Showing posts with label Muhammadiyah. Show all posts
Showing posts with label Muhammadiyah. Show all posts

Saturday, 25 April 2026

Jadwal Ta'lim Ahad Pagi PDM Purbalingga Bulan Mei 2026

 Jadwal Ketempatan Ta'lim Ahad Pagi  PDM Purbalingga Bulan MEI 2026 Jam 07.00-08.00 WIB:

 

1. Tgl, 03 Mei 2026

     Di Masjid Al Hikmah Perumahan Bojong, Kec. Purbalingga.

Ust. Dari Lazismu Prop. Jateng.


2. Tgl, 10. Mei 2026

     Di Masjid Darunnaja Desa Gembong, Kec. Bojongsari.

Ust. H.Sukarman, S.Ag.


3. Tgl, 17 Mei 2026

Di Panti Asuhan Muhammadiyah Bukateja, Kec. Bukateja

Ust. H. Suparna


4. Tgl, 24 Mei 2026

     Di Masjid Nurul Huda Desa Lamuk Kec. Kejobong.

Ust. Agus Triyono, S.Ag. M.Pd.


5. Tgl 31 Mei 2026

Di Masjid... Desa Sangkanayu, Kec. Mrebet

Ust. H. Sodikin Masyruhin, S.Ag.M.Pd.

Sunday, 5 April 2026

Jadwal Taklim Ahad Pagi Bulan April 2026

 Jadwal Ketempatan Ta'lim Ahad Pagi  PDM Purbalingga Bulan APRIL 2026 Jam 07.00-08.00 WIB:

 

1. Tgl, 05 April 2026

     Di SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga, Jln.S.Parman, Purbalingga

Ust. H. Munibullah


2. Tgl, 12 April 2026

     Di Masjid Al Ihwan Kel. Kandang  Gampang, Kec. Purbalingga.

Ust. Drs. H. Munir


3. Tgl, 19 April 2026

Di Masjid Nurrohman Penurupan Desa Karangcegak Kec. Kutasari

Ust. Sudirman, S.Kom. I


4. Tgl, 26 April 2026

     Di Masjid Baiturrahman, Desa Bumisari Kec. Bojongsari

Ust. H. Aris Pujianto, S.Pd.

Sunday, 29 March 2026

Jadwal Ta'lim Ahad Pagi PDM Purbalingga Bulan Maret 2026

 Jadwal Ketempatan Ta'lim Ahad Pagi  PDM Purbalingga Bulan MARET 2026 Jam 07.00-08.00 WIB:

 

1. Tgl, 01 Maret 2026

     Di Masjid At Takwa Kel. Mewek, Kec. Kalimanah

Ust. Fery Nuryadi, S.Pd.I


2. Tgl, 08 Maret 2026

     Di Masjid Bsiturrahman, Kel. Wirasana  Kec. Purbalingga.

Ust. Drs. H. Djubaidi Syarbini.


3. Tgl, 15 Maret 2026

Di Masjid Ash Shobari Kel. Kalikabong Kec. Kalimanah

Ust. Dari Lazismu PWM JATENG.


4. Tgl, 22 Maret 2026

     Libur masih dalam suasana Idul Fitri 1447 H


5. Tgl. 29 Maret 2026

Di Pendopo Kecamatan Kutasari

Ust. H. Sutaryo Al Kusman, S.Ag.

Sunday, 22 February 2026

Jadwal Ta'lim Ahad Pagi Bulan Maret 2026

 Jadwal Ketempatan Ta'lim Ahad Pagi  PDM Purbalingga Bulan MARET 2026 Jam 07.00-08.00 WIB:

 

1. Tgl, 01 Maret 2026

     Di Masjid At Takwa Kel. Mewek, Kec. Kalimanah

      Ust. Fery Nuryadi, S.Pd.I


2. Tgl, 08 Maret 2026

     Di Masjid Bsiturrahman, Kel. Wirasana  Kec. Purbalingga.

     Ust. Drs. H. Djubaidi Syarbini.


3. Tgl, 15 Maret 2026

     Di Masjid Ash Shobari Kel. Kalikabong Kec. Kalimanah

      Ust. Dari Lazismu PWM JATENG.


4. Tgl, 22 Maret 2026

     Libur masih dalam suasana Idul Fitri 1447 H


5. Tgl. 29 Maret 2026

     Di Pendopo Kecamatan Kutasari

      Ust. H. Sutaryo Al Kusman, S.Ag.

Sunday, 15 February 2026

Tadabur Alam PCA–PRA Mrebet

 


Batang dan Pekalongan, Ahad 8 Februari 2026

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga kita dapat melaksanakan kegiatan tadabur alam pada hari ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam menjaga alam dan mensyukuri ciptaan Allah.

Kegiatan tadabur alam PCA–PRA Mrebet ke wilayah dan ini merupakan sarana untuk mempererat ukhuwah, menumbuhkan rasa syukur, serta meningkatkan keimanan melalui perenungan terhadap kebesaran Allah SWT yang tercermin dalam keindahan alam.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, bahwa pada penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berpikir. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh peserta dapat mengambil hikmah, memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai amanah yang harus kita jaga.

Selain sebagai sarana rekreasi yang menyehatkan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi antar anggota, membangun semangat kebersamaan, serta menanamkan nilai-nilai keislaman dalam setiap aktivitas.

Semoga kegiatan tadabur alam ini berjalan dengan lancar, penuh keberkahan, dan memberikan manfaat bagi kita semua.


Dalam kegiatan ini sebagai salah satu peserta merasa luar biasa.  Semangat mengikuti luar biasa ditunjukkan oleh ibu-ibu yang tidak lagi muda. Mereka antusias berperan aktif dalam kegiatan tadabur alam ini. 

Kesan yang muncul adalah kuatnya kedekatan dan kelekatan antar anggota.  Secara sukarela masing-masing PRA membawa makanan yang dibagi-bagi selama perjalanan.  Saya yang suka perjalanan praktis tidak merasa khawatir akan kelaparan karena silih berganti makanan kecil dan camilan dibagi dalam bus.

Selain itu ibu-ibu ini banyak yang memiliki suara yang bagus dan merdu. Bergantian mereka menyanyi lagu dengan gender  keroncong, dangdut dan pop lawas.










Monday, 9 February 2026

Jadwal Ta'lim Ahad Pagi Bulan Februari 2026

 Jadwal Ketempatan Ta'lim Ahad Pagi  PDM Purbalingga Bulan FEBRUARI 2026 Jam 07.00-08.00 WIB:

 

1. Tgl, 01 Februari 2026

     Di Masjid Al Huda Desa Gandasuli, Kec. Bobotsari

Ust. H. Syarifudin, S.Ag. M.H.


2. Tgl, 08 Februari 2026

     Di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, Kec. Purbalingga.

Ust. H. Sodikin Masyruhin S.Ag, M.Pd.


3. Tgl, 15 Februari 2026

Di Masjid Al Ikhsan Desa Kaligondang, Kec. Kaligondang

Ust. H. Sukarman, S.Ag.


4. Tgl, 22 Fevruari 2026

     Di Masjid Al Falah, Sirongge Kel. Kembaran Kulon, Kec. Purbalingga

Ust. H. Muakhor Abdussalam S.Pd.I, M.Si.

Sunday, 4 January 2026

Jadwal Ta'lim Ahad Pagi Januari 2026

 Jadwal Ketempatan Ta'lim Ahad Pagi  PDM Purbalingga Bulan Januari 2026 Jam 07.00-08.00 WIB:

 

1. Tgl, 04 Januari 2026

     Di Masjid An Nur, desa Candiwulan kec, kutasari

Ust. Drs. H. Munir


2. Tgl, 11 Januari 2026

     Di Masjid Muhammad Jasim Asy Syihab Kompleks PMC, Desa Karang Jambe, Kec.Padamara

Ust. M. Abdul Hanif, S.Pd.I, M.Pd.


3. Tgl, 18 Januari 2026

Di Masjid Al Furqon, Desa Kedungjati, Kec. Bukateja

Ust. H. Suparna


4. Tgl, 25 Januari 2026

     Di Masjid Al Fatah, Desa Kalikajar, Kec. Kaligondang

Ust. Agus Triyono, S.Ag. M.Pd.

Tuesday, 16 December 2025

KETIKA INFAK JUM'AT MENJADI ENERGI KEMANUSIAAN


Oleh: A M Iqbal Parewangi 


Bagaimana jika selembar uang Rp10 ribu—yang sering kita sisihkan tanpa berpikir panjang—berubah menjadi energi kolektif yang mampu menolong ratusan ribu korban bencana? 


Pertanyaan ini menemukan jawabannya dalam kebijakan ‘gerakan nasional infak Jum’at untuk korban bencana’ yang digagas Muhammadiyah di tengah bencana air bah dan longsor yang kini melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 


Menariknya, Muhammadiyah tidak sebatas menggalang dana. Ia mengorkestrasi tiga wajah kemanusiaan sekaligus: kekuatan aritmetika kebaikan, gerakan sosial yang terstruktur dan masif, serta edukasi nilai fastabiqul khairat secara berjamaah.


Instruksi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, untuk mengalihkan infak Jum’at di seluruh masjid persyarikatan, amal usaha, dan jaringan takmir Muhammadiyah selama tiga pekan—12, 19, dan 26 Desember 2025—menunjukkan respons yang tenang namun strategis. Tenang karena tidak meledak-ledak, strategis karena memanfaatkan ekosistem organisasi yang telah mapan. 


Ditambah lagi pelaksanaannya dikoordinasikan melalui Lazismu dan lembaga resiliensi bencana MDMC, dua entitas yang telah lama menjadi tulang punggung filantropi dan kebencanaan Muhammadiyah. Di sini, kebijakan bukan sekadar seruan moral, melainkan desain operasional yang siap jalan.


EKOSISTEM MUHAMMADIYAH

& EDUKASI NILAI


Dari sudut pandang sains sosial dan ekonomi, kebijakan ini menarik karena menautkan moralitas dengan aritmetika kebaikan. 


Data internal persyarikatan menunjukkan sekitar 12 ribu masjid Muhammadiyah tersebar di seluruh Indonesia. Dengan asumsi konservatif—rata-rata 100 jamaah Jum’at per masjid dan infak Rp10 ribu per orang—maka satu kali Jum’at saja berpotensi menghimpun sekitar Rp12 miliar. Dikalikan tiga Jum’at, angka itu menjadi Rp36 miliar. Ini baru dari jamaah masjid. 


Ketika jaringan pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah ikut bergerak—172 perguruan tinggi dengan sekitar 618 ribu mahasiswa, 5.345 sekolah dan 440 pesantren dengan total lebih dari 1 juta murid dan santri—potensi bertambah sekitar Rp11,5 miliar per Jum’at. Tiga Jum’at menghasilkan sekitar Rp34,5 miliar. Ditambah kontribusi dari 122 rumah sakit dan 231 klinik Muhammadiyah dan Aisyiyah, total potensi nasionalnya bisa menembus Rp70 miliar atau lebih. 


Angka-angka tersebut bukan retorika. Ia lahir dari asumsi moderat yang justru menunjukkan betapa kuatnya daya ungkit filantropi berbasis jamaah. Itu pun belum termasuk potensi eksklusif yang lebih besar, yaitu jika 60 juta lebih anggota Muhammadiyah dioptimalkan infaknya untuk bantuan bencana.


Lebih jauh, esensi gerakan infak Jum’at ini tidak berhenti pada potensi Rp70 miliar atau lebih itu. Karena tanpa harus menunggu untuk menghimpun donasi publik pun, sejatinya, Muhammadiyah mampu menyumbang dana besar dari kas persyarikatan. 


Sebagai ormas keagamaan terkaya keempat di dunia kini—bahkan yang terkaya di antara ormas Islam—Muhammadiyah memiliki aset sekitar USD 27,96 miliar atau setara Rp454,2 triliun, dengan lebih dari 20 ribu aset wakaf dan 241 juta meter persegi tanah. Fakta ini tercatat dalam berbagai kajian filantropi global, termasuk dalam kompilasi data Seasia Stats.


Dengan kekayaan seperti itu, ditambah likuiditas mencapai puluhan triliun rupiah, menarik bahwa Muhammadiyah justru memilih mengajak warga untuk ikut memberi bantuan, bukan sekadar menerima laporan donasi. Di sinilah wajah ketiga kemanusiaan itu tampak jelas: edukasi nilai.


Muhammadiyah mengedukasi jamaah untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. “Mari kita fastabiqul khairat mengeluarkan dana infak tersebut seoptimal mungkin,” seru Haedar Nashir. “Karena itulah yang dapat kita lakukan sebagai bagian dari dan wujud persaudaraan kita terhadap saudara-saudara yang tertimpa dan terdampak musibah banjir, tanah longsor, dan lain-lain di berbagai daerah. Khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.”


FILANTROPI TERSTRUKTUR 

DI NEGERI RAWAN BENCANA


Fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan—dalam gerakan infak Jum’at ini bukan slogan kosong. Ia dihadirkan sebagai pengalaman sosial yang berulang dan kolektif. Setidaknya pada tiga kali Jum’at terakhir 2025, jamaah diingatkan bahwa bencana bukan berita jauh di layar gawai, melainkan ujian empati yang menuntut respons nyata. 


Dalam perspektif sosiologi agama, praktik berulang seperti ini membangun habitus moral—kebiasaan memberi yang tertanam dalam kesadaran kolektif (Bourdieu, The Logic of Practice, 1990). Muhammadiyah, dengan jaringan masjid, sekolah, kampus, klinik, dan rumah sakitnya, mempraktikkan pendidikan karakter lintas generasi: dari murid yang menyisihkan Rp5 ribu hingga mahasiswa dan tenaga medis yang memberi lebih.


Gerakan ini juga relevan dalam konteks kebencanaan Indonesia yang kian intens. Data BNPB menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi—banjir, longsor, cuaca ekstrem—menyumbang lebih dari 90 persen kejadian bencana tahunan dalam satu dekade terakhir. Perubahan iklim memperparah pola hujan ekstrem, sementara perusakan hutan dan lingkungan memperbesar risiko. Di tengah keterbatasan anggaran negara dan kompleksitas birokrasi, filantropi terorganisir seperti infak Jum’at ini menjadi penting bagi respons kemanusiaan (IFRC, World Disasters Report, 2020).


Keunggulan lain dari gerakan infak Jum’at Muhammadiyah adalah tata kelola. Lazismu dan MDMC bukan lembaga dadakan. Keduanya memiliki rekam jejak dalam penyaluran bantuan, transparansi, dan akuntabilitas. Ini penting, karena kepercayaan publik adalah mata uang utama filantropi. Studi tentang filantropi Islam menunjukkan bahwa kejelasan mekanisme dan kedekatan dengan penerima manfaat meningkatkan partisipasi dan keberlanjutan donasi (Obaidullah and Shirazi, Islamic Social Finance, 2015). 


Dengan seruan berulang dan kolektif, disertai tata kelola yang rapi, infak Jum’at yang terkumpul tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran.


DARI KOTAK INFAK 

KE KETAHANAN SOSIAL BANGSA


Gerakan infak Jum’at ini memberi pesan etis yang halus namun kuat di tengah kegaduhan publik tentang siapa yang paling peduli saat bencana. 


Tanpa perlu menyebut atau menegur pihak lain, Muhammadiyah menunjukkan bahwa kepedulian bisa dijalankan secara sistemik, sunyi, dan berdampak. Ia tidak menunggu status bencana nasional atau sorotan kamera. Ia bekerja dari bawah, dari mimbar Jum’at, dari kotak infak yang mungkin tampak sederhana tetapi sesungguhnya menyimpan kekuatan besar.


Di sini, spiritualitas bertemu rasionalitas. Dalam tradisi Islam, memberi bukan sekadar transfer harta, melainkan penyucian diri dan pengikat persaudaraan. Dalam bahasa ekonomi modern, ia adalah redistribusi sumber daya untuk mengurangi penderitaan. Muhammadiyah berhasil menjembatani keduanya. Infak Jum’at menjadi ritus yang memanusiakan angka, dan angka yang memuliakan ritus.


Pada akhirnya, gerakan infak Jum’at nasional Muhammadiyah memperlihatkan bahwa filantropi tidak harus menunggu kelimpahan. Ia cukup dimulai dari kesediaan berbagi yang konsisten. Sekitar Rp70 miliar mungkin tampak kecil dibanding kerugian bencana yang mencapai triliunan, tetapi dampaknya nyata: dapur umum yang menyala, obat yang tersedia, tenda yang berdiri, dan—yang tak kalah penting—harapan yang hidup. 


Bagi bangsa yang rawan bencana, inisiatif seperti ini menjadi pelajaran berharga: bahwa ketahanan sosial dibangun dari bawah, dari jamaah yang percaya bahwa kebaikan, jika dilakukan bersama, akan selalu menemukan jalannya. 


Dan setiap Jum’at, di sela doa dan sujud, kita diingatkan bahwa kemanusiaan adalah ibadah yang paling dekat dengan kehidupan.


(Serambi Madinah, 12 Desember 2025)

Sunday, 14 December 2025

Pengajian Ahad Pagi 14 Desember 2025

 Kegiatan pengajian Ahad Pagi,  14 Desember 2025 dilaksanakan di Masjid AtTakwa,   Desa Patemon kec. Bojongsari.  Adapun pengajian diisi oleh Ustadz Sukarman,  S.Ag dengan tema Bermuhammadiyah Beragama dengan Gembira. 





Monday, 1 December 2025

Refleksi Milad ke-113 Muhammadiyah

 



Muhammadiyah adalah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sifatnya modern, pembaru (tajdid), dan bergerak di bidang dakwah, pendidikan, kesehatan, serta kemanusiaan. Muhammadiyah berupaya memurnikan ajaran Islam dengan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah serta menolak praktik-praktik yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam (bid’ah, khurafat, takhayul).

Ciri-ciri utama Muhammadiyah:

Berhaluan Islam berkemajuan.

Menekankan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Mengembangkan rumah sakit, universitas, sekolah, panti asuhan, dan layanan sosial lainnya.

Gerakannya bersifat non-politik praktis dan lebih fokus pada dakwah serta pelayanan masyarakat.

 Sejarah Berdirinya Muhammadiyah

Pendiri : KH. Ahmad Dahlan (lahir tahun 1868 di Yogyakarta).

Berdiri : 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H) Kota Yogyakarta.


Latar Belakang Berdirinya

Pada awal abad ke-20, masyarakat Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) menghadapi:

Banyaknya praktik keagamaan yang tidak sesuai ajaran Islam murni.

Lemahnya pendidikan umat Islam.

Kemiskinan dan ketertinggalan di bawah penjajahan Belanda.


KH. Ahmad Dahlan, setelah belajar di Mekah, ingin melakukan pembaruan Islam (tajdid) di Indonesia dengan cara:

Membersihkan ajaran dari hal-hal yang tidak sesuai syariat.

Menguatkan pendidikan modern yang memadukan ilmu agama dan umum.

Membangkitkan semangat umat agar mampu menghadapi tantangan zaman.


Perkembangan Awal

Setelah berdiri, Muhammadiyah segera membangun berbagai lembaga:

Sekolah-sekolah modern (dengan kurikulum agama + ilmu umum).

Rumah Sakit PKU Muhammadiyah (Pelayanan Kesehatan Umat).

Aisyiyah (organisasi perempuan Muhammadiyah), berdiri 1917.

Gerakan kepanduan Hizbul Wathan.



🌿 Peran Muhammadiyah Saat Ini

Hingga kini Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia, dengan:

Ribuan sekolah & pesantren.

Puluhan universitas (misalnya UMY, UMS, UAD, UMJ).

Ratusan rumah sakit & klinik.

Kegiatan kemanusiaan, sosial, dan pemberdayaan di seluruh Indonesia.

Refleksi untuk kegiatan Milad ke-113 Muhammadiyah dapat difokuskan pada tiga dimensi utama: Historis (Masa Lalu), Realitas (Masa Kini), dan Visi (Masa Depan), yang semuanya diikat oleh semangat dakwah dan tajdid (pembaharuan).

Refleksi Milad Ke-113 Muhammadiyah

Milad ke-113 adalah momentum untuk merenungkan sejauh mana organisasi ini telah mengamalkan mandat teologisnya, khususnya dalam "Memajukan Kesejahteraan Bangsa" (tema sentral yang sering diangkat).

1. Refleksi Historis: Penguatan Khittah Gerakan

Ini adalah perenungan terhadap nilai-nilai dasar yang diwariskan pendiri dan capaian besar yang telah diraih.

  • Spirit Al-Ma'un dan Kemanusiaan: Mengingat kembali semangat K.H. Ahmad Dahlan yang mengajarkan praktik Surah Al-Ma'un melalui pendirian rumah sakit, sekolah, dan panti asuhan. Refleksi ini bertujuan menguji apakah amal usaha (AUM) yang besar masih berorientasi pada filantropi, kerakyatan, dan pengentasan kemiskinan ataukah telah bergeser menjadi institusi yang terlalu komersial.

  • Kematangan Sistem vs. Kultus Individu: Menghargai kemapanan sistem dan manajerial yang membuat Muhammadiyah mampu bertahan lintas zaman tanpa tergantung pada satu tokoh. Refleksi ini mendorong kader untuk mencontoh kerendahan hati, keikhlasan, dan ketiadaan keangkuhan dari para pendahulu.

  • Gerakan Tajdid dan Pencerahan: Meneguhkan kembali komitmen terhadap tajdid (pembaharuan) yang mencakup pemurnian akidah dan pembaharuan pemikiran serta praksis keislaman untuk mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.

2. Refleksi Realitas: Menjawab Tantangan Kontemporer

Ini adalah evaluasi terhadap kondisi persyarikatan dan posisinya di tengah dinamika bangsa dan global saat ini.

  • Pemerataan Kesejahteraan Internal: Mengakui pencapaian aset yang besar (AUM) di tingkat nasional, tetapi sekaligus merefleksikan adanya ketimpangan kesejahteraan di internal persyarikatan, seperti masih rendahnya gaji guru/karyawan di beberapa amal usaha. Refleksi ini menuntut solusi nyata untuk memastikan aset digunakan untuk kemakmuran seluruh warga.

  • Peran Wasathiyah (Moderasi) dan Kebangsaan: Menegaskan kembali peran Muhammadiyah sebagai aset bangsa dan organisasi Islam yang moderat (wasathiyah) serta konsisten dalam menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Refleksi ini mendorong kontribusi ilmiah dan digital dalam memecahkan persoalan peradaban dan meningkatkan kesadaran kebangsaan.

  • Adaptasi Dakwah Digital: Mengevaluasi efektivitas dakwah dan amal di era digital dan menghadapi kompleksitas tantangan seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan hoaks.

3. Refleksi Visi: Arah Gerak Masa Depan

Ini adalah penetapan resolusi dan arah strategis untuk mencapai cita-cita Islam Berkemajuan.

  • Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM): Fokus pada penguatan kader dan kepemimpinan yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa sosial. Kader muda bukan hanya pewaris sejarah, tetapi penulis babak baru yang harus menghidupkan kembali semangat ijtihad dan amal shalih.

  • Dakwah Holistik dan Berkelanjutan: Memperluas makna dakwah tidak hanya di mimbar, tetapi di ruang kelas, rumah sakit, dan masyarakat yang membutuhkan sentuhan kemanusiaan, sesuai dengan tema besar "Memajukan Kesejahteraan Bangsa".

  • Sinergi dan Ukhuwah: Menjadikan Milad sebagai momentum untuk berjamaah dan berjam'iyah, memperkuat ukhuwah dengan ormas lain, dan bersinergi dengan pemerintah daerah dalam pembangunan peradaban.

  • Pencapaian Kemanusiaan Universal: Meneguhkan komitmen sebagai pelopor pencerahan yang membawa rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamin), melampaui batas-batas organisasi, suku, dan agama.



ECA (Extra Curricula Activities)

  Sumber gambar: Labbaikudidadu Wisdom Matric School Sumber gambar: The Catalyst Ekstrakurikuler (atau sering disebut ECA — Extra-Curricula...