Meningkatkan kemandirian  anak.

c.       Menumbuhkan kreativitas anak

d.      Lebih familiar dengan teknologi.

e.       Meningkatkan kemampuan anak dalam membagi waktu dan tenaga.

f.       Kedekatan antara anak dan orang tua lebih terjaga.

9.      Waspada narkoba pada Anak

a.       Jangan jajan sembarangan.

b.      Waspada dengan orang asing.

c.       Jangan mudah diiming-imingi sesuatu untuk melakukan hal yang tidak mereka mengerti.

Demikian resume kegiatan parenting di SD Muhammadiyah 1 Purbalingga untuk periode bulan Oktober untuk kelas 2 dan 5. Semoga bermanfaat untuk semua. Salam literasi.