Tuesday, 16 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 4

 Refleksi Permasalahan Belajar Daring

Oleh: Suyati

 

#Menulis di Blog Menjadi Buku

#16 Februari 2021

Kegiatan pembelajaran online yang sudah dilaksanakan hampir 11 bulan ini memang masih menyisakan PR besar bagi kami, para guru. Semakin menurunnya keterlibatan peserta didik dalam  pembelajaran daring membuat para guru prihatin. Lewat fasilitas WA guru sering berkomunikasi dengan wali murid tetapi sebagian merasa pasrah terhadap putra –putri mereka yang mulai menurun motivasinya dalam belajar. Mengingatkan, mendampingi sudah tentu sering dilakukan oleh wali murid.

Di rumah mereka terlihat memegang HP dan mengutak-atiknya sehingga nampak sibuk. Sebagian besar orang tua menganggap mereka sedang aktif dalam pembelajaran. Merasa tenang ketika jam-jam pembelajaran anak-anak berada di rumah. Mereka akan lebih mudah mengawasi putra-putri mereka di jam-jam tersebut. Tetapi ternyata mereka salah. Peserta didik memanfaatkan penggunaan gawai untuk bermain game di sela-sela belajar daringnya.. Tugas-tugas yang dikerjakan tidak langsung dikirimkan tetapi menunggu pada waktu yang lain. Sehingga banyak tugas yang menumpuk sehingga akhirnya terlupakan untuk disetorkan. Ternyata ketika pengumpulan tugas sebagaian besar tidak mengumpulkannya. Beberapa wali murid terkejut ketika mendapati laporan ketidakaktifan putra-putri merekan dalam PJJ.

Hal inilah yang menjadi permasalahan besar selain masalah kuota internet. Ketidakhadiran orang tua biasanya menjadi masalah tersendiri. Beberapa peserta didik adalah anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja. Orang tua tidak bisa mendampingi putra-putri mereka belajr online. HP mereka fasilitasi tetapi pengawasannya menjadi berkurang. Banyak tugas yang tidak dikerjakan. Kemampuan orang tua terhadap teknologi gawai pun biasa kalah jauh dengan putra-putri mereka sehingga orang tua lebih memasrahkan penggunaan HP pada meraka. Yang dilakukan barangkali hanya mengingatkan tetapi itu tidak cukup untuk menjadi pengawasan anak dalam pembelajaran.

Sebab kedua anak-anak yang tidak aktif dalam pembelajaran  adalah anak-anak yang hidup sendiri. Mereka ditinggal orang tuanya atau salah satu dari orang tuanya bekerja di luar kota. Mereka ditinggal bersama nenek, kakek atau saudaranya yang lain. Dari segi fasilitas HP, mereka tidak bermasalah. Kuota selalu disediakan oleh orang tua dengan kiriman pulsa untuk mereka. Tetapi pengawasan terhadap keterlibatan pembelajran sangat kurang. Nenek atau kakek mereka tidak bisa berbuat banyak terkait dengan teknologi gawai. Mereka cenderung melakukan pembiaran terhadap penggunaan gawai yang berlebihan. Nasehat mungkin diberikan lewat hubungan telepon atau WA dari orang tua tetapi tentu tidak maksimal karena jarak yang jauh.  

Permasalahan berikutnya adalah HP yang digunakan secara bersama-sama baik dengan orang tua maupun dengan saudaranya yang juga melaksanakan kegiatan pembelajaran daring. Sehingga HP yang digunakan harus bergantian. Orang tua biasanya membawa HP mereka karena digunakan selama mereka bekerja. HP tidak bisa ditinggal karena pekrjaan mereka pun tidak dapat lepas dari penggunaan HP. Sehingga penyetoran yang terlambat seringkali terjadi karena peserta didik biasanya harus menunggu orang tua pulang dari bekerja atau setelah saudaranya selesai kegiatan pembelajran daring.

Itulah beberapa refleksi permasalahan belajar daring sampai saat ini. Saya yakin wali murid sudah berusaha mendampingi dan menfasilitasi putra-putri mereka dengan maksimal. Demikian pula guru. Mencoba berbagai bahan materi pelajaran dengan berbagi media untuk membuat peserta didik tetap semangat belajar daring. Semoga pandemi ini segera berlalu. Pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan segera dengan protokol kesehatan. Aamiin. Itulah kerinduan yang selalu ada dalam diri guru, peserta didik dan wali murid. . Ingat pesan ibu memakai masker, jaga jarak dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Salam sehat selalu.

Selasa Berbagi : Menulis Fiksi itu Mudah Bersama Pak Sudomo Part 4



Pada kesempatan #SelasaBerbagi kali ini Pak Sudomo akan menuntaskan materi setelah tiga kali pertemuan sebelumnya. Menurut beliau, dari tantangan/latihan pertemuan ke-3 hanya ada beberapa orang saja yang menuntaskannya Dari semua yang sudah mengumpulkan, kesimpulannya adalah outline yang disusun sudah siap ditulis menjadi cerpen utuh.

Waduh padahal cerpen saya yang saya tulisakan dalam tantangan betul-betul masih ada di kepala. Sembari menyimak materi pikiran masih mencari bagaimana nanti mengeksekusi cerpen yang sudah dibuat plot, premis dan penokohannya. Semoga bisa sesuai dengan yang sudah direncanakan. Paling tidak tinggal mengembangkan karena sudah punya gambar tersendiri lewat sinopsisnya.

Pertemuan ke-4 hari ini kami bersama-sama belajar menuliskan outline tersebut menjadi sebuah cerpen. Untuk menulis cerpen berdasarkan outline yang sudah dibuat, ada beberapa hal yang akan kita pelajari bersama. Materi 'Menulis Cerpen' sebagian besar disamapaikan dalam format .jpg. Kemudian dijelaskan untuk memperkuat pemahaman.


Materi kita hari ini sifatnya adalah tambahan. Atau dengan kata lain di luar unsur-unsur cerpen. Bagian 15 sudah disampaikan panjang lebar oleh Pak D Susanto. Pak Sudomo akan menambahkan bagian 12 - 14 dan 16.

A. Membuka Cerpen






Teknik tersebut menurut Pak Sudomo sifatnya tidak baku atau mutlak. Dalam artian masing-masing penulis memiliki teknik membuka cerita yang berbeda-beda. Dari sekian pilihan, masing-masing kita bebas mengeksplorasi.

Dengan mengeksplorasi melalui mencoba, akan kita temukan teknik mana yang paling pas. Pak Sudomo sendiri menyatakan sudah mencoba semuanya dan akhirnya menemukan yang paling nyaman, yaitu teknik membuka cerpen dengan dialog. Kebanyakan cerpen yang ditulis beliau dibuka dengan dialog. Kita harus mengeksplorasinya hingga menemukan bentuk pembuka cerpen yang paling nyaman. Agar tidak lagi membuka cerpen dengan kalimat, 'Pada zaman dahulu kala, hiduplah ...Atau 'Pada suatu hari, saya berjalan-jalan ...Itu sudah kuno. Bukan berarti tidak boleh, lho, ya. Pembuka seperti itu lebih cocok untuk cerita anak.




Gambar di atas merupakan beberapa contoh pembukaan cerpen yang bisa dijadikan sebagai referensi belajar kita. Beliau bahkan membaca semua contoh tersebut langsung penasaran untuk melanjutkan membaca cerpennya hingga tuntas. Secara bebas penulis dapat menentukan pola membuka cerpen yang mana. Yang terpenting tanya pada diri kita sendiri apakah pembuka sudah cukup mengundang penasaran atau belum.

B. Mengakhiri Cerpen
Setelah membuat pembuka cerpen yang mengundang penasaran kita lanjut ke mengakhir cerita (ending)



Gambar tentang syarat mengakhiri cerpen

Teknik mudan mengakhiri cerpen adalah pikirkan terlebih dahulu ending seperti apa yang diinginkan dari cerpen tersebut. Jika ending sudah ditentukan akan lebih mudah dalam menuliskan cerpen berdasarkan outline yang telah disusun. Setelah ending ditentukan, tinggal kita tarik mundur, menulis kejadian-kejadian yang dialami tokoh sehingga bisa menuju ending. Dengan demikian tidak akan ada lagi ending yang ujug-ujug. Sama sekali tidak ada petunjuk di paragraf awal eh tahu-tahu ada di ending. Mengejutkan? Iya. Aneh? Banget. Untuk ending plot twist sekalipun juga harus ada clue di awal. Tidak harus tersurat, tetapi bisa disiasati menjadi tersirat. Setidaknya kita bisa menjawab kalau ada pembaca kritis yang menanyakan, "kok endingnya bisa seperti ini?" Dengan mudah kita bisa menunjukkan clue atau petunjuk di paragraf awal

C. Membuat Judul
Materi terakhir adalah membuat judul. Saya rasa perkara membuat judul bukan lagi materi yang asing. Di berbagai kelas menulis sudah seringkali disampaikan. Praktik pun juga sudah langsung dilakukan. 



Perhatikan gambar di atas tentang anjuran membuat judul. Kelimanya bisa dipilih salah satu yang tentunya sesuai dengan isi dan menggambarkan cerita secara keseluruhan.

Gambar berikut ini adalah kebalikan dari gambar sebelumnya. Ini tentang larangan dalam membuat judul. Diperhatikan ya agar judul yang kita buat mnjadi menarik untuk sebuah cerpen.
Gambar memuat larangan dalam membuat judul

Berikut tiga alsan mengapa judul-judul tersebut harus dihindari.
1. Dilarang karena judul-judul yang sudah populer hampir tidak lagi memiliki kekuatan yang 'menjual'. Dengan kata lain tidak akan mengundang penasaran pembaca.
2. Juga dilarang karena cerpen bukanlah karya ilmiah. Meskipun ada jenis cerpen yang ilmiah berupa science fiction, tetapi struktur keduanya jauh berbeda. Disarankan menghindari judul seperti makalah.
3. Termasuk larangan karena spoiler. Kalau dari judul sudah terbaca isi cerpen secara otomatis pembaca akan enggan melanjutkan membaca



Practise makes perfect. Latihan akan membuat sesuatu menjadi sempurna. Sering-sering latihan menulis cerpen adalah kunci keberhasilan membuka dan menutup cerpen dengan baik. Jangan segan-segan meminta masukan kepada teman lain demi perbaikan ke depan. Tidak ada yang instan. Termasuk proses kreatif menulis cerpen. Semua butuh proses. Semua melalui langkah-langkah yang harus ditempuh. Dengan belajar terus, insyaallah seterusnya akan menjadi pembelajar. Selamat mencoba tantangan yang diberikan. Eksekusi cerpen. Semangat!!!





 


Monday, 15 February 2021

Goresan Catatan Guru Bersama Korona Bagian 3

 




# Menulis di Blog Menjadi Buku

#15 Februari 2021


Link Presensi yang Belum Update


Oleh: Suyati

Masa pandemi ini membuat segala pembelajaran dilakukan secara online. Termasuk salah satunya adalah penilaian dan presensi. Setiap kelas melalui wali kelasnya memberikan link untuk presensi peserta didik. Di sana tidak hanya berisi tentang kehadiran tetapi juga tentang kegiatan rutin mereka di rumah. Antara lain membantu orang tua, membaca Al Quran, shalat 5 waktu dan belajar mandiri atau tidak.

Pada awal-awal pemberian presensi, peserta didik tampak antusias mengisi link yang diberikan. Tetapi setelah satu bulan berikutnya mulai ada penurunan jumlah yang mengisi presensi tersebut. Seringkali alasan yang mereka ajukan adalah karena lupa. Untuk mencegah hal tersebut terjadi maka sebelum batas akhir mengisi link, sekitar jam 11.00 peserta didik diingatkan oleh wali kelas masing-masing. Nah barulah peserta didik lengkap mengisi link yang diberikan.

Pada bulan berikutnya ketika link dibagikan anak-anak serta merta mengisi. Tetapi hari ini agak berbeda. Link tidak bisa dibuka. Anak-anak di grup mulai gelisah. Pertanyaan dan konfirmasi dari mereka bermunculan di WAG kelas. Apa yang terjadi ya? Akhirnya aku mencoba mengutak atik google formulir yang digunakan untuk membuat presensi kelas. Ada beberapa pengaturan yang harus dikerjakan oleh pemilik akun. Karena bukan saya sendiri yang membuatnya ketika itu tapi dibantu oleh teman, kini bingung sendiri. Waktu terus berjalan. Anak-anak semakin ramai di grup WA kelas. Aku semakin bingung terlebih saat ini saya dalam posisi WFH (Work from Home). Kalau WFO (Work from Office) mungkin bisa langsung bertanya pada yang lebih paham.

Saya belum mengetahui di pengaturan yang mana yang harus disesuaikan sehingga link bisa terbuka. Mencoba menelpon teman yang sudah mempelajari google formulir terlebih dahulu. Kira-kira permasalahannya dimana dan solusinya bagaimana. Meski agak kesulitan karena petunjuk disampaikan lewat suara. Saya memintanya untuk mengirimkan gambar-gambar seluruh petunjuknya. Dengan perlahan-lahan saya mencoba mengikuti langkah-langkah yang diberikan.

Ternyata permasalahannya ada pada pengaturan waktu berlakunya google formulir itu sendiri. Selama ini saya mengira itu sudah disetting untuk sepanjang waktu. Ternyata tidak. Google formulir link yang ada disetting hanya untuk satu bulan yang berjalan. Sehingga di tanggal 1 harus diperbarui kembali dan mengatur waktu kembali. Aplikasi yang belum terpasang akhirnya aku coba memasangnya. Meski bingung tetapi ketika dapat menyelesaikannya, rasanya senang sekali. Akhirnya setelah berkutat dengan masalah google form presensi, link bisa dibuka dan peserta didik segera mengisinya. Satu persatu memberikan konfirmasinya “Bu linknya sudah jadi”. “Alhamdulillah sudah presensi, bu.” Dan semacamnya. Lega rasanya.

Dari peristiwa ini saya banyak belajar. Belajar untuk tidak tergantung pada orang lain. Karena pada saat-saat tertentu masalah muncul tidak tahu di mana. Jika kita mengetahui proses awal pembuatannya mungkin kita akan cepat menyelesaikannya. Belajar untuk memperbarui pengetahuan kita. Terlebih berkaitan dengan teknologi. Kita tidak mungkin lepas dari hal tersebut sekarang. Guru yang berhenti belajar sama artinya berhenti mengajar. Yuk terus belajar. Perbarui pengetahuan kita setiap hari. Belajar dari manapun.


Resep Obat Batuk dari Herbal

 Berikut adalah beberapa racikan herbal alami yang efektif untuk meredakan batuk berdahak maupun batuk kering menggunakan bahan dapur sederh...