Monday, 3 June 2024

Pentingnya Sedekah

 ٱلسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


SEDEKAH ADALAH BUKTI KEIMANAN


Salah satu cara kita mengetahui kadar keimanan kita adalah dengan melihat apakah kita suka bersedekah atau tidak. Bersedekah tidak harus banyak dan tidak harus dengan uang, sehingga tidak kaya atau tidak punya uang bukanlah menjadi alasan kita untuk tidak bersedekah. Bersedekah dengan uang Rp 2.000, Rp 5.000, atau Rp 10.000 itu sudah cukup. Atau bersedekah dengan beras yang kita miliki sebanyak satu kilo atau dua kilo, ini pun sudah cukup.


Sedekah adalah bukti keimanan. Bukti keimanan kita terhadap hari akhir, bahwasanya kelak di hari kiamat kita akan mendapat balasan pahala dari Allah, meskipun di dunia kita tidak mendapatkan apa-apa. Kita lelah bekerja mencari uang dan harta, lalu uang tersebut kita berikan tanpa kompensasi dan kita hanya berharap balasan di hari kiamat kelak.


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa sedekah itu adalah bukti keimanan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,


وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ


“Shalat adalah cahaya, sedekah merupakan bukti, sabar itu sinar panas, sementara Al-Qur’an bisa menjadi pembelamu atau sebaliknya, menjadi penuntutmu” (HR. Muslim).


Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa penamaan sedekah karena satu akar kata dengan kata “ash-Shidqu” (huruf ص, د, ق) yaitu jujur. Sehingga sedekah menunjukkan kejujuran iman seseorang dan ini adalah bukti. Beliau rahimahullah berkata,

“Sedekah adalah dalil atas kebenaran keimanan seseorang. Itulah mengapa dinamakan sedekah karena menunjukkan jujurnya keimanan seseorang dan bukti kuatnya keyakinannya” 

(Syarh Muslim, 3: 86).


Yang menguatkan juga bahwa sedekah adalah bukti keimanan yaitu manusia sangat cinta terhadap harta yang didapatkannya. Sehingga manusia punya sifat dasar tidak ingin berpisah dengan harta yang dia miliki. Hanya keimanan yang kuat yang bisa melawan hal ini. Begitu besarnya cinta manusia terhadap harta, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut harta sebagai fitnah terbesar bagi umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ


“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta” (HR. Bukhari).


Sedekah adalah bukti keimanan, sedangkan sifat pelit dan kikir itu sebaliknya. Oleh karena itu, dua hal ini tidak akan menyatu dalam keimanan seorang mukmin.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لَا يَـجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيْمَانُ فِـيْ قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا.


“Tidak akan pernah berkumpul antara kekikiran dan iman di hati seorang hamba selama-lamanya” (HR. Ahmad. Lihat Shahih al-Jaami’ Ash-Shaghir no. 7616).


Seorang mukmin yang bersedekah juga yakin dengan keimanannya bahwa Allah akan mengganti harta yang telah disedekahkan dengan balasan yang jauh lebih baik.


Allah Ta’ala berfirman,


وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ


“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dia-lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)


Tidak hanya itu, seorang mukmin yang bersedekah juga yakin bahwa apa yang disedekahkan akan diberi balasan yang berlipat ganda oleh Allah Ta’ala.


Allah Ta’ala berfirman,


مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّـهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ


“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah: 261).


Seorang muslim yang bersedekah juga yakin dengan keimanannya bahwa hartanya tidak akan berkurang dengan sedekah.


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ


“Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR Tirmidzi. Lihat Shahih Sunan Ibni Majah).


Syaikh Muhammad Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa harta yang disedekahkan akan bertambah berkahnya. Beliau rahimahullah berkata,

“Harta yang disedekahkan akan diberkahi (diberikan kebaikan yang banyak)” 

(Tuhfatul Ahwadzi, 6: 212).


Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa sedekah bisa menambah harta kita (misalnya bisnis menjadi lebih lancar) dan Allah Ta’ala akan menggantikan harta tersebut dengan yang lebih baik. Beliau rahimahullah berkata,

“Dengan sedekah, Allah akan menambahkan hartanya, Allah turunkan keberkahan dan Allah akan gantikan hartanya dengan kebaikan yang besar” (Syarh Riyadhus Shalihin).


Semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam


Bersyukur

 🌾Bulir Ibrah dan Hikmah🌾


"Syukuri"


Syukur. Sifat mulia yang menjadi kata yang menggabungkan semua makna hikmah yang telah diberikan Allah kepada Luqman. Menjadi orangtua, harus kaya dengan rasa syukur. Pahamilah tema syukur dan hiaskan itu pada diri kita. 


Untuk memahami lebih jelas, maka ketahuilah lawan katanya. Kufur: ingkar nikmat. 


Mengingkari nikmat, sekaligus akan mengingkari pemberiannya. Nikmat yang sesungguhnya besar, tidak terasa nikmat. Sesuatu yang berkurang sedikit, padahal masih dalam batas kenikmatan besar jika dibandingkan dengan orang di bawahnya, tidak terasa nikmat. 


Apalagi musibah, padahal masih banyak kenikmatan lain dalam hidupnya. Hidup ini serba kurang, gelisah, dan keluh kesah. Padahal jika melihat ke bawah, kita masih jauh lebih baik dari kebanyakan orang yang lain. 


Karenanya Nabi memerintahkan untuk melihat orang yang dibawah kita secara nikmat agar tidak mudah meremehkan nikmat Allah, sekecil apapun. 


Bersyukur kepada Allah, kebaikannya tidak dikirimkan kepada Allah yang disyukuri. Tetapi kembali kepada hamba yang bersyukur itu sendiri. 


وَ مَنۡ یَّشۡکُرۡ فَاِنَّمَا یَشۡکُرُ لِنَفۡسِہٖ

(Qs. Luqman : 12) 

_"Sesungguhnya manfaat dan pahalanya kembali bagi mereka yang bersyukur."_ (Ibnu Katsir dalam tafsirnya) 


Kata (فَاِنَّمَا) semakin menguatkan bahwa kebaikannya syukur itu benar-benar hanya kembali kepada hamba yang bersyukur.


Allah Ta’ala berfirman,


وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ


“Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13).


Ibnu Katsir berkata,


إخبار عن الواقع


“Yang dikabarkan ini sesuai kenyataan.” Artinya, sedikit sekali yang mau bersyukur.


Semoga kita tegolong hamba² yg bisa bersyukur atas segala nikmat² Allah dalam segala keadaan.


⁣***

🌾Mari Berdoa🌾


رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ


_Rabbi auzi’ni an asykura ni’matakallati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a'mala shaliḥan tardlahu wa asliḥ li fi żurriyyati, inni tubtu ilaika wa inni minal-muslimīn_


Artinya: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."


_Aamiin_

Sunday, 2 June 2024

Lapang Dada Berbuah Surga

 Disampaikan  oleh : Ustadz Abdul Hanif, S.Pd.I, M.Pd dalam Taklim ahad Pagi, 2 Juni 2024 di Masjid SMK MUHAMMADIYAH 1 PURBALINGGA


Ada suatu kisah tentang laki-laki yang disebut Rasulullah SAW sebagai penduduk surga. Laki-laki tersebut membuat penasaran para sahabat karena ia tidak melakukan ibadah khusus dalam siang ataupun malamnya, ia hanya mengerjakan ibadah seperti orang pada umumnya.
Diceritakan dalam buku Kisah-kisah Inspiratif Sahabat Nabi karya Muhammad Nasrulloh, pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang duduk bersama sahabatnya. Beliau kemudian mengatakan, "Sebentar lagi akan datang lelaki dari golongan ahli surga."

Tak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki dari sahabat Anshar yang janggutnya basah karena bilasan wudhu seraya menenteng kedua sandalnya dengan tangan kiri. Keesokan harinya, Nabi SAW mengucapkan hal yang sama kepada sahabatnya, lalu datanglah orang yang sama.

Pada hari ketiga, Nabi juga mengucapkan hal serupa dan orang yang dimaksud pun datang lagi. Hal ini membuat Abdullah bin 'Amr bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat laki-laki tersebut sampai-sampai Rasulullah SAW menyebut tiga kali sebagai penduduk surga.

Abdullah bin 'Amr kemudian bertekad untuk menguak apa keistimewaan dari laki-laki yang disebut-sebut sebagai penduduk surga ini. Ia kemudian membuntuti laki-laki Anshar itu hingga ke rumahnya.

Begitu sampai di rumah, Abdullah bin 'Amr minta izin agar diperkenankan menginap selama tiga hari di rumah laki-laki tersebut. Selama bermalam di sana, Abdullah bin 'Amr mengamati setiap gerak-gerik penduduk surga ini.

Namun, yang didapati malah ia semakin heran. Sebab, selama tiga hari itu dia tidak melihat amalan khusus yang diperbuat laki-laki di siang ataupun malamnya. Laki-laki itu tak ubahnya seperti manusia lainnya. Bahkan, ibadahnya terbilang sedikit.

Laki-laki Anshar tersebut tidak menjalankan puasa sunnah pada siang harinya dan tidak mendirikan sholat sunnah di tengah malam. Akhirnya, Abdullah bin 'Amr mengutarakan maksud kedatangannya yang sebenarnya sembari menanyakan apa amalan yang tidak orang ketahui tentangnya.

"Sebenarnya selama tiga hari ini aku berusaha mencari tahu apa keistimewaanmu. Hal itu dikarenakan Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa engkau adalah penduduk surga. Aku ingin tahu apa keistimewaan amalmu sehingga aku bisa meniru dan mengikutinya."

Laki-laki Anshar itu menjawab, "Aku tidak punya ibadah khusus kecuali sebagaimana apa yang telah engkau lihat."

Mendengar jawaban tersebut, Abdullah bin 'Amr kemudian memutuskan untuk pamit pulang. Tatkala ia hendak pergi, laki-laki itu tiba-tiba berkata, "Namun aku tidak pernah terbesit menipu salah seorang pun dari orang-orang muslim dan aku tidak memiliki rasa dengki atas nikmat orang lain yang diberikan oleh Allah SWT."

Mendengar hal itu, Abdullah bin 'Amr seolah menemukan jawaban yang ia cari selama tiga hari ini. Ia pun mengatakan, "Hal inilah yang membuatmu mendapat kedudukan mulia."

Kisah tentang laki-laki penduduk surga ini terdapat dalam hadits riwayat Imam Ahmad.

Noun Phrase dan Aturan Adjectives

Dalam tata bahasa Inggris, ketika ada beberapa kata sifat ( adjective ) yang menjelaskan satu kata benda ( noun ), urutannya mengikuti atura...