Saturday, 16 April 2011

Kematian Nita Tilana karena penyakit kanker kandung rahimnya menyisakan dua hal dalam perasaan dan nurani saya. Ada rasa sedih yang mendalam (meski saya tidak mengenalnya selain mengetahuinya dari media) karena usaha yang dilakukannya belum membuahkan hasil dan impian-impiannya untuk berumrah ke tanah suci dan melayani suaminya kandas sudah. Namun di sisi lain ada rasa syukur menyelinap. Kematian yang datang padanya mengakhiri penderitaan dan perjuangan yang panjang dan berat yang ditanggungnya. Mungkin itu cara terbaik Allah mengasihinya.
Namun ketegaran yang ia tampilkan dalam melewati penyakitnya (meski penulis hanya tahu lewat media massa yang mungkin belum menggambarkan separohnya) benar-benar menyiratkan kekuatan batin yang tiada tara. Saya sangat appreciate terhadapnya. Seringkali terpikir dalam otak saya, andai saya dalam posisi demikian, mungkinkah putus asa sudah lama merenggut jiwa dan harapan saya dan menganggapnya sebagi kebencian Tuhan. Semoga saya terhindar dari hal yang demikian.
Beberapa hari berselang dari peristiwa tersebut, seperti biasa saya kembali bertemu dengan teman-teman PPL dari UNY dan Universita Sanata Dharma di STM Pembangunan ( SMK N2 Yogyakarta). Saat itu saya mendapat giliran tugas piket. Kebetulan saya bareng dengan Angelina dan Gunawan. Keduanya dari Universitas Sanata Dharma. Entah dari mana mulainya, Angelina kemudian menceritakan sakitnya. Ia memang baru beberapa hari kemarin izin dari kegiatan PPL karena sakit. Tetapi kami, teman-temannya, tidak tahu apa penyakitnya.
Berkaca-kaca ia mulai menceritakan infus yang menempel di tubuhnya tanpa makan sesuap pun. Semula saya kira penyakitnya berkaitan dengan perut, seperti maag, typus dan semacamnya. Ternyata setelah kita tanya lebih lanjut ia menderita tumor (kanker) payudara. Ya Allah, saya dan Gunawan kaget sekali. Tapi kami hanya bisa berpandangan tak percaya. Prihatin. Hal yang benar-benar ditakutkan oleh wanita terjadi pada dirinya. Saya dan Gunawan tidak bisa berkata-kata ketika ia mengungkapkan rasa sakit yang ia derita ketika tumor itu menyerang tubuhnya. Mendengarkan cerita sakitnya saja sudah membuat saya ngeri.
Sejenak saya memandangnya. Angelina gadis yang cantik dan tinggi. Ia anak yang ceria bahkan tanda kesedihan tidak tersirat di wajahnya. Andaikan ia tidak cerita pastilah kami tidak akan pernah tahu yang ia derita. Yang terlihat hanya bayang kelelahan dan keletihan. Itu pun tertutupi dengan kecerian tawa banyolan –banyolannya. Kami mencoba menyarankan untuk operasi saja, meski sebenarnya saya tidak tahu banyak hal tentang ini. Tapi hanya itu jalan yang terbanyang di pikiran kami. Bukankah ilmu kedokteran sudah semakin canggih sehingga prospek sembuh lebih besar. Ia menolaknyadengan tegas. Katanya bukan hanya saya dan Gunawan yang menyarankan demikian, keluarganya pun sudah membujuknya. Tetapi ia tetap menolaknya. Kehendaknya untuk tidak dioperasi sudah benar-benar bulat. Katanya kalau pun ia meninggal nanti, ia ingin seluruh tubuhnya utuh bersamanya. Tidak ada yang terpisah darinya. Duh…!
Peristiwa kematian Nita Tilana kembali terbayang di pikiran saya. Mungkinkah ia pernah bersikap sama seperti Angelina? Tetapi Angelina sudah hampir 3 tahun menjalani penyakit ini dan ia benar-benar tidak ingin memisah-misahkan bagian tubuhnya. Ia lebih memilih obat-obat tradisional seperti kunyi putih, kunir asam dan sebagainya. Trauma dari peristiwa tantenya benar-benar mempengaruhi keputusannya. Tantenya meninggal setelah melakukan operasi 2 x dengan penyakit yang sama, membuatnya pasrah dalam perjalanan waktu menuju penyakitnya.
Saya cuma bisa menghela napas begitu kami menyudahi obrolan tentang penyakit Angelina. Ternyata di sini, di dekat saya, ada orang yang sama. Orang yang benar-benar tegar berjuang melawan rasa sakit. Semoga ketegaran-ketegaran mereka dapat menjadi pelajaran berharga bagi saya dalam menghadapi cobaan dan kesulitan hidup. Amin.

Catatan :
Tulisan ini ditulis sebelum penulis mengetahui bahwa tumor dan kanker berbeda. Tumor jinak, bisa dihilangkan. Tumor ganas atau yang sering kita sebut kanker diobati melaui kemoterapi, bisa sembuh 100% dengan pengobatan intens dan belum menyebar.

Monday, 11 April 2011

CAKRAWALA PENULIS




Salah satu bagian yang paling saya sukai dari rubrik koran Republika edisi Minggu adalah Catatan Media. Masib banyak sebenarnya rubrik-rubrik yang juga menarik karena koran edisi hari Minggu  Republika santai tetapi tetap memuat informasi-informasi penting. Mungkin karena itulah saya ‘berlangganan’ membelinya setiap hari Minggu.
Catatan Media merupakan kolom rubrik yang sering diisi oleh anggota MARKA (Media Ramah Keluarga). Biasanya yang dibicarakan adalah berbagai masalah media yang dinilai ‘menyimpang’ dari aturan sebenarnya, baik itu yang ada di media cetak maupun media elektronika. Meskipun ada juga bahasan-bahasan yang ‘memuji’ suatu tindakan yang baik yang disorot oleh media. Mengapa saya suka rubrik ini? Sederhana saja jawabannya. Rubrik ini mengupas masalah-masalah di sekitar kita yang menyangkut media massa, yang seringkali dianggap sepele atau cenderung diabaikan tetapi sebenarnya mempunyai pengaruh yang tidak bisa dikatakan kecil pada kehidupan, baik sekarang atau pun yang akan datang. Kadang kita seperti diinatkan bahwa banyak hal yang kita anggap sepele ternyata adalah sebuah persoalan yang penting dan mempunyai mata rantai yang panjang.
Hal yang saya pelajari dari rubrik ini adalah bahwa untuk berpendapat, mengkritik, berdebat, atau malah mungkin ‘mencela’ sesuatu atau seseorang, seorang penulis harus menyodorkan bukti-bukti yang mendukung. Tidak hanya berdasarkan pandangan subyektif penulis semata. Tetapi diikuti oleh pendapat atau fakta-fakta yang berkaitan.
Semula saya mengira bahwa rubrik ini sangat subyektif, menilai hanya berdasarkan kesan pribadi semata. Bahkan sempat pula saya menganggap gampang saja menulis sebuah artikel semacam ini. Apa sih susahnya mengomentari sesuatu? Namun ternyata anggapan saya salah besar. Di dalamnya penulis tidak hanya mengeluarkan pendapatnya tetapi fakta-fakta yang mendukung diuraikan secara jelas dan terperinci. Mengapa sesuatu itu dinyatakan baik, film itu dinilai jelek, mengapa sinetron-sinetron perlu dikoreksi lebih lanjut, dan masih banyak topik-topik yang lain. Uraian dijelaskan secara gamblang dengan tanpa meninggalkan dasar-dasar penulisannya mengacu pada referensi yang jelas akurat.
Pernah sekali saya berniat mengirimkan tulisan tentang kaset Sherina. Saya menuliskannya pada selembar kertas dan akan dikirimkan ke Republika. Namuin belum sempat saya melakukannya ternyata pada hari Minggu masalah tersebut sudah diangkat di rubrik Catatan Media ini. Meski sempat kesal juga karena keduluan (kalau jadi saya mengirimkannya), saya bersyukur karena kemudian saya dapat membandingkan tulisan saya dengan tulisan dari MARKA. Sungguh kelihatan dan terasa berbeda sekali kesan yang tertangkap. Mengapa saya mengatakan kelihatan dan terasa. Karena memang dari penampilan susunan kata-kata dan kalimat saja sudah kelihatan jauh berbeda. Apalagi pada kesan yang timbul setelah membacanya.
Perbedaan yang muncul tidak saja dari segi bahasa yang digunakan (diksi) tetapi dari  dalamnya masalah yang ingin diungkapkan. Tulisan saya banyak memberikan deskripsi, meledak-ledak dan tersa sekali sangat emosional tetapi miskin sekali fakta-fakta pendukung. Dan tentu saja tulisan dari MARKA, menurut saya, sebaliknya. Hal inilah yang menyadarkan saya bahwa trnyata pengetahuan yang mendasari tulisan saya sangat minim, kalau tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali.
Dari sinilah saya kembali mengakui salah satu kelebihan seorang penulis, yaitu wawasannya. Sementara kelebihan yang lain tentu kesabaran, keuletan, telaten ,terbuka terhadap kritik, kreatif dan tetap ‘hidup’. Itulah sebabnya saya berkesimpulan bahwa untuk manjadi seorang penulis sejati tidak mungkin tidak harus terus belajar dan berlatih. Selain kepekaan terhadap sebuah problema juga keseriusan untuk mewujudkannya dan menuangkannya agar diketahui orang lain sangat perlu dijaga. Saya benar-benar bangga pada Anda, para penulis!

Yogyakarta, Juni 2000

Sunday, 10 April 2011

Yang Menjadi Kenangan



Di bulan Oktober 1999 aku membaca sebuah artikel di majalah wanita Kosmopolitan. Artikel  tersebut ditulis dengan judul “Perploncoan Membawaku ke Kemenangan”. Sebuah artikel yang berisi bahwa keadaan yang tidak menyenangkan dan membuat tidak nyaman, dalam hal ini perploncoan yang dialami penulis artikel, ternyata memberikan pengaruh positif jika disikapi dengan positif. Artikel ini seolah mengingatkanku akan perjalanan untuk menjadi seseorang seperti saat ini. Seorang yang bookacholic, sangat gemar pada buku.  
Cerita aku menjadi seorang bookacholic berawal dari sekolah dasar. Waktu itu TK memang belum menjamur seperti sekarang ini. Sekolah lebih banyak dimulai dari tingkat SD. Dan di sinilah kisahku berawal. Aku termasuk anka yang kutu buku disekolahku.buku adalah pengisi waktu luangkudi sekolah.  Sebelum msuk kelas atau waktu istirahat, kumanfaatkan untuk membaca buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan sekolahku. Sebenarnya koleksinya tidak terlalu banyak untuk ukuran sekarang, tetapi aku sudah sangat senang dengan keadaan itu. Meskipun kadang terpaksa aku harus membaca ulang buku-buku yang telah kubaca karena keterbatasan koleksi.
Di sekolah mungkin kebutuhan akan membaca terpenuhi. Namun tidak begitu ketika aku pulang ke rumah. Belum berjalannya perpustakaan sekolah dengan baik menyebabkan buku-buku perpustakaan tidak bisa dipinjam di luar jam sekolah. Aku tidak mempunyai satu pun buku cerita atau buku pelajaran, apalagi majalah-majalah anak seperti yang marak terbit sekarang ini. Jangan berharap memilikinya. Tak mungkin aku mewujudkannya. Jauh sekali impian membeli buku atau majalah saat itu. Seringkali aku memandang iri pada teman-temanku, yang merupakan anak-anak dari guruku, yang dengan mudah mendapatkan buku dan majalah. Dari merekalah kadang saya meminjam. Meski harus menunggu agak lama. Tapi tak apa yang penting ada bacaan yang baru.
Sebenarnya yang bernasib sama denganku tidaklah sedikit. Hampir seluruh teman-temanku, kecuali anak-anak guru, tidak memiliki buku sama sekali. Memang baru anak-anak guru atau pedagang kaya yang mampu membelinya. Buku dan majalah memang masih menjadi barang mahal bagi kami, anak-anak petani dan buruh. Sementara buku-buku yang kami miliki adalah buku tulis yang kami pakai untuk mencatat pelajaran di sekolah, yang kusalin dari papan tulis. Karena tidak ada pilihan lain untuk dibaca, buku pelajaranlah yang kubaca meski seringkali timbul bosan. Namun harapan untuk memiliki buku memang tipis. ‘Ah seandainya aku punya buku bacaan,’ hanya itulah khayalanku ketika itu. Dan sampai lulus SD semua harapan itu belum juga terwujud.
Di tingkat SMP lah aku mulai memiliki buku cetak dan majalah yang memang diwajibkan untuk dibeli. Aku sangat bahagia meski aku harus mengurangi uang jajanku untuk kubelikan majalah remaja. Sekali majalah itu di tanganku, aku akan segera menyelesaikan hari itu juga seperti seorang anak yang kelaparan dan diberi makan. Lahap sekali.
Memang tragis semuanya terjadi di tahun 90-an. Mungkin Anda berpikir itu tidak mungkin. Tapi ya begitulah perjalanan hidupku dan juga teman-temanku. Mungkin karena kami anak-anak pinggiran. Tapi aku tidak menyalahkan siapa-siapa, baik itu orang tua, sekolah, lingkungan atau pemerintah. Aku sering berpikir menyalahkan orang lain pun tidak akan menyelesaikan masalah. Sia-sia saja. Dan semuanya kemudian berlalu tanpa pemberontakan yang berarti dariku. Aku hanya menyimpan pembrontakan-pemberontakan itu di batin dan di hatiku.
Pemberontakan-pemberontakan dan rasa ingin memiliki buku yang tersimpan terlalu lama di lubuk hatiku menumbuhkan keinginan kuat untuk membaca segala hal. Aku sering membaca koran pembungkus kain atau pembungkus makanan yang ibu beli dari pasar. Ibu sering memarahiku karena lebih asyik membaca koran daripada segera membenahi barang belanjaan. Aku memang sangat menikmati membaca apa pun jenis bacaan sampai menghabiskan waktu berjam-jam. Aku malah sering membaca buku-buku yang dipinjam dan dibaca oleh guru saat di tingkat SMA. Kadang aku tersenyum kalau mereka sedang menceritakan buku yang mereka baca. Soalnya aku juga sudah tahu isi lengkapnya. Rasa ingin memiliki buku pun terus menguat seiring usia dan pendidikan yang kulalui.
Dan kini semuanya terwujud. Di bangku kuliah ini aku lebih punya banyak kesempatan untuk membeli buku. Dari buku wajib perkuliahan sampai buku yang memang ingin sekali aku baca. Aku membelinya dengan uang beasiswa yang kuterima. Seringkali aku menghabiskan beratus-ratus ribu hanya untuk membeli buku dan rela mengurangi jatah makanku untuk kusisihkan guna membeli buku. Tapi aku sangat bahagia.
Untuk beberapa sudut pandang, mungkin akan berdampak buruk terutama bagi segi keuangan anak kos. Tetapi satu hal yang membuatku bangga dan menikmatinya adalah karena aku tidak kecanduan karena obat atau alkohol atau hal-hal negatif lainnya. Aku bahagia karena sifat borosku tersalurkan untuk membeli buku. Barang yang menurutku akan lebih bermanfaat dari apaun. Yang membawaku berkeliling dunia tanpa banyak mengeluarkan biaya, yang membuatku enjoy, dan membuatku menjadi orang yang lebih baik.
Dan untuk pertama kalinya aku dapat memandang positif pada hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi padaku. Untuk pertama kalinya pula aku tidak menyalahkan keadaan. Aku malah berterima kasih pada keadaan yang secara tidak langsung dan sadar mengarahkan aku pada kehausan ilmu pengetahuan. Memang segala sesuatu tercipta tidak tanpa hikmah. Terima kasih untuk semua yang telah kulewati.

Terima Kasih Bang Arswendo Oleh : Suyati



Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga
Selamat pagi emak
Selamat pagi abah
Mentari hari ini berseri indah
Terima kasih emak
Terima kasih abah
Lagu tersebut di atas merupakan lagu pengiring dan latar sinetron Keluarga Cemara. Tentunya Anda pernah, mungkin sekali dua kali atau malah ada yang sering menyaksikan sinetron tersebut di RCTI dari hari Senin-Jum’at pukul 08.00. Apa kesan anda pada sinetron ini? Apa pun jawaban Anda itu tergantung pada selera dan penilaian Anda bukan?
Pertama kali saya menyaksikan sineton ini, terus terang, saya langsung jatuh cinta. Suasana keluarga di daerah pedesaan yang asri beserta pernak-pernik masalah yang muncul memang menjadi daya tarik tersendiri bagi saya saat itu. Ada rasa ingin mengenang kehidupan desa yang ditinggalkan. Juga ada menyiratkan harapan dapat mewujudkan keluarga yang demikian nantinya. Mungkin terlalu jauh ya? Ya sebuah gambaran kehidupan yang memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang sesungguhnya. Rasanya jarang sekali saya menyaksikan sinetron semacam ini di layar televisi. Mungkin itu juga salah satu sebabnya saya begitu menyukainya. Ada kerinduan akan tontonan yang tidak hanya menyajikan dunia mimpi tak terjangkau. Tontonan yang memang muncul dari gambaran kehidupan yang sesungguhnya. Meskipun tetap dibumbui kelucuan dan permasalahan tetapi makna dari tontonan tidak berubah. Kita tidak diajak untuk bermimpi di luar jangkauan kita tetapi kita juga tidak diajak untuk tetap statis, tidak maju. Mungkin demikian yang tertangkap oleh pandangan saya.
Sinetron Keluarga Cemara, yang merupakan hasil dari penulis ternama, Bang Arswendo Atmowiloto, mampu tampil beda di tengah maraknya sinetron-sinetron yang semakin sarat dengan perselingkuhan, pembunuhan, kebencian, persaingan dan perebutan kekayaan dan kekuasaan kaum “the have”. Sinetron Keluarga Cemara, sebaliknya menampilkan hal-hal alami yang terjadi di sekitar kita tanpa menonjolkan kemegahan rumah bak istana, pakaian-pakaian mewah dan hiburan-hiburan yang beraroma dugem seringkali menghiasi sebagian besar sinetron-sinetron kita. Para penonton diajak bermimpi. Bahkan mungkin para aktor dan aktrisnya pun tak lepas dari pengaruh tersebut. Yang akhirnya bangun dengan perasaan kecewa karena dunia nyata tak seindah buaian impian.
Memang sinetron ini nampaknya sederhana. Alur ceritanya mengalir indah tapi tak lepas dari begitu sarat makna. Begitu alamiah. Tak heran dan tak asing kita menyaksikan hal-hal yang ada dalam cerita. Apa adanya, mungkin itu kesan yang paling kentara dari sinetron ini. Ada orang yang begitu tabah menghadapi ujian hidup kehilangan kekayaan dan kekuasaan, ada kesombongan orang-orang berpunya, seorang ayah yang begitu bijaksana dan memberikan contoh tanpa kesan menggurui, ada ibu yang memang keibuan, ada ibu yang penuh persaingan. Atau seorang anak yang bertanya tentang haid/mensturasi, jatuh cinta dan kenakalan anak-anak pada umumnya. Namun ada juga sifat-sifat jelek yang tak lepas dari manusia. Ada yang suka bergosip, ada yang suka berbohong, sombong, sok kaya, keluh kesah, dan sebagainya. Ada hal baik dan ada hal buruk yang tampil sewajarnya. Sesuai porsi manusia.
Benar-benar suatu karya yang luar biasa. Dan kepada Bang Arswendo, terima kasih Anda telah menampilkan pikiran anda yang begitu indah sehingga kami dapat menikmatinya. Semoga sinetron-sinetron lain baik itu untuk anak-anak, remaja, maupun dewasa mampu bercermin pada sinetron Keluarga Cemara. Kami tunggu sinetron-sinetron berbobot lainnya di layar kaca.


Purbalingga, 2 Februari 2000

Saturday, 2 April 2011

Kita Memang UNIK

Ketika sedang membersihkan sekolah dengan siswa, salah satu guru menegur seorang anak. Beliau mengira ia adalah adik dari siswa sebelumnya. Wajahnya mirip dengan siswa kakak kelas sebelumnya. Kata beliau "Kamu mirip dengan Doni. Ingat dia nggak, Bu? Mirip kan?" Tanyanya meminta persetujuan saya. Saya yang waktu tidak ingat siapa yang dimaksud hanya bisa menebak-nebak dan mengamati si anak. Tiba-tiba anak tersebut berkata "Pak, tolong jangan disama-samakan dong. Saya kan beda. "

Kalimat itu terus terang menyentak saya. Bukan apa-apa, kata-kata itu juga yang hampir selalu saya katakan kepada orang tua dan keluarga saya ketika saya mulai disama-samakan dengan anak tetangga yang lebih rajin, lebih pintar memasak, lebih pandai dan lain sebagainya. Memang ada sebuah pemberontakan jika kita disamakan. Kita memang berbeda dengan orang lain. Bahkan jikalau kita kembar sekalipun.

Mungkin saja maksudnya bukan menyamakan tetapi menyadarkan tetapi yang kita tangkap adalah kita harus sama dengan orang lain. Kalau orang lain pandai memasak, kita pun harus pandai memasak. Jika orang lain rajin kita pun harus rajin. Orang tidak melihat apa yang kita punyai, apa keunikan yang kita miliki. Tuntutan mereka kita harus sama dengan mereka.

Mungkin caranya saja yang salah. Pengetahuan kita akan perbedaan kemampuan dan bakat yang berbeda yang dimiliki oleh tiap orang harus terus ditingkatkan. Ini mengingatkan saya akan kemampuan siswa saya yang berbeda tetapi harus dituntut memiliki prestasi yang sama. Saya melihat beberapa orang siswa di antara
mereka memberontak dengan caranya masing-masing. Mereka memprotes dengan malas mengikuti pelajaran yang dia tidak memiliki kemampuan bagus, mereka  membuat beberapa perilaku yang membuat guru mata pelajaran terganggu dan marah.



Kita seharusnya tidak langsung men"judge" mereka sebagai anak yang nakal. Mereka hanya tidak tahu bagaimana memberitahu kita, yang nota bene lebih dewasa dan lebih berpengalaman menghadapi hidup. Sayang kita sudah lebih cepat memutuskan mereka sebagai anak nakal. Perbedaan kemampuan mereka harus kita gali untuk lebih tahu mereka. Kita harus tahu mereka tercipta menjadi makhluk-makhluk unik yang tidak mungkin sama persis satu dengan yang lain. Biarkan mereka berbeda selama dalam koridor yang benar. Biarkan mereka tumbuh  sesuai dengan  keunikan yang dianugrahkan Allah SWT kepada mereka. Termasuk kita. Kita pun berbeda. So jangan pernah samakan seseorang dengan orang lain meskipun dia kembarannya! Biarkan kita tumbuh secara unik!!!