Thursday, 8 May 2025

Belajar Public Speaking

Sumber: Dreamtime.com


Apa itu public speaking? Public Speaking adalah Public speaking adalah seni dan praktik berbicara di depan umum dengan tujuan untuk menyampaikan informasi, menghibur, membujuk, atau menginspirasi audiens. Ini melibatkan kemampuan untuk menyampaikan pesan secara efektif dan menarik melalui komunikasi verbal dan nonverbal.

Untuk menguasai ilmu public speaking, ada beberapa hal yang diperlukan:

 1. Penguasaan Materi: Memahami dan menguasai topik yang akan dibawakan adalah fondasi utama. Ini termasuk melakukan riset yang mendalam, menyusun materi secara logis, dan memiliki pemahaman yang kuat tentang poin-poin utama yang ingin disampaikan.

 2. Latihan dan Persiapan: Latihan berulang kali sangat penting untuk membangun kepercayaan diri dan kelancaran dalam menyampaikan materi. Persiapan meliputi pembuatan catatan atau outline, berlatih di depan cermin atau teman, dan mengantisipasi pertanyaan dari audiens.

 3. Teknik Vokal: Mengembangkan teknik vokal yang baik meliputi artikulasi yang jelas, intonasi yang bervariasi untuk menjaga perhatian audiens, volume suara yang sesuai dengan ukuran ruangan, dan kecepatan bicara yang tepat.

 4. Bahasa Tubuh: Komunikasi nonverbal memegang peranan penting. Postur tubuh yang tegak dan terbuka, kontak mata dengan audiens, gestur yang alami dan mendukung pesan verbal, serta ekspresi wajah yang sesuai dengan materi akan meningkatkan efektivitas penyampaian.

 6. Pengenalan Audiens: Memahami siapa audiens Anda (latar belakang, minat, tingkat pengetahuan) akan membantu Anda menyesuaikan gaya bahasa, contoh, dan pendekatan penyampaian agar lebih relevan dan menarik bagi mereka.

 7. Kepercayaan Diri: Rasa percaya diri sangat penting untuk mengatasi rasa gugup dan menyampaikan pesan dengan meyakinkan. Kepercayaan diri dapat dibangun melalui persiapan yang matang dan pengalaman berbicara di depan umum.

8. Kemampuan Berinteraksi: Mampu berinteraksi dengan audiens, seperti mengajukan pertanyaan, merespons umpan balik, atau menggunakan humor (jika sesuai), dapat membuat presentasi lebih hidup dan menarik.

 9. Penggunaan Alat Bantu Visual: Jika relevan, penggunaan alat bantu visual seperti slide presentasi dapat membantu memperjelas pesan dan menjaga perhatian audiens. Namun, penggunaannya harus efektif dan tidak mengalihkan perhatian dari pembicara.

 10. Kemampuan Mengatasi Kegugupan: Mengembangkan strategi untuk mengatasi rasa gugup, seperti teknik pernapasan dalam, visualisasi positif, atau fokus pada pesan yang ingin disampaikan, akan membantu Anda tampil lebih tenang dan terkontrol.

 11. Evaluasi dan Pembelajaran: Setelah setiap kesempatan berbicara, penting untuk melakukan evaluasi diri atau menerima umpan balik dari orang lain untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan. Proses pembelajaran yang berkelanjutan akan membantu Anda menjadi public speaker yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Menguasai public speaking adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu dan latihan yang konsisten. Dengan fokus pada pengembangan keterampilan-keterampilan di atas, Anda dapat meningkatkan kemampuan Anda untuk berbicara di depan umum secara efektif dan percaya diri.

Berikut salah satu materi yang penulis ambil dari Instagram. 

Selamat mempraktekkan. Semoga bermanfaat. 

Manusia yang Paling Baik: Yang Baik Akhlaknya


Alkisah.  Seseorang datang menemui Nabi Muhammad (Rasulullah) SAW, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah!  Manusia seperti apakah yang paling baik?”  Rasulullah SAW  pun menjawab, “Manusia yang paling baik akhlaknya.” (H.R. Ahmad).

Rosulullah saw sangat menekankan pentingnya  akhlak yang baik.  “Kebajikan itu ialah akhlak yang baik.” (H.R.  Muslim).

Di akhirat, akhlak baik seseorang dapat memperberat timbangan amalnya, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW ini, “Tidak ada yang lebih berat dalam mizan (timbangan amal di akhirat) kecuali akhlak yang baik.” (H.R. Abu Dawud).

Orang yang berakhlak baik,  pahalanya setaraf dengan orang yang selalu berpuasa sunah dan salat sunah setiap hari, "Sesungguhnya orang yang berakhlak baik akan mencapai derajat orang yang gemar berpuasa (sunah) dan salat (sunah).”  (H.R. Abu Dawud dari Abu Darda).

PUN pula,  orang berakhlak baik juga akan dicintai oleh  Rasulullah SAW dan di akhirat kelak ia berada dekat dengan beliau, “Orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempatnya denganku pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya.”(HR at-Tirmidzi).

ORANG  berakhlak baik,  pahalanya juga akan terus meningkat, sedangkan akhlak yang buruk akan makin membuat seseorang tercela. *_“Akhlak yang baik akan mengembangkan pahala pelakunya, sedangkan akhlak yang buruk akan membuat pelakunya tercela.”_* (H.R. Ahmad). 

AKHLAK yang baik  mengandung faedah, di  antaranya:

a) Dapat  menarik simpati orang lain, “Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi, kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak yang mulia.”  (H.R. al-Hakim).

b) Termasuk bagian dari kesempurnaan iman, “Manusia yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (H.R. Abu Ya’la).

c) Dapat menyelamatkan manusia dari kesengsaraan di dunia. 

“Empat hal yang jika semuanya ada padamu maka hal-hal duniawi yang hilang dari dirimu tidak akan pernah menyengsarakanmu : menjaga amanah, bicara jujur, akhlak yang baik, dan makanan yang halal.” (H.R. al-Hakim).

Dosa Orang Tua kepada Anak

Ternyata bukan anak saja yang bisa durhaka kepada orang tua, tetapi orang tua bisa saja berbuat dosa kepada anak jika melakukan tindakan-tindakan jahat yang melukai anak. Seperti layaknya manusia biasa pada umumnya yang tak lepas dari dosa.


Rasulullah SAW bersabda pada hadits tentang orang tua yang menelantarkan anaknya, “Seseorang dikatakan telah cukup berbuat dosa bilamana menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya,” 

(H.R. Abu Daud dan Nasa’i).


Jadi, orang tua tidak boleh memperlakukan anak seenaknya, begitu juga sebaliknya. Menjadi orang tua adalah petualangan seumur hidup. Segala kebutuhan anak adalah kewajiban orang tua. Seperti kebutuhan pendidikan, makanan, hingga kasih sayang harus diberikan karena sudah menjadi kewajiban.

Lantas, apa saja dosa orang tua terhadap anak yang memengaruhi tumbuh kembang secara fisik dan kejiwaan? 

1.  Suka mencaci-maki

Marah adalah salah satu emosi dasar manusia dan seringkali tida bisa dihindarkan. Namun, sebagai manusia yang memiliki akal diberi kemampuan untuk mengontrol hawa nafsu.

Seseorang yang mudah tersulut kemarahan dapat merusak hubungan kesehatan fisik dalam jangka panjang. Jika orang tua sedang emosi, maka jauhkan diri dari anak. Jangan jadikan anak korban akibat pelampiasan emosi yang tidak terkontrol. Kurang dari lima detik berkata kasar, namun efeknya bisa seumur hidup.

2.  Menghina anak

Menghina anak di depan orang banyak juga merupakan dosa orang tua terhadap buah hatinya. Mungkin, niat orang tua berniat agar anak kapok melakukan kesalahan, tapi itu hal yang keliru. Sebab, anak akan merasa minder dan menahan malu.

Anak bisa saat itu tidak menangis di depan orang tua, tapi ia sudah mati rasa. Akhirnya menjadi hati kecil, lalu orang tua susah membina anak untuk menjadi anak sholeh atau sholehah karena hatinya sudah hancur terlebih dahulu.

“Itulah yang namanya durhaka orang tua kepada anak"

Untuk para orang tua, kalau ada sebuah perilaku yang tidak bisa kita terima, kita bisa memberi nasihat tidak di depan orang lain.

Ada perbedaan tipis antara nasihat dan Fadhihah.

Nasihat adalah : mengingatkan dengan cara yang baik.

Fadhihah adalah : membukakan aibnya di hadapan orang.

3.  Membandingkan anak dengan orang lain

Di dalam lubuk hati para orang tua, mungkin sudah tahu bahwa membandingkan anak dengan orang lain akan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Dengan membandingkannya, anak akan kecil hati.

Selain itu, anak bisa jadi benci dengan orang tersebut, sehingga akan selalu berlawanan. Situasi akan semakin gawat saat anak dibandingkan dengan saudara kandungnya sendiri.

“Di mana ketemu kalau diajak main enggak mau karena orang tua selalu membandingkan, apalagi kalau anak punya adik-adik yang lain,”.

4.  Mendoakan yang buruk

Dosa orang tua terhadap anak lainnya yaitu mendoakan yang buruk. Saat sakit hati, lebih baik diam untuk menahan diri dari mendoakan yang buruk.

Rasulullah SAW melarang orang tua mendoakan anaknya buruk. Apabila Allah kabulkan, maka bisa menyesal. Penyesalan datang di akhir.

5.  Suka membongkar aib anak di hadapan orang lain

Ini adalah dosa yang seringkali terjadi di masyarakat. Hal ini biasanya terjadi saat para ibu-ibu berkumpul. Supaya terasa asik, terlontarlah obrolan dengan perkataan yang sesungguhnya itu aib, seperti orang tua membongkar aib anak di hadapan orang lain. 

Seperti manusia pada umumnya, anak memiliki perasaan dan akal untuk memproses lawakan yang benaran lucu atau mengolok-olok. Ada banyak bahan obrolan lain untuk membesarkan hati anak, jangan mengumbar aibnya yang masih dapat diperbaiki.

6.  Cinta dengan syarat

Cinta orang tua kepada anak harus tulus, bukan cinta dengan syarat. Cinta dengan syarat akan menanamkan kepada anak bahwa dirinya harus memenuhi syarat ideal untuk disayang oleh orang tuanya. Seolah-olah, cinta yang orang tua tunjukkan kepadanya tidaklah ikhlas. 

Mungkin anak hanya diam karena ia belum mampu menyampaikan perasaannya. Meskipun begitu, orang tua harus bisa peka karena anak menyampaikan perasaan dari tindakan dan perilakunya. 

Begitu dia melihat seorang yang memberikan perhatian dan kasih sayang, biarpun orang itu bukan keluarganya, ia akan ke sana. Hal ini terjadi karena ia seperti kehilangan rasa sayang di rumahnya sendiri.

7.  Menyampaikan informasi yang salah

Menyampaikan informasi yang salah juga termasuk dosa orang tua terhadap anak. Anak itu adalah peniru ulung dan seperti sponge. Orang tua mesti memilah informasi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis terhadap anak.

Contohnya yaitu informasi bahwa laki-laki tidak boleh menangis atau saat anak menangis, orang tua seketika menyentak dengan ucapan ‘jangan cengeng!’

Padahal, siapapun bisa menangis saat merasa sedih, terharu, dan emosi lainnya. 

Penelitian dari Harvard Medical School menyatakan menangis sebagai mekanisme untuk melepaskan stress dan rasa sakit emosional. Menangis juga menguatkan ikatan batin antara keluarga.

Penelitian menemukan bahwa saat perasaan sulit terlalu disimpan di dalam diri, akan berdampak buruk bagi kesehatan. Tubuh akan terasa kurang tangguh, penyakit kardiovaskular, hipertensi, hingga kesehatan mental yang menurun, seperti stres, depresi, dan kecemasan.

“Laki-laki tidak boleh nangis, siapa yang bilang? Bapak-bapak nangis kan? Berarti boleh laki-laki nangis. Biarin dia nangis. Itu mengakibatkan sakit jiwa karena setiap mau nangis ia tahan. Itu akibat informasi (pengetahuan) yang salah. Akhirnya ia tahan-tahan, jadi beban, lama-lama sakit jiwa. Jadi ini jangan dianggap sepele,”

8.  Memberikan ancaman

Biasanya, anak yang tidak nurut akan memberikan ancaman. Dari sisi psikologi sampai jiwa, anak mampu menguasai tujuh bahasa di masa emas usia 2-7 tahun. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan yang luar biasa.

9. Selalu melarang tanpa sebab

Hindari mematikan nalar kritis anak saat bertanya. Saat orang tua melarang, cobalah untuk menjelaskan sebab dan akibatnya. Dengan demikian, anak jadi belajar konsekuensi.

“Kalau anda mau larang tolong jelaskan sebabnya. Contohnya enggak boleh nonton TV sampai malam karena nanti mengganggu matamu,” tuturnya.

10. Menghancurkan perasaan atau kepercayaan diri anak

Berhati-hatilah ketika berkata. Rasulullah shallallahu alaihi wa salam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari bersabda bahwa, keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (Hadist riwayat Bukhari)


Mengatakan kalimat buruk kepada anak dapat menyebabkan kepercayaan dirinya runtuh. Efeknya pun bisa bertahan hingga ia dewasa. Ia merasa tidak dicintai, tidak mengetahui harga dirinya, minder, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.

Itulah sederet dosa orang tua terhadap anak yang bisa menimbulkan efek berkepanjangan. 

Semoga, kutipan ini bermanfaat dan sebagai orang tua bisa meninggalkan sikap-sikap negatif, dan mencintai anak dengan tulus.

Persiapan Mengikuti AKGTK

Bagi GTK yang akan mengikuti AKGTK, persiapan sebaiknya tidak hanya berupa belajar materi, tetapi juga memastikan administrasi, teknis, dan ...