ONE DAY ONE HADITS
Jum'at, 1 Mei 2026 / 13 Dzulkaidah 1447
عن أَبي هريرة رضي الله عنه أَوْ أَبي سعيد الخدري رضي الله عنهما- شك الراوي- ولا يَضُرُّ الشَّكُّ في عَين الصَّحَابيّ؛ لأنَّهُمْ كُلُّهُمْ عُدُولٌ- قَالَ: لَمَّا كَانَ غَزوَةُ تَبُوكَ، أصَابَ النَّاسَ مَجَاعَةٌ، فقالوا: يَا رَسُول الله، لَوْ أَذِنْتَ لَنَا فَنَحرْنَا نَواضِحَنَا فَأكَلْنَا وَادَّهَنَّا؟ فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((افْعَلُوا)).
فَجاء عُمَرُ رضي الله عنه فَقَالَ: يَا رَسُول الله، إنْ فَعَلْتَ قَلَّ الظَّهْرُ، وَلَكِن ادعُهُمْ بفَضلِ أزْوَادِهِمْ، ثُمَّ ادعُ الله لَهُمْ عَلَيْهَا بِالبَرَكَةِ، لَعَلَّ الله أنْ يَجْعَلَ لهم في ذلِكَ البَرَكَةَ. فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((نَعَمْ)) فَدَعَا بِنَطْع فَبَسَطَهُ، ثُمَّ دَعَا بِفضلِ أزْوَادِهِمْ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَجيءُ بكَفّ ذُرَة، وَيَجيءُ الآخر بِكَفّ تمر، وَيجيءُ الآخرُ بِكِسرَة، حَتَّى اجْتَمَعَ عَلَى النّطعِ مِنْ ذلِكَ شَيء يَسيرٌ، فَدَعَا رَسُول الله صلى الله عليه وسلم عليه بِالبَرَكَةِ، ثُمَّ قَالَ: ((خُذُوا في أوعِيَتِكُمْ)) فَأَخَذُوا في أوْعِيَتهم حَتَّى مَا تَرَكُوا في العَسْكَرِ وِعَاء إلا مَلأوهُ وَأَكَلُوا حَتَّى شَبعُوا وَفَضَلَ فَضْلَةٌ، فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ، وَأَنّي رَسُولُ الله، لا يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الجَنَّةِ)). رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah atau Abu Sa'id Al-Khudri (perawi ragu), dan tidak masalah keraguan dalam penentuan sahabat karena semua sahabat itu adil.
Ia berkata:
Ketika terjadi perang Tabuk, orang-orang mengalami kelaparan. Mereka berkata:
“Wahai Rasulullah, apakah engkau mengizinkan kami menyembelih unta-unta kami lalu kami makan dan memakai lemaknya?”
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
“Lakukanlah.”
Kemudian Umar bin Khattab datang dan berkata:
“Wahai Rasulullah, jika itu dilakukan, maka kendaraan akan berkurang. Akan tetapi, ajaklah mereka membawa sisa bekal mereka, lalu doakan keberkahan untuk mereka. Semoga Allah menjadikan di dalamnya keberkahan.”
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
“Ya.”
Maka beliau meminta alas (hamparan), lalu dibentangkan. Kemudian beliau meminta sisa-sisa bekal makanan mereka.
Lalu orang-orang datang membawa segenggam gandum, segenggam kurma, atau sepotong roti, hingga terkumpul sedikit di atas alas tersebut.
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam kemudian mendoakan keberkahan atasnya.
Lalu beliau bersabda:
“Ambillah ke dalam wadah kalian masing-masing.”
Maka mereka mengisi wadah mereka hingga tidak ada satu wadah pun di pasukan kecuali terisi penuh. Mereka makan sampai kenyang, bahkan masih tersisa makanan.
Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menemui Allah dengan dua kalimat ini dalam keadaan tidak ragu, kecuali ia tidak akan terhalang dari surga.”
(HR. Sahih Muslim)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:
1. Mukjizat Nabi shalallahu alaihi wa salam. Allah memberikan keberkahan pada makanan yang sangat sedikit hingga cukup untuk seluruh pasukan.
2- Pentingnya keberkahan dari Allah Bukan banyaknya jumlah yang membuat cukup, tetapi barakah dari Allah.
3- Musyawarah dalam mengambil keputusan Umar bin Khattab memberikan pendapat yang lebih bijak, menunjukkan pentingnya pertimbangan dan hikmah dalam keputusan.
4- Kaidah fiqih penting:
Mendahulukan maslahat yang lebih besar.
Menghindari kerusakan yang lebih besar.
Memilih mudarat yang lebih ringan jika terpaksa.
5- Adab dalam berbicara kepada pemimpin. Para sahabat berbicara dengan sopan kepada Nabi shalallahu alaihi wa salam meskipun dalam keadaan sulit.
6- Keutamaan tauhid Kalimat syahadat adalah sebab keselamatan di akhirat, selama diucapkan dengan yakin dan tanpa keraguan.
7- Kepastian masuk surga bagi ahli tauhid Orang yang meninggal dalam keadaan bertauhid dan yakin, pada akhirnya akan masuk surga, meskipun bisa melalui proses (termasuk jika punya dosa).
8- Allah mampu memberi keberkahan dari sesuatu yang sedikit
Islam mengajarkan hikmah, musyawarah, dan prioritas maslahat
Tauhid yang benar tanpa keraguan adalah kunci keselamatan akhirat.
Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an :
1- Allah memberi keberkahan dari yang sedikit. Allah memberi keberkahan pada yang sedikit
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”(QS. Al-A’raf: 96)
2- Allah mencukupkan rezeki dengan kehendak-Nya. Rezeki pasukan dalam hadits menjadi cukup karena Allah.
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Tidak ada satu makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.”(QS. Hud: 6)
3- Perintah musyawarah. Ini sesuai dengan sikap Umar bin Khattab yang memberi saran bijak kepada Nabi shalallahu alaihi wa salam.
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”
(QS. Ali Imran: 159)
4- Mendahulukan maslahat dan mencegah kerusakan. Nabi shalallahu alaihi wa salam memilih cara yang lebih maslahat (mengumpulkan makanan dan doa keberkahan).
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.”
(QS. At-Taghabun: 16)
5- Keutamaan tauhid sebagai
keselamatan. Tauhid yang benar tanpa keraguan adalah jalan keselamatan.
فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ
“Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.”
(QS. Al-Baqarah: 256)