Tuesday, 31 March 2026

Lebaran di Rumah Sederhana Kami

 Sore itu, suasana rumah terasa hangat, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Sinar matahari yang mulai meredup menyelinap masuk melalui jendela kayu, menyinari meja makan kecil yang sudah terisi dengan toples-toples berisi kue kering—kastengel yang warnanya sudah agak kecokelatan dan nastar buatan Ibu yang bentuknya tidak bulat sempurna, namun selalu jadi rebutan.

Aku duduk di kursi kayu tua, menemani Bapak yang sedang menyesap teh hangatnya. Di hadapan kami, ada sepiring kecil Tahu Gejrot yang baru saja dibeli dari pedagang keliling di depan gang.

"Tahu ini rasanya beda, ya, kalau dimakan pas Lebaran begini," ujar Bapak sambil menyumpit sepotong tahu, menyisakan sedikit kuah asam manis di sudut bibirnya.

Aku tertawa kecil. "Bukan karena tahunya, Pak. Tapi karena Bapak makannya sambil nggak kepikiran jadwal mengajar besok."

Bapak ikut tertawa, suaranya renyah. "Iya, benar. Rasanya tenang sekali. Tadi Ibu bilang, katanya tetangga sebelah habis beli sofa baru, warnanya persis kayak warna kulit sapi yang pernah kita lihat di pasar dulu."

Kami pun tergelak. Obrolan receh itu berlanjut ke mana-mana. Mulai dari membahas kucing liar yang kemarin mencuri kerupuk di dapur, sampai Bapak yang dengan semangat menceritakan ulang kisah lucu saat beliau masih muda, yang entah sudah berapa kali aku dengar tapi tetap saja terasa menghibur.

Ibu datang membawa nampan berisi potongan kue kering dan sepiring kecil kacang goreng. "Ini, dimakan lagi. Jangan cuma ketawa-ketiwi, nanti perutnya masuk angin," goda Ibu sambil mengelus bahuku.

Di luar, suara takbir mulai terdengar samar dari kejauhan. Tidak ada kemewahan yang berlebihan di meja kami sore itu, hanya makanan sederhana, teh hangat, dan tawa yang pecah karena hal-hal kecil.

Saat itulah aku menyadari sesuatu: kebahagiaan saat Lebaran bukanlah tentang betapa megah perayaan yang dibuat, melainkan tentang momen sederhana di mana waktu seolah berhenti—membiarkan kita duduk berdampingan, berbagi cerita receh, dan menikmati keberadaan satu sama lain tanpa syarat.

Hanya kami, rumah ini, dan kesederhanaan yang rasanya jauh lebih mahal daripada apa pun di dunia ini.


Karya dibuat dengan AI


No comments:

Post a Comment

Lebaran di Rumah Sederhana Kami

  Sore itu, suasana rumah terasa hangat, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Sinar matahari yang mulai meredup menyelinap masuk melalui jendel...