ONE DAY ONE HADITS
Senin, 4 Mei 2026 / 16 Dzulkaidah 1447
عن عِتْبَانَ بن مالك رضي الله عنه وَهُوَ مِمَّن شَهِدَ بَدرًا، قَالَ: كنتُ أُصَلِّي لِقَوْمِي بَني سَالِم، وَكَانَ يَحُولُ بَيْنِي وبَيْنَهُمْ وَادٍ إِذَا جَاءتِ الأَمْطَار، فَيَشُقُّ عَلَيَّ اجْتِيَازُهُ قِبَلَ مَسْجِدِهم، فَجِئتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم فقلت لَهُ: إنّي أنْكَرْتُ بَصَرِي، وَإنَّ الوَادِي الَّذِي بَيْنِي وبَيْنَ قَومِي يَسيلُ إِذَا جَاءتِ الأمْطَارُ، فَيَشُقُّ عَلَيَّ اجْتِيَازُهُ فَوَدِدْتُ أنَّكَ تَأتِي فَتُصَلِّي في بَيْتِي مَكَانًا أتَّخِذُهُ مُصَلّى، فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((سَأَفْعَلُ)).
فَغَدَا عليَّ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم وَأَبُو بكر رضي الله عنه بَعْدَ مَا اشْتَدَّ النَّهَارُ، وَاسْتَأذَنَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم، فَأذِنْتُ لَهُ، فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى قَالَ: ((أيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ؟)) فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى المَكَانِ الَّذِي أُحبُّ أَنْ يُصَلِّيَ فِيهِ، فَقَامَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم فَكَبَّرَ، وَصَفَفْنَا وَرَاءَهُ فَصَلَّى رَكعَتَينِ، ثُمَّ سَلَّمَ وَسَلَّمْنَا حِينَ سَلَّمَ فَحَبَسْتُهُ عَلَى خَزيرَةٍ تُصْنَعُ لَهُ، فَسَمِعَ أهلُ الدَّارِ أنَّ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم في بَيْتِي فَثَابَ رِجالٌ مِنْهُمْ حَتَّى كَثُرَ الرِّجَالُ فِي البَيْتِ.
فَقَالَ رَجُلٌ: مَا فَعَلَ مَالِكٌ لاَ أرَاهُ! فَقَالَ رَجُلٌ: ذلِكَ مُنَافِقٌ لا يُحِبُّ اللهَ ورسولَهُ، فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((لاَ تَقُلْ ذلِكَ، ألا تَرَاهُ، قَالَ: لاَ إلهَ إلا الله يَبْتَغي بذَلِكَ وَجهَ الله تَعَالَى)) فَقَالَ: اللهُ ورسُولُهُ أعْلَمُ، أمَّا نَحْنُ فَوَاللهِ مَا نَرَى وُدَّهُ وَلا حَدِيثَهُ إلا إِلَى المُنَافِقينَ! فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((فإنَّ الله قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إلهَ إِلاَّ الله يَبْتَغِي بذَلِكَ وَجْهَ الله)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Itban bin Malik radhiyallahu anhu salah seorang sahabat yang ikut perang Badar ia berkata:
“Aku biasa mengimami kaumku dari Bani Salim. Namun di antara aku dan mereka ada sebuah lembah. Jika hujan turun, lembah itu tergenang sehingga sulit bagiku untuk menyeberang ke masjid mereka.
Maka aku datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan berkata: ‘Sesungguhnya penglihatanku telah berkurang, dan lembah yang ada antara aku dan kaumku mengalir saat hujan, sehingga sulit bagiku menyeberang. Aku berharap engkau datang dan shalat di rumahku pada suatu tempat yang nanti akan aku jadikan tempat shalat.’
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda: ‘Aku akan melakukannya.’
Keesokan harinya Rasulullah shalallahu alaihi wa salam datang kepadaku bersama Abu Bakar
radhiyallahu anhu setelah matahari agak tinggi. Beliau meminta izin masuk, lalu aku izinkan. Beliau tidak duduk sampai berkata: ‘Di mana engkau ingin aku shalat di rumahmu?’
Aku tunjukkan tempat yang aku inginkan. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berdiri, bertakbir, dan kami berbaris di belakang beliau. Beliau shalat dua rakaat, lalu salam, dan kami pun ikut salam.
Kemudian aku menahan beliau untuk menikmati hidangan khazirah (makanan dari tepung dan lemak) yang aku siapkan. Lalu penduduk sekitar mendengar bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berada di rumahku, maka banyak orang berdatangan hingga rumah penuh.
Seseorang berkata: ‘Mana Malik? Aku tidak melihatnya.’ Orang lain berkata: ‘Dia itu munafik, tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya.’
Maka Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda: ‘Jangan berkata begitu. Tidakkah kamu melihat bahwa ia mengucapkan: La ilaha illallah dengan mengharap wajah Allah?’
Orang itu berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Adapun kami, demi Allah, kami tidak melihat kecintaan dan pembicaraannya kecuali kepada orang-orang munafik.’ Maka Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan mengharap wajah Allah.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:
1- Keringanan dalam ibadah karena uzur. Orang yang memiliki kesulitan (seperti sakit, buta, atau kondisi alam) mendapat keringanan untuk tidak ke masjid.
2- Bolehnya membuat tempat khusus shalat di rumah.
Disunnahkan memiliki tempat tertentu di rumah untuk ibadah agar lebih khusyuk.
3- Tawadhu dan perhatian Nabi shalallahu alaihi wa salam.
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam mau memenuhi permintaan sahabat, meskipun secara kedudukan beliau lebih tinggi.
4- Tidak mudah menuduh orang munafik. Nabi shalallahu alaihi wa salam melarang menuduh seseorang sebagai munafik hanya dari prasangka.
5- Keutamaan kalimat tauhid
Ucapan “La ilaha illallah” dengan ikhlas menjadi sebab keselamatan dari neraka.
6- Pentingnya niat (ikhlas).
Tidak cukup hanya mengucapkan, tetapi harus disertai keikhlasan karena Allah.
7- Bolehnya menjamu tamu
Menjamu tamu termasuk akhlak mulia yang dicontohkan para sahabat.
8- Boleh menjelaskan kondisi diri (uzur). Mengabarkan kekurangan (seperti rabun) bukan termasuk keluhan tercela jika ada kebutuhan.
9- Boleh mengajak orang lain saat bertamu. Selama tuan rumah tidak keberatan, membawa teman saat berkunjung diperbolehkan.
Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an:
1- Ikhlas dalam Tauhid.
Hadits menegaskan bahwa orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas akan diselamatkan.
Tidak cukup hanya ucapan, harus disertai keikhlasan
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya...”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
2- Allah Mengetahui Isi Hati
Dalam hadits, Nabi shalallahu alaihi wa salam melarang menuduh seseorang munafik karena hanya Allah yang tahu isi hati. Kita tidak boleh menghakimi iman seseorang
إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati.”
(QS. Ali ‘Imran: 154)
3- Larangan Su’uzan (Buruk Sangka). Tidak boleh mudah menilai buruk orang lain.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
4- Keutamaan Tauhid
Hadits: Allah mengharamkan neraka bagi orang yang ikhlas bertauhid. Tauhid adalah kunci keselamatan.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisa: 48)
5- Kemudahan dalam Agama
Hadits menunjukkan adanya keringanan karena uzur (hujan, lemah penglihatan). Islam memberi kemudahan, bukan kesulitan.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286).
No comments:
Post a Comment