Saturday, 3 January 2026

Evaluasi 2025 dan Resolusi 2026

 Tanggal 3 Januari 2026 sengaja penulis pilih untuk menuliskan evaluasi 2025 dan resolusi 2026. Bukan apa-apa hanya memilih momen agar tidak menulis dan mengevaluasi dalam kondisi tidak stabil karena pergantian tahun berbarengan dengan libur sekolah. Agenda sekolah dan libur cukup menyita waktu sehingga untuk melakukan muhasabah akhir tahun tidak kondusif  karena beberapa target kegiatan yang harus selesai akhir tahun 2025. 

Alasan kedua adalah ini momen HAB Kementerian Agama , yang merupakan tempat penulis mengabdikan diri pada negara. Jadi mungkin lebih pas untuk mengadakan evaluasi dan muhasabah diri secara individu maupun sosial,  sebagai seorang diri pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dan abdi negara. 

Evaluasi Tahun 2025

# Secara individu masih banyak kekurangan di segi ibadah.  Ketenangan dan rutinitas ibadah masih banyak terlewatkan misalnya komitmen membaca Al-Qur’an setiap hari.  Porsinya masih sangat sedkit 1 lembar sekali baca. Shalat dhuha masih banyak ditinggalkan. 

# Sebagai ibu rumah tangga masih sangat perlu mengolah emosi baik lisan, hati  maupun sikap kepada suami,  anak dan orangtua.  Kematangan jiwa perlu diasah seiring bertambahnya umur (berkurangnya umur?). Usaha batin sebagai ibu masih sangat perlu ditingkatkan menggantikan banyak protes kepada anak. Tahun 2025 sepertinya penurunan yang sangat signifikan memasak untuk keperluan keluarga.  Membeli menjadi alternatif termudah, namun pasti berimbas kepada kelekatan orang tua dan keluarga.

# Sebagai penulis tahun 2025 termasuk aktif menulis di blog. Target 1 tulisan in syaa Allah bisa terlaksana. Biasanya jika tidak menulis satu hari disusulkan pada hari berikutnya.  Intinya komitmen menulis setiap hari dianggap terpenuhi di tahun 2025. Hanya data statistik kunjungan blog tahun 2025 sedikit menurun.  Di akhir 2025 tercatat kunjungan ke blog suyatibinyo.blogspot.com adalah 215.665 kunjungan  dari tahun sebelumnya 113.214 . Jadi hanya sekitar 102.000 kunjungan Pemaklumannya tahun 2025 tidak banyak menggunakan media blog untuk menyampaikan materi dan latihan. 

# Sebagai pendidik dan abdi negara, aktif mengikuti berbagai pelatihan dan diklat terkait dengan pembelajaran,  untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan diri. Target pelatihan 2x setahun bisa sangat terlampaui. Semakin banyak kita belajar semakin banyak yang kita perlu tahu. Jangan berhenti belajar meskipun kita sudah mengajar. Life-long education gitu ya? Tahun 2025 adalah masa peralihan dari jabatan waka kurikulum menjadi wali kelas.  Tentu tidak mudah meskipun juga tidak sulit.  Tapi menjadi tahu bagaimana murid kita dengan lebih personal, orangtuanya dan lingkungan rumahnya.

Resolusi Tahun 2026

# Secara individu memberikan waktu dan porsi terjadwal sehingga pelaksanaan kegiatan betul-betul ada waktu khusus,  tidak sepintas lalu.  Kegiatan mengisi pengajian ibu-ibu dan anak-anak diprogramkan dengan matang bersama seluruh majlis taklim. Segera atasi jika ada program kegiatan yang tidak berjalan. 

# Sebagai ibu rumah tangga: Tahun 2026 lebih banyak fokus pada penataan rumah.  Melaksanakan gaya hidup minimalis dan slow living dengan banyak melakukan penyortiran barang dan memaksimalkan fungsi barang dan benda yang sudah ada.  Tidak banyak menambah barang baru lagi. 

#Sebagai penulis: Lebih banyak menulis hal-hal yang up to date dan dibutuhkan banyak pembaca. 

# Sebagai pendidik: Lebih banyak mempraktekkan daripada memberitahu.  Lebih banyak mendengarkan daripada berprasangka.  Ketahui setiap kelebihan masing-masing siswa bukan hanya secara akademik tetapi dari sikap,  perilaku  positif mereka. Tunggu keajaiban kecil yang menanti. Gali penggunaan media secara maksimal meskipun terbatas dalam pembelajaran. Khusus bahasa Inggris" Practice makes perfect."


Thursday, 1 January 2026

SAAT IKHLAS, DISITULAH KEAJAIBAN ALLAH HADIR

 Kamis, 1 Januari 2026 Ml

             12 Rajab 1447 B

Sabar, Senyum dan Berdoa


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh 

Semangat Pagi


Seorang sahabat pernah sampaikan tausiyah nya sebagai berikut ini;

Pernahkah Anda merasa berada di titik terendah dalam hidup? Saat semua jalan terasa buntu, harapan seolah pupus, dan hati dipenuhi dengan rasa sakit yang sulit dijelaskan? Pada momen-momen seperti itu, ada satu hal sederhana tetapi sangat dahsyat yang sering kita lupakan: *ikhlas menerima keadaan*. Karena justru di titik ikhlas itulah, Allah sedang merancang skenario terbaik untuk kita.

Ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha. *Ikhlas adalah sikap hati yang menerima takdir dengan penuh keyakinan bahwa apa pun yang Allah tetapkan, pasti ada hikmah yang lebih besar di baliknya*. 

Kita berusaha, kita berdoa, lalu kita serahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah. Bukankah hidup ini sejatinya milik-Nya? Maka bukankah lebih tenang jika kita belajar mempercayai-Nya sepenuh hati?

Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan datang saat semua keinginannya tercapai. Padahal, sering kali kebahagiaan justru lahir ketika kita mampu berdamai dengan keadaan. Coba bayangkan seseorang yang gagal meraih pekerjaan yang ia impikan.

Awalnya kecewa, bahkan merasa hancur. Namun bertahun-tahun kemudian ia baru menyadari, Allah sedang menuntunnya ke arah rezeki yang jauh lebih baik, yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.


Begitulah cara Allah bekerja. Ia mampu mengubah situasi paling terpuruk menjadi titik balik terbaik dalam hidup kita. Yang kita anggap musibah, bisa jadi sebenarnya sebuah anugerah. 

Yang kita anggap kehilangan, bisa jadi jalan menuju sesuatu yang lebih indah. Namun semua itu hanya bisa kita rasakan, jika hati kita ikhlas menerima dan yakin pada rencana-Nya.


Saya yakin Anda juga pernah melihat atau bahkan mengalami hal serupa. Misalnya, seseorang ditinggalkan oleh orang yang ia cintai. Rasanya dunia runtuh, hidup tak lagi berarti. Tapi, beberapa waktu kemudian ia dipertemukan dengan pasangan yang jauh lebih baik, yang benar-benar membawa kebahagiaan. Andai tidak pernah ditinggalkan, mungkin ia tidak akan pernah bertemu dengan kebahagiaan itu.


Kisah-kisah seperti ini nyata terjadi di sekitar kita. Namun sayangnya, banyak orang terjebak dalam luka, sibuk meratapi keadaan, hingga lupa bahwa Allah selalu punya rencana yang lebih indah. 


Padahal, kalau saja ia mau menenangkan diri, bersabar, dan membuka hatinya, ia akan melihat bahwa setiap ujian hanyalah bagian dari jalan menuju kebaikan.


Ikhlas itu bukan sekadar kata-kata. *Ikhlas adalah obat hati yang mampu menghapus gelisah dan menggantinya dengan ketenangan*. Saat kita ikhlas, hati tidak lagi memberontak, pikiran tidak lagi terikat pada rasa kecewa, dan jiwa akan lebih lapang menghadapi kehidupan. Dan percayalah, saat hati lapang, pintu-pintu kebaikan akan lebih mudah terbuka.


Kita harus yakin bahwa Allah tidak pernah salah dalam merencanakan hidup kita. Tidak ada takdir yang tercipta secara kebetulan. Bahkan, setiap air mata yang jatuh, setiap luka yang menggores, semua itu pasti membawa makna. Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya berlarut-larut dalam penderitaan, kecuali Ia sedang menyiapkan hadiah besar di baliknya.


Sungguh, orang yang paling beruntung adalah mereka yang mampu mengubah ujiannya menjadi doa, kesedihannya menjadi kekuatan, dan keikhlasannya menjadi jalan menuju kebahagiaan sejati. Karena kebahagiaan bukan soal seberapa banyak kita memiliki, tetapi seberapa tulus kita menerima dan mensyukuri apa yang Allah berikan.


Maka sahabatku, jika hari ini engkau sedang diuji, jangan terburu-buru berputus asa. Tenangkan hatimu, ikhlaskan dirimu, dan percayalah bahwa Allah sedang menulis cerita yang lebih indah. Karena sejatinya, ikhlas itu bukan akhir dari segalanya, tetapi awal dari keajaiban yang Allah siapkan untuk hidupmu.


_Selamat menunaikan *sholat fardhu berjamaah di masjid (bagi laki-laki yang tidak ada udzur)*, semoga Allah SWT mengampuni dosa dosa kita, menerima semua amal ibadah kita dan semoga kita semua diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah aamiin ya rabbal'alamiin...._

Indahnya Persahabatan Karena Allah di Sosial Media

 Bismillah


Ketika persahabatan bukan sekedar hobi atau hiburan, 

tapi niatnya untuk mencari ridho Allah. Setiap pagi, siang, petang, hingga malam, kita saling mengingatkan dalam kebaikan...

Membagikan firman Allah yang menyejukkan hati, menyampaikan hadits Nabi yang penuh hikmah, dan menyebarkan nasihat para ulama yang menggugah jiwa...

Kita saling mendoakan dalam diam, 

meski tak pernah bertatap muka.

Bahkan, dalam setiap ketikan komentar, kita titipkan doa untuk sahabat yang belum pernah kita jumpa.


Kita saling mendukung untuk terus berjalan di jalan yang lurus, menguatkan langkah agar tak lelah dalam taat, dan mengingatkan agar tak terlena oleh dunia.

Beginilah indahnya Ukhuwah karena Allah...

Tak peduli jarak yang memisahkan, 

hati kita tetap terikat dalam iman.


Semoga persahabatan ini menjadi sebab turunnya keberkahan, serta menjadi saksi di hari akhir bahwa kita pernah saling mencintai karena-Nya.

" Tidaklah beriman seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri .. [HR. Bukhari]

Semoga kita senantiasa istiqamah dalam menjadikan Media sosial sebagai sarana untuk mendekat kepada Allah..

Evaluasi 2025 dan Resolusi 2026

 Tanggal 3 Januari 2026 sengaja penulis pilih untuk menuliskan evaluasi 2025 dan resolusi 2026. Bukan apa-apa hanya memilih momen agar tidak...