Thursday, 2 April 2026

Belajar Ilmu Lebih Utama dari Ibadah Sunnah

 ONE DAY ONE HADITS

Kamis, 2 April 2026 / 13 Syawal 1447



عن أبى هريرة رضي الله عنه قال ، قال رسول الله صل الله عليه وسلم 

وَلَأَنْ تَغْدُوَ فَتَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ

(رواه ابن ماجه)


Dari sahabat Abu Hurairata radhiyallahu ‘anhu) berkata, bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa salam,

“Sesungguhnya jika engkau pergi di pagi hari lalu mempelajari satu bab dari ilmu, baik diamalkan ataupun tidak diamalkan, itu lebih baik daripada engkau shalat seribu rakaat.”(Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan Ibnu Majah.)Statusnya:

Dinilai dha’if (lemah) oleh sebagian ulama hadits.

Namun maknanya didukung oleh hadits-hadits shahih lain tentang keutamaan menuntut ilmu

Penguat dari Hadits Shahih

Ada hadits shahih yang lebih kuat, misalnya:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR. Muslim)


Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:


1- Menuntut ilmu lebih utama daripada ibadah sunnah yang banyak.

2- lmu memberi manfaat luas, bukan hanya untuk diri sendiri

3- Keutamaan Menuntut Ilmu

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam mengajarkan bahwa menuntut ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam.

Walaupun terdapat riwayat yang menyebut belajar satu bab ilmu lebih baik daripada shalat seribu rakaat (HR. Ibnu Majah) yang statusnya masih diperselisihkan, namun maknanya diperkuat oleh hadits shahih:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Dari sini kita memahami bahwa: 

- Ilmu adalah jalan menuju kebaikan

- Ilmu memberi manfaat jangka panjang.

- Ibadah dengan ilmu lebih bernilai

4- Mari kita semangat menuntut ilmu, karena dengan ilmu, amal menjadi benar dan bernilai di sisi

Allah. Imam Bukhari berkata, 


العلم قبل القول والعمل


Ilmu itu harus mendahului perkataan dan perbuatan


Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an:


- Keutamaan Menuntut Ilmu.

Menuntut ilmu merupakan amalan yang sangat mulia dalam Islam. Dengan ilmu, seseorang dapat mengangkat derajat, membedakan antara yang benar dan yang salah, serta menjadikan ibadahnya lebih bernilai di sisi Allah.

Allah Ta’ala berfirman:


يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

(سورة المجادلة: ١١)


Artinya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Masa Lansia : Antara Masjid dan Rumah Sakit



*Langkah di masa tua tak lagi panjang, tapi justru di situlah arah menjadi terang.

*Bukan lagi soal ke mana kaki melangkah —melainkan ke mana jiwa akan pulang.

*Di antara dua tempat yang kian akrab : masjid… dan rumah sakit.


*Masjid adalah panggilan yang lembut.

*Rumah sakit adalah panggilan yang tak bisa ditunda.

*Di masjid, manusia masih punya pilihan untuk datang.

*Di rumah sakit, sering kali manusia datang karena dipaksa keadaan.

*Sajadah mengajarkan tunduk sebelum tubuh benar-benar tak mampu berdiri.


*Ranjang perawatan mengajarkan pasrah ketika semua daya telah ditarik pergi.


*Di masa lansia, hidup seperti dipersempit pada dua ruang:

*ruang ibadah… dan ruang perawatan.


*Namun sesungguhnya, yang diuji bukan tubuh

melainkan kesadaran.


*Kesadaran untuk memahami:

bahwa waktu yang dulu terasa panjang, kini terasa singkat

*bahwa kesempatan yang dulu diabaikan, kini terasa mahal.


*Masa tua bukan sekadar fase menua,

tetapi fase pembuktian

*apa yang dulu ditanam,* kini *dituai tanpa bisa ditawar.*


*Jika masa muda* dipenuhi *ambisi dunia,*

maka *masa tua* sering *dihantui kegelisahan*.


*Namun* jika *masa muda* disirami *iman,*

maka *masa lansia* menjelma menjadi *taman*— *meski* tubuh *mulai rapuh.*


*Ada* yang *tetap melangkah ke masjid* dengan *kaki gemetar*—

karena *hatinya sudah terbiasa* pulang *ke sana.*


*Ada yang terbaring* di *rumah sakit* —

namun *lisannya tetap basah* oleh *dzikir*, karena *hatinya tak pernah jauh dari Tuhan.*


*Di titik ini*, perbedaan fisik *menjadi tidak lagi penting.*

Yang menentukan *hanyalah kebiasaan jiwa*.


*Sebab* pada akhirnya,

*masjid* dan *rumah sakit* bukanlah *dua dunia* yang *bertolak belakang* —

melainkan *dua pintu* menuju *satu tujuan* yang sama : *pulang*.


*Hanya saja…*

yang satu *dipanggil dengan kesadaran*,

yang satu lagi *sering didatangkan dengan peringatan*.


Maka *pesan yang tersisa sederhana,* tapi sering *diabaikan* :


*jangan tunggu sakit untuk mengingat.*


*jangan tunggu lemah untuk bersujud.*


*Karena ketika tubuh masih kuat,*

itu bukan *sekadar kesehatan* —

itu adalah *undangan.*


*Dan ketika tubuh mulai terbaring,*

itu *bukan sekadar ujian* —

 *itu adalah teguran.*


*Resonansi yang tak bisa dielakkan* :


*Masjid memanggil* sebelum kita benar-benar dipanggil.


*Rumah sakit menahan sebelum kita benar-benar dipulangkan.


*Di antara keduanya, hanya ada satu pembatas yang tak kasat mata—

namun menentukan segalanya :


kesadaran.


*Dan waktu…

tidak pernah menunggu kesadaran itu tumbuh.


*semoga dapat meng ispirasi kita semua* 

Aamiin

Belajar Ilmu Lebih Utama dari Ibadah Sunnah

 ONE DAY ONE HADITS Kamis, 2 April 2026 / 13 Syawal 1447 عن أبى هريرة رضي الله عنه قال ، قال رسول الله صل الله عليه وسلم  وَلَأَنْ تَغْدُوَ ...