Monday, 15 April 2024

Pentingnya Saling Meminta Maaf dan Memaafkan


بسم الله الرحمن الرحيم


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : هل تدرون من المفلس , قلنا : المفلس فينا يارسول الله من لا درهم ولا دينار ولا متاع , قال : المفلس من امتي من ياءتى يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة , وياءتى قد شتم هذا , وقذف هذا , واكل مال هذا , وسفك دم هذا , وضرب هذا , فيعطى هذا من حسناته , وهذا من حسناته , فان فنيت حسناته قبل ان يقضي ماعليه اخذ من خطاياهم , فطرحت عليه , ثم طرح فى النار


Rasulullah SAW. telah bersabda:

"Apakah kalian tahu, siapa yang dinamakan orang yang  pailit atau bangkrut itu...?"

Kami menjawab, Ya Rasulallah, orang yang pailit dari kami adalah : orang yang tidak mempunyai Dirham, Dinar, dan juga tidak mempunyai harta benda, lalu Rasulullah bersabda :

"Bahwa orang yang pailit atau bangkrut dari umatku adalah : Orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa, zakat. Dan ia datang dimana ia mencaci maki orang ini, memfitnah orang ini, memakan harta orang ini, mengalirkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Lalu orang-orang ini diberi amal kebaikannya dan orang-orang ini juga diberi amal kebaikannya dari amal-amal kebaikannya. Kalau amal kebaikannya sudah habis sebelum terbayar apa yang menjadi tanggungannya, maka diambil dari kejelekan-kejelekan atau dosa-dosa mereka, lalu ( dosa-dosa tadi ) dilemparkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam Neraka.


Oleh karena itu di negara kita Indonesia ini, khususnya di Jawa ada tradisi halal bi halal atau saling maaf-memaafkan antara sesama manusia setelah lebaran yang merupakan tradisi dan warisan dari para leluhur, adalah warisan yang baik yang harus kita jaga dan kita lestarikan agar kita tidak pailit atau bangkrut di akhirat nanti, karena dosa-dosa yang berhubungan dengan sesama manusia sudah saling minta maaf dan memaafkan.


(Dari Kitab Ihya' Ulumuddin jilid 4 hal : 540)

Sunday, 14 April 2024

Pelaksanaan Puasa Syawal

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ …


“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, …” (HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shohih)


Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits Qudsi:


وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ


“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)


Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib. Di antara puasa sunnah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan setelah melakukan puasa wajib (puasa Ramadhan) adalah puasa enam hari di bulan Syawal.


Dianjurkan untuk Puasa Enam Hari di Bulan Syawal


Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sahabat Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ


“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)


Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menyatakan makruh. Namun pendapat mereka ini lemah karena bertentangan dengan hadits yang tegas ini. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56)


Puasa Syawal, Puasa Seperti Setahun Penuh


Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)


“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)


Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.


Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan ?


Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa syawal tiga hari setelah Idul Fithri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa syawal.


Catatan: Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qodho’ (mengganti) puasa syawal tersebut di bulan Dzulqo’dah. Hal ini tidaklah mengapa. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466)


Tunaikanlah Qodho’ (Tanggungan) Puasa Terlebih Dahulu


Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.


Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100)


Catatan: Adapun puasa sunnah selain puasa Syawal, maka boleh seseorang mendahulukannya dari mengqodho’ puasa yang wajib selama masih ada waktu lapang untuk menunaikan puasa sunnah tersebut. Dan puasa sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa menunaikan qodho’ puasa tetap lebih utama daripada melakukan puasa sunnah. Hal inilah yang ditekankan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab beliau Syarhul Mumthi’, 3/89 karena seringnya sebagian orang keliru dalam permasalahan ini.


Kita ambil permisalan dengan shalat dzuhur. Waktu shalat tersebut adalah mulai dari matahari bergeser ke barat hingga panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Kemudian dia shalat di akhir waktu misalnya jam 2 siang karena udzur (halangan). Dalam waktu ini bolehkah dia melakukan shalat sunnah kemudian melakukan shalat wajib? Jawabnya boleh, karena waktu shalatnya masih lapang dan shalat sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Namun hal ini berbeda dengan puasa syawal karena puasa ini disyaratkan berpuasa ramadhan untuk mendapatkan ganjaran seperti berpuasa setahun penuh. Maka perhatikanlah perbedaan dalam masalah ini!


Boleh Berniat di Siang Hari dan Boleh Membatalkan Puasa Ketika Melakukan Puasa Sunnah


Permasalahan pertama ini dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemui keluarganya lalu menanyakan: “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang bisa dimakan, pen)?” Mereka berkata, “tidak” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu sekarang, saya puasa.” Dari hadits ini berarti seseorang boleh berniat di siang hari ketika melakukan puasa sunnah.


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang berpuasa sunnah kemudian beliau membatalkannya sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dan terdapat dalam kitab An Nasa’i. (Lihat Zadul Ma’ad, 2/79)


Semoga dengan sedikit penjelasan ini dapat mendorong kita melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, semoga amalan kita diterima dan bermanfaat pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.


Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam.


Sumber https://rumaysho.com/521-jangan-lupa-lakukan-puasa-syawal.html



Saturday, 13 April 2024

Materi Bahasa Inggris Kurikulum 2013

 

Materi Bahasa Inggris Kelas 7-9 Kurikulum 2013

Kelas VII SMP

Semester Pertama

1.         Greetings and Leave Takings (salam dan perpisahan)

2.         Expressing Gratitude (Ungkapan terima kasih)

3.         Expressing Apologize (Ungkapan permintaan maaf)

4.         Grammar : To Be (is, am, are, was, were dan was) 

5.         Grammar : To have (Have Has, and had)

6.         Possessive Pronoun (kata ganti)

7.         Days and Months (hari dan bulan)

8.         Telling Time (waktu/jam)

9.         Descriptive Text about ourself ( Teks Dekritif untuk Menjelaskan Diri)

10.      Family ( Keluarga)

11.      Profession (Pekerjaan)

12.      Article a, an, dan the (Artikel a, an, the)

13.      Simple Present Tense 

14.      Animals (Hewan)

Semester Kedua

1.         Things at School (Benda yang ada di sekolah)

2.         Things at Home (Benda yang ada di rumah)

3.         Buildings (Bangunan)

4.         WH Question (Pertanyaan WH)

5.         There is / There are (Penggunaan are and is)

6.         Adjective (kata sifat)

7.         Descriptive Text (Teks deskripsi)

8.         Preposition Time and Place (kata penghubung Time dan tempat)

9.         Instruction (intruksi)

10.      Expressing Warning  (Mengepresikan Peringatan)

11.      Verb (kata kerja)

12.      Simple Short Song Texts (Teks Lagu Pendek Sederhana)

13.      Identification Song (Identifikasi Lagu)

Kelas 8 SMP

Semester Pertama

1.         Asking and Giving Attention

2.         Checking the understanding

3.         Showing Appreciation/Compliments

4.         Telling something what we think/Opinion

5.         Stating Capability

6.         Stating Willingness

7.         Asking and giving suggestion

8.         Stating Obligation Expression

9.         Expression of Invitation

10.      Giving Instruction/Imperative

11.      Asking and Giving Permission

12.      Greeting Card

13.      Vocabulary on the road

14.      There is  and there are 

15.      Materi Existence of things and people

16.      Quantifier

 Semester Kedua

1.         My Uncle Is A Zoo Keeper (Simple Present Tense)

2.         What Are You Doing? (Present Continuous Tense/Progressive Tense)

3.         Bigger Is Not Always Better (Degrees Of Comparison)

4.         When I Was A Child (Simple Past Tense)

5.         Yes, We Made It! (Recount Text) 

6.         Don’t Forget It, Please! (Short Message And And Notice) 

7.         We Got A Lot Of Histories Song (One Direction, History)

Kelas 9 SMP

Semester Pertama 

1.         Congratulation! (Congratulation and hope/wis)

2.         Let’s live a healthy life! (Purpose/intention: to, in order to, so that, agreement, disagreement)

3.         Be healthy, be happy! (Label)

4.         This is how you do it (Procedure text)

5.         Everybody is in the middle of something (Present continuous,Past continuous, dan future continuous)

6.         We have been to an orphan home. We went there last Sunday (Present perfect tense)

 Semester Kedua

1.         Sangkuriang (Teks Naratif)

2.         They are made in Indonesia (Passive Sentence)

3.         What is it? (Report)

4.         Come and visit us! ( Iklan /Advertisement)

5.         You can always come back home (Lirik lagu)


Noun Phrase dan Aturan Adjectives

Dalam tata bahasa Inggris, ketika ada beberapa kata sifat ( adjective ) yang menjelaskan satu kata benda ( noun ), urutannya mengikuti atura...