Monday, 9 February 2026

*Bekal Menyambut Ramadhan

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pejuang Subuh


بسم الله الرحمن الرحيم 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima"

Ada beberapa hal yang harus kita persiapkan dalam menyambut bulan Ramadhan, yaitu:

Pertama: Persiapan Fisik

1. Menjaga Kesehatan

Badan yang sehat adalah modal utama untuk beribadah. Karenanya nabi bersabda:


اغتنمْ خمسًا قبل خمسٍ شبابَك قبل هرمكَ وصحتَك قبل سَقمِكَ وغناكَ قبل فقرِك وفراغَك قبل شغلِك وحياتَكَ قبل موتِكَ


‘Ambillah 5 kesempatan sebelum datang 5 : 

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Shahih at-Targhib wat Tarhib 3/168)


2. Melatih Fisik

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syaban.” 

(HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)


Salah satu hikmah bahwa puasa di bulan Syaban adalah sebagai latihan atau pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan. 

(Lihat Lathoif Al Ma’arif, oleh Imam Ibnu Qudamah)


Kedua: Persiapan Ruhani

1. Bertaubat

Nabi bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ مِنْهَا، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى يُغَلَّفَ بِهَا قَلْبُهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ﴾.

Sesungguhnya seorang mukmin apabila melakukan suatu dosa, maka akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti dari dosa tersebut, dan memohon ampun, maka hati itu akan dibersihkan darinya. Namun jika ia menambah dosa, maka titik hitam itu akan bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah “ran” (karat penutup hati) yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya: “Sekali-kali tidak! Bahkan telah tertutup (berkarat) hati mereka.” (HR. Tirmidzi: 3334)


2. Membersihkan Hati

Allah berfirman:

لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ


Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS. Al-Waqi’ah: 79)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan sebuah faidah yang menawan berkaitan dengan hal ini. Setelah beliau menyebutkan ayat tadi, beliau berkata:

‏فَإِذَا كَانَ وَرَقُهُ لَا يَمَسُّهُ إِلَّا المُطَهَّرُوْنَ فَمَعَانِيْهِ لَا يَهْتَدِي بِهَا إِلَّا القُلُوْبُ الطَاهِرَةُ، وَإِذَا كَانَ المَلَكُ لَا يَدْخُلُ بيتًا فِيْهِ كَلْبٌ، فَالمَعَانِي الَّتِي تُحِبُّهَا المَلاَئِكَةُ لَا تَدْخُلُ قَلْبًا فِيْهِ أَخْلَاقُ الكِلَابِ المَذْمُومَةُ

Apabila lembarannya tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci, maka maknanya pun tidak akan bisa dijadikan petunjuk kecuali oleh hati-hati yang suci. Dan apabila malaikat tidak masuk ke rumah yang ada anjingnya, maka makna-makna al-Qur’an yang dicintai oleh para malaikat tidak akan masuk pula pada hati yang di dalamnya terdapat akhlak anjing yang tercela. (Majmu’ah Fatawa li Syaikhul Islam: 5/328)


3. Memastikan Kehalalan makanan, minuman, penghasilan dll

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».


“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.'” (Al-Baqarah : 172, Al-Ma’idah :88). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)


Para ulama mengatakan, di dalam ayat ini, Allah memerintahkan para rasul-Nya agar hanya memakan makanan yang baik kemudian memerintahkan untuk beramal shalih. Hal itu mengisyaratkan bahwa ada hubungan erat antara mengkonsumsi makanan yang baik, dengan amal shalih. Maka jangan diharap jasad kita akan bergairah untuk melakukan amal-amal shalih bila ternyata jasad tersebut tumbuh dari makanan yang haram.


اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

[Allahummak-finaa bi halaalika ‘an haroomika, wa agh-ninaa bi fadh-lika ‘amman siwaak]

“Ya Allah, limpahkanlah kecukupan kepada kami dengan rizqi-Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan pemberian selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563 dan Ahmad 1: 153)


No comments:

Post a Comment

25 Mindset KBC

  Jika kita berbicara tentang 25 Mindset KBC (Kurikulum Berbasis Cinta) , maka fokusnya bukan lagi tentang uang, melainkan tentang koneksi, ...