Sebuah pertanyaan kerap muncul dalam pikiran ini,mengapa orang masih tidak maumejaga kebersihan lingkungan dan dirimereka seddangkan dalamagama sudah jelasdikatakan Kebersihan adalah sebagian dari iman. Menapa aplikasi dalamkehidupan sehari-harimasih terasa jauh dari hal tersebut? Pertanyaan ini sangat menarik, karena masalahnya bukan semata-mata umat Islam tidak mengetahui perintah kebersihan, tetapi ada jarak antara mengetahui ajaran, meyakininya, membiasakannya, dan menjadikannya karakter.
Dalam perspektif pendidikan Islam, fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui beberapa hal berikut.
1. Mengetahui ajaran tidak otomatis berarti mengamalkannya
Al-Qur'an dan sunnah telah memberikan perhatian besar terhadap kebersihan dan kesucian. Namun, seseorang bisa saja tahu bahwa kebersihan adalah bagian dari ajaran Islam, tetapi pengetahuan itu belum menjadi perilaku.
Ada perbedaan antara:
Knowledge → Awareness → Attitude → Habit → Character
Misalnya, seorang Muslim mengetahui bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik. Namun ketika tidak ada pengawasan, ia masih bisa membuang sampah sembarangan. Artinya, pengetahuan belum terinternalisasi menjadi kesadaran dan kebiasaan.
2. Pemahaman tentang thaharah sering lebih sempit
Dalam praktik pendidikan, istilah thaharah sering lebih banyak dipahami dalam konteks wudu, mandi, najis, dan kebersihan badan untuk beribadah.
Padahal konsep kesucian dalam Islam dapat dipahami secara lebih luas, mencakup:
kebersihan badan;
kebersihan pakaian;
kebersihan tempat ibadah;
kebersihan rumah dan lingkungan;
kebersihan makanan dan minuman;
kebersihan ucapan dan perilaku;
kebersihan hati dari sifat tercela;
kebersihan pikiran dari prasangka dan kebencian.
Karena itu, seseorang mungkin sangat disiplin menjaga kebersihan ketika akan salat, tetapi belum tentu memiliki kepedulian yang sama terhadap kebersihan kelas, halaman, sungai, toilet, atau ruang publik.
3. Kebersihan belum menjadi bagian dari kesadaran spiritual
Ini yang menurut saya sangat penting.
Kebersihan dapat dilakukan karena:
takut ditegur → karena aturan → karena kebiasaan → karena sadar → karena merasa itu bagian dari ibadah.
Tingkat terakhir jauh lebih kuat.
Jika siswa membersihkan kelas hanya karena ada guru yang mengawasi, maka perilaku tersebut bergantung pada kontrol eksternal.
Tetapi jika ia berpikir:
"Saya menjaga kebersihan karena Allah menyukai kebersihan, lingkungan adalah amanah Allah, dan menjaga kebersihan merupakan bentuk tanggung jawab saya sebagai khalifah,"
maka kebersihan telah masuk ke wilayah kesadaran spiritual.
4. Ada kesenjangan antara ritual dan akhlak
Salah satu persoalan pendidikan agama adalah kemungkinan terjadinya disintegrasi antara ibadah ritual dan perilaku sosial.
Seseorang dapat rajin beribadah, tetapi belum tentu otomatis memiliki:
kepedulian terhadap lingkungan;
disiplin membuang sampah;
kepedulian terhadap fasilitas umum;
kemampuan mengendalikan emosi;
kebersihan hati;
kepedulian terhadap makhluk hidup.
Padahal idealnya terdapat hubungan:
Iman → ibadah → akhlak → kepedulian → tindakan nyata.
Dengan kata lain, kesalehan personal seharusnya berkembang menjadi kesalehan sosial dan ekologis.
5. Lingkungan sosial sering memberikan pesan yang bertentangan
Anak belajar bukan hanya dari ceramah, tetapi dari apa yang dilihat setiap hari.
Jika guru mengatakan:
"Buanglah sampah pada tempatnya."
tetapi siswa melihat orang dewasa membuang sampah sembarangan, maka terjadi hidden curriculum yang lebih kuat daripada nasihat verbal.
Begitu pula apabila:
tempat sampah tersedia tetapi tidak digunakan;
toilet kotor;
halaman sekolah tidak terawat;
fasilitas rusak dan dibiarkan;
orang dewasa tidak memberi contoh;
kegiatan bersih-bersih hanya dilakukan ketika ada penilaian.
Anak akhirnya belajar bahwa kebersihan adalah kegiatan seremonial, bukan nilai kehidupan.
6. Kebersihan sering diposisikan sebagai pekerjaan, bukan nilai
Kalimat seperti:
"Ayo bersihkan kelas!"
kadang membuat kebersihan dipahami sebagai tugas petugas kebersihan atau tugas piket.
Padahal paradigma yang lebih mendalam adalah:
"Kebersihan adalah tanggung jawab setiap orang."
Perubahannya kecil, tetapi secara pendidikan sangat besar.
Dari cleaning activity menjadi culture of cleanliness.
7. Kebersihan hati dan pikiran bahkan lebih sulit
Kebersihan psikis tidak terlihat secara kasatmata.
Seseorang dapat memiliki:
tubuh bersih;
pakaian rapi;
rumah bersih;
tetapi menyimpan:
iri;
dendam;
sombong;
prasangka buruk;
kebencian;
keinginan menyakiti orang lain;
pikiran negatif.
Karena itu, konsep kebersihan dalam Islam sebenarnya sangat menarik jika dikembangkan sebagai kesatuan antara kebersihan lahir dan batin.
Bersih tubuhnya, bersih pakaiannya, bersih lingkungannya, bersih lisannya, bersih pikirannya, dan bersih hatinya.
8. Kebiasaan buruk memiliki kekuatan yang besar
Perilaku manusia tidak selalu ditentukan oleh pengetahuan. Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dapat menjadi otomatis.
Misalnya:
melihat sampah → mengambil sampah → membuangnya
dapat menjadi kebiasaan.
Tetapi:
melihat sampah → merasa bukan tanggung jawab saya → meninggalkannya
juga dapat menjadi kebiasaan.
Karena itu, pendidikan kebersihan tidak cukup dengan memberikan materi, tetapi harus menciptakan pengalaman berulang sampai terbentuk kebiasaan.
Lalu apa akar persoalannya?
Jika diringkas, masalahnya dapat digambarkan seperti ini:
Ajaran Islam sudah ada
↓
Pengetahuan tentang kebersihan sudah ada
↓
Tetapi belum selalu menjadi kesadaran
↓
Belum menjadi kebiasaan
↓
Belum menjadi karakter
↓
Belum menjadi budaya
Jadi persoalannya bukan kekurangan dalil, tetapi kesenjangan antara nilai keagamaan dan perilaku nyata.
Dan justru di sinilah pendidikan memiliki peran yang sangat penting.
Perspektif yang lebih menarik: Eco-Spiritual Awareness
Pertanyaan Ibu ini sebenarnya sangat relevan dengan gagasan penelitian GREEN SUFISM SPIRIT: Integrasi Pendidikan Ekosufisme dalam Menumbuhkan Eco-Spiritual Awareness Siswa MTsN 1 Purbalingga. Konsep tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya persoalan "tahu atau tidak tahu tentang kebersihan", tetapi persoalan hubungan spiritual manusia dengan Allah, dirinya sendiri, sesama manusia, dan alam.
Dengan perspektif ini, sampah bukan sekadar benda yang harus dibuang, tetapi menjadi pengingat bahwa:
alam adalah amanah, kebersihan adalah bagian dari tanggung jawab spiritual, dan perilaku terhadap lingkungan mencerminkan kualitas hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Dari sini muncul pertanyaan penelitian yang jauh lebih mendalam:
"Bagaimana pendidikan Islam dapat mentransformasikan pengetahuan tentang kebersihan menjadi kesadaran spiritual yang melahirkan perilaku ekologis?"
Itulah titik temu antara Islam, pendidikan karakter, kebersihan, kesehatan psikis, dan ekologi.
No comments:
Post a Comment