Tuesday, 16 December 2025

KETIKA INFAK JUM'AT MENJADI ENERGI KEMANUSIAAN


Oleh: A M Iqbal Parewangi 


Bagaimana jika selembar uang Rp10 ribu—yang sering kita sisihkan tanpa berpikir panjang—berubah menjadi energi kolektif yang mampu menolong ratusan ribu korban bencana? 


Pertanyaan ini menemukan jawabannya dalam kebijakan ‘gerakan nasional infak Jum’at untuk korban bencana’ yang digagas Muhammadiyah di tengah bencana air bah dan longsor yang kini melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 


Menariknya, Muhammadiyah tidak sebatas menggalang dana. Ia mengorkestrasi tiga wajah kemanusiaan sekaligus: kekuatan aritmetika kebaikan, gerakan sosial yang terstruktur dan masif, serta edukasi nilai fastabiqul khairat secara berjamaah.


Instruksi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, untuk mengalihkan infak Jum’at di seluruh masjid persyarikatan, amal usaha, dan jaringan takmir Muhammadiyah selama tiga pekan—12, 19, dan 26 Desember 2025—menunjukkan respons yang tenang namun strategis. Tenang karena tidak meledak-ledak, strategis karena memanfaatkan ekosistem organisasi yang telah mapan. 


Ditambah lagi pelaksanaannya dikoordinasikan melalui Lazismu dan lembaga resiliensi bencana MDMC, dua entitas yang telah lama menjadi tulang punggung filantropi dan kebencanaan Muhammadiyah. Di sini, kebijakan bukan sekadar seruan moral, melainkan desain operasional yang siap jalan.


EKOSISTEM MUHAMMADIYAH

& EDUKASI NILAI


Dari sudut pandang sains sosial dan ekonomi, kebijakan ini menarik karena menautkan moralitas dengan aritmetika kebaikan. 


Data internal persyarikatan menunjukkan sekitar 12 ribu masjid Muhammadiyah tersebar di seluruh Indonesia. Dengan asumsi konservatif—rata-rata 100 jamaah Jum’at per masjid dan infak Rp10 ribu per orang—maka satu kali Jum’at saja berpotensi menghimpun sekitar Rp12 miliar. Dikalikan tiga Jum’at, angka itu menjadi Rp36 miliar. Ini baru dari jamaah masjid. 


Ketika jaringan pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah ikut bergerak—172 perguruan tinggi dengan sekitar 618 ribu mahasiswa, 5.345 sekolah dan 440 pesantren dengan total lebih dari 1 juta murid dan santri—potensi bertambah sekitar Rp11,5 miliar per Jum’at. Tiga Jum’at menghasilkan sekitar Rp34,5 miliar. Ditambah kontribusi dari 122 rumah sakit dan 231 klinik Muhammadiyah dan Aisyiyah, total potensi nasionalnya bisa menembus Rp70 miliar atau lebih. 


Angka-angka tersebut bukan retorika. Ia lahir dari asumsi moderat yang justru menunjukkan betapa kuatnya daya ungkit filantropi berbasis jamaah. Itu pun belum termasuk potensi eksklusif yang lebih besar, yaitu jika 60 juta lebih anggota Muhammadiyah dioptimalkan infaknya untuk bantuan bencana.


Lebih jauh, esensi gerakan infak Jum’at ini tidak berhenti pada potensi Rp70 miliar atau lebih itu. Karena tanpa harus menunggu untuk menghimpun donasi publik pun, sejatinya, Muhammadiyah mampu menyumbang dana besar dari kas persyarikatan. 


Sebagai ormas keagamaan terkaya keempat di dunia kini—bahkan yang terkaya di antara ormas Islam—Muhammadiyah memiliki aset sekitar USD 27,96 miliar atau setara Rp454,2 triliun, dengan lebih dari 20 ribu aset wakaf dan 241 juta meter persegi tanah. Fakta ini tercatat dalam berbagai kajian filantropi global, termasuk dalam kompilasi data Seasia Stats.


Dengan kekayaan seperti itu, ditambah likuiditas mencapai puluhan triliun rupiah, menarik bahwa Muhammadiyah justru memilih mengajak warga untuk ikut memberi bantuan, bukan sekadar menerima laporan donasi. Di sinilah wajah ketiga kemanusiaan itu tampak jelas: edukasi nilai.


Muhammadiyah mengedukasi jamaah untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. “Mari kita fastabiqul khairat mengeluarkan dana infak tersebut seoptimal mungkin,” seru Haedar Nashir. “Karena itulah yang dapat kita lakukan sebagai bagian dari dan wujud persaudaraan kita terhadap saudara-saudara yang tertimpa dan terdampak musibah banjir, tanah longsor, dan lain-lain di berbagai daerah. Khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.”


FILANTROPI TERSTRUKTUR 

DI NEGERI RAWAN BENCANA


Fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan—dalam gerakan infak Jum’at ini bukan slogan kosong. Ia dihadirkan sebagai pengalaman sosial yang berulang dan kolektif. Setidaknya pada tiga kali Jum’at terakhir 2025, jamaah diingatkan bahwa bencana bukan berita jauh di layar gawai, melainkan ujian empati yang menuntut respons nyata. 


Dalam perspektif sosiologi agama, praktik berulang seperti ini membangun habitus moral—kebiasaan memberi yang tertanam dalam kesadaran kolektif (Bourdieu, The Logic of Practice, 1990). Muhammadiyah, dengan jaringan masjid, sekolah, kampus, klinik, dan rumah sakitnya, mempraktikkan pendidikan karakter lintas generasi: dari murid yang menyisihkan Rp5 ribu hingga mahasiswa dan tenaga medis yang memberi lebih.


Gerakan ini juga relevan dalam konteks kebencanaan Indonesia yang kian intens. Data BNPB menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi—banjir, longsor, cuaca ekstrem—menyumbang lebih dari 90 persen kejadian bencana tahunan dalam satu dekade terakhir. Perubahan iklim memperparah pola hujan ekstrem, sementara perusakan hutan dan lingkungan memperbesar risiko. Di tengah keterbatasan anggaran negara dan kompleksitas birokrasi, filantropi terorganisir seperti infak Jum’at ini menjadi penting bagi respons kemanusiaan (IFRC, World Disasters Report, 2020).


Keunggulan lain dari gerakan infak Jum’at Muhammadiyah adalah tata kelola. Lazismu dan MDMC bukan lembaga dadakan. Keduanya memiliki rekam jejak dalam penyaluran bantuan, transparansi, dan akuntabilitas. Ini penting, karena kepercayaan publik adalah mata uang utama filantropi. Studi tentang filantropi Islam menunjukkan bahwa kejelasan mekanisme dan kedekatan dengan penerima manfaat meningkatkan partisipasi dan keberlanjutan donasi (Obaidullah and Shirazi, Islamic Social Finance, 2015). 


Dengan seruan berulang dan kolektif, disertai tata kelola yang rapi, infak Jum’at yang terkumpul tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran.


DARI KOTAK INFAK 

KE KETAHANAN SOSIAL BANGSA


Gerakan infak Jum’at ini memberi pesan etis yang halus namun kuat di tengah kegaduhan publik tentang siapa yang paling peduli saat bencana. 


Tanpa perlu menyebut atau menegur pihak lain, Muhammadiyah menunjukkan bahwa kepedulian bisa dijalankan secara sistemik, sunyi, dan berdampak. Ia tidak menunggu status bencana nasional atau sorotan kamera. Ia bekerja dari bawah, dari mimbar Jum’at, dari kotak infak yang mungkin tampak sederhana tetapi sesungguhnya menyimpan kekuatan besar.


Di sini, spiritualitas bertemu rasionalitas. Dalam tradisi Islam, memberi bukan sekadar transfer harta, melainkan penyucian diri dan pengikat persaudaraan. Dalam bahasa ekonomi modern, ia adalah redistribusi sumber daya untuk mengurangi penderitaan. Muhammadiyah berhasil menjembatani keduanya. Infak Jum’at menjadi ritus yang memanusiakan angka, dan angka yang memuliakan ritus.


Pada akhirnya, gerakan infak Jum’at nasional Muhammadiyah memperlihatkan bahwa filantropi tidak harus menunggu kelimpahan. Ia cukup dimulai dari kesediaan berbagi yang konsisten. Sekitar Rp70 miliar mungkin tampak kecil dibanding kerugian bencana yang mencapai triliunan, tetapi dampaknya nyata: dapur umum yang menyala, obat yang tersedia, tenda yang berdiri, dan—yang tak kalah penting—harapan yang hidup. 


Bagi bangsa yang rawan bencana, inisiatif seperti ini menjadi pelajaran berharga: bahwa ketahanan sosial dibangun dari bawah, dari jamaah yang percaya bahwa kebaikan, jika dilakukan bersama, akan selalu menemukan jalannya. 


Dan setiap Jum’at, di sela doa dan sujud, kita diingatkan bahwa kemanusiaan adalah ibadah yang paling dekat dengan kehidupan.


(Serambi Madinah, 12 Desember 2025)

Sunday, 14 December 2025

Dunia Sebagai Tujuan Pokok Menjadi Sumber Segala Kejelekan

 ONE DAY ONE HADITS

Ahad, 14 Desember 2025/ 23 Jumadil Akhir 1447


عن زيد بن ثابت رضي الله عنه قال،

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

" مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ ".

 أحمد (5/183)، الترمذي (2465)، وابن ماجه (4105) واللفظ له،

وصححه الألباني في "السلسلة الصحيحة" (404، 949، 950)


Dari Zaid bin Stabit radhiAlloh anhu berkata, Rasulullah sallallohu alaihi wa salam bersabda:

“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai puncak niatannya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran menghantui dirinya, sedangkan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan sekedar apa yang telah ditetapkan. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat itu niatnya, niscaya Allah menghimpunkan segala urusannya serta menciptakan rasa cukup dalam hatinya sementara dunia datang tunduk kepadanya dalam keadaan hina." (Hadits Riwayat Ahmad(5:183). Tirmizi(2645)dan Ibnu Majah(4165)  dishohihkan oleh Al Bani didalam silsilah shahihah(950,949,404) )


Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:


1- Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya mencela sikap tamak kepada dunia.

2- Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan urusan akhiratnya, maka Alloh Azza wa Jalla akan menjadikan urusan dunianya tercerai-berai, berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan. Alloh Azza wa Jalla juga menjadikan kefakiran di depan matanya, selalu takut miskin, atau hatinya selalu tidak merasa cukup dengan rizki yang Alloh Azza wa Jalla karuniakan kepadanya.

3- Dunia yang dapat hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya, tidak lebih, meskipun ia bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan hingga pagi lagi dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada Alloh, mengorbankan hak-hak isteri, anak-anak, keluarga, orang tua, dan lainnya.

4- Cinta kepada dunia adalah pokok semua kejelekan, oleh karenanya tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.  

5- Beramal untuk dunia ada 4 macam bentuk yang dinukil dari ulama salaf, yaitu:

a- Amal shalih yang biasanya dikerjakan orang untuk mengharapkan pahala dari Alloh seperti shadaqah, shalat, membantu yang lain, menolong orang yang dizalimi dan amal-amal lainnya yang biasa dikerjakan atau ditinggalkan orang karena Alloh semata, namun dia tidak berharap pahala akhirat, harapannya hanya agar Alloh menjaga hartanya, memperbanyaknya, atau agar menjaga istri dan keluarganya. Dia tidak berharap agar dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari neraka. Orang seperti ini akan mendapatkan balasan di dunianya sementara di akhirat tidak memperoleh apa-apa kecuali siksa. Demikian yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radliyalloh 'Anhuma.

b- Melakukan amal shalih dengan harapan agar dilihat dan dipuji orang, tidak berharap balasan di akhirat. Ini lebih berbahaya dan lebih besar dosanya daripada yang pertama. Hal ini diriwayatkan dari Imam Mujahid rahimahulloh.

c- Beramal shalih dengan harapan dapat harta, seperti orang yang menjadi badal haji dengan harapan dapat bayaran, dia tidak berharap ridha Alloh dan negeri akhirat. Contoh lainnya, orang yang berhijrah agar dapat dunia, berjihad agar dapat ghanimah, belajar agama agar dapat ijazah dan penghormatan tanpa harapan mendapat ridha Alloh, atau belajar Al-Qur'an dan rajin berjamaah karena tugasnya sebagai pengurus masjid. Sementara harapan atas pahala akhirat tidak ada dalam dirinya.

4- Melaksanakan ketaatan dengan ikhlas untuk Alloh semata, Dzat yang tidak memiliki sekutu, tapi dia melakukan sesuatu yang menjadikannya kufur dan keluar dari Islam. Seperti orang yang melakukan salah satu dari pembatal keislaman. Hal itu sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas Radliyallah 'Anhu.

(Dinukil dari kitab, Al-irsyad ila sohihil i'tiqod, Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Al-Fauzan.)


Tema hadits yang berkaitan dengan Alquran:

1- Seseorang berkehendak dengan amalnya hanya untuk mencari dunia saja.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَف إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلا النارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” 

(Quran Surat Huud: 15-16)


2- Nasib orang yang beramal sholeh hanya untuk dunia.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُم جَعَلْنَا لَهُ جَهَنمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا


“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” 

(Quran Surat Al-Isra': 18)


3-  bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu :


وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ


Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali ‘Imrân/3:185]


4- Berharap/ berdoa jangan hanya minta dunia saja.


فَمِنَ الناسِ مَنْ يَقُولُ رَبنَا آَتِنَا فِي الدنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ


“Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” 

(Quran Surat Al-Baqarah: 200).

Ilham yang Menjadi Inspirasi Fans Matsa

Beberapa hari lalu menerima kabar yang sangat menggembirakan dari alumni MTs Negeri 1 Purbalingga. Salah satu siswa alumninya berpartisipasi dalam kejuaraan internasional.  Dia adalah Muhammad Ilham. 



Resep Obat Batuk dari Herbal

 Berikut adalah beberapa racikan herbal alami yang efektif untuk meredakan batuk berdahak maupun batuk kering menggunakan bahan dapur sederh...