Wednesday, 6 January 2021

Kernet Odong-Odong Cantik


Setelah menunggu beberapa jam dari yang ditentukan. Akhirnya nongol juga odong-odong yang ditunggu. Anak-anak berteriak kegirangan. Rasa lelah menunggu hilang karena kegembiraan untuk menikmati jalan-jalan ke telaga. Aku sendiri kaget karena ternyata kernet odong-odong yang membawa kami adalah perempuan. Tepatnya gadis remaja putri. Aku yang jarang menemani  anakku jalan-jalan dengan odong-odong terkaget-kaget. Merasa aneh. Tapi tidak bagi anakku dan juga anak-anak yang lain.

Mereka sudah hafal mana yang akan membawa mereka ke suatu tempat. Karena ada 2 odong-odong di daerah kami. Dan tarifnya pun berbeda. Anak-anak yang lebih tahu tentang itu. Yang mampu membayar Rp 5.000 berarti ikut odong-odong kernet cantik dan kelilingnya lebih jauh. Kalau yang Rp 3000 itu odong-odong biasa, keliling sekitaran desa-desa tetangga saja. 

Oh begitu, aku melongo mendengar jawaban anakku. Dia tahu banyak tentang dua odong-odong yang ada. Dia malah tahu namanya kernet tersebut namanya Mba Elsa. Dan tahu jadwalnya masing-masing odong-odong. Tidak heran karena hampir setiap odong-odong datang, dia minta naik.Meskipun aku tidak menemaninya. Sejak usia 7 tahun dia sudah terbiasa naik odong-odong sendirian. Banyak teman-temannya juga demikian.

Sepanjang perjalanan aku bertanya-tanya sendiri. Mengapa anak gadis ini memilih bekerja sebagai kernet odong-odong. Biasanya sebagian anak gadis di tempatku bekerja di pabrik wig atau rambut palsu. Apa karena Bapaknya pemilik odong-odong tersebut? Apa tidak diterima kerja di pabrik? Atau dia suka jalan-jalan? Beragam pertanyaan terus muncul di dalam benakku. Melihat penampilannya ia memang cuek. Rambutnya panjang dan diwarnai pirang di sebagian. 

Sepanjang perjalanan ini saya lihat tidak sedikit orang-orang tersenyum penasaran ketika tahu kernet odong-odongnya seorang perempuan. Pemuda-pemuda tersenyum penuh tanda tanya. Bahkan anak-anak kecil ada yang kami lewati memberikan tanda 'sarangeo"pada gadis ini. Tapi mungkin karena sudah hafal dengan reaksi orang semacam itu, ia hanya tersenyum saja. Justru aku yang merasa risih dan kasihan. Kenapa ya? Kok seperti melecehkan? 

Tapi mudah-mudahan ia sudah kebal dengan semua reaksi tersebut. Salut dengan keberaniannya menjadi kernet odong-odong. 


No comments:

Post a comment