ONE DAY ONE HADITS
Jum'at, 16 Januari 2026 / 27 Rajab 1447
Shalat adalah Mi‘rajnya Orang-orang Beriman
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صل الله عليه وسلم:
«إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ، وَإِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ، فَلَا يَبْصُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ وَجْهِهِ، وَلَا عَنْ يَمِينِهِ، وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ»
Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
“Sesungguhnya apabila salah seorang dari kalian berdiri dalam shalat, maka ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya. Dan sesungguhnya Rabb-nya berada di antara dirinya dan arah kiblat. Maka janganlah salah seorang dari kalian meludah ke arah depan wajahnya dan jangan pula ke arah kanannya, tetapi (meludahlah) ke arah kirinya atau di bawah kakinya."
(Hadits Muttafaq ‘Alaih)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:
1- Hadist ini berkaitan langsung dengan konsep mi‘raj
Nabi shalallahu alaihi wa salam secara jasad dan ruh.
Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam di-mi‘raj-kan oleh Allah hingga Sidratul Muntaha, sebuah kemuliaan khusus bagi beliau.
2- Mi‘raj umat Nabi shalallahu alaihi wa salam melalui shalat.
Umat Nabi shalallahu alaihi wa salam tidak di-mi‘raj-kan secara fisik, tetapi diberi shalat sebagai sarana:
-Mendekat kepada Allah
-Bermunajat dan “naik” secara ruhani
-Menghadirkan hati di hadapan Allah
3- Maka para ulama mengatakan:
Shalat adalah mi‘rajnya orang-orang beriman, karena di dalamnya terjadi kedekatan dan komunikasi langsung dengan Allah.
Dalil penguat tema mi‘raj shalat
a- Kedekatan tertinggi dalam shalat
«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ»
(HR. Muslim)
Sujud adalah “puncak mi‘raj” dalam shalat.
b- Shalat diwajibkan di malam Isra’ Mi‘raj
Berbeda dengan ibadah lain, shalat diwajibkan langsung oleh Allah tanpa perantara wahyu di bumi. Ini menunjukkan:
Kedudukannya sangat tinggi
Fungsinya sebagai penghubung langit dan bumi
4- Makna Praktis Mi‘raj dalam Shalat. Jika shalat adalah mi‘raj, maka:
-Takbiratul ihram meninggalkan dunia
-Berdiri dan membaca Al-Fatihah → berdialog dengan Allah
-Rukuk dan sujud puncak kerendahan dan kedekatan
-Salam kembali ke dunia dengan hati yang bersih
5-- Hadits “sesungguhnya salah seorang dari kalian jika berdiri dalam shalat, maka ia bermunajat kepada Rabb-nya” menegaskan bahwa:
-Shalat bukan sekadar gerakan
-Shalat adalah perjalanan ruhani
-Inilah hakikat mi‘raj shalat bagi seorang mukmin
6- Shalat adalah munajat langsung antara hamba dan Allah.
Seorang yang shalat harus khusyuk dan beradab.
Shalat merupakan mi‘raj ruhani yang mendekatkan seorang mukmin kepada Rabb-nya.
Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an:
1- Perintah Menegakkan Shalat untuk Mengingat Allah.
Shalat sebagai sarana hubungan dengan Allah. Ini menegaskan bahwa shalat adalah sarana mengingat dan berkomunikasi dengan Allah, selaras dengan makna munajat dalam hadits.
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thoha : 14)
2- Khusyuk dalam Shalat.
Adab dan penghayatan saat bermunajat. Khusyuk adalah sikap hati ketika seorang hamba sadar bahwa ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ , الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.”(Al Mukminun: 1-2)
3- Allah maha dekat dengan hamba-Nya. Kedekatan Allah dalam shalat, kedekatan ini tercermin saat shalat, sebagaimana hadits menyebutkan bahwa Allah berada di antara hamba dan kiblat (kedekatan maknawi).
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sungguh Aku dekat.”(Al Baqarah: 186)
4-:Menghadap kiblat sebagai bentuk ketaatan. Menghadapkan diri kepada Allah dalam shalat, sehingga adab dalam shalat harus dijaga
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
“Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”(Al Baqarah: 144)
No comments:
Post a Comment