Friday, 22 September 2017

Sebuah Refleksi 22 September 2017

Ada yang banyak tersirat hari ini untuk dipikirkan, banyak rencana ingin dijalani, banyak harapan ingin diraih. Tetapi harus dibatasi agar tidak menjadi angan-angan yang kemudian hilang dan tidak kebablasan sehingga menjadi angan-angan yang dihembuskan syeitan. Di hari ini Jumat, 22 September 2017 bertepatan dengan 2 Muharram 1439 H, ingin saya tuliskan apa yang tersirat, apa yang menjadi rencana dan harapan seorang Suyati.
1. Akan menyelesaikan hafalan juz 30.
2.Akan lebih care dan konsen terhadap kerapian dan kenyamanan rumah dan pernik-perniknya.
3. Akan lebih tertib, rapi dalam administrasi kegiatan sekolah dan desa.
4. Akan belajar banyak dari lingkungan, termasuk anak.
Khusus teruntuk anakku, Kamila Azka Faustina, permata hati bunda. Ini kutuliskan sebuah ungkapan yang luar biasa bermakna membuat ibu semakin berterima kasih dan bersyukur kepada Allah, menjadikan engkau sebagai anakku. Meskipun kau bukan milikku, milik kami, Bapak dan Ibu tetapi kau banyak bergaul dan hidup bersama sebagai keluarga. Maafkan sangat jauh ibumu ini dari ibu yang sempurna, tetapi I'll always love you, honey. This is special expression from me, your mom. Diambil dari Ustadz Wijayanto, mengingatkan ibu bahwa banyak salah terhadapmu. Sorry so much. Mudah-mudahan ini bisa mewakili rasa sayang ibu padamu. Love you always, Kafa.

Hutang Kita Banyak pada anak-anak
Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah.
Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan.
Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan.
Tetapi,
seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka...
Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya.
Menghibur kita dengan tawa kecilnya,
Menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya,
Seolah semuanya baik-baik saja,
seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita,
meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.
Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka,
tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita.
Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka,
tetapi,
Sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan.
Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita,
melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.
Kita berhutang banyak pada anak-anak kita.
Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap dan bermain dengan mereka?
Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?
Tentang anak-anak,
Sesungguhnya merekalah yang selalu "lebih dewasa" dan "bijaksana" daripada kita.
Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya.
Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.
Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita.
Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi.
Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa.
Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri.
Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.
Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.
Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang & penyesalan, katakan kepada mereka:
"Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan"
Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Allah tak berkenan.
Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya.
Iya, lebih baik dari sebelumnya.
Selamat memeluk anak-anak kita.

Terima kasih kepada Ustadz Wijayanto yang telah menuliskan ungkapan indah ini untuk para orang tua. Menyadarkan kami sebagai orang tua. Hari ini, ungkapan ini begitu mewakili dan menuju ke relung hati saya saya. Semoga bisa memperbaiki langkah-langkah ke depan sebagai orang tua, khususnya sebagai ibu. Jazakillah khoiron katsir.

Tuesday, 19 September 2017

Belajar dari Mereka yang "Special"

Menjadi guru memang asyik. Kita bertemu dan berhadapan dengan beragam karakter, sifat, kemampuan siswa. Mereka memang unik. Tidak dapat disamakan satu sama lain. Dari beberapa kelas yang saya hadapi, tiap-tiap tahun selalu ada siswa-siswa yang "special" baik dari bentuk fisik maupun kemampuan akademiknya. Mereka membutuhkan perhatian lebih dari seorang guru dalam pembelajaran di kelas maupun di luar kelas.

Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak mengasihani mereka. Memberi perhatian lebih tidak sama dengan mengasihani. Justru jika kita mengasihani mereka, muncul perasaan tersisih dan tidak percaya diri dalam kehidupan sehari-hari di lingkup sekolah. Lingkungan sekolah baik guru, teman sekolah dan pegawai di sekolah tersebut memberi lingkungan yang sama pada mereka. Hanya pada saat-saat tertentu perhatian perlu dilebihkan. Misalnya pada kegiatan olahraga, anak dengan fisik yang "special" tidak terlalu dituntut untuk menguasai secara maksimal. Keaktifan mereka dalam kegiatan sudah menjadi penilaian bagi mereka.

Berdasarkan pengamatan terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus ini, mereka nampak enjoy dan percaya diri ketika orang lain menganggap mereka sama dengan yang lain. Mereka tidak dibedakan dalam berbagai kegiatan. Mereka mengikuti semua kegiatan yang ada di sekolah.Jadi respon orang lain terhadap mereka baik berupa sikap, ucapan maupun tindakan sangat berpengaruh terhadap mereka. Pada umumnya mereka lebih sensitif terhadap orang lain. Tetapi jika mereka merasa diterima dan disamakan dengan yang lain, mereka menjadi siswa yang ceria dan menikmati kegiatan belajar di sekolah. Sekolah menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk mereka berkembang.

Mari menjadi sahabat untuk anak-anak yang "special" dan berkebutuhan khusus untuk mereka menjadi berkembang secara maksimal.