Monday, 14 December 2020

MEMILIH DIKSI YANG TEPAT

MEMILIH DIKSI YANG TEPAT

disampaikan oleh Kak Peny dalam Materi ke-3 KMK 10

Ahad, 13 Desember 2020



Hal yang penting untuk diperhatikan dalam menulis adalah diksi. Jika diksi yang dipilih terlihat kurang tepat atau terkesan aneh saat dibaca, maka otomatis pembaca akan langsung meninggalkan tulisan tersebut.  Seorang penulis, baik pemula maupun sudah lama, pasti selalu memikirkan masalah diksi. Tulisan yang dibiarkan dengan diksi aneh sejak awal menulis akan menjadi sulit untuk di-edit nantinya.

Diksi adalah pemilihan kata. Ungkapan kata yang ditulis haruslah dipahami oleh pembaca dengan tepat. Untuk itulah, seorang penulis harus bisa memilih diksi yang tepat untuk tulisannya. Pemilihan kata di sini harus memperhatikan kaidah makna, kaidah kalimat, kaidah sosial dan kaidah karang-mengarang.

Setiap kata terdiri atas dua aspek, yaitu bentuk dan makna. Bentuk merupakan sesuatu yang dapat diinderai, dilihat, atau didengar. Makna merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan reaksi dalam pikiran kita karena rangsangan bentuk.

Penggunaan Diksi Yang Tepat

Ketika ingin menulis sebuah tulisan menarik, pastinya perlu untuk menggunakan diksi yang terbaik sehingga mampu untuk memberikan banyak sekali tulisan terbaik. Diksi yang digunakan dalam sebuah tulisan memang banyak sekali sehingga perlu sekali untuk memperhatikan penggunaan diksi yang tepat. Oleh karenanya dapat menjadikan sebuah tulisan lebih enak dibaca dan mudah dipahami oleh pembaca. Penggunaan diksi yang digunakan dalam tulisan perlu untuk memperhatikan struktur kalimat serta memperhatikan keselarasan dengan inti tulisan. Sebab banyak sekali diksi yang berbeda dengan hal yang baru sehingga memang perlu untuk selalu menggunakan diksi yang terbaik agar pembaca dapat memahami isi dalam tulisan yang digunakan.

Kalau selama ini kita sering bertanya-tanya, merasa aneh sendirl saat membaca kata-kata ajaib seorang penulis, hingga muncul pertanyaan, "kok bisa yah," bikin kalimat dalem gitu !!!

Gimana sih caranya? 

Caranya paling umum adalah banyak baca, belajar mengolah kata, mengganti kosa kata, dll. Tapi, belakangan ini, saya berpikir lagi, malah sata sering sekali menemukan suatu kalimat, paragraf, yang rasanya, tersusun kata-kata yang biasa saja. Tapi, begitu menjadi kesatuan yang utuh, kok nusuk rasanya. #jleb

"Ingin rasanya aku ikut berlari, berteriak agar kau kembali, mencengkeram bahumu agar kau tahu aku ada di sini. Namun, bahasaku tinggal rasa. Dan entah bagaimana caranya agar rasa bisa bersuara jika raga tak lagi ada. Aku hanya ingin merengkuhmu. Adakah e…

5 Langkah Cepat Menulis Puisi Untuk Pemula :

1. Memanfaatkan Suasana Hati

Dalam menulis, kita harus fokus dengan apa yang ingin kita tulis, seperti menulis artikel, buku, cerpen, atau novel. Begitu juga dengan menulis puisi yang justru menurut saya lebih rumit karena harus menghasilkan kata-kata yang imajinatif dan bermakna mendalam. Untuk itu, memanfaatkan suasana hati menjadi lebih penting agar kata demi kata yang kita hasilkan lebih bermakna dan mendalam.

Sebagai contoh, jika kita memiliki suasana hati yang sedih, menyayat, dan galau berat, maka cobalah menulis puisi. Di saat seperti ini biasanya banyak terlintas kata-kata bermakna yang terlintas dalam pikiran kita. Namun, ketika bahagia pun juga seperti itu terkadang terdapat ide brilian yang terlintas dalam pikiran kita. Nah, manfaatkanlah momen-momen ini agar kita lebih mudah untuk merangkai kata demi kata dalam menulis puisi karena hakikatnya menulis puisi adalah membawa perasaan dalam menulisnya.

2 Menentukan Tema

Tema merupakan sebuah gagasan yang kita tuangkan dalam bentuk puisi dan alangkah lebih baiknya menulis puisi sesuai dengan tema yang paling kita sukai. Banyak orang yang ahli dalam menulis puisi, namun belum tentu menguasai semua tema yang ada. Misalkan, kita ahli dalam menulis puisi tentang cinta, tapi belum tentu kita ahli juga dalam membuat puisi cinta, begitupun sebaliknya.

Jadi, dalam menulis puisi sebaiknya sesuaikan dengan karakter kita masing-masing. .

3 Memilih Diksi

Diksi merupakan pilihan kata yang digunakan dalam penulisan puisi. Pemilihan kata-kata ini harus dilakukan secara cermat, sehingga nantinya puisi yang dibuat dapat menyampaikan makna dan tujuan kita secara tepat. Diksi ini juga meliputi pemakaian gaya bahasa, sehingga karya yang dibuat akan memiliki nilai estetik yang tinggi. 

Dalam membuat diksi, sebaiknya berhubungan dengan tema puisi yang dibuat, diksi yang dibuat juga harus unik, menarik, serta memiliki makna yang kuat dan mendalam.

4 Menggunakan Citraan/ Imaji

Untuk memberikan gambaran yang jelas dan menimbulkan suasana yang hidup serta menarik, kita harus sering menggunakan gambaran angan. Nah, gambaran angan ini disebut dengan citraan (imagery). Citraan atau pengimajian adalah gambar-gambar dalam pikiran atau gambaran angan si penyair. Setiap gambar pikiran ini disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran ini sebuah efek dalam pikiran yang menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah obyek yang dapat dilihat oleh mata (indera penglihatan). Citraan ini tidak membuat kesan baru dalam pikiran.

5. Menulis Puisi

Setelah keempat langkah di atas dilakukan, maka kita sudah bisa membuat sebuah puisi yang dimulai dari inspirasi yang telah kita dapatkan. 

SELAMAT MENCOBA

Sekarang mari kita latihan, membuat diksi sesuai konsep di atas.

Contoh 1: ANAK.

1. deskripsi: Anak bagiku seperti jiwa yang kuletakkan pada tubuh asing.

2. kata terkait: Aku melihat kehidupanku pada cara anakku belajar berjalan.

Nggak usah dipuitis-puitiskan, kan yang penting mewakili konsep kita. Bukan konsep umum.

Contoh 2: Hidup: menyuap udara; saat satu tarikan udara terasa melelahkan, kematian menjadi yang didamba.

Contoh 3: Rindu: rindu bukan tentang jarak, tapi hati yg teresonansi.

Tentang MAKAN, bisa bermakna cara mendapatkannya atau malah DAMPAK pada sistem tubuh kita. Nah, penulis yang perenung, dia bukan hanya membahas kerumitan KULIT tapi juga.

Contoh 4: Takut

Takut itu bukan saat kau melihat setan. takut itu saat kau menatap wajah pulas anak-anakmu, dan kau tak bisa memastikan kau akan selalu ada menjaga mereka.

Contoh 5: UANG. Apa susahnya membuat konsep UANG. Anak SD bilang: Uang adalah recehan seplastik yang diberikan ibuk untuk kuhabiskan sehari ini. Anak SMP: Uang adalah jumlah rupiah tak adil dari ibu yang mesti pintar kubagi antara pulsa, makan dikantin, dan malam mingguan. SEORANG BAPAK: Uang adalah setiap sen yang bisa kukumpulkan dengan susah payah dan kubagi dengan hati-hati. 

Nah kaaaaaaaan….nggak rumit…butuh jujur aja.

Contoh 6:

Bawang: sesuatu yang kemarin kautemui di dapur mungilmu dan hari ini menggelisahkan presidenmu lebih dari persiapan Pemilu.

Nah, begitu. Silakan membuat kesimpulan dan penutup sendiri. Intinya semua teknik seperti yang digunakan penulis-penulis hebat itu bisa dipelajari. 

Meski nggak mudah. Tapi saya yakin, semakin kita belajar dan berlatih, semakin lancar kita menggunakan diksi yang keren dalam tulisan kita.

Diksi itu sangat penting dalam hal dunia kepenulisan. 

Penulisan naskah fiksi dan nonfiksi memiliki perbedaan yang mencolok dari segi diksi. Tentu kita tidak mungkin menempatkan diksi super-ilmiah di tulisan novel teenlit, atau meletakkan diksi santai atau nyastra di sebuah karya tulis ilmiah. Maka, inilah pentingnya memahami di kursi mana kita duduk, menulis apakah kita, lantas menentukan diksi yang harus digunakan.

Ada sebuah slogan yang bagus dalam memilih diksi; jelas, sesuai, dan menarik.

Jelas: berarti diksi yang digunakan dapat dipahami pembaca. Misal, kalian menggunakan kata ‘puppy’ daripada ‘anjing’ atau ‘binatang’. Ya, memang itu spesifik dan jelas, tapi tidak semua orang mengetahuinya. Maka, jangan lupakan segmen pembaca dan mempertimbangkan apakah semua orang dapat memahami maknanya. Jika dirasa tidak bisa dipahami semua lapisan, ada baiknya membuat catatan kaki atau memakai diksi lain yang lebih mudah dimengerti.

Sesuai: Ini sama dengan yang saya jelaskan sebelumnya. Diksi harus sesuai dengan jenis tulisan. Tidak mungkin membuat diksi yang puitis untuk makalah atau skripsi, dan tidak mungkin menggunakan diksi yang formal untuk menulis puisi.

Menarik: ada beberapa diksi yang maksudnya sama, namun jika diterapkan mengakibatkan ‘rasa’ yang berbeda. Contoh: dia menangis akan kalah menarik dengan air matanya bergulir menuruni pipi.

Ya benar kamu itu harus tau arti dan makna dari setiap kata yg kamu tuliskan, bnyak yg bisa kamu pelajari bisa dari mengolah kata, merangkai kata dan cari seputar info lebih lengkap mengenai diksi. 

Tidak, pemilihan diksi itu tergantung dari penulisnya itu sendiri. Karena masing-masing penulis memiliki arti makna yang berbeda.

Teknis Mengemas Paragraf Menarik

 MATERI #4 KMK 10

Teknik Mengemas Paragraf Menarik

oleh Agung Purnomo


Selain membuat diksi-diksi yang apik dan mengemas judul yang diminati pembaca bahkan memicu penjualan, yang mesti kita pelajari dalam mengembangkan skill nulis adalah membuat paragraf. Mau tidak mau, paragraf yang menarik akan membuat pembaca betah berlama-lama membaca tulisan Anda. 

Lalu, gimana caranya membuat paragraf yang menarik? Teknik menulis ini membutuhkan ketelatenan, ketekunan, dan ketelitian.

Paragraf menarik adalah yang enak untuk dibaca, mudah dipahami, dan tidak membosankan.

Sayangnya tidak banyak orang mudah melakukannya. Terutama penulis pemula. Jangankan menulis satu karya, menulis satu paragraf pun kesulitan. Iya kan?

Kita bisa melakukan dengan mengutip salah satu sumber referensi yang kita baca. Bisa juga kita menuliskan kalimat yang menarik menurut kita.

Dalam ilmu jurnalistik sih, ada istilah teras berita atau yang biasa disebut dengan LEAD. Pertanyaannya, "Gimana seandainya kita merasa kesulitan bikin paragraf pembuka?"

Ini rumusnya:

A. Teknik Menulis Paragraf Pembuka

Sesuai dengan namanya, paragraf pembuka ditulis sebagai kalimat pembuka. Sebagai paragraf pembuka, seorang penulis diuji kemampuannya dengan menyampaikan kalimat yang tidak berbelit-belit. Paragraf pertama harus memiliki kekuatan.

Tujuannya agar pembaca tertarik, penasaran, dan melanjutkan membaca ke paragraf kedua.

Paragraf pertama sengaja dikemas agar menarik pembaca. Poin ini tidak hanya diterapkan dalam teknik menulis buku, juga bisa diterapkan ke tulisan lain, seperti artikel dan copywriting .

Pembuka yang menarik akan mempengaruhi banyak sedikitnya pembaca. Berikut beberapa paragaraf yang menarik:

 1.Memulai dengan pertanyaan

Pertanyaan selalu menimbulkan rasa ingin tahu dalam diri pembaca serta mengajak kita semua untuk berpikir lebih dalam tentang suatu hal. Pertanyaan juga bisa bersifat retoris maupun mengangkat tema yang umum dalam masyarakat, seperti politik, agama, sosial, ekonomi, dan banyak lagi.

Contoh:

Berapa banyak balita yang menderita kurang gizi? Berapa banyak rakyat dari kalangan atas yang menderita obesitas dan sindrom metabolik? Kita hidup di sebuah negara yang ironis di mana dua masalah gizi sama-sama menjadi permasalahan besar yang harus dipecahkan oleh seluruh tenaga kesehatan.

2. Memulai dengan konflik atau permasalahan

Pembaca cenderung tertarik setelah mereka mengetahui gambaran permasalahan secara keseluruhan. Pembaca akan merasa tidak perlu banyak waktu untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka baca. Konflik bisa juga dinyatakan dengan fakta umum, misalnya hasil sebuah riset atau survei.

Contoh:

Indonesia masih berkutat dengan tingginya angka kematian akibat penyakit infeksi tahun ini. Tuberkulosis masih menempati urutan pertama penyumbang penyakit infeksi terbesar, diikuti dengan kolera, malaria, dan demam berdarah. Berada di wilayah tropis tak bisa lagi dijadikan satu-satunya alasan kejadian penyakit infeksi, melainkan juga sanitasi yang sepertinya memang kurang diperhatikan di Indonesia.

3.Mengulangi judul dalam paragraf pertama

Bagi penulis yang telah menentukan judul tulisannya terlebih dahulu, bisa memasukkannya pada awal kalimat suatu paragraf. Unsur dalam judul tidak harus ditulis lengkap, melainkan bisa ditulis sebagian saja. Hal ini dapat memberi kesan adanya hubungan antara judul dengan keseluruhan tulisan.

Contoh:

Adakah yang salah dengan senja? Dengan semburat warna jingga keemasannya yang indah? Ataukah aku yang selama ini salah menilai senja?

(Paragraf pertama dalam cerpen berjudul Muslihat Senja)

4. Memulai dengan tindakan

Melalui sebuah tindakan yang nyata, pembaca digiring untuk turut merasakan suasana yang ingin diciptakan oleh penulis. Tindakan memberikan kesan tidak bertele-tele dan membosankan sehingga menjadikan paragraf menarik untuk dibaca.

Contoh:

Seorang pencuri berlari dari kejaran dua orang berseragam polisi. Pencuri itu menerobos kerumunan orang yang tengah menyaksikan sebuah pertunjukan sulap. Lalu ia menikung ke kiri menuruni tangga menuju pasar tradisional dan bersembunyi di bawah meja sebuah kios yang gelap dan sesak tak. Ia mengintip melalui celah kayu yang sudah lapuk, tampak dua polisi tadi berlari melewatinya. Pencuri itu kini bisa bernapas lega.

 5. Menggambarkan karakter

Karakter adalah unsur intrinsik terpenting dari sebuah cerita. Melebihi tema, alur, dan latar, sebuah karakter membangun cerita menjadi lebih kokoh. Tak jarang pembaca terlebih dahulu jatuh hati pada karakter daripada isi dari cerita itu sendiri.

Contoh:

Anak lelaki kecil itu muncul setiap pagi di perempatan Pucang, siang di perempatan Dharmawangsa dan sore di perempatan Kertajaya. Kerjanya bergelut dengan jalanan dan asam pahit kehidupan. Meski demikian, dengan koran dan kaleng di tangannya yang kusam, sorot matanya tetap memancarkan semangat kehidupan. Kudengar anak-anak yang lain menjulukinya ‘Si Mata Sipit’.

 6. Menghindari latar belakang dalam kalimat awal

Latar belakang tempat dan waktu sering digunakan penulis amatir untuk memulai paragraf. Padahal salah satu cara membuat paragraf yang menarik adalah dengan menghindari hal tersebut. Di bawah ini adalah contoh paragraf yang harus dihindari penulisannya.

Contoh:

Pada suatu pagi yang cerah, angin berembus sepoi-sepoi. Ombak bergulung menuju tepi. Aku sangat menikmati pagi yang segar di pinggir pantai.

 7. Menggunakan sebuah kutipan

Sebuah kutipan yang arif dapat membangkitkan perasaan pembaca. Kalian bisa mengutip dari novel, puisi, atau kata-kata orang yang terkenal. Kutipan tersebut bisa menggunakan bahasa Indonesia maupun asing disertai dengan sumbernya.

Contoh:

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan Bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

(Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono)

8. Memulai dengan dialog

Dialog antarkarakter membuat paragraf menjadi lebih hidup. Dibandingkan dengan narasi, dialog lebih tidak membosankan. Akan tetapi, hendaknya kalian hanya menggunakan dialog yang benar-benar penting dalam membentuk jalan cerita. Jangan gunakan dialog yang tak berarti.

Contoh:

“Aku mau pergi. Aku mau merantau saja di negeri orang. Mungkin di Cina, Jepang, atau Amerika sekalian. Pokoknya aku mau pergi jauh dari sini,” ujar Budiman sambil meneguk secangkir kopinya yang mengepul.

“Memangnya gampang merantau di negeri orang? Siapa tahu kamu malah jadi gelandangan di sana,” Andi menanggapi pernyataan temannya dengan sinis.

“Tidak. Aku sudah bertekad. Paling tidak di sana tidak ada yang mengenalku, tidak ada yang akan menghakimiku. Di sana peluang masih terbuka lebar untukku. Pokonya aku akan berangkat bulan ini juga setelah pasporku selesai.”

9. Buka pikiran atau ingatan pembaca

Membuka pikiran (ingatan) pembaca adalah teknik pembukaan yang ampuh. Cara ini bisa dilakukan dengan menggunakan kata-kata seperti Bayangkan…, Apa jadinya…, Apakah anda ingat ketika…, dan sebagainya.

Kedua Paragraf Pengembang

Dilihat dari fungsinya sih sebagai kalimat penjelas. Kalimat yang menerangkan lebih detail dan menjelaskan dari topik yang ingin disampaikan. Sebagai paragraf pengembang, maka tulisan yang ditulispun harus runtut . Setidaknya paragraf satu dengan paragraf lain harus saling berkaitan satu sama lain.

Fungsi paragraf pengembang saat menulis buku tidak hanya nyambung, tetapi juga logis. 

Wajar jika selama proses penulisan, seorang penulis mampu mengemukakan inti dari persoalan yang akan dikupas. 

Tanpa tahu inti permasalahan, tulisan kita akan terasa hambar dan kering. Pembahasan dan pengembangan tulisan pun benar-benar tuntas, agar pembaca puas saat membaca.

 Ketiga, Teknik Menulis Paragraf Penutup

Setiap kali menulis buku selalu ditutup dengan kesimpulan. Lalu, apakah setiap buku selalu ditutup dengan kesimpulan? Kenyataannya, tidak semua buku ditulis dengan kesimpulan yang jelas. Salah satu contohnya buku fiksi, yang ditutup dengan ending cerita mengantung. 

Ending mengantung, dan diserahkan kepada pembaca, sengaja membuat pembaca bertanya-tanya dengan ending cerita.

Lalu, bagaimana katagori paragraf penutup yang baik?

Adapun ciri kesimpulan yang baik, kesimpulan yang mampu mengarahkan agar pembaca berfikir. 

Berfikir dalam hal ini lebih pada membangun ide, kreatifitas dan mendorong pembaca untuk melakukan action nyata.

Hampir sebagian besar, memilih membaca kesimpulan akhir daripada membaca keseluruhan isi.

Begitupun ketika kita terlibat dalam teknik menulis. Buku yang menyertakan kesimpulan setiap bab, atau akhir bab lebih mudah dipahami oleh pembaca, dibandingkan dengan tulisan yang tidak diberi kesimpulan sama sekali.

Paragraf penutup yang baik seharusnya memaparkan jawaban atas ulasan yang diangkat. 

Tidak hanya itu, penutup yang bagus adalah penutup yang menawarkan kesimpulan hasil dari pembahasan yang dipaparkan. 

Tidak dapat dipungkiri, pembaca lebih nyaman dan terbantu dengan kesimpulan yang singkat, padat, jelas dan mudah dimengerti.

Sebagai analogi sederhana, tentu Anda mengingat pentingnya kesimpulan pada jurnal penelitian. 

Kira-kira, kita lebih nyaman membaca keseluruhan isi? Atau lebih pada kesimpulan akhir yang ditawarkan oleh si penulis. 

Dari tiga bentuk paragraf tersebut, semoga memberikan manfaat. Semoga dengan ulasan ini membantu memahami dan memudahkan kita lebih mahir menulis.

Jika menulis buku masih dirasa berat, kita bisa memulai dengan menulis barang tiga paragraf, atau satu judul tulisan.


Sunday, 13 December 2020

Tubing di Limbasari



Hari beranjak meninggi di arah timur. Tapi langit  masih menyelimutkan awannya pada sang mentari. Suasana agak mendung pagi itu, saat kita bersiap untuk melakukan kegiatan tubing di salah satu sungai di Desa Limbasari Kecamatan Bobotsari. 

Desa Limbasari memang menjadi salah satu desa wisata yang sedang menggalakkan potensi desanya untuk dijadikan objek wisata. Salah satunya adalah kegiatan tubing yang memanfaatkan potensi sungai besar yang tidak terlalu dalam sehingga arus yang dihasilkan deras menantang.




Acara tubing diawali dengan pengarahan dari instruktur tubing. Secara rinci dan jelas ditunjukkan bagaiman bertubing dengan aman. Kami semua menyimak dengan seksama agar kami dapat menikmati kegiatan tubing ini dengan selamat dan menyenangkan. 


Berpose dulu sebelum melakukan kegiatan tubing.Salam sehat. Salam semangat. Salam kompak.

Bersiap untuk menghadapi tantangan dan arus tubing di Sungai Limbasari. Semangat !! Bravo!!!






Menikmati air terjun dari bendungan setelah sampai di garis finish. Akhirnya sampai juga setelah adrenalin dipacu. Sorak kemenangan melawan ketakutan tenggelam dan jatuh di derasnya aliran sungai.

Merindukan kembali saat-saat seperti ini. Tapi sayang karena pandemi banyak aktivitas seperti ini ditiadakan. Padahal kegiatan seperti ini bisa membuat fresh dan meningkatkan imun. Meski pandemi belum berakhir semoga ini menjadi salah satu agenda kegiatan yang bisa rutin dilakukan untuk menjaga kekompakan dan kerjasama. Bisa dilaksanakan kembali setelah pandemi berakhir. Semoga segera berlalu pandemi ini. Aamiin.

Perbedaan Above/On and Below/Under

Meskipun sekilas tampak mirip karena sama-sama menunjukkan posisi, above vs on serta under vs below memiliki aturan penggunaan yang berb...