Wednesday, 4 May 2011

ISTIRAHATKAN JIWA

Ada banyak waktu luang setelah Ujian Nasional SMP/MTs dilaksanakan. Ada rehat sejenak dari kepenatan menggembleng siswa. Bisa dikatakan ini adalah waktu untuk kembali menenangkan jiwa yang sudah lelah berkutat beberapa bulan penuh untuk persiapan pelaksanaan UN.

Waktu yang lumayan senggang ini dipakai untuk memulai kembali beberapa rencana yang terlewatkan. Betul kata Bapak Mario Teguh, kita terlalu banyak memikirkan fisik dan keduniaan sehingga lupa jiwa juga memerlukan istirahat dan pendekatan. Waktu yang senggang adalah saat yang tepat untuk kembali berdialog dengan jiwa kita yang sudah lam tak disapa. Lama tak didengar pendapatnya. Lama tak bersua meski ada dan bersama. Sembari mendoakan ujian anak-anak lancar dan berhasil dengan baik. Amin.

Di waktu yang senggang ini juga teringat kembali ada banyak hal harus segera dibereskan. Arsip-arsip berserakan tentang UN harus kembali dirapikan untuk persiapan tahun berikutnya. Insya allah. Saatnya sekarang melakukan hal-hal yang banyak ditinggalkan beberapa bulan terakhir. Memasak, menulis artikel, membaca buku, menyempatkan untuk menyalurkan hobi berkebun dan masih banyak hal lain yang siap untuk dilakukan kembali. Selamat beraktivitas kembali untuk istrirahatkan jiwa anda. 

Saturday, 16 April 2011

Kematian Nita Tilana karena penyakit kanker kandung rahimnya menyisakan dua hal dalam perasaan dan nurani saya. Ada rasa sedih yang mendalam (meski saya tidak mengenalnya selain mengetahuinya dari media) karena usaha yang dilakukannya belum membuahkan hasil dan impian-impiannya untuk berumrah ke tanah suci dan melayani suaminya kandas sudah. Namun di sisi lain ada rasa syukur menyelinap. Kematian yang datang padanya mengakhiri penderitaan dan perjuangan yang panjang dan berat yang ditanggungnya. Mungkin itu cara terbaik Allah mengasihinya.
Namun ketegaran yang ia tampilkan dalam melewati penyakitnya (meski penulis hanya tahu lewat media massa yang mungkin belum menggambarkan separohnya) benar-benar menyiratkan kekuatan batin yang tiada tara. Saya sangat appreciate terhadapnya. Seringkali terpikir dalam otak saya, andai saya dalam posisi demikian, mungkinkah putus asa sudah lama merenggut jiwa dan harapan saya dan menganggapnya sebagi kebencian Tuhan. Semoga saya terhindar dari hal yang demikian.
Beberapa hari berselang dari peristiwa tersebut, seperti biasa saya kembali bertemu dengan teman-teman PPL dari UNY dan Universita Sanata Dharma di STM Pembangunan ( SMK N2 Yogyakarta). Saat itu saya mendapat giliran tugas piket. Kebetulan saya bareng dengan Angelina dan Gunawan. Keduanya dari Universitas Sanata Dharma. Entah dari mana mulainya, Angelina kemudian menceritakan sakitnya. Ia memang baru beberapa hari kemarin izin dari kegiatan PPL karena sakit. Tetapi kami, teman-temannya, tidak tahu apa penyakitnya.
Berkaca-kaca ia mulai menceritakan infus yang menempel di tubuhnya tanpa makan sesuap pun. Semula saya kira penyakitnya berkaitan dengan perut, seperti maag, typus dan semacamnya. Ternyata setelah kita tanya lebih lanjut ia menderita tumor (kanker) payudara. Ya Allah, saya dan Gunawan kaget sekali. Tapi kami hanya bisa berpandangan tak percaya. Prihatin. Hal yang benar-benar ditakutkan oleh wanita terjadi pada dirinya. Saya dan Gunawan tidak bisa berkata-kata ketika ia mengungkapkan rasa sakit yang ia derita ketika tumor itu menyerang tubuhnya. Mendengarkan cerita sakitnya saja sudah membuat saya ngeri.
Sejenak saya memandangnya. Angelina gadis yang cantik dan tinggi. Ia anak yang ceria bahkan tanda kesedihan tidak tersirat di wajahnya. Andaikan ia tidak cerita pastilah kami tidak akan pernah tahu yang ia derita. Yang terlihat hanya bayang kelelahan dan keletihan. Itu pun tertutupi dengan kecerian tawa banyolan –banyolannya. Kami mencoba menyarankan untuk operasi saja, meski sebenarnya saya tidak tahu banyak hal tentang ini. Tapi hanya itu jalan yang terbanyang di pikiran kami. Bukankah ilmu kedokteran sudah semakin canggih sehingga prospek sembuh lebih besar. Ia menolaknyadengan tegas. Katanya bukan hanya saya dan Gunawan yang menyarankan demikian, keluarganya pun sudah membujuknya. Tetapi ia tetap menolaknya. Kehendaknya untuk tidak dioperasi sudah benar-benar bulat. Katanya kalau pun ia meninggal nanti, ia ingin seluruh tubuhnya utuh bersamanya. Tidak ada yang terpisah darinya. Duh…!
Peristiwa kematian Nita Tilana kembali terbayang di pikiran saya. Mungkinkah ia pernah bersikap sama seperti Angelina? Tetapi Angelina sudah hampir 3 tahun menjalani penyakit ini dan ia benar-benar tidak ingin memisah-misahkan bagian tubuhnya. Ia lebih memilih obat-obat tradisional seperti kunyi putih, kunir asam dan sebagainya. Trauma dari peristiwa tantenya benar-benar mempengaruhi keputusannya. Tantenya meninggal setelah melakukan operasi 2 x dengan penyakit yang sama, membuatnya pasrah dalam perjalanan waktu menuju penyakitnya.
Saya cuma bisa menghela napas begitu kami menyudahi obrolan tentang penyakit Angelina. Ternyata di sini, di dekat saya, ada orang yang sama. Orang yang benar-benar tegar berjuang melawan rasa sakit. Semoga ketegaran-ketegaran mereka dapat menjadi pelajaran berharga bagi saya dalam menghadapi cobaan dan kesulitan hidup. Amin.

Catatan :
Tulisan ini ditulis sebelum penulis mengetahui bahwa tumor dan kanker berbeda. Tumor jinak, bisa dihilangkan. Tumor ganas atau yang sering kita sebut kanker diobati melaui kemoterapi, bisa sembuh 100% dengan pengobatan intens dan belum menyebar.

Monday, 11 April 2011

CAKRAWALA PENULIS




Salah satu bagian yang paling saya sukai dari rubrik koran Republika edisi Minggu adalah Catatan Media. Masib banyak sebenarnya rubrik-rubrik yang juga menarik karena koran edisi hari Minggu  Republika santai tetapi tetap memuat informasi-informasi penting. Mungkin karena itulah saya ‘berlangganan’ membelinya setiap hari Minggu.
Catatan Media merupakan kolom rubrik yang sering diisi oleh anggota MARKA (Media Ramah Keluarga). Biasanya yang dibicarakan adalah berbagai masalah media yang dinilai ‘menyimpang’ dari aturan sebenarnya, baik itu yang ada di media cetak maupun media elektronika. Meskipun ada juga bahasan-bahasan yang ‘memuji’ suatu tindakan yang baik yang disorot oleh media. Mengapa saya suka rubrik ini? Sederhana saja jawabannya. Rubrik ini mengupas masalah-masalah di sekitar kita yang menyangkut media massa, yang seringkali dianggap sepele atau cenderung diabaikan tetapi sebenarnya mempunyai pengaruh yang tidak bisa dikatakan kecil pada kehidupan, baik sekarang atau pun yang akan datang. Kadang kita seperti diinatkan bahwa banyak hal yang kita anggap sepele ternyata adalah sebuah persoalan yang penting dan mempunyai mata rantai yang panjang.
Hal yang saya pelajari dari rubrik ini adalah bahwa untuk berpendapat, mengkritik, berdebat, atau malah mungkin ‘mencela’ sesuatu atau seseorang, seorang penulis harus menyodorkan bukti-bukti yang mendukung. Tidak hanya berdasarkan pandangan subyektif penulis semata. Tetapi diikuti oleh pendapat atau fakta-fakta yang berkaitan.
Semula saya mengira bahwa rubrik ini sangat subyektif, menilai hanya berdasarkan kesan pribadi semata. Bahkan sempat pula saya menganggap gampang saja menulis sebuah artikel semacam ini. Apa sih susahnya mengomentari sesuatu? Namun ternyata anggapan saya salah besar. Di dalamnya penulis tidak hanya mengeluarkan pendapatnya tetapi fakta-fakta yang mendukung diuraikan secara jelas dan terperinci. Mengapa sesuatu itu dinyatakan baik, film itu dinilai jelek, mengapa sinetron-sinetron perlu dikoreksi lebih lanjut, dan masih banyak topik-topik yang lain. Uraian dijelaskan secara gamblang dengan tanpa meninggalkan dasar-dasar penulisannya mengacu pada referensi yang jelas akurat.
Pernah sekali saya berniat mengirimkan tulisan tentang kaset Sherina. Saya menuliskannya pada selembar kertas dan akan dikirimkan ke Republika. Namuin belum sempat saya melakukannya ternyata pada hari Minggu masalah tersebut sudah diangkat di rubrik Catatan Media ini. Meski sempat kesal juga karena keduluan (kalau jadi saya mengirimkannya), saya bersyukur karena kemudian saya dapat membandingkan tulisan saya dengan tulisan dari MARKA. Sungguh kelihatan dan terasa berbeda sekali kesan yang tertangkap. Mengapa saya mengatakan kelihatan dan terasa. Karena memang dari penampilan susunan kata-kata dan kalimat saja sudah kelihatan jauh berbeda. Apalagi pada kesan yang timbul setelah membacanya.
Perbedaan yang muncul tidak saja dari segi bahasa yang digunakan (diksi) tetapi dari  dalamnya masalah yang ingin diungkapkan. Tulisan saya banyak memberikan deskripsi, meledak-ledak dan tersa sekali sangat emosional tetapi miskin sekali fakta-fakta pendukung. Dan tentu saja tulisan dari MARKA, menurut saya, sebaliknya. Hal inilah yang menyadarkan saya bahwa trnyata pengetahuan yang mendasari tulisan saya sangat minim, kalau tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali.
Dari sinilah saya kembali mengakui salah satu kelebihan seorang penulis, yaitu wawasannya. Sementara kelebihan yang lain tentu kesabaran, keuletan, telaten ,terbuka terhadap kritik, kreatif dan tetap ‘hidup’. Itulah sebabnya saya berkesimpulan bahwa untuk manjadi seorang penulis sejati tidak mungkin tidak harus terus belajar dan berlatih. Selain kepekaan terhadap sebuah problema juga keseriusan untuk mewujudkannya dan menuangkannya agar diketahui orang lain sangat perlu dijaga. Saya benar-benar bangga pada Anda, para penulis!

Yogyakarta, Juni 2000

Persiapan Mengikuti AKGTK

Bagi GTK yang akan mengikuti AKGTK, persiapan sebaiknya tidak hanya berupa belajar materi, tetapi juga memastikan administrasi, teknis, dan ...